Share

Bab 25

Author: Zhar
last update publish date: 2026-05-08 08:15:24

Untungnya, kecepatan Raja Tikus mulai melambat secara bertahap. Tembakan senapan sniper kaliber besar telah meninggalkan tiga luka sebesar mangkuk di tubuhnya, dan darah masih mengalir deras dari sana. Makhluk itu mungkin tak akan bertahan lama lagi. Setelah beberapa menit mengejar, kecepatannya sudah sangat turun. Kehilangan darah dalam jumlah besar membuat energinya terkuras cepat. Bulu putih keperakannya kini tampak kusam dan gelap, kehilangan kilau aslinya. Ia mengeluarkan lolongan lemah,

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mutasi Alam Liar   Bab 111

    “Teman di sana! Tunggu dulu! Bisa bawa kami ikut?” Sebuah suara memecah kesunyian. Semua orang menoleh ke arah gedung di samping jendela terbuka dan sesosok orang menampakkan wajahnya. Mereka semua menatap Budi, menunggu keputusannya. “Ada berapa orang di sana?” tanyanya singkat. Kalau cuma sedikit, tak masalah. Kalau terlalu banyak, ia terpaksa menolak tempat dan persediaan di vila terbatas. “Dua orang! Cuma kami berdua! Di sini makin berbahaya, kami ingin ikut kalian. Lebih banyak orang lebih aman, kan?” jawab pria itu cepat. “Kalau begitu turunlah sekarang. Kita berangkat sebentar lagi.” “Baik, siap! Sekarang juga!” Pria itu tampak sangat lega dan segera menghilang dari jendela. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di bawah. Seorang pria dan istrinya, sekitar tiga puluh tahunan, membawa tas berisi barang-barang. Pakaian mereka berlapis-lapis agar terlindung, masing-masing menggantungkan panci di dada. Pria yang tadi berbicara bahkan memegang sebatang besi panjang si

  • Mutasi Alam Liar   Bab 110

    Sebuah bangunan runtuh tepat di seberang jalan hingga menutup sepenuhnya jalur yang dilewati. Budi mengamati sekeliling dari persimpangan jalan, lalu menggertakkan gigi dan memutuskan mengambil rute lain.Hanya dalam beberapa hari, kota ini sudah berubah tak dikenali lagi. Reruntuhan bangunan berserakan di mana‑mana, debu tebal menutupi aspal, dan tumpukan tulang belulang manusia berjejer di pinggir jalan. Potongan kain pakaian yang ternoda darah kering berkibar pelan tertiup angin.Saat rombongannya berjalan melewati tumpukan tulang, ribuan kumbang hitam seukuran kuku jari merayap keluar dan lenyap seketika ke dalam sela‑sela puing.Beberapa hewan mutan tingkat rendah melintas di kejauhan, lalu berhenti serentak. Mata merah mereka menatap tajam ke arah rombongan manusia naluri berburu sudah terbangun.Bau busuk daging membusuk memenuhi udara, tak terlukiskan mengerikannya.Ini adalah gambaran kehancuran yang mutlak!Seandainya tidak ada lolongan binatang buas yang terdengar dari keja

  • Mutasi Alam Liar   Bab 109

    Budi terus meninju udara dengan kecepatan tinggi, setiap hantaman menimbulkan suara letupan seperti kembang api!Shinta yang berdiri di mulut lorong menatap kagum pada gerakan Budi yang nyaris tak terlihat mata. Saat Budi akhirnya berhenti sambil terengah‑engah, ia segera menyodorkan handuk.“Ada apa di luar? Dari mana asal keributan tadi?” tanya Budi sambil mengelap keringat.Pemuda yang dulu sempat mengamuk hingga menghancurkan pintu itu kini tampak sangat mengagumi Budi. Ia memang berwatak keras dan kasar, tapi hatinya jujur. Sejak melihat kemampuan Budi, ia sungguh ingin menjalin persahabatan. Budi pun tak menolak ia justru menugaskannya untuk mengumpulkan informasi di sekitar tempat perlindungan.“Ada yang meninggal lagi. Orang yang kelaparan bisa jadi sangat kejam...kemarin ada bayi tertimpa saat mereka berebut makanan. Sungguh mengerikan,” ujar Shinta pelan. “Tapi tak ada yang berani mengganggu kita. Semua orang menjauh begitu melihat apa yang kau lakukan.”Baru lima hari berla

  • Mutasi Alam Liar   Bab 108

    Budi terbangun kaget karena suara gaduh dari luar tenda. Secara naluriah tangannya mencengkeram gagang parang erat, lalu perlahan membuka mata. Ia berusaha bergerak pelan untuk melewati tubuh kedua gadis itu, namun gerakannya yang tak sehalus itu justru membuat mereka terbangun sekaligus. “Ada apa?” Jeni langsung bangkit dan mencengkeram pistol di pinggangnya dengan waspada. “Tidak apa‑apa, kembali tidur saja. Aku cuma mau cek ke luar sebentar,” jawabnya tenang, lalu membuka ritsleting tenda dan berjalan menuju sumber suara. Terdengar pertengkaran sengit meski mereka berusaha mengecilkan suara, kemarahan itu masih terdengar jelas. “Kalian berani kasih kami makan sampah begini?!” “Mana bisa kenyang? Buburnya bening sekali sampai bayangan sendiri kelihatan!” “Panggil pemimpin kalian ke sini sekarang! Jangan kira kami tak tahu kalian punya stok lebih! Mau bikin marah Mas Budi kami, hah?!”

