Home / Fantasi / PENGUASA ELEMEN MUTLAK / 2. Sistem Penguasaan Elemen

Share

2. Sistem Penguasaan Elemen

Author: Yarniati
last update publish date: 2026-05-23 12:35:18

Kaelen masih terbaring di atas rumput kering di tengah reruntuhan kediaman keluarganya. Napasnya masih terengah-engah, namun rasa sakit yang tadi menyiksanya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang menyebar ke seluruh tubuh, seolah ada aliran energi halus yang berputar di dalam pembuluh darahnya. Di hadapan matanya, dunia terlihat berbeda.

Langit senja yang biasanya hanya tampak berwarna oranye kemerahan. Kini dipenuhi oleh jutaan cahaya kecil yang berterbangan. Ada partikel berwarna merah menyala, biru jernih, cokelat kokoh, hijau lincah, kuning terang hingga putih bersih. Partikel-partikel itu melayang bebas di udara. Bergerak mengikuti aliran angin. Mengisi tanah di bawah kakinya, dan memenuhi seluruh alam semesta di sekelilingnya.

[SISTEM PENGUASAAN ELEMEN TELAH BERHASIL DITERAPKAN]

[Status Pengguna: Kaelen Voss]

[Tingkat Kekuatan: Tingkat 1 (Pemula)]

[Afinitas Elemen: TIDAK TERBATAS — Mampu menyerap dan menguasai SEMUA jenis elemen yang ada.]

[Elemen yang telah dikuasai: TIDAK ADA]

[Kemampuan Khusus: Analisis Elemen, Penyerapan Energi, Penyatuan Unsur.]

[Informasi Dasar: Di dunia ini, setiap manusia hanya memiliki 1 hingga 2 jenis afinitas elemen. Pengguna adalah satu-satunya makhluk yang memiliki akses ke seluruh elemen alam. Potensi kekuatan: TAK TERBATAS.]

Suara mekanis itu terdengar lagi. Jelas dan nyaring di dalam kepalanya. Namun kali ini tidak lagi menakutkan. Justru setiap kata yang terdengar langsung dipahami oleh otak Kaelen seolah-olah itu adalah pengetahuan yang sudah dia miliki sejak lahir.

Kaelen perlahan mengangkat tangannya. Dia Menatap telapak tangannya yang bersih dan utuh. Luka-luka kecil akibat pukulan kemarin pun telah sembuh total. Dia mencoba berkonsentrasi, memikirkan partikel berwarna hijau yang bergerak paling cepat di udara. Partikel itu adalah Elemen Angin.

"Kalau begitu aku bisa mengendalikannya?" batinnya bertanya. Penuh keraguan namun juga harapan besar.

Tanpa sadar, Kaelen memusatkan pikirannya ke sekeliling telapak tangannya. Dan hal yang menakjubkan pun terjadi. Partikel-partikel Hijau itu seolah tertarik oleh magnet raksasa. Berputar dan berkumpul di tangannya, lalu membentuk pusaran angin kecil yang sejuk dan berhembus pelan.

"Benar... benar-benar bisa!" seru Kaelen berbisik.

Tatapan mata Kaelen membelalak tak percaya. Senyum lebar merekah di wajahnya. Perasaan yang dia rasakan saat itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasa sedih, sakit hati, dan keputusasaan yang menumpuk selama bertahun-tahun seolah terhapus seketika. Digantikan oleh semangat yang membara.

Kaelen bukan lagi sampah. Dia bukan lagi pemuda yang tidak berguna. Dia memiliki kekuatan yang bahkan tidak dimiliki oleh penyihir terhebat sekalipun.

Namun kegembiraan itu harus dia tahan sejenak saat suara langkah kaki yang berat dan banyak terdengar dari arah jalan setapak menuju keluar reruntuhan. Suara ejekan yang sangat dia kenal mulai terdengar mendekat.

"Lihat ke sana! Bukankah itu si pemuda tak berharga itu? Dia masih saja berlama-lama di tempat sial ini."

Tentu saja. Itu adalah suara Rian.

Kaelen buru-buru menurunkan tangannya. Dia menyembunyikan pusaran angin kecil itu, dan bangkit berdiri perlahan.

Kaelen kemudian membalikkan badan dan melihat rombongan Rian berjalan mendekat.

Rian berjalan di paling depan dengan tangan di belakang punggung. Wajahnya penuh dengan kesombongan, diikuti oleh dua pengikut setianya yang berbadan besar. Mereka baru saja pulang dari berlatih sihir di luar kota.

Rian berhenti tepat beberapa langkah di depan Kaelen, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. Sama seperti biasanya.

"Kau masih hidup ternyata?" ucap Rian sinis sembari tertawa kecil. "Kukira kau sudah mati kelaparan atau memutuskan untuk lompat dari tebing sini supaya dunia ini sedikit lebih bersih dari keberadaanmu."

Teman-teman Rian tertawa keras mendengar ucapan itu. Bagi mereka, menghina Kaelen adalah hiburan gratis yang paling menyenangkan.

Kaelen mengepal tangannya erat-erat di samping tubuhnya. Dulu saat mendengar kata-kata kasar seperti itu, dia hanya bisa menunduk diam, menahan amarah, dan membiarkan diri dihina.

Tapi sekarang, rasanya berbeda. Ada kekuatan yang mengalir di dalam dirinya membuatnya merasa berani dan merasa setara. Bahkan merasa lebih unggul dari pemuda angkuh di hadapannya ini.

Namun Kaelen tahu dia belum paham benar cara menggunakan kekuatan barunya. Dia tidak boleh bertindak gegabah. Dia harus bersabar dan melihat situasi.

"Aku mau pulang," jawab Kaelen singkat.

Kaelen berusaha melewati Rian dan rombongannya. Dia tidak mau berkelahi sekarang, belum waktunya.

Namun Rian mengulurkan tangannya. Dia menghalangi jalan Kaelen dengan kasar. Wajahnya berubah menjadi dingin dan mengancam.

"Berani sekali kau bicara padaku dengan nada seperti itu," kata Rian rendah. "Apa kemarin kau belum cukup diberi pelajaran? Atau mungkin kau lupa peringatanku? Besok adalah Hari Penilaian Kota. Aku dengar kau mendaftar?"

Mata Rian menyipit tajam. Dia mendengar kabar bahwa Kaelen diam-diam mendaftar untuk ikut serta dalam ujian bakat tahunan. Bagi Rian, hal itu adalah penghinaan besar. Bagaimana mungkin 'sampah' seperti Kaelen berani tampil di panggung yang sama dengan para calon penyihir berbakat?

"Kau pikir kau bisa apa di sana?" lanjut Rian dengan nada penuh ancaman. "Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri dan ingatan buruk keluargamu. Dengar baik-baik, Kaelen! Batalkan pendaftaranmu. Atau aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi besok."

"Aku berhak ikut serta, sama seperti orang lain," jawab Kaelen. Suaranya tenang namun tegas. Dia menatap lurus ke mata Rian. Dia tidak lagi menunduk.

Tatapan itu membuat Rian marah luar biasa. Selama ini, Kaelen selalu menunduk takut. Selalu pasrah. Melihat Kaelen menatap balik seolah memiliki keberanian membuat harga dirinya terasa terinjak.

"Berani kau melawanku?!" Rian berteriak.

Api merah menyala seketika di telapak tangannya, panasnya terasa hingga ke wajah Kaelen.

"Kau benar-benar mencari mati!"

Tanpa ragu, Rian mengayunkan tangannya. Sebola api berukuran kecil namun panas melesat cepat ke arah dada Kaelen. Dia hanya ingin membuat Kaelen terluka sedikit, membakar bajunya, dan membuatnya menangis minta ampun seperti biasanya.

Namun kali ini berbeda.

Saat bola api itu mendekat, insting baru Kaelen bekerja. Di dalam benaknya, suara sistem bergema cepat:

[DETEKSI SERANGAN ELEMEN: API TINGKAT RENDAH]

[Analisis: Kecepatan rendah, suhu tinggi, jangkauan pendek.]

[Elemen yang cocok untuk menangkis: ANGIN]

Tanpa berpikir panjang. Sepenuhnya dikendalikan oleh naluri dan pengetahuan yang baru dia dapatkan, Kaelen mengangkat tangan kanannya ke depan. Dia tidak berteriak. Tidak merapalkan mantra apa pun. Dia hanya memusatkan pikiran pada elemen Angin yang melimpah di sekelilingnya.

WUSSSSH..

Sebuah hembusan angin kencang tiba-tiba muncul dari telapak tangan Kaelen. Angin itu bukan sekadar angin biasa, melainkan aliran elemen yang terkonsentrasi. Bergerak cepat dan tajam. Angin itu menghantam bola api milik Rian. Kemudian memecahnya menjadi percikan kecil yang padam seketika, dan berlanjut bergerak maju menuju Rian sendiri.

