LOGIN“Aku tidak suka mengulangi perintahku!” lanjut Durand dengan nada penuh ancaman. “Jangan paksa aku mendobraknya, Sora!”
Dengan tangan gemetar Sora membuka pintu. Membuka pintu ataupun tidak, hukuman akan tetap diterima. Belum sepenuhnya pintu terbuka, Durand mendorong Sora masuk dan menutup kembali pintu kamar tersebut dengan sedikit keras. Pria itu mencengkram pundak Sora, lalu mendorongnya ke dinding. “Kau sudah melanggar aturan malam ini.” Jari-jari besarnya menekan pundak wanita itu hingga membuatnya meringis kesakitan. “Sudah kukatakan, kau tidak ada hak melakukan sesuatu sesuka hati di sini!” Sora menggeleng, mencari kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. “Saya mendengar suara–” “Tutup mulutmu!” potong Durand, sebelum Sora menyelesaikan ucapannya. “Aku tidak memintamu berbicara, dan aku tidak butuh alasanmu!” Sora yang dikuasai ketakutan kini hanya menundukkan pandangannya. Pria di hadapannya benar-benar kasar, bahkan pada seorang wanita lemah sepertinya. “Dengar baik-baik.” Durand sedikit membungkuk dan memiringkan kepalanya. “Kau di sini hanya untuk mencari perlindungan, bukan mencampuri urusanku!” Jari telunjuknya menyentuh dagu Sora, memaksanya mendongak untuk menatapnya. “Jika aku melihatmu melanggar garis batasmu, aku tidak akan membiarkanmu merasa tenang. Kau akan menyesal sudah melihat, mendengar, dan sudah bernapas di rumahku!” Tak ada yang bisa Sora lakukan selain mengangguk, mengakui kendali sepenuhnya berada di tangan Durand. Esok harinya, Sora sudah kembali menjalani aktivitas di kampus. Pagi-pagi sekali harus berangkat, karena jarak mansion dan kampusnya cukup jauh. Ketika di lantai bawah, Sora tak melihat jejak semalam. Semuanya bersih. Bahkan hidungnya tak mencium anyir darah. Takut membuat Durand kembali murka, Sora segera menuju mobil yang sudah menunggunya. Selama perjalanan, ia hanya diam. Ia tak diizinkan berbicara dengan siapapun. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memandangi pemandangan kota melalui jendela mobil. Sekitar pukul 17.00, Sora baru saja menyelesaikan jam perkuliahannya. Mobil yang mengantarnya sudah menjemputnya. Ia harus segera kembali sebelum malam tiba. Sesampainya di mansion, Sora turun dari mobil, berjalan melewati pintu masuk. Kakinya menapaki tangga, membawanya ke lantai dua menuju kamarnya. Ketika melewati lorong pendek, langkah kakinya mendadak terhenti. Telinganya menangkap suara Erangan samar-samar. Erangan yang jelas-jelas dari seorang wanita. “Suara siapa itu?” gumamnya pelan. “Apa ada yang terluka?” Sora memperlambat langkah kakinya, karena penasaran. Matanya melirik ke sembarang arah guna mencari asal suara itu. Semakin lama, suaranya semakin jelas. Rupanya, suara itu bukan berasal dari orang yang terluka. Suara itu disusul desahan berat, bercampur dengan napas terengah-engah. Langkahnya terhenti tepat di depan salah satu kamar dengan pintu sedikit terbuka, memperlihatkan celah kecil. Suara yang dihasilkan terdengar jelas dari dalam sana. Karena rasa penasarannya, Sora mencondongkan tubuhnya, mendekatkan matanya pada sela sempit itu. Pemandangan yang tak terduga ia lihat. Durand yang biasanya kaku dan selalu mengintimidasi, sekarang pria itu terlentang di atas kasur dengan wanita seksi berambut hitam di atasnya. Kedua