LOGINDan sekarang, di dalam Pilar Ketujuh itu semua kekuatan itu sedang dipadatkan menjadi satu wujud murni. Sebuah inti energi raksasa yang perlahan berdenyut perlahan tumbuh, dan perlahan bersiap untuk menyatu sepenuhnya ke dalam tubuh Raja Bayangan."Saat inti itu selesai terbentuk," gumam Kaelen dengan suara berat, "Saat dia menyerap inti itu ke dalam dirinya, dia tidak akan lagi menjadi Raja Bayangan. Dia tidak akan lagi menjadi makhluk fana, penyihir hebat, atau penguasa kegelapan. Dia akan menjadi entitas baru. Sesuatu yang berdiri di atas segalanya. Di atas hukum alam. Di atas elemen. Di atas kehidupan dan kematian. Dia akan menjadi DEWA KEKACAUAN yang sesungguhnya."Kaelen akhirnya mengerti sepenuhnya mengapa Raja Bayangan begitu yakin akan kemenangannya. Mengapa dia begitu sabar menunggu kedatangan dirinya.Ada dua alasan utama.Pertama: Raja Bayangan membutuhkan energi Kaelen. Sebagai Penguasa Elemen Mutlak. Sebagai satu-satunya makhluk yang berhasil menyatukan seluruh elemen al
Langit di selatan semakin hari semakin berubah rupa. Warna kelam yang tadinya hanya berupa kabut tebal yang menggantung pasif kini perlahan bergerak, berputar, dan berdenyut seolah memiliki nyawa sendiri.Dari ketinggian, Kaelen Voss bisa melihat pemandangan yang mengerikan namun luar biasa itu yaitu seluruh wilayah di sekitar Benteng Kegelapan kini tertutup oleh kubah awan hitam raksasa yang diameternya mencapai ribuan kilometer. Di dalam kubah itu petir ungu menyambar tak henti-henti, dan suara gemuruh rendah yang menggetarkan bumi terdengar terus-menerus, seolah ada raksasa purba yang sedang bangkit dari tidur panjangnya.Semakin dekat Kaelen mendekati pusat kekuasaan musuhnya. Semakin jelas dia merasakan jejak-jejak kekuatan yang tertinggal. Jejak yang tidak bisa disembunyikan oleh Raja Bayangan sehebat apa pun dia berusaha. Karena jejak itu tidak tertinggal di tanah atau di batu, melainkan tertinggal di dalam struktur energi alam itu sendiri, jejak yang hanya bisa dibaca oleh ses
Di tempat lain, jauh di dalam ruangan singgasana yang dalam dan suram itu.Raja Bayangan masih berdiri diam. Amarahnya terhadap Kaelen belum juga mereda, namun rasa puas dan antisipasi yang menyimpang masih mendominasi hatinya. Di sekelilingnya para penasihat tinggi sedang melaporkan perkembangan dari berbagai wilayah."Tuanku! Laporan dari Menara Utara, Timur, dan Barat." ucap seorang penasihat dengan suara gemetar hormat. "Aliran energi berjalan sangat lancar. Kekuatan yang kami terima hari ini meningkat dua kali lipat dari biasanya. Sepertinya penyerapan esensi alam sudah mencapai tahap puncak. Segalanya berjalan sesuai rencana Agung Tuanku."Raja Bayangan mengangguk pelan. Di dalam tubuhnya, lautan energi gelap bergolak liar. Semakin luas.Semakin dalam, dan semakin pekat. Dia bisa merasakannya. Setiap detik, ribuan tahun kekuatan alam mengalir masuk ke dalam dirinya. Tubuhnya yang sudah abadi kini semakin kokoh, semakin mendekati wujud sempurna yang dia idamkan."Bagus," gumam Raj
Angin malam berhembus semakin kencang, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang seiring Kaelen Voss terus melesat menembus kegelapan.Di bawah kakinya terlihat hamparan hutan lebat. Sungai berkelok, dan pegunungan tinggi berlalu begitu saja, seolah dunia di bawah sana hanyalah lukisan yang berganti-ganti dengan cepat.Tubuhnya kini diselimuti aura unik yang belum pernah dimiliki siapa pun sebelumnya, perpaduan harmonis antara cahaya pelangi yang murni dan kabut abu-abu gelap yang tenang namun tajam.Setelah menyerap dan memurnikan sisa kekuatan Jenderal Valgus. Tidak hanya kapasitas energinya yang berlipat ganda, tetapi juga jangkauan indra batinnya meluas hingga ribuan kilometer.Kini setiap getaran energi. Setiap bisikan alam, dan setiap jejak kekuatan yang ada di benua ini dapat dia rasakan dengan sangat jelas, seolah semuanya tertulis terbuka di hadapannya.Namun seiring Kaelen semakin mendekati wilayah pusat kekuasaan Organisasi Bayangan, sesuatu yang ganjil mulai terasa.Se
Awalnya tidak ada apa-apa. Namun perlahan muncul kabut halus berwarna abu-abu gelap yang berputar tenang. Kabut itu tidak menakutkan. Tidak memancarkan rasa sakit atau kematian seperti milik Valgus. Dia terasa dingin, tenang, dan sangat tajam."Ini," gumam Kaelen dengan mata berbinar kagum. "Inilah wujud asli Elemen Gelap. Bukan kehancuran yang diciptakan Valgus, tapi KETIADAAN. Kemampuan untuk memotong hubungan sebab-akibat. Kemampuan untuk menghapuskan energi yang tidak wajar. Valgus menggunakannya untuk menghancurkan kehidupan. Tapi aku akan menggunakannya untuk memotong akar kejahatan itu sendiri."Kaelen mengepalkan tangannya, dan kabut abu-abu itu lenyap kembali masuk ke dalam pori-porinya.Pikirannya kini terbuka luas. Kaelen menyadari bahwa Raja Bayangan, musuh utamanya pasti juga memiliki kekuatan serupa. Bahkan mungkin lebih besar dan lebih murni.Raja Bayangan adalah sumber utama segala elemen gelap yang ada di dunia ini. Selama ini Kaelen khawatir bagaimana caranya melawan
Udara di sekitar tempat pertempuran itu masih bergetar pelan, meski semua ledakan dan benturan dahsyat telah berhenti sepenuhnya. Langit yang baru saja kembali cerah kini berwarna keemasan karena sinar matahari sore yang menyelinap di sela-sela awan tipis.Di tengah hamparan tanah lapang yang luas itu tidak ada lagi jejak Jenderal Valgus. Tidak ada lagi sisa baju zirah. Tidak ada lagi debu sisa pasukan bayangan. Semuanya telah lenyap, dibersihkan, dan dikembalikan ke asalnya oleh kekuatan Penyatuan Agung yang Kaelen gunakan.Namun Kaelen Voss belum beranjak pergi. Dia masih melayang diam di ketinggian sepuluh meter dari permukaan tanah. Matanya terpejam rapat, dan sekujur tubuhnya diselimuti oleh cahaya pelangi yang lembut namun berdenyut kuat, seolah ada sesuatu yang sedang bergerak, berputar, dan berproses di dalam inti dirinya.Bagi pengamat biasa, medan pertempuran ini kini tampak kosong dan damai. Namun bagi Kaelen, bagi seseorang yang kini memiliki pemahaman mutlak tentang hukum







