Masuk"Bayar hutang ayahmu dengan tubuhmu, sampai aku puas dan bosan menyentuhmu!" Malam reuni para pewaris miliarder mempertemukan Catriona Wilson dengan Dominic Jackson, hidup Catriona berubah total. Si cupu berkacamata itu kini menjelma menjadi mafia terganas bernama Black Jack. Catriona yang arogan dan angkuh, harus rela menandatangani pernikahan kontrak, tunduk, dan menjadi milik Dominic demi menebus hutang ayahnya yang mencapai puluhan triliun. Saat kebencian berubah jadi candu, dan masa lalu kelam perlahan terkuak, siapa yang akan bertahan, sang wanita arogan atau sang boss mafia? Atau keduanya saling bertahan?
Lihat lebih banyakAnda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan.
"Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan siapa pun yang mengenalnya. Dialah Dominic Jackson, boss mafia termuda, terkaya, dan paling ditakuti di benua hitam. Sosok yang kabarnya bisa melenyapkan satu nyawa hanya dengan satu jentikan jari. Sebuah legenda hidup di dunia kelam. Malam itu, Barbara District berdetak seperti jantung liar yang tak pernah lelah berdetak. Sebuah kota yang dijuluki sebagai surga malam, tetapi penuh dengan neraka tersembunyi. Distrik tempat semua dosa dikomersilkan dan semua batas bisa dibeli. Di salah satu diskotik termegah kota, diselenggarakan reuni besar-besaran. Seorang anak konglomerat menyewa seluruh venue demi pesta liar bertema “perpisahan masa lajang” yang sebenarnya hanyalah kedok pesta penuh lendir, minuman, dan transaksi kotor lainnya. Mobil-mobil mewah seharga puluhan miliar berjajar seperti parade keangkuhan. Malam ini bukan malam biasa. Ini adalah malam para raja dosa turun dari singgasana dan bersenang-senang seperti dewa. TIN! TIN! TIIIIIIIIIN! Sebuah klakson membuyarkan pikiran Dominic. Lelaki di belakang kemudi menoleh, geram. “Tuan, izinkan saya..” Ia hendak turun. “Biarkan,” cegah Dominic ringan. “Aku tidak ingin merusak reuni pertamaku.” Reuni? Ya. Setelah belasan tahun sejak lulus sekolah menengah, malam ini untuk pertama kalinya Dominic Jackson memutuskan untuk muncul. Bukan tanpa alasan. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Seseorang, lebih tepatnya. TIN! TIIIIIIIN! “Brengsek! Mobil siapa ini?! Berani-beraninya parkir di tempatku!” teriak suara perempuan dari dalam mobil sport berwarna merah mencolok. Dengan brutal, wanita itu turun dan langsung menghantam kaca mobil Dominic menggunakan high heels mahalnya. Ia bahkan melepaskan salah satu sepatunya untuk mengetuk kaca keras-keras. TOK! TOK! TOK! “Keluar kau! Jangan membuatku marah!” teriaknya penuh emosi. Ia menunduk, mengintip ke dalam. Namun kaca gelap mobil Dominic tak memberinya apa-apa. Dominic melihat dari balik kaca dengan ekspresi geli. Wanita itu terlihat seperti anak kecil yang tantrum di supermarket. Aneh, konyol, tapi cukup menggemaskan. "Dia tidak berubah," batin Dominic sambil menyungging senyum tipis. Kenangan lama menyelusup di antara kesadarannya. Saat sang wanita kembali ke mobilnya, Dominic mengira drama sudah selesai. Tapi ternyata ia datang lagi, kali ini membawa alat pemecah kaca darurat. PRANG!! Kaca mobil Dominic retak berkeping-keping. “Tuan!” pengawal sudah menggenggam senjata. “Biarkan,” ulang Dominic santai. Sang pengawal terdiam. Tidak masuk akal. Ini Dominic Jackson yang bahkan bisa membunuh hanya karena dilirik. Tapi sekarang? Bahkan tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya senyum aneh yang menyiratkan sesuatu. “Turun