LOGINHai teman-teman! Kalau di season 1 aku butuh waktu kurang lebih delapan bulan buat menyelesaikan, di season 2 ini aku makan waktu tiga tahun lima bulan buat sampai nulis epilog. Tiga tahun lebih—waktu yang bukan cukup lama... Tapi lama banget! Aku mau ngucapin banyak-banyak terimakasih buat semua teman-teman yang sudah mau baca novelku, terkhusus buat temen-temen yang sudah ngikutin novel Om Duda ini dari awal sampai akhir, masih ada 'kan? Aku juga mau minta maaf karena sudah sering buat kalian nunggu update. Buat teman-teman yang sering muncul di kolom komentar dari awal sampai sekarang, mungkin kalian nggak sadar, tapi komentar kalian sering banget bikin aku semangat buat lanjut nulis. Makasih sudah tetap baca, dan terus dukung cerita ini sampai akhir. Hehehe.... Gimana? Apa pendapat kalian setelah baca novel dengan dua season ini? Semoga novel ini worth it untuk kalian baca ya, terlebih buat yang udah selalu nunggu aku update. Akhir yang manis buat kisah Devan dan Disya
Proses persalinannya kurang lebih tinggal sebulan lagi, banyak yang menantikan, kediaman Devan lebih sering dikunjungi oleh beberapa keluarga—terlebih jika di siang hari, ketika Devan sedang bekerja, Disya tidak akan pernah sendirian pasti ada saja salah satu keluarga yang menemani. Naya juga sering sekali menginap, Samudra akan menjemputnya setelah dua atau tiga hari Naya berada di rumah Devan dan Disya. Disya sangat bersyukur, keluarganya begitu sangat menyayanginya. Banyak hal yang sudah dilalui, tangisan, kekecewaan,kesalah pahaman, kehilangan—tetapi, pada akhirnya kebahagiaan juga menghampiri... begitulah hidup berjalan. "Jelek ya?" "Apa?" "Kaki Disya... bengkak." Devan yang sedang fokus memotongi kuku kaki Disya seketika langsung menghentikan kegiatannya, menatap istrinya lalu menggeleng pelan. "Tidak jelek." Disya terkekeh pelan mendengar jawaban Devan. "Terimakasih ya sudah m
Malam datang perlahan, semua yang hadir sudah berpamitan pulang—masih jam delapan malam, belum memasuki tengah malam, mereka memilih langsung pulang agar Disya bisa beristirahat katanya—manis sekali 'kan? "Sya, masih suka ngidam ngga?" tanya Naya masih tertawa karena baru saja menonton video si kembar yang cemberut karena disuruh memakai kostum Upin & Ipin, handphone masih di tangan, video dijeda untuk beberapa saat. "Hmm... ngga sih," jawab Disya seadanya, tetapi perempuan itu masih berpikir mencoba mengingat. "Kamu ngerjain si kembar ya? Atau beneran ngidam kaya gini sih?" tanya Naya lagi memastikan. "Beneran ngidam, Nay. Beneran maunya dede bayi nonton Upin & Ipin sama si kembar. Awalnya aku iseng nanya sama Dokternya waktu USG, jangan-jangan aku lagi hamil anak kembar. Eh, Dokternya malah kaget, kok aku tahu katanya. Padahal Dokternya udah punya niat kalau kehamilan aku yang kembar ini mau diraha
"Kok ngga ada dekorasi sih, Sya?" tanya Alya dengan kening mengernyit menatap sekitaran halaman rumah, hanya ada Devan dan si kembar yang sedang duduk di gazebo sibuk meniup balon. "Bang Devan tuh ngga punya duit sampe ngga mampu buat beli dekor!" dumel Gio dengan wajah memerah kesal. Alya, Fani, dan juga Yumna yang baru datang sama-sama mengeryit menatap Disya. "Padahal kalau pake dekor lebih bagus lho, Sya. Bisa bikin postingan sosmed kita estetik tau!" usul Alya. "Bang Devan tuh kolot banget!" Lagi-lagi Gio mulai mengomel. "Lo juga, Sya! Bisa-bisanya ketularan Bang Devan sih?" Disya terkekeh pelan. "Acaranya kan jam tiga sore, ini masih jam sepuluh. Kalian datangnya kepagian sih makannya disuruh Pak Devan niup balon." Gio mencebik kesal, tetapi mulutnya masih sibuk meniup balon. Dio juga melakukan hal yang sama, bedanya lelaki itu lebih bersikap tenang seperti Devan. "Kita pesen dekor kok, sebentar lagi juga s
