Home / Mafia / Obsesi Cinta Tuan Mafia / [2] Dia Membunuh?

Share

[2] Dia Membunuh?

Author: Kim Meili
last update publish date: 2026-02-25 05:53:52

“Jangan!”

Clara berteriak sekeras mungkin ketika Ethan terlihat sudah membuka satu persatu kancing pakaiannya. Pria itu menunjukkan bagian dada yang tidak tertutup sama sekali. Melihat tatapan tajam dari Ethan benar-benar membuat Clara merinding. Air matanya juga tidak berhenti mengalir.

“Aku mohon jangan,” kata Clara dengan raut wajah memelas. Dia sedikit memundurkan tubuh, berusaha menghindari Ethan.

Namun, bukan Ethan namanya kalau menuruti ucapan orang lain. Dia pun terus mendekat ke arah Clara yang masih berada di ranjang. Jaraknya memang cukup jauh, tetapi itu masih dalam jangkauan pria tersebut. Dia bahkan mengamati lekuk tubuh Clara yang tampak menggoda. Hingga dia melihat wanita itu membalikkan tubuh dan siap pergi. Tepat saat itu, Ethan meraih tangan Clara dan menariknya.

“Tidak! Jangan!” teriak Clara dengan isak tangis yang masih terdengar.

“Kamu mau kabur, hah?” Ethan menangkup pipi Clara dan mengapitnya dengan keras.

Clara tidak bisa mengatakan apapun, tetapi dia terus menggelengkan kepala. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi ketika Ethan mendekatkan kepala. Dia bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria tersebut.

“Aku mohon jangan apa-apakan aku,” pinta Clara. Ketika pria itu menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. Sekali saja Clara membuat gerakan, pasti bibirnya akan bersentuhan dengan bibir pria itu.

“Keluargamu sudah memberikanmu denganku. Jadi, sekarang hidupmu ada dalam genggamanku, Clara.”

Clara yang mendengar hal itu langsung memucat. Benar apa yang dikatakan Ethan. Sejak dirinya masuk ke rumah itu, dia memang sudah tidak memiliki kehidupannya lagi. Sang papa benar-benar menjadikannya budak untuk pria itu.

Ethan yang melihat Clara hanya diam langsung tersenyum sinis. Jemarinya langsung bergerak, melepas satu persatu kancing pakaian Clara. Malam ini, dia ingin melepas semua hasratnya.

Namun, saat pakaian itu terbuka, Ethan terdiam. Kedua matanya melebar, melihat bekas luka di tubuh Clara. Ada yang baru, ada juga yang terlihat sudah lama. Dia pun menatap ke arah Clara yang saat itu hanya menutup mata dengan tubuh bergetar.

‘Ini luka yang diberikan keluarga Athena?’ batin Ethan.

Suasana ruangan yang awalnya begitu mencekam, kali ini terasa hening. Tidak ada yang membuka suara sama sekali. Ethan masih terpaku dengan luka yang berada di sekujur tubuh Clara. Hingga dia mengurungkan niat dan membuang nafas kasar. Ethan pun bangkit dengan raut wajah masam.

Sedangkan Clara yang tidak merasakan apapun langsung membuka mata secara perlahan. Dia melihat ke arah Ethan yang melangkah menjauh. Buru-buru, dia menutup bagian tubuhnya. Dia meringkuk dengan raut wajahmu ketakutan.

“Kamu mau apa?” tanya Clara ketika Ethan kembali mendekat sembari membawa kotak obat.

Ethan tidak menjawab. Dia hanya diam dan menarik Clara agar kembali mendekat ke arahnya. Tanpa diduga, pria itu mengoleskan obat ke arah luka yang dimiliki Clara, membuat wanita itu merias menahan sakit.

‘Dia mengobatiku?’ batin Clara, cukup terkejut.

“Jangan salah paham. Aku melakukan ini karena tidak mau melihat luka-luka di tubuhmu. Aku tidak suka meniduri wanita yang memiliki banyak luka dan tidak enak dipandang,” ucap Ethan dengan ekspresi datar.

Clara pun hanya menganggukkan kepala dan menutup mulut rapat-rapat. Dia tidak mempermasalahkan mengenai hal itu. Rasanya juga tidak cukup peduli. Sekarang dia memilih diam dengan kedua tangan mengepal, menahan sakit karena Ethan yang mengobatinya tanpa kelembutan. Hingga pria itu selesai, membuat Clara sedikit bernafas lega. Tepat di waktu yang sama, ketukan pintu terdengar.

