Share

Bab 277

Penulis: Millanova
last update Tanggal publikasi: 2026-07-26 20:43:33

"Maaf, Saudara Kukuh. Meskipun Anda adalah mahasiswa unggulan, fasilitas laboratorium mikroskop elektron ini bukan untuk uji coba pribadi mahasiswa baru. Ada protokol sterilisasi dan jadwal riset dosen yang harus dipatuhi."

Suara tegas Profesor Doktor Sutarman, Kepala Laboratorium Patologi Universitas Mahkota, menggema di ruangan berdinding putih bersih itu. Pria paruh baya berkacamata tebal tersebut menatap Kukuh dengan raut wajah tidak setuju, lengannya terlipat di depan dada.

Kukuh berdiri t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 294

    "Semua persiapan sudah matang, Tuan Muda Bhanu? Komandan besar berpesan agar Anda tidak mempermalukan nama faksi militer kita di depan para petinggi kedokteran sipil ini."Suara berat nan tegas itu bergema di sepanjang lorong utama Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mahkota. Pria berwajah keras yang berbicara adalah Mayor Yudha, ajudan kepercayaan sekaligus tangan kanan dari perwira tinggi klan Wahnindara yang ditugaskan khusus untuk mendampingi Bhanu pagi itu. Di belakang mereka, berbaris rapi selusin pasukan medis taktis berseragam loreng lengkap dengan peralatan intervensi darurat.Bhanu Wahnindara yang berjalan di samping sang ajudan tersenyum penuh percaya diri. Jas laboratorium putihnya tampak sangat kontras dengan aura militer dan wibawa komando yang ia pancarkan."Anda tidak perlu khawatir, Mayor Yudha. Sampaikan pada paman saya bahwa saya sudah memantau perkembangannya semalaman penuh," jawab Bhanu dengan nada arogan, dagunya terangkat tinggi. "Para profesor kedokteran sipil

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 293

    "Kuh, kamu benar-benar sudah gila, ya? Ini jam dua pagi! Kalau ketahuan satpam atau perwira medis dari keluarganya Bhanu yang sedang patroli, kita bisa langsung dikeluarkan dari kampus!"Suara Farhan terdengar bergetar, nyaris seperti cicitan tikus yang ketakutan. Wajah pemuda berkacamata itu pucat pasi, dan peluh dingin sebesar biji jagung terus menetes membasahi dahi hingga ke kerah jas putihnya. Ia berusaha menahan lengan Kukuh, namun tenaga sahabat barunya itu terasa jauh lebih kokoh dari kelihatannya."Tenang saja, Farhan. Pasukan jaga malam rumah sakit biasanya sedang pergantian shift pada jam segini. Lobi utama kosong," bisik Kukuh dengan suara baritonnya yang sangat tenang, terus menarik Farhan menyusuri lorong temaram menuju Bangsal Umum C."Lagipula, untuk apa kita mengendap-endap ke bangsal pasien kritis ini? Bukankah jam observasi kita sudah selesai sejak tengah malam tadi?!" cecar Farhan, setengah merengek namun tak berani melepaskan diri dari Kukuh karena koridor rumah s

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 292

    "Kamu mau ke mana, Kuh? Profesor Tirtayasa sebentar lagi akan memberikan pengarahan darurat untuk shift malam," bisik Farhan dengan nada panik, menahan lengan jas putih Kukuh saat mereka berdiri di luar Bangsal Umum C yang masih kalut."Aku harus ke toilet sebentar, sekalian mencari udara segar. Udara di dalam bangsal terlalu pengap, membuat perutku sedikit mual," jawab Kukuh dengan raut wajah setenang air kolam, melepaskan cengkeraman sahabatnya itu secara halus.Farhan mengusap keringat dingin di dahinya. "Jangan lama-lama, Kuh! Kalau Profesor Tirta mengabsen dan kamu tidak ada, tamatlah riwayat kita berdua. Anak-anak militer bawaan Bhanu sudah mulai berseliweran di lobi bawah!""Hanya lima menit," balas Kukuh meyakinkan, lalu berbalik melangkah menjauhi kerumunan.Namun, alih-alih menuju toilet di ujung lorong, langkah kaki Kukuh justru mengarah ke tangga darurat, mendaki cepat menuju lantai empat tempat laboratorium farmakologi kampus berada. Peringatan keras dari Dokter Harsha ma