"Ada apa?" tanya Disya melirik suaminya beberapa detik, lalu kembali fokus dengan kegiatanya yang sedang memasangkan dasi di leher Devan.Lelaki itu tersenyum lalu mengusap lembut pipi kanan Disya. "Kamu cantik sekali, Sya?"Disya memberengut, memukul pelan dada Devan untuk menutupi rasa gugupnya. Bukan satu, dua bulan mereka bersama. Tetapi, Disya selalu dibuat salah tingkah jika Devan menggodanya. Jelas pipinya bersemu merah sekarang, membuat Devan gemas, tidak tahan untuk menciuminya, bahkan lelaki itu sudah memeluk tubuh Disya."Pak Devan harus sarapan, nanti telat.""Saya cuti lagi ya hari ini.""Ngga boleh! Kemarin kan Pak Devan udah ngambil cuti."Devan berdecak, lelaki itu malah semakin memeluk Disya erat. "Saya mau sama kamu terus...." rengeknya manja—Bukan Devan sekali 'kan?!"Ayo sarapan, di bawah Naya sama Bang Sam pasti nungguin!" kata Disya mencoba melepaskan pelukan suaminya."Biarkan saja mereka," ucap Devan sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya.Kalau sudah begi
"Abang cinta sama Naya, Sya...." Disya mengangguk pelan memeluk lengan Samudra dengan lembut sesekali mengelusnya, mencoba menyampaikan bahwa ia percaya dengan ucapannya—bagaimana Disya tidak percaya, manik mata Abangnya sudah memerah sekarang, bahkan berkaca-kaca jika saja matanya berkedip beberapa detik maka air mata yang menggenang itu akan jatuh membasahi pipinya. "Abang ngga tau kenapa kamu sama Devan masih belum percaya itu. Abang harus bagaimana lagi?" Disya menggeleng pelan. "Pak Devan bilang apa sama Bang Sam?" Tanya Disya memastikan, beberapa menit yang lalu suami dan abangnya ini baru mengobrol di halaman samping. Disya sudah mengetahui apa yang dibahas, tetapi ia tidak tahu secara rinci kalimat seperti apa yang suaminya ucapkan kepada Samudra sehingga lelaki itu sampai berkaca-kaca hendak menangis seperti ini. "Disya cuman takut—" "Sudah beberapa kali Abang bilang takut kalian itu keterlaluan, berlebihan. Apalagi sekarang
Disya menundukkan wajahnya dalam, masih menangis sesenggukkan. Benarkah ucapan yang dikatakan Devan beberapa menit yang lalu? Tentang dia yang tidak akan menemui Disya lagi? Itu artinya hubungan mereka benar-benar berakhir. Padahal mereka baru memulainya kembali, tapi sudah harus diakhiri begitu saj
"Setelah pulang dari sini, kita bisa menemui Bang Sam. Membicarakan tentang hubungan kita."Disya pada akhirnya mengatakan itu saat masih berada di Jogja di rumah nenek dan kakeknya. Sebelum membicarakan hubungan mereka kepada masing-masing kedua keluarga, Disya memutuskan membicarakannya kepada samu
"Saya masuk saja ya, Sya?"Disya menggeleng dengan bibir yang dikerucutkan. "Antar Disya sampai di sini saja, Pak Devan langsung pulang saja ya....""Kamu tadi di jemput saya, Bunda juga sudah tahu kamu pergi dengan saya. Saya justru merasa tidak enak jika tidak berpamitan dengan Bunda."Lagi-lagi Disy
Devan menengokkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, memperhatikan sekitaran rumah. Setelah memastikan keadaan aman, tangan kanannya terangkat untuk mengetuk pintu kayu di depannya."Sya? Ini saya," kata Devan disela kegiatan mengetuk pintu rumah."Pak Devan. Masuk saja pintunya ngga dikunci," kata Disya