kau! Atau kuhancurkan semua kacamu! Jangan macam-macam dengan wanita patah hati!” teriak sang wanita garang. Dominic menuruti. Pintu mobil terbuka perlahan. Seorang pria dengan postur sempurna turun, mengenakan setelan hitam klasik, wajahnya tertutup kacamata hitam. Maskulin. Aroma parfumnya menyengat. Membuat orang di sekitarnya refleks menahan napas. Wanita itu menyipitkan mata, mencoba mengenali. Dominic membuka kacamata hitamnya perlahan. “Catriona Wilson,” sapanya, seolah memanggil masa lalu. Catriona menatap, bingung. “Maaf, siapa kau? Semua alumni mengenalku. Tapi aku tak mengenalmu,” ucapnya dengan angkuh. Dominic menilai penampilannya. Gaun merah mini ketat, dada mencolok, belahan paha menantang. Tubuhnya kini jauh berbeda dari gadis kutu buku yang dulu sering mengikuti lomba debat. “Perubahan yang bagus... sayang sifat arogannya masih sama,” gumam Dominic sinis. Catriona menyilangkan tangan, menutupi dadanya. “Jangan kurang ajar padaku!” Dominic mendekat, begitu dekat hingga nafas mereka hampir menyatu. “Bukannya kau sendiri yang pamer?” bisiknya. “Padat. Tapi... sayang, palsu.” “Apa kau bilang?!” bentaknya merah padam. Dominic tiba-tiba menunduk, jarak wajah mereka hanya sejengkal. Catriona terpaku, detak jantungnya kacau. Wajahnya memerah entah karena marah atau gugup. “Pal-su,” bisik Dominic di telinganya. Catriona tersentak. Ia mundur. Tergelincir. Dan… BUGH! Bongkahan pinggulnya mencium aspal dengan keras. “AAARGH! Lelaki gila!” umpatnya, meringis sambil memegangi pahanya. Dominic berdiri tenang, tetap memandang ke arahnya dengan santai. “Kaca mobilku. Kau harus menggantinya.” “Dalam mimpimu, brengsek!” Dominic tersenyum dingin. Kacamata kembali terpasang. Ia membalikkan badan, melangkah pergi, meninggalkan Catriona yang masih duduk di aspal dengan emosi membara. “Kau akan menanggung akibatnya, Kucing Arogan.” DEG! Catriona mematung. Suara itu... panggilan itu... seolah membawa ingatannya kembali ke satu sosok culun, pemalu, berkacamata tebal, dengan tas penuh buku dan wajah tanpa ekspresi. Matanya membelalak. Nafasnya tertahan. “Kau… si Cupu?!” serunya tak percaya. Dominic hanya menyeringai tanpa menoleh. Langkahnya mantap memasuki arena reuni. Sementara Catriona masih terpaku, matanya membara campur aduk oleh rasa malu, penasaran, dan entah apa lagi yang bergemuruh di dadanya.Catriona sudah memiliki rencana akan meninggalkan kenangan yang harus diingat Dayana selamanya, sebelum pergi meninggalkan kastil. Catriona akan menunjukkan pada Dayana jika Diiminic hanya mencintai dirinya, dan posisinya sebagai istri tak bisa digeser siapa pun.Tidak ada celah bagi orang ketiga di hubungan mereka. Dan siapa pun yang mencoba mengusik hubungannya, maka ia akan terhempas dengan sendirinya.Nampak seringai samar di wajah Catriona yang terbaca oleh Dominic. Ia bisa menebak apa yang saat ini sedang direncanakan oleh Catriona.Dominic tidak akan melarang Catriona untuk melakukan apa pun. Ia justru penasaran skenario apa yang sudah disusun di dalam kepala istrinya itu. Dominic hanya akan menyaksikan, bagaimana cara istrinya bekerja."Dominic!" lirih Catriona."Ya Honey!" jawab Dominic lembut."Lihat, apa di atas dinding itu!" seru Catriona sambil menunjuk ke arah atas.Reflek Dominic mendongakkan kepalanya ke atas, ke arah tangan Catriona menujuk.CUPDominic sedikit terkej
BRAKDengan kasar Catriona melemparkan tasnya sembarangan ke atas meja. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan keras."Siapa wanita itu?" sungut Catriona. Wajahnya menekuk, mata indahnya tertutup oleh kobaran api cemburu. Ia menatap nyalang ke arah Dominic. Menunjukkan kemarahan, kekesalan, juga kekecewaannya.Tangannya dilipat ke depan dada, napasnya naik turun tidak beraturan. Baru saja, ia merasa sangat dicintai oleh Dominic. Menjadi satu-satunya wanita yang beruntung bisa menempati hati Dominic dan berada di sisinya.Namun, sekarang ia justru mendapati wanita lain berada di dalam kastil suaminya. Wanita yang dengan sangat akrab menyebut nama Dominic dengan panggilan berbeda.Dominic duduk di meja berhadapan dengan Catriona. Ia menatap wajah istrinya yang merah padam karena terbakar rasa cemburu. Dominic hanya tersenyum melihat kecantikan wajah istrinya ketika cemburu seperti ini.Semakin mempesona, dan membuatnya sangat bahagia. Rasa cemburu Catriona adalah hadiah terindah bagin
Baru beberapa langkah meninggalkan ruang senjata, Mark datang menghampiri dengan langkah tergesa. Dari raut wajahnya, Dominic tahu laporan yang dibawanya bukan perkara sepele."Tuan," panggil Mark sambil menundukkan kepala.Dominic menghentikan langkahnya. Catriona ikut menoleh ke arah Mark."Ada apa?"Mark mengangkat wajahnya. "Nyonya Jenny sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Beliau sekarang berada di kastil."Raut wajah Dominic seketika kembali datar."Aku tidak peduli."Jawaban dingin itu membuat Mark terdiam. Ia sudah menduga respons tersebut.Namun, Catriona justru menoleh tajam ke arah suaminya."Dominic." Nada suaranya lembut, tetapi penuh penegasan. "Waktu tidak pernah bisa diputar kembali."Dominic memandang istrinya tanpa menyela."Selagi masih ada kesempatan, temuilah ibumu." Catriona menggenggam tangan Dominic lebih erat. "Bagaimanapun juga, beliau adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkanmu."Tatapan Dominic melembut.Di dunia ini, mungkin hanya Catriona ya
Buket bunga camelia putih terbaring rapi di atas sebuah pusara. Kelopaknya yang bersih seolah menjadi lambang ketulusan cinta yang tak pernah pudar oleh waktu.Di atas batu nisan marmer hitam itu terukir sebuah nama. Camelia Barcklay.Seorang wanita yang telah lama meninggalkan dunia, tetapi kenangannya masih hidup di hati orang-orang yang mencintainya.Jenny berdiri mematung di hadapan makam itu. Tatapannya tak pernah lepas dari foto Camelia yang tersenyum lembut. Senyum yang dulu begitu akrab, kini hanya tinggal kenangan.Di sampingnya, Jackson ikut berdiri dalam diam.Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua datang setiap tahun untuk mengunjungi makam wanita yang pernah menjadi sahabat sekaligus penyelamat hidup mereka.Air mata Jenny akhirnya jatuh."Maafkan aku, Camelia..." lirihnya dengan suara bergetar. "Aku gagal menjaga putrimu. Aku... telah mengingkari janjiku padamu."Tubuh Jenny perlahan melemas hingga berlutut di depan pusara. Tangis yang selama ini ia pendam akhirnya pecah
“Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el
Hanya ada satu orang. Satu-satunya teman yang pernah menyebutnya "kucing arogan" hanyalah Dominic, si lelaki cupu yang dulu kerap menjadi korban bully di sekolah.“Tidak mungkin…” gumam Catriona pelan. Masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dominic, lelaki cupu yang dulu tak berani menatap mata siapa
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Anda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan."Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.