FAZER LOGIN"Kenapa kamu tidak menghubungiku?"
Zelda tergagap. Jantungnya bertalu-talu dengan keras, sehingga ia tak sadar memalingkan wajah. Noah tak memberinya kesempatan. Ia menangkup wajah Zelda, memaksa gadis itu menatapnya. Cengkramannya terasa dominan. "Jangan buang muka dariku, Zelda. Aku membencinya." Geram pria itu tertahan. "A-aku ketiduran, Profesor," Zelda berbohong, suaranya gemetar. "Aku pulang … s-sangat larut dari kerja shift malam.." Noah menyeringai licik. "Lelah?" Tanpa aba-aba, Noah menarik tubuh Zelda dengan kasar ke dekapannya. Zelda menjerit kecil, tubuhnya terperangkap rapat. “Profesor —!” Panggil Zelda tercekik. Noah menundukkan kepalanya. Hidung mancungnya menyusuri setiap kontur wajah Zelda hingga ke leher jenjangnya. Ia mulai memberi kecupan liar yang berakhir pada hisapan keras. “Ngh ….” Desahan pelan lolos dari bibirnya, sementara tangannya meronta mendorong bahu Noah. “Prof —!” “Shh …,” desis Noah sambil tangan kanannya kembali menutup bibirnya. “Kamu teriak, seseorang akan datang karena suaramu. Jangan berontak dan nikmati saja!” Gestur tubuh Noah semakin menggoda. Bibirnya dengan lihai masih mengecup dan menjilat setiap lekuk kulit di tempat yang tidak seharusnya. Mulai dari pipi, bahu, leher jenjangnya dan tulang selangka … “Ngh —!” Zelda menjerit tertahan, napasnya tersengal di balik genggaman Noah yang menutup mulutnya. Ditengah cumbuan yang semakin menuntut, tangan besar Noah satunya menelusuri tubuh Zelda dan mencengkram punggungnya posesif, seolah tak ingin gadis itu bergerak sedikit pun. Tubuh pria itu semakin menahannya agar tetap di tempat, dan semakin terperangkap dalam godaan maut yang diciptakan Noah sendiri. Disisi lain, Zelda masih berontak. Terus mendorong Noah sekuat tenaga. Namun, perlahan ia hilang kendali karena ia merasa nikmat oleh godaan pria itu. Meski Zelda tahu, bekas merah akan tertinggal di sana. Tiba-tiba cumbuan itu terhenti. Zelda membuka matanya dan mengerjap sembari berusaha mengumpulkan kembali dirinya. Bola mata Zelda menyorot Noah yang masih menatap leher jenjang Zelda dengan kepuasan dingin. "Itu hukuman untukmu karena tidak melakukan apa yang aku minta. Ingat, urusan kita yang sebenarnya belum selesai,” bisiknya. Beberapa detik kemudian, kedua kaki Zelda sempat lemas. Noah dengan sigap menahannya agar tak jatuh. Zelda menatap tangan besar itu yang masih mencengkeram tubuhnya, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Noah—menemukan ekspresi yang sulit dipahami. Kini ia yakin, penampilannya pasti tampak berantakan, mungkin juga liar. Zelda menatap Noah tajam, seolah menyalahkan pria itu atas semua yang baru saja terjadi. Noah tertawa rendah melihat ekspresi Zelda sekarang. Lalu ia melanjutkan. “Waktu itu … kamu sangat tidak sopan karena meninggalkanku pagi buta, sendirian di hotel. Seharusnya kamu meninggalkan pesan singkat di kertas kalau kau pamit pergi." Tatapan Zelda seketika meredup. Zelda menelan ludah berat, masih merasakan degup jantungnya yang begitu cepat. “A-Aku minta ma … Aah —” Rasa nyeri itu semakin pekat ketika tangan Noah meraba salah satu payudaranya dan meremasnya cukup kasar. Karena tidak tahan lagi, tangannya menarik baju Zelda yang dimasukkan ke dalam rok, kemudian menerobos kain tipis itu. “Prof … Akh —!” Desahan Zelda kali ini lebih keras dan tak tertahankan, terlebih ketika Noah berahsil membuka pengait di punggungnya, lalu bermain dengan jari telunjuk. "Kau tahu, aku tidak bisa melupakan ini," bisik Noah, nafsu yang berbahaya mewarnai suaranya. "Ya Tuhan. Ini ... membuatku candu. Aku menyukainya." "Profesor, tolong! Mmmph, he-hentikan!" Zelda memohon, dan dengan sekuat tenaga, ia berhasil mendorong Noah sedikit menjauh. Zelda gemetar ketakutan. "A-Aku minta maaf ... Maafkan aku atas kesalahanku waktu itu. Aku tidak bermaksud—!" Noah melirik, tampak seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri apakah akan menarik Zelda kembali atau tidak. Melihat tubuh Zelda yang terlalu gemetar, ia akhirnya melepaskan cengkeramannya sambil mundur selangkah. Di waktu bersamaan, Zelda menghela napas panjang karena sesak yang terasa mencekik dirinya sedari tadi. "Baiklah. Aku memaklumi, dan menerima permintaan maafmu kali ini,” katanya, nadanya kembali dingin. "Tapi jangan ulangi kesalahan yang sama, Zelda. Tugasmu bukan hanya urusan akademik." “M-Maksud Anda, Profesor?” tanya Zelda dengan napas terengah. Noah terkekeh, “Apa kau lupa? Aku memegang ‘rahasiamu’ saat musim panas yang lalu, Nona,” ucapnya dingin. “Aku bertanya-tanya. Jika aku melaporkan hal itu langsung ke para petinggi Fakultas, apa … kau masih