Share

Bab 3

Author: Ratih Larasati
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.

Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”

“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”

Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas dari tasnya dan menyerahkannya.

“Pesankan aku juga satu. Aku ikut dia.”

“Hah?” Maxwell tertegun, menatapnya dengan heran.

Elora berkata seolah itu hal wajar, “Kenapa? Harus Kak Jeffry yang bilang dulu baru kamu dengar?”

Selama setengah tahun ini, ke mana pun Jeffry pergi, dia selalu ikut.

Maxwell berpikir sejenak, merasa itu benar, lalu menerima kartu itu.

“Baik.”

Elora melirik amplop yang sudah terbuka. Isinya sudah diambil oleh Jeffry.

Alisnya sedikit berkerut, matanya dipenuhi kewaspadaan.

Tidak lama kemudian, Jeffry keluar setelah berganti pakaian, membawa tas kerja dan berjalan keluar dengan langkah besar.

Surat pengunduran diri yang belum sempat dibuka itu, dia letakkan sembarangan di samping tempat tidur. Saat membereskan barang, tanpa sengaja jatuh ke lantai ....

...

Saat Shelly sedang mencari informasi tentang kehamilan di internet, tiba-tiba muncul berita finansial.

Barulah dia tahu, Jeffry pergi ke luar negeri.

Menjelang akhir tahun, saat perusahaan sedang sibuk, Jeffry justru meninggalkan pekerjaan dan pergi ke luar negeri bersama Elora.

Media mulai berspekulasi, hubungan mereka sudah hampir ke tahap pernikahan, bahkan disebut-sebut pergi ke luar negeri untuk survei lokasi pernikahan.

Selama setengah tahun ini, rumor tentang mereka memang banyak.

Tapi Shelly tidak pernah sekali pun membuka berita itu.

Dia sengaja menghindar.

Dia sudah menghindar selama setengah tahun … namun sebulan lalu, saat bertemu Jeffry lagi, dia tetap tidak mampu menolaknya.

Mereka pun kembali tidur bersama.

Akhirnya, dia memilih berhenti menghindar.

Lagian dia sudah mau pergi. Lebih baik sakit sekarang daripada terus berharap.

Dia membuka berita itu, memperbesar foto.

Pria dalam setelan jas hitam, membawa koper berwarna pink dan di lengannya tergantung tas wanita.

Pria itu berdiri di depan toilet wanita.

Tidak perlu ditebak, dia pasti sedang menunggu Elora.

Sosok hebat seperti Jeffry ….

Pemimpin Grup Dominion, putra sulung Keluarga Anderson dan satu-satunya pewaris.

Identitas mana pun yang disebutkan, sudah cukup membuat orang lain hanya bisa memandang dari jauh.

Pria yang bahkan tidak pernah benar-benar memandangnya .…

Kini justru berdiri di depan toilet wanita di tempat umum, menunggu seseorang.

Meski foto itu diambil diam-diam, Jeffry tetap terlihat sempurna dari segala sudut.

Struktur wajahnya begitu indah, setiap foto memancarkan aura elegan dan berkelas.

Meski hanya lewat layar, Shelly seakan bisa merasakan kehadiran pria itu.

Dia mematikan ponselnya, meletakkan tangan di perutnya, lalu menatap sofa sepanjang satu setengah meter di seberang.

Setelah menikah dengan Jeffry, dia pulang untuk mengambil barang dan Jeffry datang menjemputnya.

Dia tidak menyangka Jeffry akan datang.

Saat itu dia baru selesai mandi, masih mengenakan pakaian tipis, rambutnya basah.

Pemandangan itu membuat Jeffry kehilangan kendali.

Di sofa itu … mereka melakukannya untuk kedua kali.

Itu satu-satunya … dan mungkin juga terakhir kalinya.

Shelly menutup mulutnya dengan tangan, menggigit ujung jarinya pelan.

