Beranda / Romansa / Obsesi Dingin Sang Komandan / Bab 10 Perhatian Kecil

Share

Bab 10 Perhatian Kecil

Penulis: Edelweis Jingga
last update Tanggal publikasi: 2026-07-31 10:20:41
.

.

.

Bab 10

Dara menarik napas. “Aku memang istri kamu, Mas. Tapi aku juga tetap Dara, aku punya penghasilan sendiri,” Dara menggigit bibirnya. “Aku menikah sama kamu bukan supaya semua kebutuhan hidupku dibayar,” lanjut Dara.

Dada Ryuga bergerak naik turun. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah lain. Tangannya mengusap wajah pelan, mencoba menyingkirkan amarah yang mulai memenuhi pikirannya.

“Saya juga bukan sedang membeli kamu, Dara.”

Seketika Dara diam.

“Kamu belanja untuk orang seru
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 15 Pria Lain

    ...Bab 14Dress hitam sebatas lutut dengan belahan dada yang agak tinggi menjadi pilihan terakhir Dara, setelah mencoba tiga dress yang ia punya dan semuanya ditolak Ryuga hanya dengan satu gelengan kepalanya. di kursi belakang mobil, Zio sudah tertidur pulas. Ryuga yang mendadaninya lebih awal bahkan sebelum Dara pulang dari Toko Bunga.Dari sudut matanya, Dara memperhatikan Ryuga yang menyetir menggunakan satu tangan. Gesture serta tatapannya begitu tenang dan penuh perhitungan. Dara berdecak lirih lantas membuang pandangannya ke luar jendela.Setidaknya begitu lebih baik daripada Dara harus mengagumi perangai suaminya yang luar biasa sempurnya bahkan disaat-saat menyebalkan sekali pun.“Bahkan lagi diem aja nyebelin!” gerutu Dara, dalam hati.Dilihat dari berbagai sisi memang Ryuga begitu sempurna. Mapan itu sudah pasti, tampan? Tidak perlu ditanyakan. Di mana pun pria itu berada selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa. Terlebih lagi kalau sedang mengenakan seragam dinasnya.J

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 13 Sesuka Hati

    ...Bab 13Mulut Dara sudah terbuka hendak membantah, tetapi kemudian terkatup kembali. Ia mundur selangkah dan meraup wajahnya frustasi, berusaha mengatur deru napasnya yang berantakan karena emosi yang meledak tiba-tiba.Ryuga dengan segala sikap arogannya itu membuat Dara hilang kewarasan. Dara sadar sudah lalai menjaga Zio tadi, tetapi bukankah itu juga tidak berakibat fatal.Zio hanya ketiduran karena ini memang jam tidurnya dan mungkin dia kelelahan karena terlalu asyik bermain bersama Dealova sejak tadi.Sesak. Ruang napas Dara mulai terhimpit. Dara menyentuh dada bagian kirinya, menekan dengan kuat dan berusaha meredam denyut nyeri yang tidak nyaman di dalamnya. Ia membalikkan badan untuk menyembunyikannya dari Ryuga.“Iyaa, aku minta maaf sudah lalai jagain Zio,” ucap Dara, akhirnya. Matanya memejam“Sejak awal saya sudah memperingatkan, jangan melakukan apa yang nggak bisa kamu pertanggungjawabkan, Dara. Sikap kekanakkan kamu ini yang membuat saya ragu kamu bisa menjaga Zi

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 12 Harga Diri Yang Terluka

    ...Bab 12Dara hendak memanggil Dealova untuk ditanyai, tapi sebaiknya jangan melibatkan perempuan itu dulu agar tidak memicu kepanikan.“Tadi, dia di sini lagi mewarnai, Mas,” ujar Dara, mencoba menjelaskan.“Faktanya sekarang Zio nggak ada, Dara!”Dara menggigit bibirnya, beberapa detik berikutnya ia teringat sesuatu.“Kebun belakang,” gumamnya.“Kebun?!” ulang Ryuga. Entah definisi kebun seperti apa yang ada dalam pikiran Ryuga.Lelaki itu melesat secepat kilat menyusul Dara yang sudah lebih dulu berlari menerobos pintu samping.“Zio…” panggil Dara. “Zio… Zio di mana? Ini bunda.”Tidak ada sahutan. Jantung Dara mendadak berdegup gila-gilaan diterpa kepanikan. Namun, kebun itu tidak terlalu luas. Bunga-bunga yang tumbuh di sana juga tidak terlalu tinggi, harusnya tidak membuat Zio dalam bahaya.“Zio!” kali ini Ryuga yang memanggilnya. Ia berjalan berlawanan arah dengan Dara. Menerobos semak kecil yang rimbun oleh bunga-bunga kecil seperti baby breath dan dandelion.“Kamu yakin,