bisa bertahan disini dengan beasiswa mu itu? Atau malah … dikeluarkan dari Kampus?” Ancamnya dingin. Kedua mata Zelda membulat, tanpa sadar ia menggeleng kepala cepat. “Prof! Aku dari awal tidak bermaksud untuk melakukan itu denganmu. A-Aku sama sekali tak tahu hal seperti ini akan terjadi.” Kedua mata Zelda mulai basah, air mata perlahan jatuh di pipinya. “T-Tolong … maafkan kesalahanku. Dan … aku mohon, jangan laporkan aku pada dosen lain dan petinggi universitas. Bagaimana kalau ibuku tahu kalau beasiswaku dicabut dan … d-dan —” Wajah Noah yang semula dipenuhi amarah mendadak berubah. Kedua matanya terpejam rapat, seolah kembali bergulat dengan dirinya sendiri. Namun, reaksi itu lenyap seketika saat ia kembali menatap Zelda—gadis yang kini tampak gemetar, dengan ketakutan yang begitu nyata di matanya. “Cukup. Kau boleh keluar,” ucapnya datar, sangat tiba-tiba. Ia menyuruh Zelda keluar lebih dulu. Zelda melihat perubahan raut wajah Noah sebentar sebelum berbalik, membuka pintu darurat, dan berlari terburu-buru menuju toilet. Di dalam toilet, ia bersandar di tepi wastafel, mencoba menenangkan napasnya yang masih tersengal. Ia melihat bekas hisapan di lehernya di cermin. Yang paling mengerikan, di tengah ketakutan itu, ia merasakan sensasi sentuhan Noah yang membuatnya merinding, sekaligus membuatnya mendesah, walau sejenak. Namun, dia tahu, ketakutan ini belum berakhir, karena sejak kemarin dan seterusnya nanti, ia harus berhadapan lagi dengan Noah, di dalam kelas. *** Pukul 19:00. Aroma kopi, susu, dan kayu manis memenuhi The Daily Grind. Zelda berdiri di balik counter, apron tergantung di pinggang, tangannya lincah mengatur mesin espresso—setidaknya mencoba agar pikirannya teralihkan sementara. Sejak pagi, pikirannya tidak tenang. Noah bertingkah profesional di kelas, tapi setiap kali ia berbicara, Zelda merasa tanda merah di lehernya seperti terbakar. Tanpa sadar ia menutupi leher itu dengan syal, berharap tak ada yang memperhatikan. “Sialan! Dia benar-benar ingin membuatku gila,” pikirnya. Saat menuangkan air, tangannya tak sengaja menyentuh boiler mesin. Panas yang menusuk membuatnya meringis, mundur beberapa langkah. "Ya Tuhan, Zelda! Hati-hati!" Kevin, rekan kerjanya, langsung mematikan mesin. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir. Zelda mengangguk singkat sambil meringis kecil. “Cuma … agak panas,” katanya, berusaha tersenyum meski wajahnya menegang. Kevin menarik kursi di pojok staf. “Duduk. Aku ambil salep dulu.” Tak lama ia kembali dengan kotak P3K dan mengoleskan krim dingin di kulit merah itu. “Terima kasih, Kevin.” Kevin menatapnya, nada suaranya lembut tapi tegas. “Kau bukannya ceroboh, aku lihat kau terdistraksi oleh pikiranmu sendiri sejak tadi. Apa ada masalah?” Zelda terdiam sejenak. “Aku baik-baik sa—” Lonceng pintu berdenting. Ia refleks menoleh ke arah suara itu, lalu membeku. Noah muncul dan berdiri disana—turtleneck hitam, sambil menenteng Long coat di tangannya. Sorot matanya menyapu ruangan dengan dingin sebelum akhirnya menemukan Zelda.Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y
Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo
Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka
Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p
Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d
Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging
Zelda merasa seperti ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam—keras, sampai napasnya tercekat.Ariana tersenyum miring kecil. Lalu ia melangkah mendekat—terlalu dekat. Zelda bahkan bisa mencium aroma parfum ringan yang nyaris tak tercium tadi.Ariana menunduk sedikit. Bibirnya hampir menyentuh d
Esok harinya. Diperjalanan menuju kampus, Zelda duduk di kursi penumpang belakang bersama Zara. Mereka seperti biasa diantar oleh pengawal Noah yang selalu siap siaga. Namun, Zelda tak banyak bicara sejak pembicaraannya semalam dengan Noah. Belum lagi dengan isi pesan singkat dari Sarah yang masih
Zelda membeku di tempat dengan napasnya tercekat. Wajahnya menegang, tapi ia buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan perasaannya yang benar-benar tak nyaman. Kata ‘maaf’ sepertinya pendek dari ucapan Noah, tapi Zelda yakin masih ada kelanjutan isi pesan itu yang dikirimkan ke Noah. ‘Sarah. Seh
Beberapa jam kemudian, bel kampus berbunyi tanda mata kuliah sudah selesai. Zelda merapikan buku-buku dan alat tulisnya, lalu memasukkan ke tasnya. Begitu Zelda hendak berdiri dari kursinya, seseorang menyapanya dengan ramah. Teman sebangku yang Zelda tak pernah lihat sebelumnya. “Hai. Tadi kit