Gajinya tinggi. Selama ini dia sudah menabung cukup banyak.

Bahkan jika beberapa tahun tidak bekerja, dia dan anaknya tetap bisa hidup dengan layak.

Di masa depan, dia juga akan berusaha keras memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya.

Beberapa hari berlalu.

Dia mulai gelisah.

Dengan alasan pekerjaan, dia pergi ke kantor pusat untuk mencari tahu proses pengunduran dirinya pada kenalan di departemen HRD.

Namun dia datang di waktu yang tidak tepat, Departemen HRD sedang rapat akhir tahun dan baru selesai siang hari.

Di cabang masih banyak pekerjaan, Shelly tidak bisa menunggu.

Jadi dia hanya bisa pergi.

Baru saja berbalik, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik.

“Kakak ipar! Akhirnya aku ketemu kamu!”

Suara itu berbisik pelan, menariknya ke arah tangga darurat.

Lampu sensor menyala.

Shelly menatap gadis di depannya yang lebih tinggi setengah kepala darinya, bahkan bersandar manja di bahunya.

“Aku dan Jeffry sudah bercerai. Jangan panggil aku kakak ipar lagi. Kita seumuran, panggil nama saja.”

Gadis itu adalah Joycelin Anderson, adik kandung Jeffry, tiga tahun lebih muda.

Dia sudah bekerja di perusahaan selama setahun, mulai dari posisi bawah.

Selama ini, Shelly diam-diam banyak membantunya.

Joycelin sangat menyukai Shelly.

“Walaupun sudah cerai, kamu tetap kakak iparku! Kakek dan nenek juga kangen sama kamu. Hari ini akhirnya aku ketemu, aku mau ambil cuti sekarang dan kita pulang!”

Joycelin benar-benar tipe orang yang bisa melakukan hal seperti itu.

Shelly buru-buru menahannya.

“Menjelang akhir tahun perusahaan lagi sibuk. Kalau kamu ambil cuti sekarang, itu bisa mempengaruhi penilaianmu.”

“Kak … eh, Shelly, kamu pulang saja ya … pulang kunjungi mereka, ya? Aku mohon!”

Tidak mampu menolak, Shelly akhirnya berkata, “Malam saja, boleh?”

Dalam pernikahannya dengan Jeffry, selain Jeffry tidak mencintainya … hampir tidak ada kekurangan lain.

Jeffry mengusulkan pernikahan diam-diam. Shelly sempat mengira bahkan Keluarga Anderson juga tidak akan tahu.

Namun setelah menikah, Jeffry langsung membawanya pulang ke rumah keluarga.

Ayah Jeffry memang tidak senang dengan keputusan sepihak itu, tapi tidak banyak berkata.

Ibunya tidak pernah benar-benar menerima Shelly, tapi juga tidak memperlakukannya buruk … hanya bersikap dingin.

Sebaliknya, kakek dan nenek Jeffry sangat menyayanginya.

Setiap minggu, mereka selalu makan bersama.

Dari merekalah Shelly merasakan kehangatan keluarga.

Sekarang dia akan pergi .…

Kemungkinan besar tidak akan kembali lagi.

Sebelum pergi, dia ingin berpamitan.

Lagipula … Jeffry juga tidak ada.

“Serius?” Joycelin sudah berkali-kali menghubungi Shelly sebelumnya, tapi selalu ditolak.

“Kamu nggak bohong, 'kan?”

Shelly tersenyum, merapikan pita di bajunya.

“Kapan aku pernah bohong?”

Begitu selesai bicara, hatinya tiba-tiba bergetar.

Dia memang tidak pernah berbohong … tapi kali ini, dia membohongi Jeffry dengan kebohongan besar.

Jika sampai ketahuan … akibatnya bisa sangat fatal.

“Kalau begitu aku telepon kakek dan nenek sekarang!”

Joycelin memang masih polos. Dia tidak pernah benar-benar menganggap perceraian itu nyata.

