MasukDisya membuka apron yang dipakainya, keluar dari kitchen room setelah sebelumnya mengambil selembar tissue untuk mengelap kedua telapak tangannya. Perempuan itu berjalan menghampiri salah satu meja di ruang display yang terdapat seorang perempuan yang sedang duduk sembari menatap keluar jendela besar yang langsung memperlihatkan area luar store.
"Hei, padahal ngga papa kalau kamu langsung ke kitchen room, Nay."Naya mengalihkan pandangannya menatap Disya yang sudah duduk tepat di hadapannya. "Aku merasa tidak enak, karena mengganggumu, Sya."Disya terkekeh pelan. "Tidak papa, aku senang kamu datang berkunjung!"Naya ikut terkekeh. "Jadi, aku bisa memakan semua kuemu dengan gratis kan?" perempuan itu menaik turunkan alisnya menggoda Disya."Boleh dong!"Naya melihat kesekeliling, memperhatikan store milik Disya. "Sangat cantik dan minimalis, siapapun pasti akan betah berlama-lama di sini," kata Naya berkomentar."Ya... tadinya aku mau buka store di Jogja, tapi Ayah sama Bang Sam ngga ngijinin, malah mereka yang ngemodalin semuanya," jelas Disya.Naya mengangguk mengerti."Jadi, mau berangkat sekarang?" tanya Disya.Naya dengan cepat menggeleng. "Antar aku berkeliling dulu melihat-lihat toko kue. Aku juga belum mencicipi semua kue-kuemu! Baru setelah selesai kamu bisa mengantar aku berkeliling kota!"Disya mengangguk, lalu tersenyum. Naya memintanya untuk menemaninya jalan-jalan di kota katanya. Sebenarnya Disya tahu tujuan Naya mengajaknya pergi. Kepergian kakaknya tentu masih memberikan suasan duka bagi keluarga, termasuk Disya walaupun ini adalah minggu ke-3 setelah kepergian Naisya. Setidaknya mengajak Disya untuk berjalan-jalan adalah pilihan terbaik saat ini.***Disya melangkah dengan perasaan gembira sambil menenteng tasnya menuju parkiran. Memainkan ponselnya dengan tujuan untuk membalas pesan dari Kai. Kai kadang memakai ponsel Maya untuk bertukar kabar denga Disya, karena bocah itu belum diijinkan untuk punya ponsel sendiri oleh Devan.Sesuai perjanjian di awal, Naya mengajak Disya untuk berkeliling kota di sore hari. Berbelanja, memburu makanan pinggir jalan, dan banyak hal yang ingin mereka berdua lakukan.Naya sudah menunggunya di mobil. Disya meninggalkan ponselnya di ruangan, maka dari itu Disya mempersilahkan Naya untuk pergi ke parkiran terlebih dahulu."Berhenti, aku mohon!"Disya sampai menghentikan langkahnya karena mendengar suara tegas Naya. Menyudahi kegiatan bermain ponselnya, lalu berjalan cepat menuju mobil milik Naya yang terparkir rapih di depan storenya bersama mobil dan motor milik pelanggan yang berkunjung.Terlihat Naya sedang berdiri berhadapan dengan seorang lelaki yang tentu saja Disya mengenal siapa lelaki itu. Senyumnya merekah, langkah kakinya berjalan cepat untuk menghampiri keduanya."Ayo kita menikah!"Lagi-lagi Disya harus menghentikan langkahnya ketika mendengar kalimat yang diucapkan si lelaki, senyum yang semulanya terbit begitu lebar kini lenyap."Dokter Sam, sudah. Aku mohon!" suara Naya terdengar lirih dan terluka kali ini. Membuat Disya melangkah mundur beberapa langkah dan sembunyi di balik salah satu mobil yang terparkir di sana. Membuka telinganya baik-baik untuk mendengar semua kalimat-kalimat yang akan keluar dari mulut mereka."Saya yang akan bertanggung jawab!""Tidak ada yang perlu ditanggung jawabi!"'Menikah?''Tanggung jawab?'Dua kalimat itu berhasil membuat mulut Disya melebar karena terkejut. Bukankah semua orang akan berpikiran yang sama dengan apa yang dipikirkan Disya saat ini. Dua kalimat yang begitu sensitif ketika disangkut pautkan."Kamu akan tetap seperti ini?" suara Samudra bertanya namun terkesan membentak."Ini kan memang yang Dokter Sam mau?""Menikah dengan saya! Saya yang melakukannya 'kan?"Kedua tangan Disya bergetar, rasanya semua percakapan mereka berdua sudah sangat menjelaskan situasi.Naya sedang mengandung?Dan Samudra adalah ayahnya?Kedua lutut Disya rasanya lemas, andai saja ia tidak sedang bersender di badan mobil, mungkin ia akan terduduk lemas saat ini."Aku tidak mau!"Disya menyalakan layar handphonenya, mencari nomor handphone Devan, lalau menekan tombol panggilan. Entahlah yang ada dalam pikirannya sekarang adalah Devan."Pak—Pak Devan... bisa ke sini?"***Hai teman-teman! Kalau di season 1 aku butuh waktu kurang lebih delapan bulan buat menyelesaikan, di season 2 ini aku makan waktu tiga tahun lima bulan buat sampai nulis epilog. Tiga tahun lebih—waktu yang bukan cukup lama... Tapi lama banget! Aku mau ngucapin banyak-banyak terimakasih buat semua teman-teman yang sudah mau baca novelku, terkhusus buat temen-temen yang sudah ngikutin novel Om Duda ini dari awal sampai akhir, masih ada 'kan? Aku juga mau minta maaf karena sudah sering buat kalian nunggu update. Buat teman-teman yang sering muncul di kolom komentar dari awal sampai sekarang, mungkin kalian nggak sadar, tapi komentar kalian sering banget bikin aku semangat buat lanjut nulis. Makasih sudah tetap baca, dan terus dukung cerita ini sampai akhir. Hehehe.... Gimana? Apa pendapat kalian setelah baca novel dengan dua season ini? Semoga novel ini worth it untuk kalian baca ya, terlebih buat yang udah selalu nunggu aku update. Akhir yang manis buat kisah Devan dan Disya
Proses persalinannya kurang lebih tinggal sebulan lagi, banyak yang menantikan, kediaman Devan lebih sering dikunjungi oleh beberapa keluarga—terlebih jika di siang hari, ketika Devan sedang bekerja, Disya tidak akan pernah sendirian pasti ada saja salah satu keluarga yang menemani. Naya juga sering sekali menginap, Samudra akan menjemputnya setelah dua atau tiga hari Naya berada di rumah Devan dan Disya. Disya sangat bersyukur, keluarganya begitu sangat menyayanginya. Banyak hal yang sudah dilalui, tangisan, kekecewaan,kesalah pahaman, kehilangan—tetapi, pada akhirnya kebahagiaan juga menghampiri... begitulah hidup berjalan. "Jelek ya?" "Apa?" "Kaki Disya... bengkak." Devan yang sedang fokus memotongi kuku kaki Disya seketika langsung menghentikan kegiatannya, menatap istrinya lalu menggeleng pelan. "Tidak jelek." Disya terkekeh pelan mendengar jawaban Devan. "Terimakasih ya sudah m
Malam datang perlahan, semua yang hadir sudah berpamitan pulang—masih jam delapan malam, belum memasuki tengah malam, mereka memilih langsung pulang agar Disya bisa beristirahat katanya—manis sekali 'kan? "Sya, masih suka ngidam ngga?" tanya Naya masih tertawa karena baru saja menonton video si kembar yang cemberut karena disuruh memakai kostum Upin & Ipin, handphone masih di tangan, video dijeda untuk beberapa saat. "Hmm... ngga sih," jawab Disya seadanya, tetapi perempuan itu masih berpikir mencoba mengingat. "Kamu ngerjain si kembar ya? Atau beneran ngidam kaya gini sih?" tanya Naya lagi memastikan. "Beneran ngidam, Nay. Beneran maunya dede bayi nonton Upin & Ipin sama si kembar. Awalnya aku iseng nanya sama Dokternya waktu USG, jangan-jangan aku lagi hamil anak kembar. Eh, Dokternya malah kaget, kok aku tahu katanya. Padahal Dokternya udah punya niat kalau kehamilan aku yang kembar ini mau diraha