“Tuan, kami sudah mendapatkannya.”

“Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan segera datang,” sahut Ethan.

Ethan pun bangkit dan bersiap pergi, tetapi baru beberapa langkah, dia kembali berhenti. Dia membalikkan tubuh, menatap ke arah Clara dan berkata, “Tetap di sini dan jangan kemana-mana.”

Setelah mengatakan itu, Ethan pun melangkahkan kaki dan keluar dari kamar, meninggalkan Clara yang masih sedikit ketakutan.

***

“Liam, bagaimana?”

Imara Jaida—mama angkat Clara—langsung terlihat cemas ketika melihat Liam memasuki rumah. Dia langsung menghampiri sang suami, membawa itu untuk duduk dan menunggu pria itu mengatakan informasi yang didapat dengan raut wajah cemas. Sejak tadi dia menunggu pria itu, membuatnya tidak sabar sama sekali.

“Apa Tuan Evander menerimanya?” tanya Imara lagi.

Liam terdiam sejenak, menatap ke arah sang istri dengan ekspresi tidak terbaca. Tapi, hal itu hanya berlangsung sejenak. Pasalnya, Liam langsung tersenyum dan memasang raut wajah ceria.

“Tuan Evander menerimanya. Dia juga sudah melunasi semua hutang kita dengan keluarga Evander. Jadi, perusahaan Athena tidak jadi bangkrut,” jawab Liam.

Imara langsung tersenyum lebar. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan keceriaan. Dia bernafas lega karena perusahaan keluarganya tidak jadi bangkrut. Dia pun mengelus dada sembari berkata, “Untung ada Clara yang masih bisa ditukar. Jadi, setidaknya Putri kita tidak perlu kita jadikan jaminan untuk pelunasan hutang kita.”

“Benar. Untung waktu itu kita merawatnya,” sahut Liam.

Imara hanya tersenyum mendengarnya. Pemikirannya sama dengan Liam. Dalam hidupnya, Clara memang tidak penting sama sekali. Dia juga tidak benar-benar ingin merawatnya. Saat itu Imara hanya merasa kalau Clara bisa dimanfaatkan. Itu sebabnya dia mengambil bocah yang sudah terlantar itu.

“Sekarang kita bisa hidup tenang. Tuan Ethan juga mengatakan akan memberikan investasi untuk kita,” ucap Liam lagi dan langsung mendapat anggukan dari arah istrinya.

Sedangkan di tempat lain, Ethan mulai memasuki ruangan dengan cahaya begitu minim. Ruangan itu juga terasa pengap, tidak ada ventilasi sama sekali. Suasana ruangan yang begitu hening benar-benar seperti mencekam. Sampai Ethan menghentikan langkah dan berdiri di hadapan seorang pria. Bibirnya tersenyum sinis melihat seseorang yang berdiri dengan tangan diikat ke atas.

“Jadi, kamu pelakunya? Kamu yang membuatku hampir kehilangan nyawa?” tanya Ethan.

Tidak ada jawaban. Pria dengan wajah penuh luka itu hanya menatap Ethan dengan sorot mata datar. Lihat jelas tidak ada semangat dan tenaganya sama sekali.

Sayangnya, Ethan yang melihat tidak memiliki rasa iba. Dia mendekat dan kembali bertanya, “Siapa yang menyuruhmu?”

“Aku tidak akan mengatakannya. Kamu itu pria kejam dan pantas menerima itu,” jawab pria tersebut.

Pria kejam? Ethan tersenyum sinis dan menganggukan kepala kecil. Memang dia pria kejam dan tidak berhati, tetapi dia juga tidak suka dikomentari. Dia pun mengambil pistol yang sejak tadi berada dalam saku mantel miliknya dan menodongkan tepat di kening pria tersebut.

“Pilihannya hanya dua, katakan Siapa yang menyuruhmu atau Kamu akan mati,” ucap Ethan dengan tegas.

“Sampai mati pun aku tidak akan mengatakan Siapa yang menyuruhku,” jawab pria tersebut dengan lantang.

“Benar-benar anak buah yang setia,” gumam Ethan, diikuti dengan tarikan pada pistol miliknya.

Dor.

“Cari tahu lagi Siapa dalang dibalik kecelakaan kita beberapa hari yang lalu,” perintah Ethan.

Sedangkan di tempat yang sama, Clara yang memang berniat ingin melarikan diri tanpa sengaja melihat kejadian itu. Dia pun langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar dengan kedua mata melebar. Ditambah dengan darah yang bersimbah di lantai, membuat tubuh mungilnya semakin bergetar.

