Home / Romansa / OBSESI TUAN STERLING / Bab 56: Rasa Rindu

Share

Bab 56: Rasa Rindu

Author: Sena
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-13 19:30:37

Empat hari telah berlalu sejak Vera memutuskan untuk menempati apartemen barunya. Bagi Vera, ini adalah kemerdekaan, namun kemerdekaan itu ternyata datang dengan rasa lelah yang luar biasa. Hormon kehamilannya mulai bekerja lebih aktif; mual di pagi hari dan rasa lapar yang datang tiba-tiba membuat tubuhnya kehilangan energi lebih cepat.

Sore itu, setelah menyelesaikan rentetan rapat di V-Alliance, Vera memutuskan untuk mampir ke salon langganannya. Ia butuh relaksasi.

"Tolong lakukan perawatan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 144: Om Tunggu Kamu Besar, Sayang

    Aiden meletakkan serbet di atas meja dengan gerakan yang sangat tenang. Ia mengelap sudut bibirnya tanpa sisa, seolah baru saja menyelesaikan tugas formal yang membosankan.“Gue ke toilet sebentar,” ucapnya pendek.Kaelan hanya mengangguk tanpa curiga, kembali larut dalam obrolan bersama Kevin dan Julian. Namun, Aiden tidak melangkah ke arah toilet di lantai bawah. Ia justru berbelok, menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, seperti predator yang sudah hafal setiap jengkal wilayahnya.Tujuannya hanya satu: kamar dengan pintu kayu berukir yang tadi dimasuki oleh Alora.Aiden memutar kenop pintu dengan sangat perlahan. Keadaan di dalam kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur berbentuk awan yang membiaskan cahaya kekuningan. Ia bisa melihat dua sosok kecil di sana; bayi Kevin yang terlelap di boks, dan Alora yang meringkuk tenang di atas tempat tidur besarnya.Aiden melangkah mendekat. Ia tidak duduk di kursi, melainkan langsung di

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 143: Diner

    Halaman luas Sterling Manor malam itu berubah menjadi pameran otomotif dadakan. Deretan mobil mewah terparkir rapi, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di teras belakang yang luas, suasana hangat menyambut siapa pun yang datang.Kevin tampak luwes menggendong putranya yang baru berumur beberapa bulan, sementara Sela, istrinya, asyik tertawa bersama Vera dan Regina di area sofa. Di sudut lain, Julian tak henti-hentinya mengelus perut Regina yang kian membesar, seolah sedang berkomunikasi dengan calon bayi mereka.“Hahaha... memang bagus baju-baju di sana. Kapan-kapan kita harus belanja bareng,” ucap Vera menanggapi cerita Sela.“Nah, itu dia! Tolong bantuin aku belanja perlengkapan bayi dong. Aku bingung mau beli apa saja, si Julian ini nggak paham apa-apa,” keluh Regina sambil menepuk gemas lengan suaminya.“Loh, paham aku, Sayang! Aku ini dokter, ingat?” bela Julian tak mau kalah.Regina mencibir lucu. “Nggak ada hubungannya kamu dokter sama milih motif baju bayi, Jul. Co

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 142: The Gifted Child

    Lampu kristal di ruangan kantor Nyonya Adeline memantulkan cahaya yang elegan, namun atmosfer di sana terasa dingin sebelum Vera meletakkan lembaran sketsa terbarunya di atas meja marmer tersebut. “Saya sudah melihat berbagai macam gambar desain dari karyawan Anda, Nyonya Vera. Dan hasilnya? Tidak ada yang menarik hati saya sedikit pun,” ucap Nyonya Adeline dingin. Ia duduk dengan punggung tegak, menatap Vera dengan tatapan yang menuntut kesempurnaan. Vera tidak gentar. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri, aura profesionalismenya terpancar kuat. “Saya mengerti, Nyonya Adeline. Karena itu, ini adalah gambar desain yang saya rancang sendiri khusus untuk Anda. Silakan dilihat.” Adeline meraih kertas tersebut dengan gerakan anggun. Begitu matanya menangkap detail gaun dengan aksen feathers dan payet yang rumit hasil goresan tangan Vera, sudut bibirnya perlahan terangkat. Keangkuhannya mencair seketika. “Ini... baru yang namanya karya seni. Ini sangat bagus,” gumam A