"Kok ngga ada dekorasi sih, Sya?" tanya Alya dengan kening mengernyit menatap sekitaran halaman rumah, hanya ada Devan dan si kembar yang sedang duduk di gazebo sibuk meniup balon. "Bang Devan tuh ngga punya duit sampe ngga mampu buat beli dekor!" dumel Gio dengan wajah memerah kesal. Alya, Fani, dan juga Yumna yang baru datang sama-sama mengeryit menatap Disya. "Padahal kalau pake dekor lebih bagus lho, Sya. Bisa bikin postingan sosmed kita estetik tau!" usul Alya. "Bang Devan tuh kolot banget!" Lagi-lagi Gio mulai mengomel. "Lo juga, Sya! Bisa-bisanya ketularan Bang Devan sih?" Disya terkekeh pelan. "Acaranya kan jam tiga sore, ini masih jam sepuluh. Kalian datangnya kepagian sih makannya disuruh Pak Devan niup balon." Gio mencebik kesal, tetapi mulutnya masih sibuk meniup balon. Dio juga melakukan hal yang sama, bedanya lelaki itu lebih bersikap tenang seperti Devan. "Kita pesen dekor kok, sebentar lagi juga s
"Ada apa?" tanya Disya melirik suaminya beberapa detik, lalu kembali fokus dengan kegiatanya yang sedang memasangkan dasi di leher Devan.Lelaki itu tersenyum lalu mengusap lembut pipi kanan Disya. "Kamu cantik sekali, Sya?"Disya memberengut, memukul pelan dada Devan untuk menutupi rasa gugupnya. Bukan satu, dua bulan mereka bersama. Tetapi, Disya selalu dibuat salah tingkah jika Devan menggodanya. Jelas pipinya bersemu merah sekarang, membuat Devan gemas, tidak tahan untuk menciuminya, bahkan lelaki itu sudah memeluk tubuh Disya."Pak Devan harus sarapan, nanti telat.""Saya cuti lagi ya hari ini.""Ngga boleh! Kemarin kan Pak Devan udah ngambil cuti."Devan berdecak, lelaki itu malah semakin memeluk Disya erat. "Saya mau sama kamu terus...." rengeknya manja—Bukan Devan sekali 'kan?!"Ayo sarapan, di bawah Naya sama Bang Sam pasti nungguin!" kata Disya mencoba melepaskan pelukan suaminya."Biarkan saja mereka," ucap Devan sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya.Kalau sudah begi
"Abang cinta sama Naya, Sya...." Disya mengangguk pelan memeluk lengan Samudra dengan lembut sesekali mengelusnya, mencoba menyampaikan bahwa ia percaya dengan ucapannya—bagaimana Disya tidak percaya, manik mata Abangnya sudah memerah sekarang, bahkan berkaca-kaca jika saja matanya berkedip beberapa detik maka air mata yang menggenang itu akan jatuh membasahi pipinya. "Abang ngga tau kenapa kamu sama Devan masih belum percaya itu. Abang harus bagaimana lagi?" Disya menggeleng pelan. "Pak Devan bilang apa sama Bang Sam?" Tanya Disya memastikan, beberapa menit yang lalu suami dan abangnya ini baru mengobrol di halaman samping. Disya sudah mengetahui apa yang dibahas, tetapi ia tidak tahu secara rinci kalimat seperti apa yang suaminya ucapkan kepada Samudra sehingga lelaki itu sampai berkaca-kaca hendak menangis seperti ini. "Disya cuman takut—" "Sudah beberapa kali Abang bilang takut kalian itu keterlaluan, berlebihan. Apalagi sekarang
Manik Disya berkaca ketika telapak tangannya menyentuh tempat tidur milik Kai. Bayangan wajah Kai dengan berbagai macam ekspresi terputar kembali dalam ingatannya. Masih ada perasaan bersalah jujur saja, huhungan keduanya sedang tidak baik saat itu, tiba-tiba sekali Disya mengetah
"Kok ngga sama Bang Sam?" Disya bertanya ketika menyambut Naya di depan pintu rumah. Naya merentangkan kedua tangannya untuk berpelukan dengan Disya lalu menjawab pertanyaannya, "Dokter Sam ke rumah Mamah Gina katanya, mau nganterin pesenannya, aku minta dianterin dulu ke sini...." Disya menganggu
Hening. Hanya ada suara detak jarum jam yang terdengar, menjelaskan situasi canggung saat ini. Disya mengulum bibir, kembali meremas pakainnya gugup, masih enggan menatap lelaki yang sedang duduk di sofa memperhatikannya dengan tatapan yang—entah sedang kesal atau bagaimana, Disya tidak bisa menebak
Disya berjalan mondar-mandir di dalam kamar sembari memegang handphonenya, sesekali mengulum bibirnya yang tidak bisa menahan senyum sedari tadi. Masih memikirkan tentang ucapan Samudra, bukankah secara tidak langsung Samudra mengijinkan Devan ke rumah untuk melamarnya kembali? Itu artinya Samudra







