Masuk"Semua persiapan sudah matang, Tuan Muda Bhanu? Komandan besar berpesan agar Anda tidak mempermalukan nama faksi militer kita di depan para petinggi kedokteran sipil ini."Suara berat nan tegas itu bergema di sepanjang lorong utama Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mahkota. Pria berwajah keras yang berbicara adalah Mayor Yudha, ajudan kepercayaan sekaligus tangan kanan dari perwira tinggi klan Wahnindara yang ditugaskan khusus untuk mendampingi Bhanu pagi itu. Di belakang mereka, berbaris rapi selusin pasukan medis taktis berseragam loreng lengkap dengan peralatan intervensi darurat.Bhanu Wahnindara yang berjalan di samping sang ajudan tersenyum penuh percaya diri. Jas laboratorium putihnya tampak sangat kontras dengan aura militer dan wibawa komando yang ia pancarkan."Anda tidak perlu khawatir, Mayor Yudha. Sampaikan pada paman saya bahwa saya sudah memantau perkembangannya semalaman penuh," jawab Bhanu dengan nada arogan, dagunya terangkat tinggi. "Para profesor kedokteran sipil
"Kuh, kamu benar-benar sudah gila, ya? Ini jam dua pagi! Kalau ketahuan satpam atau perwira medis dari keluarganya Bhanu yang sedang patroli, kita bisa langsung dikeluarkan dari kampus!"Suara Farhan terdengar bergetar, nyaris seperti cicitan tikus yang ketakutan. Wajah pemuda berkacamata itu pucat pasi, dan peluh dingin sebesar biji jagung terus menetes membasahi dahi hingga ke kerah jas putihnya. Ia berusaha menahan lengan Kukuh, namun tenaga sahabat barunya itu terasa jauh lebih kokoh dari kelihatannya."Tenang saja, Farhan. Pasukan jaga malam rumah sakit biasanya sedang pergantian shift pada jam segini. Lobi utama kosong," bisik Kukuh dengan suara baritonnya yang sangat tenang, terus menarik Farhan menyusuri lorong temaram menuju Bangsal Umum C."Lagipula, untuk apa kita mengendap-endap ke bangsal pasien kritis ini? Bukankah jam observasi kita sudah selesai sejak tengah malam tadi?!" cecar Farhan, setengah merengek namun tak berani melepaskan diri dari Kukuh karena koridor rumah s
"Kamu mau ke mana, Kuh? Profesor Tirtayasa sebentar lagi akan memberikan pengarahan darurat untuk shift malam," bisik Farhan dengan nada panik, menahan lengan jas putih Kukuh saat mereka berdiri di luar Bangsal Umum C yang masih kalut."Aku harus ke toilet sebentar, sekalian mencari udara segar. Udara di dalam bangsal terlalu pengap, membuat perutku sedikit mual," jawab Kukuh dengan raut wajah setenang air kolam, melepaskan cengkeraman sahabatnya itu secara halus.Farhan mengusap keringat dingin di dahinya. "Jangan lama-lama, Kuh! Kalau Profesor Tirta mengabsen dan kamu tidak ada, tamatlah riwayat kita berdua. Anak-anak militer bawaan Bhanu sudah mulai berseliweran di lobi bawah!""Hanya lima menit," balas Kukuh meyakinkan, lalu berbalik melangkah menjauhi kerumunan.Namun, alih-alih menuju toilet di ujung lorong, langkah kaki Kukuh justru mengarah ke tangga darurat, mendaki cepat menuju lantai empat tempat laboratorium farmakologi kampus berada. Peringatan keras dari Dokter Harsha ma
"Suhu tubuh mereka menembus empat puluh dua derajat Celcius, Dokter. Parasetamol dosis tinggi via intravena dan kompres es menguap begitu saja tanpa memberikan efek sedikit pun. Ini bukan patogen penyakit medis, melainkan murni residu hawa panas dari Rajah Geni."Kukuh menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga, berbicara dengan suara pelan namun sarat akan urgensi. Pemuda itu telah berhasil menyelinap keluar dari kepanikan di Bangsal Umum C dan kini berdiri di area tangga darurat yang sepi, jauh dari jangkauan kamera pengawas rumah sakit.Di ujung panggilan, terdengar helaan napas berat dari Dokter Harsha Guna Rakti. Sang Dewa Medis itu terdiam sejenak, memproses informasi mengerikan yang baru saja dilaporkan oleh muridnya dari lapangan."Bhanu Wahnindara," tebak Dokter Harsha dengan nada suara baritonnya yang berubah menjadi sangat dingin. "Keluarga militer itu rupanya sudah mulai gatal untuk melakukan pergerakan. Apa analisis medismu, Kuh?""Pemuda itu sengaja menjadikan pasien sip
"Kamu sadar tidak, Kuh, tatapan Bhanu tadi saat pembagian jadwal observasi bangsal?" bisik Farhan sambil merapatkan kerah jas laboratoriumnya. Keduanya tengah berjalan menyusuri lorong terang Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mahkota untuk memulai hari pertama observasi klinis mereka.Kukuh yang berjalan dengan tenang di sampingnya menoleh sekilas. "Menatap bagaimana maksudmu, Farhan?""Dia menatap kita para mahasiswa sipil seolah kita ini prajurit baris belakang yang tidak berguna," keluh Farhan, mendengus pelan. "Mentang-mentang keluarganya jenderal semua, dia bertingkah seolah rumah sakit ini adalah barak militernya. Tadi pagi saja dia berdebat dengan dokter residen soal prosedur triase.""Biarkan saja," jawab Kukuh dengan suara baritonnya yang santai, tidak terpancing emosi sedikit pun. "Kita di sini untuk belajar menangani pasien, bukan untuk memenangkan adu ego dengan anak militer."Namun, belum sempat Farhan membalas ucapan Kukuh, sebuah teriakan panik memecah kesibukan lorong
"Kamu dengar suara ribut-ribut di luar lorong itu, Kuh?" bisik Farhan sambil mengancingkan jas laboratorium putihnya dengan terburu-buru.Kukuh, yang sedang memasang sarung tangan lateks dengan tenang, menoleh sekilas ke arah pintu ganda ruang praktikum anatomi. Bau khas formalin yang menyengat di udara seolah tidak mengganggu fokusnya. "Ada tamu penting dari pihak rektorat yang datang memantau?""Bukan tamu rektorat," Farhan menggeleng cepat, merendahkan suaranya. "Itu Bhanu Wahnindara. Sang Peringkat Dua saat tes seleksi nasional masuk fakultas kita. Kudengar dia baru saja tiba dengan pengawalan ajudan.""Hanya karena seorang mahasiswa datang terlambat, suasananya menjadi seheboh ini?" Kukuh tersenyum tipis, sedikit heran melihat beberapa mahasiswa di dekat pintu tampak menyisih dengan raut wajah segan."Dia bukan mahasiswa sembarangan, Kuh," jelas Farhan dengan mata terbelalak, memastikan tidak ada yang menguping. "Keluarganya itu dinasti militer kelas atas. Jenderal, perwira tingg
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik







