INICIAR SESIÓNSora, gadis yatim piatu terpaksa harus tinggal bersama keluarga mafia atas permintaan terakhir ayahnya yang merupakan rekan lama dalam jaringan dunia bawah keluarga Volkov. Di sana, ia harus bertahan di tengah banyaknya aturan tak tertulis. Putra Sulung mereka—Durand, menganggap Sora adalah beban dan ancaman organisasi. Lambat laun, tatapan curiga itu berubah menjadi obsesi yang merusak dinding pertahanan. Follow ig : _lili_lotus
Ver más“Kau pikir dunia akan memberimu waktu berkabung? Dunia tidak mengenal belas kasihan, Nak!”
Suara berat itu berasal dari belakang. Seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam dan membawa dua tangkai bunga krisan putih di tangannya. Sora menoleh. Matanya basah karena air mata, tangannya gemetar di atas gundukan tanah yang masih basah. Pria paruh baya itu bukan bagian keluarga, tetapi semua orang di pemakaman membuka jalan begitu ia melangkah. Sora bertanya bingung, “Siapa Anda?” Pria itu menatap nisan, lalu beralih ke arah Sora. “Orang yang berhutang darah pada Papamu. Dan hari ini, aku bayar lunas.” Kata itu terasa asing di telinganya. Butuh waktu lama untuk Sora mencerna ucapan tersebut. Pandangannya beralih dari nisan sang papa, kemudian kembali pada pria di hadapannya. Hutang darah? Apa maksudnya? Sora menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Saya tidak mengerti, Tuan.” “Papamu pernah menyelamatkanku dua puluh lima tahun yang lalu.” Pria itu maju satu langkah. Ia mengeluarkan amplop dari balik jasnya, lalu memberikan pada Sora. “Dia menuliskan ini untukmu, dia tahu jika ini akan terjadi. Sekarang, ikutlah denganku. Kediaman Volkov satu-satunya tempat teraman untukmu.” Volkov? Tentu nama itu tak asing baginya. Nama itu terkenal seantero kota Moskow karena bisnis dan kekayaannya. Namun di balik itu, banyak rahasia yang tidak satu orang pun ketahui. Yang menjadi pertanyaannya, bagaimana bisa papanya memiliki kedekatan dengan keluarga itu? Tak semudah itu orang dari kalangan bawah seperti mereka bisa dekat dengan mereka. Jika dia adalah bagian dari keluarga Volkov, berarti, pria yang ada di hadapannya saat ini adalah Viktor. Kepala keluarga Volkov. Sora menatap amplop tersebut. Amplop itu masih tersegel rapi, dan terdapat tulisan tangan papanya di atasnya. Meski merasa penasaran, ia tak bisa membukanya sekarang. “Saya tidak bisa–” “Ini sudah kesepakatan, Nak,” sela Viktor cepat. Suaranya tenang, tetapi mampu membuat Sora tak bisa membantah. Tak lama kemudian muncul dua orang berpakaian serba hitam di belakangnya. Mereka tak bicara, hanya menunggu Sora berdiri. Viktor menekuk lututnya, meletakkan bunga krisan di atas nisan baru itu. Kemudian melanjutkan, “Ikutlah dengan mereka. Mereka akan membawamu ke tempat barumu.” Sora tak punya pilihan. Dua pria itu menuntun Sora masuk ke dalam mobil. Beberapa detik kemudian, mobil hitam mewah itu melaju, menuju mansion Volkov. Sora duduk di kursi belakang. Surat dari papanya masih di genggaman. Entah mengapa, ia merasa isi surat itu akan mengubah segalanya. Membuatnya tak berani membukanya. Setelah satu jam perjalanan, mobil hitam itu mulai memasuki gerbang. Di tengah halaman luas itu, bangunan megah berdiri kokoh. Pilar-pilar tinggi itu mempertegas kekuatan bangunan itu. Mobil berhenti di depan pintu masuk. Pintu belakang mobil terbuka. Tanpa menunggu aba-aba Sora pun turun. Baru saja ia turun, suara berat langsung menyambutnya dengan nada tidak suka. “Papamu membuat permintaan terakhir yang menarik!” Sora baru saja tiba. Namun, sambutan yang diterimanya jauh dari kata baik. Meski ucapan itu tenang, tetapi ia tahu bahwa kata-kata itu mengandung sarkatik. Tangannya meremas ujung bajunya karena gugup. Tatapannya kini tertuju pada sosok pria yang berdiri di ambang pintu mansion mewah itu, Mikhail Durand Volkov, calon pewaris jaringan mafia yang sudah ditentukan. Di mata internasional, mereka dikenal sebagai perusahaan logistik. Namun di balik layar, mereka mengendalikan perdagangan senjata, dan barang ilegal lainnya. Mereka tidak mudah diajak negosiasi. Mereka main cantik dan efisien. Banyak negara tahu, tapi mereka tak berani menyentuh. Pria itu memiliki paras rupawan. Namun aura intimidasi sangat kuat pada dirinya. Mata gelapnya menelisik penampilan Sora dari ujung rambut hingga ujung kaki, menatapnya selayaknya hewan buruan. Ia melanjutkan ucapannya dengan nada mencemooh, “Dia menjadikanku dan organisasiku penjaga untukmu. Apa dia pikir tempat ini penampungan yatim piatu?” “Tuan, saya–” “Siapa yang menyuruhmu menjawab?” sela Durand cepat. Mulut Sora terkunci rapat, genggaman di bajunya mengencang karena rasa gugup semakin membuncah. Ia tak ada hak untuk menjawab, apalagi untuk membantah setiap ucapan pria itu. Keberadaannya di sini hanya sebagai beban, dan ia menyadari itu. Durand melangkah mendekat, langkahnya terukur penuh dominasi. Hanya melalui tatapannya mampu membuat punggung Sora basah. “Jangan menatapku seperti itu!” suaranya dingin, dan penuh otoriter. “Kau bukanlah yatim piatu yang memiliki kebebasan, kau adalah bagian kekuasaanku sekarang.” Durand sedikit membungkuk, sehingga wajahnya sejajar dengan Sora. Reflek Sora sedikit bergerak ke belakang, dan menahan napas. Ia bisa melihat tatapan mematikan pria di depannya. “Dan setiap bagian dari kekuasaanku, aku akan menjaganya dengan seluruh tenagaku. Atau ….” Ia sengaja menjeda ucapannya, membuat suasana semakin tegang. “Menghancurkannya hingga tak tersisa.” Mendengarnya, membuat Sora meneguk ludahnya susah payah. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia mengangguk, mengakui kekalahan yang bahkan pertarungan belum dimulai. Sebuah senyum sinis muncul di bibir pria itu. Puas melihat wajah polos itu tidak bisa membantah semua ucapannya. Durand kembali menegakkan tubuhnya, kedua tangannya tersumpal di dalam saku celananya. “Kamarmu di lantai dua paling ujung. Jangan berbicara jika tidak ditanya, jangan berbicara dengan pelayan tanpa seizinku, jangan membuka pintu lain. Di rumah ini, kau tidak ada hak untuk berbuat sesuka hati.” Durand melirik pengawalnya yang sudah siap di belakangnya. “Bawa dia masuk. Tunjukkan di mana kamarnya, dan pastikan dia memahami semua aturan yang kubuat.” Pengawal itu mengangguk. Durand berbalik melangkah masuk, dan membiarkan pengawalnya mengambil alih menuntun Sora menuju sel barunya. Sora mengikutinya pasrah, ia menyadari bahwa sepenuhnya hidupnya kini dikendalikan Durand. Waktu tengah malam, Sora terbangun, tenggorokannya terasa kering. Tak ada air di atas meja. ‘Jangan bicara dengan pelayan tanpa seizinku.’ Aturan itu berputar di kepalanya. Rasa haus yang tak terbendung membuatnya turun ke dapur, mengambil air, sesuatu yang harus ia ambil sendiri di lantai bawah. Setelah gelas terisi penuh, Sora cepat-cepat kembali. Namun, ia harus berpapasan dengan Durand di ujung koridor. Pria itu baru saja tiba, lengkap dengan baju serba hitamnya. Sora menunduk dan bergeser merapat ke dinding, menghindari kekacauan yang mungkin terjadi. Akan tetapi, suara Durand membuatnya menghentikan langkah. “Berhenti!”Di dalam ruang belajar yang kembali sunyi semenjak Dmitri pergi, ponsel Sora yang tergeletak di samping laptop tiba-tiba bergetar. Sora menoleh, membaca nama pengirim itu selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka pesan. [Di mana kau sekarang?]Jari Sora beberapa saat di atas papan ketik. Ia membaca beberapa kali kalimat pendek itu, menimbang jawaban apa yang akan ia berikan.Satu hal yang ia tahu, Durand tidak menyukai kebohongan. Maka dari itu ia langsung mengetikkan balasan. [Aku di ruang belajar. Dmitri baru saja membantuku menerjemahkan bagian akhir naskah kuno untuk diplomku.]Setelah mengirim balasan itu, Sora membalikkan ponselnya hingga layarnya menghadap ke bawah. Ia mencoba kembali fokus pada laptopnya, tetapi pikirannya terus tertuju pada perkataan pelayan tadi. Fokusnya menjadi terbelah. Sora memilih untuk menutup laptop, membereskan semua buku-buku di atas meja, lalu kembali ke kamarnya. ***Malam berikutnya, keluarga Volkov kembali berkumpul untuk makan malam.
Malam semakin larut, dan keheningan dalam area belajar di mansion itu membuat Sora tenggelam dalam ketikannya. Hingga ia tak sadar seseorang berhenti di depan pintu ruang belajar dan menatapnya selama beberapa saat. “Kau masih belum tidur?”Sora terperanjat kaget, lalu mendongakkan kepalanya. Dmitri berdiri di ambang pintu sambil membawa dua cangkir coklat panas yang asapnya masih terlihat mengepul. Menyadari tatapan bingung Sora, ia pun melangkah masuk dengan santai.“Kebetulan aku tadi lewat dan melihatmu masih di sini,” ujar Dmitri.Ia mendekat ke arah meja dan meletakkan satu cangkir di samping laptop milik Sora. Aroma manis dari coklat itu langsung tercium, mengusir rasa penat yang menggelayuti Sora sejak tadi.“Minumlah sebelum dingin.” Setelah mengatakan itu, Dmitri duduk di sofa seberang meja Sora.“Terima kasih.” Sora menyeruput coklat itu perlahan. Dmitri mencoba mengintip ke dalam layar laptop Sora. “Kau terlalu bekerja keras. Katakan saja padaku jika perlu bantuan.” So
Setelah sarapan berakhir, satu per satu anggota keluarga meninggalkan ruang makan.Viktor menjadi orang pertama yang pergi setelah menerima panggilan penting. Tak lama kemudian, disusul Durand, karena pekerjaannya sudah menumpuk.Lalu Sylvie juga menghilang entah ke mana. Hélèna memilih tetap berada di ruang makan sambil menikmati secangkir teh hangat.Sora hendak kembali ke kamarnya, tetapi suara Dmitri menghentikannya."Kenapa kau buru-buru kembali, Sora?"Sora menoleh. “Besok adalah ujian akhir, jadi aku harus menyiapkan diri.”Hélèna kembali meletakkan cangkirnya, lalu menoleh ke arah Sora dengan tersenyum tipis. “Ujian akhir memang tidak bisa diremehkan, tapi kau juga tidak boleh memaksakan diri, Sora.”Sora hanya mengangguk pelan dan tersenyum saat menerima perhatian kecil itu, sebelum akhirnya ia benar-benar berpamitan kembali ke kamarnya.Dari matahari di atas kepala sampai matahari tenggelam, matanya sibuk menatap lembar demi lembar catatan kuliahnya. Otaknya berusaha penuh m
“Apa Durand menyulitkanmu?” Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Sora perlahan memudar. Ia tidak menyangka jika Dmitri bisa menyadari perubahan ekspresinya. Padahal, ia sudah berusaha keras untuk tetap terlihat baik-baik saja. Kedua tangan Sora mengepal di samping tubuhnya. Ada banyak hal yang ia sembunyikan, tetapi mengapa pria di sebelahnya begitu peka?Apakah semua keluarga Volkov memiliki insting tajam?Sora memilih diam. Sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, lalu ia menggeleng pelan.Dentuman kembang api masih belum berhenti, menelan keheningan di antara mereka.***Mobil mewah itu akhirnya memasuki pelataran Mansion tepat lewat tengah malam.Udara dingin menyelimuti halaman yang sunyi, suasana begitu kontras dengan hiruk pikuk kota beberapa menit yang lalu. Dan di sana, Durand duduk bersandar di bagian depan mobilnya dengan ditemani sebatang rokok di sela jarinya. Bara merah kecil di ujung itu menyala, beberapa detik kemudian asap tipis mulai mengepul di udara. Mobil it
Sora menarik napas lega, memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas kasur. Hawa dingin dan sunyinya kamar berasa surga yang diidam-idamkan. Ia kembali menggulung tubuhnya di bawah selimut.Perlahan, kesadarannya hilang. Napasnya mulai teratur. Ia hampir saja jatuh ke dalam tidurnya yang nyenyak.
Sora berdiri beberapa langkah dari ranjang miliknya, lalu merenggangkan punggungnya. Tangannya ditarik ke belakang, lehernya dimiringkan ke satu sisi. Bunyi tulangnya beradu renyah, membuatnya meringis.“Ah … sial!” umpatnya kesal. Sora menekan punggung bawahnya dengan telapak tangannya. Otot-oto
Durand tidak membalas. Untuk pertama kalinya Durand terdiam pada Sora—membiarkan wanita itu menyingkap sedikit kemejanya. Sora menyingkapnya. Meski ia tahu, ketika Durand membaik, konsekuensi dari keberaniannya ini akan berimbas fatal.Kemeja Durand terangkat.Sora terdiam sesaat. Darah itu meres
Langkah Sora terasa ringan ketika menyusuri trotoar lebar di Kutuzovsky Prospekt. Setiap bangunan terlihat megah dengan lampu kekuningan memberikan kesan kokoh dan abadi. Sora menatap barisan lampu berpaduan dengan cahaya lampu dari jendela-jendela apartemen kelas atas di sepanjang jalan. Kilauan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.