‘Dia membunuh,’ batin Clara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [34] Aku Mau Kamu

    Clara tertawa kecil, melihat kiriman gambar dari sahabatnya. Sejak tadi dia memang berkirim pesan dengan sahabatnya. Clara juga mengingatkan wanita itu untuk tidak menghubungi malam hari, takut kalau ketahuan Ethan. Meski pria itu yang memberikannya ponsel, tetap saja Clara takut kalau nantinya Ethan marah karena dia yang hanya fokus dengan ponsel. Hingga pintu kamar terbuka, membuat Clara langsung menatap ke asal suara. Melihat siapa yang datang, Clara menelan saliva pelan.“Ethan,” gumam Clara.Ethan hanya diam. Dia melepas dasi yang dikenakan dan meletakkan asal. Manik matanya menatap ke arah Clara yang terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.‘Sepertinya ponsel itu bisa membuat dia lebih baik,’ batin Ethan. Jemarinya melepas satu per satu kancing pakaian, meletakkan kemeja kerjanya dengan asal.“Aku mau mandi. Siapkan aku pakaian, Clara,” perintah Ethan.Clara yang mendengar langsung menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Manik matanya memperhatikan Ethan yang mulai melangkah

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [33] Yakin Melakukannya?

    Ketukan pintu terdengar. Ethan yang saat itu sedang fokus dengan pekerjaannya pun langsung menghentikan. Dia membiarkan seseorang untuk masuk. Hingga Willian melangkah lebar dan berhenti tepat di depannya.“Apa yang kamu dapatkan?” tanya Ethan to the point. Dia menatap serius.Ethan yang ditanya pun dengan cepat menyerahkan map sembari menjawab, “Namanya Nathan Nigel, Tuan. Dia anak tunggal dari keluarga Nigel, termasuk kakak tingkat dari Nona Clara. Selama ini mereka berteman baik dan Tuan Nathan suka membantu Nona Clara.”Mendengar itu, Ethan terdiam. Dia masih mencerna ucapan William sembari melihat profil yang dibawa anak buahnya tersebut. Hingga dia melihat foto pria yang dimaksud, membuatnya menatap tajam.“Nathan Nigel,” gumam Ethan sembari mengetuk meja pelan, menimbulkan suara yang cukup menegangkan di ruangan yang awalnya sunyi tersebut.“Hanya ini yang kamu dapat?” tanya Ethan lagi.“Untuk sementara memang hanya ini yang saya dapat, Tuan,” jawab William.“Kalau begitu kamu

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [32] Rela Jadi Pengganti

    “Kalau begitu, aku pulang dulu, Kek. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi,” kata Sophie.Theo yang mendengar hanya menganggukkan kepala. Meski bibirnya menyunggingkan senyum, tetapi hatinya masih merasa tidak nyaman. Dia merasa tidak enak hati karena sudah mematahkan harapan Sophie. Pasalnya, dia yang mencetuskan untuk menjodohkan, tetapi dia juga yang membatalkan. Hal yang membuat Theo hanya bisa berkata dengan perasaan bersalah. Hingga Sophie yang sudah melangkah pergi, membuat Theo menghela napas.“Bagaimana caranya aku meyakinkan Ethan?” tanya Theo dengan diri sendiri. Dia tidak mungkin memaksa cucunya itu. Hubungannya sempat retak dan baru pulih secara perlahan. Kalau dia memaksakan kehendak, pasti Ethan akan memberontak lagi.‘Kalau dia berontak, aku yang kesulitan mengendalikan. Bisa-bisa keluarga Evander hancur karena ulahnya,’ batin Theo. Hingga dia membuang napas lirih, merasa tidak ada jalan keluar baginya.Sedangkan Sophie yang sudah memasuki rumah segera melangkah lebar. Eks

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [31] Lupakan Saja Dia!

    “Aku harap ini bisa membantuku.”Sophie menatap paper bag di tangannya dan tersenyum lebar. Hari ini, dia sengaja datang ke rumah keluarga Ethan, berniat untuk meluluhkan hati keluarganya, terutama Theo. Jika Theo menjadi pendukung utamanya, meski Ethan menolak, masih ada banyak kemungkinan pria itu menerima dirinya.Sophie yang sudah mantap dengan rencananya langsung membuang napas kasar. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Kakinya melangkah ringan, memasuki rumah yang terlihat sepi. Padahal banyak pegawai di rumah tersebut. Hingga Sophie yang sudah sampai ruang keluarga dan melihat Theo sedang menikmati secangkir teh di pinggir kolam. Melihatnya, Sophie tersenyum lebar.“Kakek Theo,” panggil Sophie yang kembali melanjutkan langkah.Theo yang saat itu sedang bersantai pun langsung mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Melihat Sophie yang datang, Theo tersenyum lebar. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah pria itu. Hingga Sophie berdiri di depannya.“Aku membawakan minuman herba

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [30] Ada Hubungan Apa?