Rian terbelalak kaget. Dia bahkan belum sempat menyadari apa yang terjadi. Hembusan angin itu menghantam dadanya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang dia duga. Tubuhnya yang tidak siap terlempar ke belakang, lalu terhuyung-huyung beberapa langkah hingga akhirnya jatuh terduduk di tanah berdebu. Wajahnya pucat karena kaget dan malu.

"Tuan Rian!" teriak kedua pengikutnya

Kedua pengikut itu segera berlari membantu tuannya bangkit berdiri. Mereka juga sama terkejutnya. Sejak kapan si pemuda tidak berharga itu bisa menggunakan sihir?

Kaelen pun sama terkejutnya. Dia menatap tangannya sendiri yang masih terulur ke depan, lalu menatap Rian yang kini menatapnya dengan mata melotot tak percaya.

"Apa... apa yang baru saja kau lakukan?!" bentak Rian.

Suara Rian bergetar karena campuran marah dan takut. Dia mengusir debu dari jubahnya dengan kasar. "Kau... kau tidak punya kekuatan! Kristal Penentu menyatakan kau kosong! Bagaimana kau bisa mengeluarkan angin?!"

Kaelen menarik napas panjang. Perlahan dia menurunkan tangannya. Rasa kagetnya berubah menjadi senyum tipis yang dingin dan penuh percaya diri.

Kaelen mulai paham. Kristal itu memang benar, dia tidak memiliki elemen apa pun secara alami. Tapi sistem di dalam dirinya memungkinkannya untuk mengambil dan menggunakan elemen apa pun dari alam sekitarnya, kapan saja, di mana saja.

"Aku hanya membalas apa yang kau berikan padaku, Rian!" jawab Kaelen pelan namun tegas.

Suara Kaelen kini memiliki bobot dan wibawa yang belum pernah ada sebelumnya.

"Dan tentang apa yang bisa aku lakukan. Kau akan segera tahu semuanya."

Rian ingin marah dan ingin menyerang lagi dengan api yang lebih besar. Namun bayangan tentang bagaimana serangannya tadi dipatahkan dengan begitu mudah, dan bagaimana dia jatuh hanya dengan satu gerakan tangan Kaelen membuat kakinya terasa lemas.

Rian merasa ada sesuatu yang berubah drastis pada diri pemuda di hadapannya ini. Aura yang dulu lemah dan suram, kini berubah menjadi dingin, tajam, dan menekan.

"Kau... kau berhati-hatilah!" geram Rian.

Rian tidak berani menyerang lagi. Dia tahu, jika dia memaksa bertarung sekarang, maka dia mungkin akan dipermalukan lagi di depan anak buahnya.

"Ini belum selesai! Besok, di Hari Penilaian aku akan buktikan bahwa apa yang kau lakukan tadi hanyalah kebetulan semata! Kau masih sampah, dan akan selamanya jadi sampah!"

Setelah mengucapkan ancaman terakhir itu, Rian berbalik dan pergi dengan langkah tergesa-gesa, diikuti oleh kedua temannya yang masih menatap Kaelen dengan rasa takut dan bingung. Mereka tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, tapi mereka tahu satu hal yaitu pemuda yang mereka hina selama ini, entah bagaimana caranya telah berubah.

Melihat punggung musuhnya yang menjauh, Kaelen menghela napas lega dan menatap langit yang mulai gelap sepenuhnya. Bintang-bintang mulai bermunculan, dan angin malam bertiup lembut menyapa wajahnya.

Kaelen menoleh ke bawah. Dia menatap telapak tangannya lagi, lalu tersenyum lebar. Senyum yang paling tulus dan bahagia selama bertahun-tahun.

"Angin! Aku baru saja mengendalikan angin," gumamnya pelan. Matanya bersinar berkilauan. "Dan ini baru permulaan."

Di dalam benaknya, suara sistem kembali memberikan informasi baru.

[KEMAMPUAN BARU DIPELAJARI: MANIPULASI ANGIN DASAR]

[Penguasaan Elemen Angin: 5%]

[Pesan: Teruslah berlatih, serap lebih banyak energi elemen, dan taklukkan kekuatan yang lebih besar lagi. Jalan menuju puncak kekuasaan baru saja dibuka.]