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 141: Tawaran Honeymoon

    Setelah memastikan Alora masuk ke gedung sekolah dengan aman, Vera tidak langsung pulang. Ia mengarahkan mobilnya membelah kemacetan kota menuju gedung pencakar langit. Begitu langkah kakinya yang beralaskan heels tinggi menyentuh lobi perusahaan, suasana seketika berubah formal dan penuh hormat. "Selamat siang, Bu Vera," sapa para karyawan di sepanjang koridor. Vera hanya memberikan anggukan kecil yang elegan, namun tatapannya tajam menyapu setiap sudut. Ia langsung menuju lantai galeri seni, tempat di mana karya-karya bernilai tinggi dipamerkan dan dipesan oleh para kolektor kelas dunia. "Bagaimana dengan pemesanan bulan ini?" tanya Vera langsung kepada Head of Gallery yang segera menghampirinya dengan tablet di tangan. "Semuanya lancar, Bu. Antusiasme kolektor sangat tinggi, bahkan keuntungan kita hampir melampaui target kuartal ini," lapor manajer tersebut dengan nada bangga. Vera mengangguk puas. Ia berjalan perlahan, memperhatikan beberapa seniman yang sedang fokus menggore

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 140: Pagi yang Sial dan Nikmat

    Cahaya matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik tirai kamar utama Sterling Manor. Vera merasakan beban kecil menindih sisi ranjangnya, diikuti suara tawa renyah yang selalu menjadi alarm alaminya setiap hari. Ia membuka mata perlahan, menemukan Alora sudah duduk manis dengan mata bulatnya yang berbinar.Vera melirik tubuhnya sendiri. Baju tidur satin. Ia tersenyum tipis mengingat siapa yang dengan telaten memakaikan kain itu setelah ia lemas tak berdaya semalam."Pagi, Mama..." sapa Alora ceria."Pagi, Darling. Kamu terlihat bersemangat sekali, ada yang terjadi?" tanya Vera sambil merapikan rambut putrinya yang sedikit berantakan.Alora menggeleng cepat, namun binar di matanya tidak bisa berbohong. Vera yang sudah sangat mengenal gerak-gerik putrinya segera mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada headboard ranjang."Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu, hm?"Alora menghirup napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian. "Mama, Alora mau lanjut sekolah di Paris."Vera

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 139: Terlalu Berisik di Bawah

    Suasana kamar yang tadinya sudah panas kini berubah menjadi liar. Suara kulit yang beradu—PLOK! PLOK!—terdengar ritmis dan berat, mengiringi setiap hantaman Kaelan yang semakin dalam dan tanpa ampun.Vera mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih, tubuhnya terombang-ambing di bawah kuasa suaminya.“Ah... Kaelan, aku mohon... stop... ah!” rintih Vera, suaranya parau, matanya berair karena stimulasi yang sudah melewati batas pertahanannya.Kaelan tidak berhenti. Ia justru membungkuk, menumpu berat tubuhnya dengan lengan yang kokoh, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera. Ia menghisap kulit sensitif di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas.“Tidak akan, Baby,” bisik Kaelan dengan suara bass yang menggetarkan dada Vera. “Kita baru saja mulai.”“Ah... ah... ah!” Vera akhirnya memejamkan mata, melepaskan sisa-sisa perlawanannya. Tubuhnya melunak, membiarkan Kaelan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Namun, bukannya diam pasrah, gairah Vera justru tersulut lebih b

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 96: Undangan

    Vera terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden mewah mereka tidak lagi terasa mengganggu. Ia melirik ke samping, tempat tidur sudah kosong. Kaelan pasti sudah bangun lebih dulu, mungkin sedang olahraga atau sudah sibuk dengan tabletnya.V

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 93: Puncak Dominasi

    "AHHH—!"Satu tusukan yang begitu dalam dan menghujam telak membuat Vera memekik keras, suaranya teredam oleh dinding ruang tunggu yang kedap. Tubuhnya tersentak hebat, melengkung ke depan saat Kaelan memberikan serangan mendadak yang seolah menembus hingga ke ulu hatinya.Rengekan frustr

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 91: Di antara Rasa dan Bahagia

    Nyonya Hotami mondar-mandir di ruang kerjanya yang bernuansa emas. Pikirannya tidak tenang, tapi dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa rencananya sudah sempurna."Vera mungkin hebat dalam desain, tapi dia hanya wanita yang sedang hancur sekarang," gumamnya, mencoba menguatkan hati. Dia memba

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 90: Pembuka

    Lorong rumah sakit kelas VVIP itu terasa mencekam. Aroma disinfektan yang tajam seolah memperparah suasana dingin di antara deretan kursi tunggu yang sunyi. Vera duduk mematung dengan punggung tegak, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Tidak ada suara isakan, tidak ada air mata yang me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status