Sebenarnya, Shelly tidak seharusnya kembali ke Keluarga Anderson.

Namun … biarlah.

Hanya kali ini saja.

Dalam perjalanan ke cabang, Shelly melewati toko kue legendaris dan membeli makanan kesukaan kakek dan nenek.

Pukul tujuh malam, lampu kota mulai menyala.

Di dalam kompleks besar Keluarga Anderson, seluruh vila terang benderang.

Suara kemarahan nenek menggema di seluruh rumah.

“Dasar anak durhaka! Punya istri sebaik ini malah tidak dihargai! Aku ingin melihat bagaimana dia bertahan hidup nanti!”

Setelah perceraian, Nenek Mina pernah menelepon Shelly dan memarahi Jeffry habis-habisan.

Sekarang, mendengar nenek masih menyalahkan Jeffry, Shelly justru merasa bersalah.

“Nenek … perceraian itu memang aku yang minta.”

Dulu, saat masih menikah, setiap pulang ke rumah keluarga, kakek dan nenek selalu memarahi Jeffry agar memperlakukannya lebih baik.

Hal itu membuat orang tua Jeffry tidak senang.

Sekarang bahkan setelah bercerai, mereka masih membelanya ….

“Kalau kakakku memperlakukanmu dengan baik, mana mungkin kamu mengajukan cerai?” kata Joycelin sambil membawa buah. Mendengar makian sang nenek, dia tentu menambah bumbu.

Shelly memberi isyarat dengan mata, meminta gadis itu berhenti bicara.

Melihat Shelly tidak nyaman, Kakek Yanto mengalihkan topik.

“Shelly, gimana kerja di cabang? Sudah terbiasa?”

“Sudah.” Shelly mengangguk.

“Kakek, nenek … jaga kesehatan ya. Aku baik-baik saja.”

Nenek Mina menggenggam tangannya. “Kamu kok kelihatan lebih kurus? Kerja terlalu sibuk ya? Ganti posisi saja bagaimana? Gaji tetap seperti manajer, kerja setengahnya! Waktu cerai kenapa kamu tidak ambil setengah hartanya .…”

Orang yang tidak tahu, mungkin akan mengira nenek itu adalah nenek kandung Shelly.

Setengah harta Jeffry … udah cukup untuk membuat Shelly hidup santai seumur hidup.

Setelah membicarakan beberapa hal, mereka hanya mengobrol santai tentang kehidupan Shelly, Joycelin dan keseharian keluarga.

Suasana menjadi hangat.

Tiba-tiba … terdengar suara mesin mobil dari halaman.

Shelly menoleh.

Sebuah Bugatti yang sangat familiar … masuk ke dalam pandangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 263

    Shelly menyerahkan kantong kertas cokelat itu kepada Bibi Yanti.“Ini hanya salinannya. Semua bukti aslinya ada padaku. Kalau kamu tidak melakukan seperti yang aku katakan, semua ini akan aku jadikan barang bukti dan aku serahkan ke pengadilan.”Sisa toleransi dan rasa hormat Shelly terhadap Bibi Yanti lenyap pada saat itu juga.Shelly berbalik dan pergi.Bibi Yanti segera mengejarnya.“Shelly, tunggu! Memangnya kamu tidak bisa merelakan empat ratus juta itu? Uang yang sebelumnya biarlah dipakai untuk anak-anak .…”Shelly masuk ke dalam lift, lalu pintunya menutup.Bibi Yanti tidak berani ikut masuk. Suara wanita itu terputus oleh pintu lift, begitu pula wajahnya yang tidak tahu malu.Begitu pintu lift tertutup, ekspresi menyesal di wajah Bibi Yanti langsung menghilang.Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.“Gawat! Shelly sudah tahu semuanya. Kamu harus bantu aku .…”“Siapa yang suruh kamu begitu serakah? Masih minta empat ratus juta lagi.”Suara dari seberang telepon ter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 262