Kaelen membalikkan badan dan mulai berjalan pulang ke gubuk kecilnya. Langkahnya kini ringan dan penuh semangat. Beban berat yang selama ini membebaninya telah hilang. Besok adalah Hari Penilaian Kota, hari di mana semua bakat muda akan berkumpul.

Dulu, Kaelen takut hari itu datang. Tapi sekarang? Dia tidak sabar menunggunya. Dia tidak sabar untuk menunjukkan kepada seluruh Kota Aras, kepada Rian, dan kepada dunia bahwa anak yang mereka anggap sampah itu, kelak akan menjadi sosok terkuat yang pernah ada.

Dan malam itu, di bawah sinar bulan yang terang, Kaelen Voss mulai menyusun rencana pertamanya. Dia akan berlatih semalam suntuk. Dia akan menyerap setiap tetes energi elemen yang ada di sekitarnya. Dia akan tumbuh kuat, sangat kuat hingga tidak ada seorang pun yang berani lagi memandang rendah dirinya.

Legenda Sang Penguasa Elemen Mutlak, dimulai dari sini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    50. Tujuh Pilar

    Dan sekarang, di dalam Pilar Ketujuh itu semua kekuatan itu sedang dipadatkan menjadi satu wujud murni. Sebuah inti energi raksasa yang perlahan berdenyut perlahan tumbuh, dan perlahan bersiap untuk menyatu sepenuhnya ke dalam tubuh Raja Bayangan."Saat inti itu selesai terbentuk," gumam Kaelen dengan suara berat, "Saat dia menyerap inti itu ke dalam dirinya, dia tidak akan lagi menjadi Raja Bayangan. Dia tidak akan lagi menjadi makhluk fana, penyihir hebat, atau penguasa kegelapan. Dia akan menjadi entitas baru. Sesuatu yang berdiri di atas segalanya. Di atas hukum alam. Di atas elemen. Di atas kehidupan dan kematian. Dia akan menjadi DEWA KEKACAUAN yang sesungguhnya."Kaelen akhirnya mengerti sepenuhnya mengapa Raja Bayangan begitu yakin akan kemenangannya. Mengapa dia begitu sabar menunggu kedatangan dirinya.Ada dua alasan utama.Pertama: Raja Bayangan membutuhkan energi Kaelen. Sebagai Penguasa Elemen Mutlak. Sebagai satu-satunya makhluk yang berhasil menyatukan seluruh elemen al

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    49. Jejak Kekuatan Yang Sedang Dikumpulkan

    Langit di selatan semakin hari semakin berubah rupa. Warna kelam yang tadinya hanya berupa kabut tebal yang menggantung pasif kini perlahan bergerak, berputar, dan berdenyut seolah memiliki nyawa sendiri.Dari ketinggian, Kaelen Voss bisa melihat pemandangan yang mengerikan namun luar biasa itu yaitu seluruh wilayah di sekitar Benteng Kegelapan kini tertutup oleh kubah awan hitam raksasa yang diameternya mencapai ribuan kilometer. Di dalam kubah itu petir ungu menyambar tak henti-henti, dan suara gemuruh rendah yang menggetarkan bumi terdengar terus-menerus, seolah ada raksasa purba yang sedang bangkit dari tidur panjangnya.Semakin dekat Kaelen mendekati pusat kekuasaan musuhnya. Semakin jelas dia merasakan jejak-jejak kekuatan yang tertinggal. Jejak yang tidak bisa disembunyikan oleh Raja Bayangan sehebat apa pun dia berusaha. Karena jejak itu tidak tertinggal di tanah atau di batu, melainkan tertinggal di dalam struktur energi alam itu sendiri, jejak yang hanya bisa dibaca oleh ses

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    48. Kemarahan Raja Bayangan

    Di tempat lain, jauh di dalam ruangan singgasana yang dalam dan suram itu.Raja Bayangan masih berdiri diam. Amarahnya terhadap Kaelen belum juga mereda, namun rasa puas dan antisipasi yang menyimpang masih mendominasi hatinya. Di sekelilingnya para penasihat tinggi sedang melaporkan perkembangan dari berbagai wilayah."Tuanku! Laporan dari Menara Utara, Timur, dan Barat." ucap seorang penasihat dengan suara gemetar hormat. "Aliran energi berjalan sangat lancar. Kekuatan yang kami terima hari ini meningkat dua kali lipat dari biasanya. Sepertinya penyerapan esensi alam sudah mencapai tahap puncak. Segalanya berjalan sesuai rencana Agung Tuanku."Raja Bayangan mengangguk pelan. Di dalam tubuhnya, lautan energi gelap bergolak liar. Semakin luas.Semakin dalam, dan semakin pekat. Dia bisa merasakannya. Setiap detik, ribuan tahun kekuatan alam mengalir masuk ke dalam dirinya. Tubuhnya yang sudah abadi kini semakin kokoh, semakin mendekati wujud sempurna yang dia idamkan."Bagus," gumam Raj

