LOGINSampai di kamarnya sendiri, Budi baru merasa lega. Dia mengeluarkan bra dan celana dalam itu dari sakunya. Barang-barang kecil berwarna putih itu terlihat mungil sekali, dan masih tercium wangi sabun yang lembut dan segar.
Perasaannya jadi agak aneh, seolah-olah dia orang yang tidak bermoral. Dia meletakkan barang-barang itu sejenak lalu berjalan ke arah lemari penyimpanan. Dia membuka salah satu laci yang isinya sudah tinggal separuh saja, berisi bulu-bulu burung hantu berwarnTubuh Shinta terus gemetar saat melangkah mendekati kelabang raksasa itu. Senjata lemparannya sudah melayang di udara, siap untuk dilepaskan. Wajahnya makin memucat, dan ia menggertakkan gigi menahan rasa takut yang meluap di dada. Detik berikutnya, ia mengerahkan kekuatan pikirannya telekinesis dan melontarkan senjata itu sekuat tenaga ke arah kepala makhluk itu. Kelabang itu merasakan bahaya yang datang dan berusaha menghindar, tapi sudah terlambat. Dalam sekejap, senjata itu menembus tepat ke bagian kepalanya! Cangkang keras yang terlihat kokoh tadi ternyata tak sanggup menahan serangan itu. Tubuh kelabang itu menggeliat hebat, mencoba berjuang, namun luka di kepalanya sudah mematikan. Meskipun begitu, gerakan tak sadar yang dilakukan makhluk raksasa itu sebelum mati tetap sangat berbahaya. Tubuhnya yang besar terguling-guling di atas jalan, membuat tanah di sekitarnya ikut berguncang. Dari mulutnya yang terbuka, keluar kabut berwarna merah muda yang berbau manis namun menyenga
“jalan sumbu kebangsaan nomor 93! Dulu kantor tempat saya bekerja persis di dekat situ!” seru wanita itu melanjutkan.“Saya juga ingat tempat itu. Tempat perlindungannya sempat dibuka lama sekali beberapa waktu lalu, saya bahkan pernah ke sana sekali,” sahut seorang pria lain yang ikut mendengar.“Tidak jauh dari sini kok. Jalan lurus ke timur sampai tiba di persimpangan besar, belok ke utara, di situlah Jalan sumbu kebangsaan. Cuma beberapa kilometer saja, ayo berangkat sekarang!” tambah seorang pria bertubuh agak gemuk dengan nada penuh keyakinan.Namun tak ada satu pun yang langsung bergerak. Semua mata tertuju pada Budi. Pria tadi pun terlihat canggung karena tak ada yang mengindahkan ucapannya.Mungkin dulu dia adalah manajer atau bos perusahaan, tapi di masa seperti ini, tak ada yang peduli seberapa kaya atau berkuasanya seseorang di masa lalu.Sementara itu, Budi tak perlu menunjukkan kekuatan berlebihan. Selama setengah jam perjalanan tadi, dia tetap tenang, menarik Jeni dan S
“Kak Budi, makhluk itu makin dekat!” seru Shinta, wajahnya pucat pasi karena ketakutan.“Pegang tanganku erat-erat!” perintah Budi dengan napas tertahan. Meski kekuatannya jauh di atas rata‑rata, di tengah kerumunan yang padat seperti ini ia tak bisa bergerak leluasa, apalagi melawan makhluk sebesar itu. Ia hanya bisa berusaha mendesak maju ke arah depan.Keputusasaan menyelimuti semua orang. Jeritan panik terdengar bersahut‑sahutan di telinga mereka.Kerumunan sempat membeku sejenak, seolah dikendalikan oleh kekuatan lain yang lebih tinggi, sebelum gelombang dorongan datang dari depan maupun belakang secara bersamaan. Beberapa orang yang terjepit di tengah sampai muntah darah karena tekanan yang begitu kuat. Makian dan keluhan tanpa harapan terdengar samar‑samar dari arah depan.Hal terburuk yang mereka takutkan akhirnya terjadi.“Mereka mulai menembak...kenapa mereka menembak sembarangan?” Wajah Jeni pucat pasi, bercampur rasa takut dan tak percaya.“Lalu bagaimana dengan kita?” tan