    Entah sudah berapa kali Bibi Yanti melakukan hal seperti ini.Jessica pun segera tersadar dan kembali memakan apel itu dengan lahap.“Keluar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”Di balik mata Shelly yang jernih, tampak kemarahan yang sulit disembunyikan.Tatapan itu membuat hati Bibi Yanti berdebar.Shelly lebih dulu keluar dari ruang rawat. Dia berdiri menunggu di ujung lorong.Setelah cukup lama, barulah Bibi Yanti keluar.“Memangnya kenapa tidak bisa dibicarakan di dalam? Jessica sendirian di kamar, aku jadi tidak tenang.”Nada suaranya terdengar seperti sedang menyalahkan, tetapi jelas terselip kegelisahan yang kuat.Bagaimanapun, dia memang telah melakukan sesuatu yang salah.Shelly langsung menyerahkan kantong kertas cokelat itu kepadanya tanpa menatap wajahnya.“Beri aku penjelasan.”“Penjelasan apa? Aku tidak mengerti.” Bibi Yanti menolak menerimanya dan mendorong kembali kantong itu. “Kalau memang ada yang mau dibicarakan, langsung saja.”Tangan Shelly perlahan turun ke sa

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 261

    Saat ini ada cukup banyak cabang yang sedang kekurangan karyawan. Jeffry menyebutkan beberapa lokasi dan Shelly memilih yang paling jauh.Yang paling penting, dia harus pergi dari Tavira terlebih dahulu.“Nanti setelah aku memilih, akan aku beri tahu.”Suara Jeffry terdengar dingin.Shelly hanya bisa mengangguk. “Baik.”Usai berkata, melihat Jeffry tidak berkata apa-apa lagi, Shelly kembali bersuara. “Kalau tidak ada urusan lain, saya permisi dulu.”Jeffry memanggilnya sebenarnya bukan karena urusan mutasi.Masih ada “urusan lain” yang belum sempat dia tanyakan.Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Dia tidak sanggup mengucapkannya.Dia hanya menatap Shelly yang pergi selangkah demi selangkah dari ruangannya.Pintu kantor pun tertutup rapat dan sosoknya sudah tidak terlihat lagi.Jeffry mengambil rokok yang terselip di bibirnya, lalu meremasnya hingga hancur. Tembakau yang berhamburan jatuh ke ujung celana dan sepatunya.Beberapa saat kemudian, dia melemparkan rokok yang su

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 260

    Entah mengapa, begitu mendengar suara Jeffry, hati Shelly tiba-tiba terasa tidak tenang.Dia berjalan cepat namun pelan menuju pintu kantor, lalu berbisik kepada Maxwell, “Pak Maxwell, mana berkasnya …”“Pak Jeffry, Bu Shelly sudah datang!”Perasaan Maxwell juga sangat rumit.Sejak Shelly muncul, pandangannya terus tertuju padanya.Benar saja.Perut Shelly sudah sedikit membulat.Kalau tidak diperhatikan baik-baik, orang lain mungkin tidak akan sadar bahwa dia sedang hamil.Maxwell sama sekali tidak ingin ikut terseret dalam masalah ini.Dia langsung menarik Shelly masuk ke dalam kantor sambil sengaja menyela Jeffry yang sedang menelepon.Setelah itu, dia segera melepaskan tangan Shelly dan kabur secepat mungkin.Pintu kantor yang sebelumnya terbuka lebar langsung ditutup rapat.Semuanya terjadi begitu tiba-tiba hingga Shelly tidak sempat bereaksi.Saat dia kembali sadar … Jeffry sudah berdiri tepat di hadapannya.Kelopak mata pria itu sedikit terangkat.Tatapan matanya yang dalam dan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 259

