LOGIN"Suhu tubuh mereka menembus empat puluh dua derajat Celcius, Dokter. Parasetamol dosis tinggi via intravena dan kompres es menguap begitu saja tanpa memberikan efek sedikit pun. Ini bukan patogen penyakit medis, melainkan murni residu hawa panas dari Rajah Geni."Kukuh menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga, berbicara dengan suara pelan namun sarat akan urgensi. Pemuda itu telah berhasil menyelinap keluar dari kepanikan di Bangsal Umum C dan kini berdiri di area tangga darurat yang sepi, jauh dari jangkauan kamera pengawas rumah sakit.Di ujung panggilan, terdengar helaan napas berat dari Dokter Harsha Guna Rakti. Sang Dewa Medis itu terdiam sejenak, memproses informasi mengerikan yang baru saja dilaporkan oleh muridnya dari lapangan."Bhanu Wahnindara," tebak Dokter Harsha dengan nada suara baritonnya yang berubah menjadi sangat dingin. "Keluarga militer itu rupanya sudah mulai gatal untuk melakukan pergerakan. Apa analisis medismu, Kuh?""Pemuda itu sengaja menjadikan pasien sip
"Kamu sadar tidak, Kuh, tatapan Bhanu tadi saat pembagian jadwal observasi bangsal?" bisik Farhan sambil merapatkan kerah jas laboratoriumnya. Keduanya tengah berjalan menyusuri lorong terang Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mahkota untuk memulai hari pertama observasi klinis mereka.Kukuh yang berjalan dengan tenang di sampingnya menoleh sekilas. "Menatap bagaimana maksudmu, Farhan?""Dia menatap kita para mahasiswa sipil seolah kita ini prajurit baris belakang yang tidak berguna," keluh Farhan, mendengus pelan. "Mentang-mentang keluarganya jenderal semua, dia bertingkah seolah rumah sakit ini adalah barak militernya. Tadi pagi saja dia berdebat dengan dokter residen soal prosedur triase.""Biarkan saja," jawab Kukuh dengan suara baritonnya yang santai, tidak terpancing emosi sedikit pun. "Kita di sini untuk belajar menangani pasien, bukan untuk memenangkan adu ego dengan anak militer."Namun, belum sempat Farhan membalas ucapan Kukuh, sebuah teriakan panik memecah kesibukan lorong
"Kamu dengar suara ribut-ribut di luar lorong itu, Kuh?" bisik Farhan sambil mengancingkan jas laboratorium putihnya dengan terburu-buru.Kukuh, yang sedang memasang sarung tangan lateks dengan tenang, menoleh sekilas ke arah pintu ganda ruang praktikum anatomi. Bau khas formalin yang menyengat di udara seolah tidak mengganggu fokusnya. "Ada tamu penting dari pihak rektorat yang datang memantau?""Bukan tamu rektorat," Farhan menggeleng cepat, merendahkan suaranya. "Itu Bhanu Wahnindara. Sang Peringkat Dua saat tes seleksi nasional masuk fakultas kita. Kudengar dia baru saja tiba dengan pengawalan ajudan.""Hanya karena seorang mahasiswa datang terlambat, suasananya menjadi seheboh ini?" Kukuh tersenyum tipis, sedikit heran melihat beberapa mahasiswa di dekat pintu tampak menyisih dengan raut wajah segan."Dia bukan mahasiswa sembarangan, Kuh," jelas Farhan dengan mata terbelalak, memastikan tidak ada yang menguping. "Keluarganya itu dinasti militer kelas atas. Jenderal, perwira tingg
Gerbang utama Universitas Mahkota berdiri megah dengan pilar-pilar bergaya Eropa klasik, menyambut ribuan mahasiswa baru yang datang dengan berbagai latar belakang. Di pelataran parkir Fakultas Kedokteran.....fakultas paling bergengsi di universitas tersebut.....deretan mobil mewah keluaran terbaru berbaris rapi. Aroma parfum mahal dan gaya busana modis mendominasi udara pagi itu.Namun, di tengah segala kemewahan dan gengsi sosial yang memancar dari para calon dokter muda tersebut, Kukuh Jaya Ludira memilih jalur yang sama sekali berbeda.Kukuh datang hanya dengan menumpang sebuah angkot yang menurunkannya tepat di depan gerbang utama. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana jin pudar dan sepatu kets biasa. Tidak ada barang bermerek yang melekat di tubuhnya, tidak ada jam tangan mewah yang melingkar di pergelangannya.Setelah menyerahkan ongkos recehan kepada sang sopir, ia melangkah masuk melewati deretan mobil mewah menuj
"Kasurnya cukup luas untuk kita berdua, Kuh."Suara Ratih terdengar pelan, memecah kesunyian di dalam kamar utama yang megah tersebut.Kukuh menghentikan gerakannya yang sedang menyusun buku-buku kedokterannya di atas meja nakas. Pemuda itu menoleh, menatap istrinya yang tengah duduk di tepi ranjang berukuran king size. Ratih tampak anggun dalam balutan piyama sutra berwarna pastel. Gadis bermata abu-abu itu menepuk ruang kosong di sebelahnya, sebuah sisi ranjang yang sudah ia siapkan lengkap dengan bantal dan guling yang tertata rapi."Tidurlah di atas, Kuh. Mama sudah menyuruh pelayan mengganti seprai dengan yang baru dan menyiapkan bantal ekstra untukmu," ucap Ratih lagi. Kali ini, suaranya memancarkan harapan yang tulus. Tidak ada lagi nada memerintah atau gengsi dari sang putri mahkota keluarga konglomerat itu. Hatinya telah sepenuhnya luluh sejak malam di mana Kukuh menyelamatkan nyawa ibunya dari kutukan klan Sasmita.Namun, alih-alih tersenyum dan menerima tawaran itu, raut wa
Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap berbaris rapi memasuki gerbang utama Mansion Keluarga Cokro. Udara siang itu terasa sangat cerah, secerah raut wajah para penghuni mobil tersebut. Nyonya Dian Ayu Aji Saka akhirnya menginjakkan kakinya kembali ke rumah kebesarannya, terbebas sepenuhnya dari kutukan maut yang nyaris merenggut nyawanya berkat keajaiban medis sang menantu.Begitu memasuki ruang keluarga yang megah, Adiwangsa langsung menarik istrinya ke dalam ruang kerja pribadinya, menutup pintu rapat-rapat. Sang CEO menatap Dian dengan tatapan yang sangat serius, namun memancarkan kelegaan dan ambisi yang menggebu."Dian, peristiwa semalam telah mengubah konstelasi keluarga kita," ucap Adiwangsa, menuangkan air putih untuk istrinya. "Kukuh bukan lagi sekadar pemuda desa miskin yang kita nikahkan dengan Ratih demi memenuhi wasiat kakeknya. Anak itu adalah sebuah keajaiban. Dia adalah aset murni bagi Keluarga Aji Saka."Dian mengangguk cepat, wajahnya masih menyisakan ro
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber







