LOGINAlesha terdiam sejenak mendengar penjelasan Lavienna, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat perutnya terasa mual. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong kampus, mencoba mencerna informasi yang begitu mengganggu itu."Tante tahu Vanessa membisikkan apa ke Kaivan?" tanya Alesha hati-hati, suaranya terdengar penuh kecurigaan yang sulit ia sembunyikan.Lavienna menghela napas berat di seberang telepon, jelas terdengar betapa gelisahnya wanita itu sejak kejadian tadi pagi."Satpamnya tidak dengar jelas, cuma lihat Vanessa mendekatkan wajahnya ke telinga Kaivan sebentar sebelum akhirnya ditarik paksa keluar. Tapi yang bikin Tante curiga, kenapa tepat setelah itu detak jantungnya jadi tidak stabil?" ucap Lavienna dengan nada penuh kekhawatiran, seolah pertanyaan itu sudah mengganggu pikirannya
Alesha menatap layar ponselnya sejenak, jantungnya berdebar kencang membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada Kaivan. Ia melangkah mundur dari pintu kelas yang baru saja hendak ia masuki, memilih menjawab panggilan itu terlebih dahulu di lorong yang lebih sepi."Halo, Tante? Ada apa?" tanya Alesha cepat, suaranya sedikit terburu-buru karena firasat tidak enak yang tiba-tiba menyergap dadanya.Suara Lavienna dari seberang telepon terdengar terengah-engah, seolah baru saja berlari atau sedang dalam keadaan yang begitu tergesa-gesa."Alesha, kamu di mana sekarang? Bisa tolong kembali ke rumah sakit secepatnya?" tanya Lavienna dengan nada yang sulit ditebak, campuran antara panik dan sesuatu yang terdengar seperti harapan.Alesha langsung merasakan jantungnya
Helena terdiam cukup lama di seberang telepon, membuat Alesha yang sudah memarkirkan mobilnya di area kampus semakin tidak sabar menunggu jawaban dari pertanyaannya sendiri. Suasana hening itu terasa begitu janggal, jauh berbeda dari kebiasaan mamanya yang biasanya selalu terbuka menceritakan apa pun kepadanya."Ma? Kenapa diam? Ada apa sebenarnya?" tanya Alesha lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak, tangannya mematikan mesin mobil namun ia belum juga beranjak turun karena terlalu fokus dengan percakapan itu.Helena akhirnya menghela napas panjang, seolah mempertimbangkan dengan matang apakah ini saat yang tepat untuk membuka sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri."Sebenarnya, dulu perjodohan kamu dengan Kaivan itu bukan cuma karena Mama dan Lavienna berteman sejak kecil, Alesha. Ada alasan lain yang le
Helena terdiam sejenak. Setelah itu, ia menjawab dengan nada cemas dan sedikit bingung mendengar pertanyaan dari putrinya."Mama lihat beritanya di televisi tadi pagi, Sayang. Ada tayangan infotainment yang membahas kecelakaan yang menimpa Kaivan Adhitama," jawab Helena, membuat Alesha yang sedang menyetir langsung tersadar dan menepuk keningnya sendiri karena baru mengingat sesuatu yang sempat terlupakan sesaat.Alesha memang sempat lupa bahwa keluarga Kaivan bukanlah keluarga biasa. Nama Adhitama sudah begitu dikenal luas di kalangan publik, terutama karena Adhitama Group merupakan salah satu perusahaan teknologi dan investasi terbesar yang berpengaruh di negeri ini."Astaga, aku sampai lupa kalau keluarga Kaivan itu keluarga terkenal," gumam Alesha pelan, lebih kepada dirinya sendiri, meski suaranya masih cukup jelas terdengar melalui mode speaker ponselnya.Helena yang mendengar gumaman itu langsung bertanya dengan nada penasaran, mencoba memahami situasi yang sebenarnya sedang di
Alesha menempelkan ponsel ke telinganya dengan perasaan sedikit waswas, tidak yakin siapa yang menghubunginya sepagi ini dengan nomor yang sama sekali tidak ia kenal. Ia melirik sekilas ke arah Adrian dan Lavienna yang masih duduk lelah di kursi ruang tunggu sebelum akhirnya menjawab panggilan itu."Ya, benar. Ini dengan siapa?" tanya Alesha hati-hati, suaranya masih terdengar sedikit serak karena belum tidur semalaman.Suara di seberang telepon terdengar formal dan tegas, jauh berbeda dari suara-suara panik yang selama semalam ini terus menghantui pendengarannya."Saya dari Kepolisian Sektor setempat. Kami sedang menangani kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan saudara Kaivan Adhitama. Kami mendapat informasi bahwa Anda adalah orang yang pertama kali menemukan korban di lokasi kejadian," ucap suara itu dengan
Alesha menatap Lavienna yang masih menggenggam tangannya erat, hatinya tersentuh melihat betapa rapuhnya wanita yang biasanya begitu anggun dan tenang itu kini duduk terpuruk dengan wajah penuh harap. Ia menghela napas pelan, memantapkan hati sebelum akhirnya mengangguk yakin."Baik, Tante. Aku akan menemani Tante dan Om di sini," ucap Alesha lembut, menggenggam balik tangan Lavienna yang dingin dengan penuh ketulusan.Lavienna langsung menatap Alesha dengan mata berbinar di tengah air mata yang masih membasahi wajahnya, seolah baru saja mendapatkan setitik cahaya di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya sejak semalam."Benarkah? Tapi kamu pasti punya kesibukan sendiri, Alesha. Tante tidak ingin merepotkanmu," ucap Lavienna ragu, meski jelas terlihat betapa ia berharap Alesha benar-benar akan menepati kata-katan