tangannya berada di pinggul wanita itu, menggerakkan tubuh seksinya sesuai ritme yang ia inginkan. Wanita itu mendongak dan menjerit nikmat, sesekali memanggil nama Durand dengan suara seksinya. “Lebih cepat lagi, Tuan.” Mata Sora terbelalak karena adegan yang tak seharusnya ia lihat. Rasa hangat mulai menjalar di pipinya. “Owh, astaga!” Detik itu juga, Durand dan wanita itu menghentikan gerakannya. Matanya menatap tajam ke arah pintu yang terbuka. Saat matanya memfokuskan ke sela pintu, ia melihat keberadaan Sora di sana. Tubuh Sora membeku. Ia tertangkap basah, Durand telah melihat keberadaannya. Dalam kepanikan, Sora segera menjauhkan diri dari pintu dan berjalan cepat menuju kamarnya. “Ya Tuhan … Orang Gila mana yang melakukan itu tidak mengunci pintu?” Sora mengutuk perbuatan Durand. Ia ingin segera tiba di kamarnya, tetapi langkah kakinya seperti melambat. “Sora!” Langkah Sora mendadak berhenti. Tanpa menoleh pun, ia tahu pemilik suara itu. Dalam hatinya mengumpat, belum genap satu minggu ia tinggal bersama Durand, tetapi nasib sial selalu mendatanginya. Ia selalu melihat apa saja yang tidak seharusnya dilihat. Saat membalikkan badan, tiba-tiba saja Durand sudah berada di belakangnya. Sora tersenyum kikuk. Suasana menjadi canggung. Di sana, Durand berdiri mengenakan kimono robe-nya, rambutnya acak-acakan. Pandangan Sora menunduk. “Kau melihatnya?” tanya Durand. Ekspresi wajahnya tak menunjukkan rasa malu. Sora mengangguk, tetapi satu detik kemudian ia menggeleng cepat. “Tidak, Tuan!” Sora tak sanggup mengangkat kepalanya. Rasa malu menjalarinya. Ia terus menunduk, menatap corak marmer di bawah kakinya. Suara hatinya bertalu-talu, matanya terpejam bersiap menerima omelan Durand. “Angkat kepalamu!” perintahnya, tidak bisa dibantah. Sora terpaksa mendongak. Akan tetapi arah pandangnya tak sengaja tertuju pada kimono robe yang dipakai Durand terbuka, memperlihatkan bagian dadanya. Kulitnya yang berkeringat, serta otot-ototnya menonjol. Sekarang, pipi Sora terasa terbakar hingga terasa ke telinga. Durand tahu ke mana arah pandang Sora saat ini. Ekspresinya yang dingin bertambah tajam. “Ingat peraturan yang kubuat.” Sora memberanikan diri menjawab, “Maafkan saya, Tuan. Saya kira … suara itu berasal dari seseorang yang sedang terluka.” “Kau tidak perlu tahu apa yang terjadi di rumah ini. Kau hanya boleh tahu jika aku mengizinkanmu untuk tahu. Mengerti?” Durand menekankan kata-katanya. Sora mengangguk. “Lupakan apa yang kau lihat!” Suaranya rendah, tetapi mematikan. Sora kembali mengangguk. Tanpa berani menatap lagi, ia berbalik dan segera berlari menuju kamarnya.Malam semakin larut, dan keheningan dalam area belajar di mansion itu membuat Sora tenggelam dalam ketikannya. Hingga ia tak sadar seseorang berhenti di depan pintu ruang belajar dan menatapnya selama beberapa saat. “Kau masih belum tidur?”Sora terperanjat kaget, lalu mendongakkan kepalanya. Dmitri berdiri di ambang pintu sambil membawa dua cangkir coklat panas yang asapnya masih terlihat mengepul. Menyadari tatapan bingung Sora, ia pun melangkah masuk dengan santai.“Kebetulan aku tadi lewat dan melihatmu masih di sini,” ujar Dmitri.Ia mendekat ke arah meja dan meletakkan satu cangkir di samping laptop milik Sora. Aroma manis dari coklat itu langsung tercium, mengusir rasa penat yang menggelayuti Sora sejak tadi.“Minumlah sebelum dingin.” Setelah mengatakan itu, Dmitri duduk di sofa seberang meja Sora.“Terima kasih.” Sora menyeruput coklat itu perlahan. Dmitri mencoba mengintip ke dalam layar laptop Sora. “Kau terlalu bekerja keras. Katakan saja padaku jika perlu bantuan.” So
