Home / Romansa / Panggil Aku Daddy / PELAJARAN TERLARANG (II)

Share

PELAJARAN TERLARANG (II)

Author: Luneth
last update publish date: 2026-07-13 20:54:09

MAYA

Beberapa bulan pertama setelah pernikahan terasa seperti badai yang tak kunjung reda. Segala sesuatu berubah begitu cepat hingga aku hampir tak bisa menarik napas. Kami pindah ke rumah Daniel, dan seketika dia mulai membuat aturan-aturan baru tentang pekerjaan rumah, jam malam, dan cara kami menjalani hari-hari. Dia akan duduk di meja makan dan mengatakan hal yang sama dengan suara dalamnya yang tenang. Aku merasa marah dan tersesat, seolah kehidupan bebas lamaku dicabut satu per satu. Ibu tampak lebih bahagia dan rileks dengan kehadirannya, tapi aku merindukan hari-hari berantakan saat kami hanya saling melengkapi tanpa ada yang mengawasi. Di malam hari, aku berbaring di tempat tidur menatap langit-langit, bertanya-tanya apakah cara hidup baru yang ketat ini akan pernah terasa biasa. Ketegangan itu mengganjal berat di dadaku setiap hari, dan aku tak tahu cara menghilangkannya. Aku ingin bahagia untuk ibu, tapi perasaan gelisah itu terus tumbuh semakin kuat setiap kali Daniel meletakkan aturan baru.

Suatu sore setelah pulang sekolah, aku masuk rumah dan melempar tas ke lantai seperti biasa. Daniel sedang di dapur dan dia memandangku dengan mata yang teguh itu. Rumah harum oleh masakan yang sedang dia siapkan, dan segalanya terlihat lebih rapi daripada sebelumnya. Aku merasakan percikan pemberontakan muncul dalam diriku karena aku tak mau dia mengatur apa yang harus kulakukan. Jantungku berdegup lebih kencang saat menunggu dia bicara. Kesunyian di ruangan terasa pekat dan tidak nyaman, seolah sesuatu yang besar akan terjadi. Aku melipat tangan erat di dada dan berusaha bersikap seolah tak peduli, tapi di dalam aku gemetar oleh emosi yang campur aduk. Sebagian diriku ingin lari ke kamar dan membanting pintu. Bagian lain merasa bersalah karena ibu sekarang lebih sering tersenyum. Ketegangan menunggu kata-katanya membuat perutku terpilin.

"Kau harus mengangkat tasmu dan menyimpannya dengan benar, Maya," katanya dengan nada datar yang tak pernah meninggi. "Konsistensi dan disiplin menciptakan kestabilan di rumah. Itu penting bagi kita semua."

Aku merasa kata-kata itu seperti dorongan, dan aku tak bisa menahan diri lagi. Wajahku panas dan amarah mendidih begitu kuat hingga air mata menusuk di sudut mata. Aku sudah menahan semuanya selama berminggu-minggu, dan sekarang semuanya meluap keluar. Frustrasi karena kehilangan kehidupan lamaku bercampur dengan ketakutan bahwa dia tak akan pernah mengerti aku. Aku balas berteriak tanpa berpikir dua kali karena aku perlu dia tahu bagaimana perasaanku. Lampu dapur terasa terlalu terang dan jam dinding berdetak lebih keras di telingaku. Tanganku sedikit gemetar di sisi tubuh saat aku berdiri menghadapinya. Di lubuk hati, aku tahu dia berusaha membantu, tapi aku tak mau bantuannya. Tidak seperti ini.

"Kau bukan ayahku yang sebenarnya!" teriakku cukup keras hingga suaraku bergema sedikit. "Kau tak bisa seenaknya masuk ke sini dan mengaturku dengan semua aturan bodoh ini. Aku benci! Ibu dan aku baik-baik saja sebelum kau muncul."

Daniel tak balas berteriak atau marah seperti yang kuharapkan. Dia hanya berdiri di sana memandangku dengan mata tenang yang justru membuatku semakin gelisah. Tubuh tingginya terasa begitu kuat dan yakin, sementara aku merasa kecil dan berantakan. Kesunyian setelah teriakanku terentang panjang dan membuat ketegangan semakin parah. Aku menunggu dia menghukumku atau berdebat, tapi dia tetap sabar. Jantungku berdegup kencang di dada, dan aku merasakan campuran aneh antara lega dan amarah yang lebih besar karena dia tak mau bertengkar denganku. Air mata mulai mengalir di pipiku meski aku berusaha menahannya. Emosi berputar-putar seperti pusaran yang membingungkan di dalam diriku. Aku ingin dia meninggalkanku sendirian, tapi di saat yang sama, cara teguhnya membuatku merasa sedikit aman. Itu menakutkan betapa perasaan itu menggangguku.

