Share

Bab 23

Penulis: bucinyarukher
last update Tanggal publikasi: 2026-07-31 01:01:46

Hampir satu jam Kevin menemani Alan menjaga Mutia di ruang inap mereka. Beberapa kali obrolan Alan mengarah soal dimana Karen dimakamkan, dan tentu Kevin masih berpegang pada prinsipnya, yaitu tidak akan pernah memberitahu Alan tentang hal itu. Bukan hanya karena janjinya pada Dito Pramono dan Mutia yang melarang Kevin memberitahu Alan demi memulihkan kesehatan mental Alan, namun Kevin pribadi juga sudah tidak ingin Alan mengusik ketenangan peristirahatan terakhir mending Karen. Walau Karen s

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PUDAR   Bab 23

    Hampir satu jam Kevin menemani Alan menjaga Mutia di ruang inap mereka. Beberapa kali obrolan Alan mengarah soal dimana Karen dimakamkan, dan tentu Kevin masih berpegang pada prinsipnya, yaitu tidak akan pernah memberitahu Alan tentang hal itu. Bukan hanya karena janjinya pada Dito Pramono dan Mutia yang melarang Kevin memberitahu Alan demi memulihkan kesehatan mental Alan, namun Kevin pribadi juga sudah tidak ingin Alan mengusik ketenangan peristirahatan terakhir mending Karen. Walau Karen sudah meninggal, tapi Kevin tidak mau sampai melihat Alan berkeliaran disekitar makam Karen atau mungkin memilih tidur disana hanya karena gagal move on. Tidak ingin memberi harapan terlalu jauh perihal informasi makam Karen pada Alan yang terus menjadikan kondisi Mutia sebagai alasan agar dirinya iba, Kevin memutuskan untuk pulang begitu waktu telah menunjuk pukul sepuluh malam. Alan jelas nampak kecewa dengan keputusan Kevin, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Hatinya cukup sen

  • PUDAR   Bab 22

    Berita penusukan Alan di lokasi syuting sinetron 'Aku Lelakimu' tepat di hari ulang tahunnya jelas sampai ke telinga Kevin. Di televisi, di media sosial, hingga beberapa papan reklame di jalanan membahas mengenai skandal - skandal yang belakangan ini menyeret Alan. Berbagai teori konspirasi tak masuk akal dari berbagai pihak bermunculan sampai membuat Kevin terpaksa menahan diri untuk tidak tertawa. Di kerubungi para fans Alan yang menuntut penjelasan mengenai kondisi Alan saat Kevin tengah asyik memainkan keahliannya di dapur Cafe Oliver, maka dari itu ia memilih diam bagai patung hingga membuat satu per satu fans Alan putus asa dan memutuskan meninggalkannya dengan amarah. Dengan wajah ramah serta tutur halus yang singkat, padat dan jelas, Kevin juga sukses menolak dengan mudah wawancara para wartawan dan wartawati. Mereka tidak mau ambil resiko dengan tuntutan hukum sebab Kevin yang merupakan kakak tiri Alan dari hasil hubungan gelap Dito Pramono ta

  • PUDAR   Bab 21

    "Sebenarnya aku sudah tau keberadaan Kevin dan Karen sejak kita resmi menikah. Aku selama ini memilih diam karena aku sangat mencintaimu. Sekarang aku harap kamu jawab jujur, siapa ayah dari mereka? Siapa yang tega hamili kamu saat itu? Jangan ada rahasia lagi diantara kita supaya aku bisa menentukan apa yang harus aku lakukan pada Kevin. Jelas setelah kehilangan Karen, kamu tidak mau kan kehilangan Kevin juga?!" Ancaman Dito membuat Tary gusar. Jujur ia sangat tidak ingin mengungkit kenangan buruk itu. Mulut Tary seketika kaku, dia bingung harus mulai dari mana untuk menceritakan ini semua kepada Dito. Namun apa boleh buat, bagaimana pun ia harus menyelamatkan Kevin, jadi mulailah ia berusaha membuka kotak pandora yang ada dalam ingatannya.Di hari kelulusan SMA, Tary yang mendapat nilai terbaik memutuskan untuk segera pulang ke rumah memamerkan piagam yang dia peroleh kepada kedua orangtuanya. Namun sesampainya di rumah, terlihat Mamanya menangis dengan