Setelah sarapan berakhir, satu per satu anggota keluarga meninggalkan ruang makan.Viktor menjadi orang pertama yang pergi setelah menerima panggilan penting. Tak lama kemudian, disusul Durand, karena pekerjaannya sudah menumpuk.Lalu Sylvie juga menghilang entah ke mana. Hélèna memilih tetap berada di ruang makan sambil menikmati secangkir teh hangat.Sora hendak kembali ke kamarnya, tetapi suara Dmitri menghentikannya."Kenapa kau buru-buru kembali, Sora?"Sora menoleh. “Besok adalah ujian akhir, jadi aku harus menyiapkan diri.”Hélèna kembali meletakkan cangkirnya, lalu menoleh ke arah Sora dengan tersenyum tipis. “Ujian akhir memang tidak bisa diremehkan, tapi kau juga tidak boleh memaksakan diri, Sora.”Sora hanya mengangguk pelan dan tersenyum saat menerima perhatian kecil itu, sebelum akhirnya ia benar-benar berpamitan kembali ke kamarnya.Dari matahari di atas kepala sampai matahari tenggelam, matanya sibuk menatap lembar demi lembar catatan kuliahnya. Otaknya berusaha penuh m
“Apa Durand menyulitkanmu?” Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Sora perlahan memudar. Ia tidak menyangka jika Dmitri bisa menyadari perubahan ekspresinya. Padahal, ia sudah berusaha keras untuk tetap terlihat baik-baik saja. Kedua tangan Sora mengepal di samping tubuhnya. Ada banyak hal yang ia sembunyikan, tetapi mengapa pria di sebelahnya begitu peka?Apakah semua keluarga Volkov memiliki insting tajam?Sora memilih diam. Sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, lalu ia menggeleng pelan.Dentuman kembang api masih belum berhenti, menelan keheningan di antara mereka.***Mobil mewah itu akhirnya memasuki pelataran Mansion tepat lewat tengah malam.Udara dingin menyelimuti halaman yang sunyi, suasana begitu kontras dengan hiruk pikuk kota beberapa menit yang lalu. Dan di sana, Durand duduk bersandar di bagian depan mobilnya dengan ditemani sebatang rokok di sela jarinya. Bara merah kecil di ujung itu menyala, beberapa detik kemudian asap tipis mulai mengepul di udara. Mobil it
Makan malam usai, mereka kembali keluar dari restoran. Udara malam semakin dingin, meski begitu, jalanan Moskow semakin ramai, orang-orang mulai bergerak menuju pusat perayaan tahun baru.Semakin malam, kota akan semakin ramai. Menggunakan mobil akan membuat mereka terjebak di tengah kemacetan. Sora memperhatikan Dmitri yang hendak membuka pintu mobil, dan dengan cepat ia menahannya. "Kita tinggalkan saja mobilnya di sini."Dmitri mengerutkan kening. Ia menatap Sora dengan wajah bingungnya. "Kenapa?"Sora memahami ekspresi Dmitri. Ia sangat sadar jika ucapannya barusan terdengar sangat ambigu, tiba-tiba saja. Orang gila mana yang akan meninggalkan mobilnya begitu saja di tempat asing. "Jalanan di Moskow sangat padat di malam tahun baru," jawabnya santai. "Lebih cepat kita gunakan metro, titipkan saja mobilnya di sini sementara."Dmitri terdiam, menatap jalanan yang mulai padat, lalu kembali menatap Sora. Perlahan sudut bibirnya terangkat. “Baiklah. Aku setuju.” Dmitri kembali menyi