Dayang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun rasa dingin menjalar hingga ke tulang punggungnya saat melihat ketegasan dan kegelisahan di wajah Budi. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengikuti langkah mereka. Budi memaksa menerobos kerumunan sambil menarik kedua gadis itu bersamanya. Tekanan di dadanya makin terasa berat, dan kecemasan yang meluap di dalam hati membuatnya hampir ingin berteriak. Ia menerjang maju meski diserang makian dan caci maki dari orang‑orang yang terhimpit, seolah telinganya sama sekali tidak mendengar suara‑suara itu. Ia segera menyeberang ke sisi jalan dan mengamati sekeliling. Tak lama kemudian, ia berlari menuju depan sebuah pusat perbelanjaan besar. Bangunan semacam ini biasanya memiliki tempat parkir bawah tanah yang kokoh namun sebelum sempat sampai di sana, tubuhnya tiba‑tiba mulai bergetar hebat. Bukan hanya dirinya yang gemetar; seolah seluruh dunia ikut berguncang! Suasana bising di jalan perlahan mereda, kerumunan mendadak hening. Semua
Mendengar itu, raut wajah Budi menjadi serius. Ia baru saja pindah ke wilayah IKN ini dan belum punya banyak kenalan, sehingga pengetahuannya soal tempat itu masih minim. Berbeda dengan Dayang yang sudah lama tinggal di daerah ini. Tanpa curiga sedikit pun, ia menyuruh kedua gadis lain menunggu sebentar. Jantung Dayang berdegup kencang saat membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya rapat begitu Budi masuk ke dalam. Belum sempat Budi bertanya apa maksudnya, Dayang tiba-tiba berjongkok dan mengulurkan tangan untuk membuka kancing celananya. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman, ia memilih cara yang terang-terangan tanpa banyak basa-basi. “Apa yang kamu lakukan?!” tegur Budi pelan sambil mundur selangkah menjauh. Ingatan tentang bagaimana Budi bisa membunuh tanpa ragu kembali terlintas di kepala Dayang. Ia langsung gemetar ketakutan dan pikirannya menjadi kosong. “Aku... aku hanya...” “Kalau tidak ada hal penting, aku akan keluar sekarang,” ucap Budi datar tanpa ekspresi. Dayang t
Di zaman kiamat seperti ini, nilai barang berubah drastis. Bagi mereka yang memiliki kekuasaan, uang dan harta benda adalah segalanya karena tak perlu khawatir soal makan dan tempat tinggal. Namun bagi rakyat biasa, makanan menjadi prioritas utama, karena itulah yang menentukan hidup dan mati. Budi memang bukan orang kaya atau berpengaruh, tapi ia memiliki kekuatan luar biasa dan sudah berevolusi. Ia bisa dengan mudah mendapatkan daging hewan mutan atau persediaan makan sendiri. Bahkan di bawah pengawasan ketat militer di pangkalan itu, orang sepertinya tetap dibutuhkan dan tak akan kekurangan apa pun. Maka membiarkan Lestari membawa kotak makanan... apakah ini pertanda ia dianggap tidak penting lagi? Sangat disayangkan ia baru saja bergabung dalam waktu singkat. Meskipun sudah berusaha memberikan yang terbaik, ternyata kesan buruk di awal masih belum hilang dari pikiran Budi. Sekarang saatnya ia mengambil keputusan. Mengumpulkan seluruh keberaniannya,
Bayangan itu mendarat ringan di atas tanah, lalu melompat menghilang ke arah lain. Baru saat itulah makhluk itu menyadari apa yang terjadi. Ia berhenti berjalan, menoleh dengan gerakan marah untuk mencari manusia yang berani menyerangnya. Namun kepalanya perlahan terlepas dari lehe
Budi melirik ke sekelilingnya, lalu dengan kasar menendang sebongkah batu berat di dekat kakinya. Batu itu melayang sejauh sekitar 7 sampai 8 meter sebelum jatuh tepat ke dalam kubangan lumpur, memercikkan cairan panas ke mana-mana. Dia terus menendang batu-batu kecil untuk menguji jarak dan reaksi
Jantung Budi serasa mau copot dari tempatnya. Selama ini dia membayangkan kalau Cacing Tanah Korosif ini cuma versi mutasi dari cacing tanah biasa yang pernah dia temui sebulan yang lalu badannya memang besar, tapi nggak terlalu agresif, meski baunya busuk sampai bikin muntah. Tapi makhluk di dep
Budi seketika menegang dan waspada! Untunglah, bagi Budi, gerakan makhluk itu terasa sangat lambat. Bahkan sebelum mayat hidup itu sempat mendekat, satu lengan depannya sudah terlepas dari bahunya akibat serangan yang ia luncurkan secara naluriah. Jika manusia biasa yang mengalami