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 291

    "Suhu tubuh mereka menembus empat puluh dua derajat Celcius, Dokter. Parasetamol dosis tinggi via intravena dan kompres es menguap begitu saja tanpa memberikan efek sedikit pun. Ini bukan patogen penyakit medis, melainkan murni residu hawa panas dari Rajah Geni."Kukuh menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga, berbicara dengan suara pelan namun sarat akan urgensi. Pemuda itu telah berhasil menyelinap keluar dari kepanikan di Bangsal Umum C dan kini berdiri di area tangga darurat yang sepi, jauh dari jangkauan kamera pengawas rumah sakit.Di ujung panggilan, terdengar helaan napas berat dari Dokter Harsha Guna Rakti. Sang Dewa Medis itu terdiam sejenak, memproses informasi mengerikan yang baru saja dilaporkan oleh muridnya dari lapangan."Bhanu Wahnindara," tebak Dokter Harsha dengan nada suara baritonnya yang berubah menjadi sangat dingin. "Keluarga militer itu rupanya sudah mulai gatal untuk melakukan pergerakan. Apa analisis medismu, Kuh?""Pemuda itu sengaja menjadikan pasien sip

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 290

    "Kamu sadar tidak, Kuh, tatapan Bhanu tadi saat pembagian jadwal observasi bangsal?" bisik Farhan sambil merapatkan kerah jas laboratoriumnya. Keduanya tengah berjalan menyusuri lorong terang Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mahkota untuk memulai hari pertama observasi klinis mereka.Kukuh yang berjalan dengan tenang di sampingnya menoleh sekilas. "Menatap bagaimana maksudmu, Farhan?""Dia menatap kita para mahasiswa sipil seolah kita ini prajurit baris belakang yang tidak berguna," keluh Farhan, mendengus pelan. "Mentang-mentang keluarganya jenderal semua, dia bertingkah seolah rumah sakit ini adalah barak militernya. Tadi pagi saja dia berdebat dengan dokter residen soal prosedur triase.""Biarkan saja," jawab Kukuh dengan suara baritonnya yang santai, tidak terpancing emosi sedikit pun. "Kita di sini untuk belajar menangani pasien, bukan untuk memenangkan adu ego dengan anak militer."Namun, belum sempat Farhan membalas ucapan Kukuh, sebuah teriakan panik memecah kesibukan lorong

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 289

    "Kamu dengar suara ribut-ribut di luar lorong itu, Kuh?" bisik Farhan sambil mengancingkan jas laboratorium putihnya dengan terburu-buru.Kukuh, yang sedang memasang sarung tangan lateks dengan tenang, menoleh sekilas ke arah pintu ganda ruang praktikum anatomi. Bau khas formalin yang menyengat di udara seolah tidak mengganggu fokusnya. "Ada tamu penting dari pihak rektorat yang datang memantau?""Bukan tamu rektorat," Farhan menggeleng cepat, merendahkan suaranya. "Itu Bhanu Wahnindara. Sang Peringkat Dua saat tes seleksi nasional masuk fakultas kita. Kudengar dia baru saja tiba dengan pengawalan ajudan.""Hanya karena seorang mahasiswa datang terlambat, suasananya menjadi seheboh ini?" Kukuh tersenyum tipis, sedikit heran melihat beberapa mahasiswa di dekat pintu tampak menyisih dengan raut wajah segan."Dia bukan mahasiswa sembarangan, Kuh," jelas Farhan dengan mata terbelalak, memastikan tidak ada yang menguping. "Keluarganya itu dinasti militer kelas atas. Jenderal, perwira tingg

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 10

    Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status