    “Kamu sebaiknya memberiku penjelasan yang jelas.”Persahabatan mereka sudah terjalin selama bertahun-tahun.Meski Jeffry tidak menyebutkan masalah apa yang dimaksud, Herman langsung tahu.“Aku hanya ingin tahu … apa sebenarnya kamu mencintai Elora atau tidak.”Jeffry sampai tertawa karena kesal.“Jadi sekarang kamu sudah tahu jawabannya?”Herman menjawab singkat, “Sudah.”Jeffry menggertakkan gigi.“Tunggu saja. Kalau suatu hari nanti kamu jatuh ke tanganku, akan aku buat hidupmu tidak tenang.”Setelah berkata begitu, Jeffry langsung menutup telepon.Namun kata-kata kasar itu tetap tidak mampu meredakan gejolak dalam hatinya.Layar ponsel perlahan mati.Ruang istirahat kembali gelap.Hanya cahaya lampu kota yang masuk melalui celah tirai yang setengah terbuka, membuat siluet ruangan masih samar terlihat.Jeffry terus membolak-balikkan badan.Apa pun yang dia lakukan, dia tetap tidak bisa tidur.Bahkan sebelum fajar menyingsing, dia sudah bangun.Setelah merapikan diri, dia duduk di dep

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 258

    Melihat wajah Saryna yang begitu serius dengan tatapan penuh keyakinan, Shelly sempat mengira sahabatnya benar-benar menebak maksudnya.Tidak disangka …“Dengarkan aku. Kalau uang itu akhirnya tidak perlu dipakai untuk biaya pengobatan Jessica, kita pakai saja buat periksa otakmu di rumah sakit.”Shelly langsung memalingkan wajah.Dia takut tatapan “penuh kecerdasan” Saryna benar-benar membuatnya naik darah.Sementara itu, Saryna berpikir mungkin karena sedang menyetir, otaknya jadi tidak bekerja dengan baik sehingga gagal menangkap maksud Shelly.“Cepat bilang .…”“Ayo bilang .…”Sepanjang perjalanan, dia terus mendesak Shelly.Namun Shelly tetap tidak mengatakan apa pun.Karena saat ini semua itu masih sebatas dugaan.Bibi Yanti adalah orang yang rumit.Sifatnya licik, pelit, dan tidak menyenangkan.Namun selama bertahun-tahun dia juga telah bekerja tanpa lelah demi panti asuhan dan mengorbankan banyak hal.Kalau ternyata Shelly salah paham … itu hanya akan melukai hati seseorang yan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 35

    Joycelin memiliki sifat yang lebih maskulin, tidak sentimental dan kurang menunjukkan perhatian. Karena itulah, Melly memilih untuk membesarkan Elora di sisinya. Setiap kali memiliki waktu luang, dia selalu menjemput Elora untuk tinggal di rumah Keluarga Anderson.“Kamu itu calon tunangan Jeffry, ju

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 33

    Tania kembali ke Departemen Sekretaris dengan perasaan kesal.Kabar mengenai pertunangan antara Jeffry dan Elora telah tersebar luas, namun hingga kini belum ada tanggal pasti untuk pernikahan mereka. Melihat ekspresi bahagia Elora barusan, tampaknya hari itu akan segera tiba.Meskipun secara lisan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 27

    Dalam setengah tahun terakhir, nilai dan reputasi Keluarga Laurent meningkat pesat, bahkan mencapai puncak dalam beberapa hari terakhir....Shelly pulang ke rumah, mengemasi beberapa barang, lalu langsung menuju panti asuhan.Beberapa hari ke depan, dia berencana tinggal di sana agar bisa lebih mud

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 24

    Sikap Shelly terhadap pekerjaan memang tidak perlu diragukan lagi.Keterlambatan dalam rapat dewan adalah masalah besar. Jika sampai tersebar, itu akan dianggap sebagai kelalaiannya sebagai sekretaris dan bisa berdampak buruk pada kariernya.Dia harus mencari tahu kebenarannya.Maxwell meneruskan ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status