  • Mutasi Alam Liar   Bab 107

    “Lho, kok nggak ada kasur di dalam tenda ini? Padahal cuaca belakangan ini cukup hangat malam saja suhunya bisa sekitar dua puluh derajat. Pasti nggak bakal kedinginan walau tanpa selimut. Eh, lantainya ternyata dilapisi spons empuk juga rasanya! Wah, untunglah kita dapat yang begini.”Budi berbalik menatap kedua gadis itu. “Keduanya sama saja kondisinya. Kalian lebih suka tidur di tenda yang mana?”“Ehm...aku takut tidur sendirian malam ini...bolehkah aku tidur satu tenda sama Kak Budi dan Kak Jeni?” tanya Shinta pelan. Pikirannya masih penuh bayangan mengerikan yang baru saja ia saksikan.Budi dan Jeni saling bertatapan sekilas, lalu mengangguk setuju. “Tentu saja boleh.”Malam ini sungguh terlalu penuh dengan pemandangan darah dan kematian bagi gadis semuda Shinta. Jeni pun rasanya sulit tidur nyenyak, apalagi dia yang belum berpengalaman menghadapi dunia yang kejam ini. Kalau dibiarkan sendirian, kekhawatiran dan rasa takut yang menumpuk bisa saja menghancurkannya.Mereka bertiga

  • Mutasi Alam Liar   Bab 106

    Budi berlari mendekati pintu sambil mencengkeram gagang parang besarnya. Ia menusukkan ujung senjatanya ke celah pintu baja setebal sepuluh sentimeter itu seolah logam keras itu tak lebih dari mentega yang dipanaskan, parang tingkat biru tua miliknya menembusnya dengan sangat mudah.Terdengar teriakan kaget dari balik pintu.“Buka pintunya sekarang, atau aku akan merobohkan seluruhnya!” perintah Budi dengan suara tegas dan dingin.“BAIK! KAMI BUKA! JANGAN DIHANCURKAN! SEKARANG JUGA KAMI BUKA!”Budi mundur selangkah, dan pintu baja itu perlahan terbuka dengan bunyi berderit panjang. Sekelompok orang menatapnya dengan wajah pucat dan tak berdaya saat Budi beserta rombongannya melangkah masuk. Beberapa pria di dalam memegang pistol, dan dua orang lainnya bahkan membawa senapan laras panjang.Pemimpin mereka adalah pria bertubuh tegap dengan bekas luka panjang yang membentang dari antara alis hingga ke sudut bibir sosok yang terlihat sungguh mengintimidasi. Ia menatap parang di tangan Bud

  • Mutasi Alam Liar   Bab 67

    Jeni sebenarnya mau marah dan nyuruh Budi jangan kesana lagi, tapi pas lihat tatapan Budi yang tegas, kata-katanya cuma jadi keluhan panjang. Dia tiba-tiba jadi takut banget, bayangin kalau suatu hari Budi pergi tapi nggak pulang-pulang lagi. Buat nutupin rasa cemasnya, Jeni buru-b

  • Mutasi Alam Liar   bab 62

    Mereka terlalu sibuk memperhatikan pertarungan tadi, jadi tidak sadar kalau Budi sedang mengeluarkan darah dari hidungnya. Sekarang melihatnya, mereka semua terbelalak. Penampilan Budi memang mengerikan wajah dan bajunya berlumuran darah, ditambah lagi kakinya tampak gemetar seolah sulit berdiri

  • Mutasi Alam Liar   Bab 61

    Budi memejamkan mata sejenak, pusing dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Biasanya mata manusia punya batas kemampuan, sekitar 24 frame per detik. Gerakan yang lebih cepat dari itu bakal terlihat samar. Apalagi kecepatan peluru yang bisa mencapai 700-800 meter per detik, mustahil dilihat

  • Mutasi Alam Liar   Bab 60

    Candra menarik pelatuknya dan menembak. Terdengar suara tembakan yang ringan, dan seekor binatang bermutasi yang mirip luak itu terkena tepat di kepalanya lalu jatuh tersungkur ke tanah. Mereka melangkahi tubuhnya dan terus bergerak maju, membiarkan bangkai itu tergeletak begitu saja di pinggir j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status