    “Aku sudah mengurus kepulanganmu. Hari ini juga, kamu bisa pulang.”Liya yang baru saja meletakkan ponsel langsung mengalihkan pandangan, menatap Julian yang baru saja datang. Pria itu tampak tenang dan mendekat ke arahnya. Hingga Julian berhenti, meletakkan kertas di nakas.“Aku sudah membayar biaya berobatnya,” kata Julian lagi.Liya hanya menganggukkan kepala. Dalam hati dia membatin, ‘Tidak perlu mengatakannya. Itu memang sudah tugasmu.’“Sebenarnya kondisimu belum sepenuhnya boleh pulang, tetapi karena kamu tetap mau pulang, aku menghormati keputusanmu. Tapi saat di rumah nanti, kalau ada masalah, jangan sungkan menghubungi. Kalau ada yang sakit atau sebagainya, hubungi saja,” kata Julian kembali mengingatkan.Lagi-lagi Liya hanya menganggukkan kepala. Dia tidak banyak vicara dengan Julian. Pasalnya, Liya bingung juga harus mengatakan apa karena semua yang Julian katakan pasti hanya akan dijawab iya.“Sekarang kamu bersiap. Aku akan mengantar pulang,” kata Julian. Meski tidak men

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [29] Cari Tahu Mengenai Dia

    Ethan menatap layar di depannya dengan raut wajah serius. Hari ini ada rapat dengan para pemegang saham dan beberapa kepala departemen untuk membicarakan rancangan produk baru perusahaannya. Sejak tadi, ruangan itu juga terasa mencekam karena kehadiran Ethan, membuat peserta yang hadir menjadi tegang, takut membuat kesalahan.“Selanjutnya,” kata Ethan setelah satu karyawan mempresentasikan proposal yang sudah dibuat.Ruangan kembali hening. Salah satu karyawan melangkah maju, bersiap untuk presentasi. Memang tidak ada penilaian yang Ethan berikan, tetapi tetap saja taktu kalau membuat kesalahan. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Ethan mengalihkan pandnagan. Dia menatap dengan kening berkeriut dalam.‘Bukankah ini alarm panggilan dari ponsel Clara?’ batin Ethan.Hening. Ethan tidak langsung mengangkat panggilan itu. Dia hanya menatap dengan sebelah bibir terangkat. Hingga dia memberikan intruksi agar semuanya diam dan mengangkat panggilan.‘Aku mau lihat siapa yang kamu hubungi,

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [4] Kedatangan Wanita Lama

    “Ethan, lama tidak bertemu.”Ethan yang mendengar sapaan itu pun langsung mengalihkan pandangan, menatap kasar suara dengan ekspresi datar. Tatapannya terkesan tajam dan juga menusuk. Tidak ada senyum dan keramahan sama sekali. Bahkan saat melihat siapa yang datang, dia malah mengalihkan pandangan.

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [3] Berniat Kabur

    “Aku harus pergi dari tempat ini.”Clara yang baru saja melihat kekejaman Ethan semakin dibuat ketakutan. Wajahnya memutar dengan raut wajah cemas. Kakinya terus melangkah, sembari mengamati sekitar. Rumah yang begitu besar itu membuat Clara sulit menemukan jalan keluarnya. “Kenapa waktu masuk ke

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [13] Ingin Mengulang Kejadian Semalam

    Ethan membuang nafas kasar. Hari ini benar-benar melelahkan baginya. Menghadapi Bruno dan Belinda seperti menguras tenaga yang disimpannya sejak beberapa hari yang lalu. Meski dia sudah tidak menganggap Bruno sebagai ayahnya, tetapi tetap saja merasa sakit ketika pria itu hanya peduli dengan keluar

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [5] Gagal Melarikan Diri

    “Aku harus segera mencari jalan keluar. Aku tidak bisa terus berdiam diri di tempat ini.”Clara yang melihat kepergian Ethan langsung menyusuri rumah megah tersebut. Dia mencari-cari jalan keluar, berniat ingin meninggalkan tempat itu. Meskipun semalam tidak terjadi apapun, tetapi Clara tidak bisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status