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    47. Rahasia Rencana Penaklukan Dunia

    Angin malam berhembus semakin kencang, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang seiring Kaelen Voss terus melesat menembus kegelapan.Di bawah kakinya terlihat hamparan hutan lebat. Sungai berkelok, dan pegunungan tinggi berlalu begitu saja, seolah dunia di bawah sana hanyalah lukisan yang berganti-ganti dengan cepat.Tubuhnya kini diselimuti aura unik yang belum pernah dimiliki siapa pun sebelumnya, perpaduan harmonis antara cahaya pelangi yang murni dan kabut abu-abu gelap yang tenang namun tajam.Setelah menyerap dan memurnikan sisa kekuatan Jenderal Valgus. Tidak hanya kapasitas energinya yang berlipat ganda, tetapi juga jangkauan indra batinnya meluas hingga ribuan kilometer.Kini setiap getaran energi. Setiap bisikan alam, dan setiap jejak kekuatan yang ada di benua ini dapat dia rasakan dengan sangat jelas, seolah semuanya tertulis terbuka di hadapannya.Namun seiring Kaelen semakin mendekati wilayah pusat kekuasaan Organisasi Bayangan, sesuatu yang ganjil mulai terasa.Se

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    46. Elemen Gelap

    Awalnya tidak ada apa-apa. Namun perlahan muncul kabut halus berwarna abu-abu gelap yang berputar tenang. Kabut itu tidak menakutkan. Tidak memancarkan rasa sakit atau kematian seperti milik Valgus. Dia terasa dingin, tenang, dan sangat tajam."Ini," gumam Kaelen dengan mata berbinar kagum. "Inilah wujud asli Elemen Gelap. Bukan kehancuran yang diciptakan Valgus, tapi KETIADAAN. Kemampuan untuk memotong hubungan sebab-akibat. Kemampuan untuk menghapuskan energi yang tidak wajar. Valgus menggunakannya untuk menghancurkan kehidupan. Tapi aku akan menggunakannya untuk memotong akar kejahatan itu sendiri."Kaelen mengepalkan tangannya, dan kabut abu-abu itu lenyap kembali masuk ke dalam pori-porinya.Pikirannya kini terbuka luas. Kaelen menyadari bahwa Raja Bayangan, musuh utamanya pasti juga memiliki kekuatan serupa. Bahkan mungkin lebih besar dan lebih murni.Raja Bayangan adalah sumber utama segala elemen gelap yang ada di dunia ini. Selama ini Kaelen khawatir bagaimana caranya melawan

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    45. Menyerap Kekuatan Elemen Gelap Musuh

    Udara di sekitar tempat pertempuran itu masih bergetar pelan, meski semua ledakan dan benturan dahsyat telah berhenti sepenuhnya. Langit yang baru saja kembali cerah kini berwarna keemasan karena sinar matahari sore yang menyelinap di sela-sela awan tipis.Di tengah hamparan tanah lapang yang luas itu tidak ada lagi jejak Jenderal Valgus. Tidak ada lagi sisa baju zirah. Tidak ada lagi debu sisa pasukan bayangan. Semuanya telah lenyap, dibersihkan, dan dikembalikan ke asalnya oleh kekuatan Penyatuan Agung yang Kaelen gunakan.Namun Kaelen Voss belum beranjak pergi. Dia masih melayang diam di ketinggian sepuluh meter dari permukaan tanah. Matanya terpejam rapat, dan sekujur tubuhnya diselimuti oleh cahaya pelangi yang lembut namun berdenyut kuat, seolah ada sesuatu yang sedang bergerak, berputar, dan berproses di dalam inti dirinya.Bagi pengamat biasa, medan pertempuran ini kini tampak kosong dan damai. Namun bagi Kaelen, bagi seseorang yang kini memiliki pemahaman mutlak tentang hukum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status