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 11 Bagaimana Rasanya Menikah?

    ...Bab 11“Bunda, Zio main di belakang boleh?” Zio berdiri di depan pintu di belakang meja kasir yang menghubungkan dengan kebun belakang. Menanti jawaban dari Dara yang masih sibuk membuatkan nota untuk pelanggan.Sejak membuka toko bunganya tadi pagi, Dara terus mendapatkan pelanggan. Baik itu online maupun yang datang langsung ke toko.Dara menatap putranya beberapa detik sebelum menjawab. Selain area perkebunan bunga yang tidak terlalu luas, di belakang sana juga ada kandang yang berisi dua ekor kucing. Dara tidak bisa membiarkan Zio main di sana tanpa pengawasannya.“Nanti, yaa? Sekarang Zio mewarnai dulu aja gimana? Tadi bunda udah gambarin beruang sama rumahnya.”Zio mengangguk patuh, disaat seperti ini didikan Ryuga yang disiplin memberi sedikit keuntungan bagi Dara. Setidaknya anak itu tidak ngeyel atau tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi saat itu juga.Dara lanjut, bergerak cepat menyiapkan beberapa lembar kertas wrap dengan warna yang berbeda untuk tiga pesanan

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 10 Perhatian Kecil

    ...Bab 10Dara menarik napas. “Aku memang istri kamu, Mas. Tapi aku juga tetap Dara, aku punya penghasilan sendiri,” Dara menggigit bibirnya. “Aku menikah sama kamu bukan supaya semua kebutuhan hidupku dibayar,” lanjut Dara.Dada Ryuga bergerak naik turun. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah lain. Tangannya mengusap wajah pelan, mencoba menyingkirkan amarah yang mulai memenuhi pikirannya.“Saya juga bukan sedang membeli kamu, Dara.”Seketika Dara diam.“Kamu belanja untuk orang serumah, saya hanya sedang menjalankan tanggungjawab saya,” imbuh Ryuga.Dara memandangi uang itu, tangannya tidak bergerak. Ruangan menjadi sunyi, sampai Dara mengutarakan sesuatu yang mengejutkan Ryuga.“Kalau aku menerima uang itu, apa itu artinya mulai sekarang semua keputusan dalam hidup aku juga harus minta izin kamu?”Ryuga mencondongkan tubuhnya, cukup dekat untuk membuat harum aroma sabun mandi yang menguar dari tubuhnya menggelitik hidung Dara.“Ada yang salah?” bisiknya, tepat di samping

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 9 Ego

    ...Bab 9Dua menit, lima menit, Dara menunggu tidak ada balasan dari Ryuga.“Ya sudah. Anggap saja setuju,” ucap Dara, meyakinkan dirinya sendiri dengan konyol.Dara melangkah tergesa keluar dari toko bunga, tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel untuk memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama aplikasi di layar ponselnya menunjukan adanya notifikasi mendapatkan driver.Tepat saat itu bersamaan dengan terdengarnya deru mesin mobil yang menghampiri Dara. Sebuah SUV Fortuner hitam yang tadi pagi mengantar Dara berhenti tepat di depannya sekarang.Dari dalam mobil gagah itu keluar sosok Yudha dengan seragam PDL-nya yang rapi.“Siang, Bu Dara,” sapa Yudha, langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. “Mari, Bu.”Dara tak bergeming di tempatnya berdiri. Melongo, mengerjap bingung. “Yudha, kok kamu bisa di sini?”Yudha mengulas senyum tipis yang sopan. “Bapak yang meminta saya menjemput Ibu di sini.”“Tapi saya nggak minta jemput. Saya udah pesan t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status