  • PUDAR   Bab 20

    Mata Kevin mengerjap untuk memfokuskan pandangan dimana kini dirinya berada. Ruangan bercat warna putih, dengan lantai marmer. Tidak ada barang apapun di dalamnya, hanya ada dirinya yang berada di tengah ruangan dengan keadaan terikat erat di sebuah kursi. Ketika pandangan mengarah ke sudut sebelah kanan, terlihat seorang lelaki bertubuh kekar memakai baju serba hitam tengah duduk di sebuah kursi di bibir pintu sembari memainkan ponselnya. Ketika lelaki itu menoleh pada Kevin yang telah sadar, lelaki itu segera menelepon seseorang hanya untuk mengatakan, "Dia sudah sadar, bos." Sorot mata lelaki itu menatap Kevin dengan garang, tapi Kevin malah mengalihkan tatapannya, nampak tidak peduli. Tidak lama berselang, terlihat beberapa lelaki berbaju hitam datang dan kembali memukuli Kevin secara bertubi - tubi. Tidak akan ada yang datang menolongnya, Kevin tau itu. Maka dari itu dia memilih diam, dia tidak ingin melawan karena semua akan percu

  • PUDAR   Bab 19

    "Nih... Awas aja kalau nggak kamu pakai." Farel lempar sebuah kado dengan sampul motif hello kitty di tangannya ke pangkuan Alan yang kini duduk bersandar di ranjang rumah sakit Ketika membuka kado dari Farel, tawa di mulut Alan menguar begitu saja disertai berbagai cercaan. "Baju tidur gambar Hello Kitty? Kamu kira aku masih anak kecil. Kalau gini gimana aku mau makainya, kamu nggak kasihan sama aku apa yang tiap malam pasti bakal diketawain Mutia." Farel membela diri, "Untung aku masih mau kasih kamu kado. Dasar nggak tau terima kasih! Pokok aku bakal marah kalau nggak kamu pakai." Farel mengalihkan tatapannya kepada Mutia. "Tia... tolong awasi dia kalau baju tidur itu nggak dipakai, cepat lapor aku." Mutia mengangguk sembari ikut tertawa. Alan yang kalah telak, tiba saja mengelus rambut Mutia dan berkata, "Kamu sebaiknya pulang, aku nggak

  • PUDAR   Bab 18

    Terbangun dari koma, Alan langsung kena timpuk bantal oleh Mutia sebab kata pertama yang diucapkan Alan adalah nama Karen. Mutia sebenernya tidak bermaksud menyakiti Alan yang baru saja sadar, tapi emosinya tak dapat ia tahan hingga tangannya reflek melakukan hal itu. Untung saja saat itu Dito sedang tidak ada disana. Bisa dipastikan jika Dito akan ikut mengamuk bersama Mutia mendengar siapa orang pertama yang Alan cari ketika membuka mata. Mau kecewa tapi Mutia rasa semua sudah basi, dia sudah terlanjur mengambil keputusan untuk terus berada disisi Alan. Mengenggam tangan Alan dan melihatnya baik - baik saja sudah membuat ia bahagia meski hati Alan masih belum menjadi miliknya. "Kamu sudah sadar!" Dito yang kembali masuk ke dalam kamar inap Alan dan mendapati Alan sudah membuka mata, berbegas memeluk erat tubuh anak tunggalnya itu. Alan yang merasa gengsi dan risih di waktu yang bersamaan berusaha mendorong Dito untuk menjauh. Dito sudah terbia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status