Sementara di Mansion Volkov, suasana tampak sepi dan ganjil. Ruang makan yang luas itu hanya diisi dengan dentingan alat makan yang beradu dengan porselen mahal. Sementara para pelayan berdiri di setiap sudut ruangan.Hélèna meletakkan garpunya dengan dentingan keras, menunjukkan kekesalannya yang tidak bisa ditutupi. Ia menatap kursi kosong di seberang, milik Durand. "Bahkan malam tahun baru pun dia tidak pulang walau hanya untuk makan malam," gerutunya, nada suaranya dipenuhi ketidaksenangan. "Kesibukannya seperti menelan sisi manusianya!"Viktor yang duduk di ujung meja menyesap red wine dengan tenang. Ekspresinya jauh lebih tenang, meski sang istri dalam suasana hati kesal. "Durand sedang mengurus logistiknya yang memang sangat sibuk, Hélèna. Kau tahu sendiri bagaimana sibuknya logistik di akhir tahun seperti ini," balas Viktor datar. “Itu karena kau membebankan semuanya padanya!” Viktor menghela napas panjang. “Bukankah sama saja dengan Dmitri yang mengurus bisnis di Paris?”
Langit sudah gelap sepenuhnya. Kini, jalanan dipenuhi lampu-lampu hias yang menggantung sepanjang jalan, memantul di permukaan salju. Orang-orang berjalan cepat, membungkus diri mereka dengan mantel tebal dan syal. Moskow akan tampak terlihat lebih hidup ketika menjelang tahun baru. Mereka akan berbelanja, membawa kantong belanja penuh makanan menyambut tahun baru. Suasana di dalam mobil hening. Namun, Sora merasa tidak ada tekanan seperti biasanya. Jalanan yang cukup padat membuat arus perjalanan mereka sedikit terganggu. Dmitri sesekali melirik ke arah Sora. Waktu sudah menunjukkan makan malam. Harusnya, makan malam terlebih dahulu sebelum berangkat."Harusnya kita makan malam dulu sebelum berkeliling," ucap Dmitri sambil mendengus kesal. Ia menoleh ke arah Sora, menunjukkan senyum santai, kemudian bertanya, "Apa kau ingin makan sesuatu, Sora?"Sora menoleh. "Aku ikut saja." Baginya, makan apa saja tidak ada bedanya. "Kau yang lebih tahu banyak tentang Moskow, Sora. Aku tidak
Durand tak menjawab permintaan maaf dari pelayan itu. Wajahnya tenang, tetapi nada suaranya terdengar penuh intimidasi. “Keluar.”Pelayan itu menunduk cepat. Ia hampir tersandung ketika melangkah pergi meninggalkan Durand dan Sora. Pintu kembali tertutup.Suasana kembali hening.Sora masih berdiri
Sora menarik napas lega, memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas kasur. Hawa dingin dan sunyinya kamar berasa surga yang diidam-idamkan. Ia kembali menggulung tubuhnya di bawah selimut.Perlahan, kesadarannya hilang. Napasnya mulai teratur. Ia hampir saja jatuh ke dalam tidurnya yang nyenyak.
Pagi itu, udara Moskow terasa lebih dingin dari sebelumnya, menandakan musim dingin semakin dekat. Hanya menghitung hari. Durand duduk di kursi menatap keluar jendela ruang kerjanya. Di luar sana, kabut tipis menyelimuti hamparan taman luas dan menyamarkan patung-patung marmer. Cahaya matahari be
Sora mengerutkan kening, menatap Belin dengan serius. Permintaan itu terlalu tiba-tiba, tetapi cara Belin mengatakannya terlihat serius dan tak bisa diabaikan. “Membantu?” tanya Sora ragu. “Apa itu?”Belin menarik napas panjang sebelum menjawab. “Saya butuh bantuan Nona untuk membujuk Tuan Durand