"Aku tahu ini sulit bagimu, Maya," jawabnya pelan setelah lama diam. "Aku tidak mencoba menggantikan ayahmu. Aku hanya di sini untuk membantu membuat segalanya lebih baik dan lebih aman bagi semua orang. Tapi aturan membantu kita semua akur. Mari kita kerjakan ini bersama, selangkah demi selangkah."

Kata-katanya lembut, tapi tetap terasa seperti dinding yang tak bisa kurobohkan. Aku menyeka air mataku dan mengangkat tas tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sepanjang malam itu aku tetap di kamar, merasa campur aduk dan kesepian. Hari berganti minggu, dan aku terus mengujinya dengan sengaja. Kadang aku melewatkan pekerjaan rumah atau pulang agak malam hanya untuk melihat apa yang akan dia lakukan. Setiap kali dia mengoreksiku dengan cara yang tegas tapi adil. Ibu menyadari perubahan itu dan dia akan berbicara lembut kepadaku saat kami berdua saja. Dia bilang betapa dia mencintai kehadiran Daniel dan betapa pria itu membuatnya merasa aman. Aku berusaha mengerti, tapi pemberontakan di hatiku tak mudah padam. Rumah mulai terasa lebih tenang dengan rutinitasnya, dan itu justru membuatku semakin bingung. Aku benci mengakui bahwa makan malam selalu tepat waktu dan rumah terlihat lebih rapi, tapi itu benar. Perasaanku terus bergeser seperti pasir di bawah kakiku.

Seiring berjalannya bulan dan aku menginjak usia delapan belas tahun, sesuatu di dalam diriku mulai berubah perlahan. Aku masih berdebat kadang-kadang, tapi pertengkaran menjadi tak sedrastis dulu. Daniel tak pernah kehilangan kesabarannya tak peduli seberapa keras aku mendorong. Dia akan duduk bersamaku setelah hari yang buruk dan mendengarkan keluhanku tentang sekolah atau teman-teman. Otoritas tenangnya mulai terasa bukan seperti sangkar lagi, melainkan sesuatu yang kokoh yang bisa kusandarkan. Suatu sore saat aku lagi-lagi lupa mengerjakan pekerjaan rumah, dia menemukanku di halaman belakang. Matahari hangat menyentuh kulitku dan burung-burung bernyanyi, tapi suasana hatiku gelap. Aku mengira akan dapat ceramah lagi, tapi dia malah berbicara dengan suara lebih lembut yang mengejutkanku. Ketegangan karena tak tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya membuat denyut nadiku berpacu. Emosi yang tak bisa kuberikan nama kembali muncul ke permukaan.

"Maya, aku lihat betapa keras kau berusaha meski kau melawannya," katanya lembut sambil berdiri di dekatku. "Ibumu berkembang dengan kestabilan baru ini, dan aku rasa di lubuk hati kau juga merasakannya. Aku bangga dengan wanita muda yang sedang kau jadi. Kita tak harus sempurna, tapi kita bisa terus tumbuh bersama."

Aku mendongak kepadanya dan merasakan tarikan hangat di dada yang tak ingin kurasakan. Kata-katanya menyentuh sesuatu yang lembut di dalam diriku, dan untuk pertama kalinya, rasa dendam itu mulai melunak di pinggirannya. Air mata datang lagi, tapi kali ini berbeda. Aku mengangguk pelan dan bergumam bahwa aku akan berusaha lebih keras. Percakapan itu meninggalkanku dengan perasaan damai yang aneh bercampur kekhawatiran yang masih tersisa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (IV)

    JennaAku tak bisa berhenti memikirkan Ethan. Setelah semua yang kami lakukan saat badai, tubuhku terus mengingat sentuhannya. Pagi yang sepi itu, saat Ayah dan ibu tiriku sudah berangkat kerja, aku menyelinap ke kamar Ethan. Jantungku berdegup begitu kencang sampai terasa di telinga. Aku bilang pada diri sendiri bahwa aku hanya mencari buku yang dia janjikan untuk dipinjamkan, tapi sebenarnya aku penasaran. Di raknya aku menemukan kotak kayu berisi buku-buku catatan. Aku membuka salah satunya dan mataku melebar. Itu jurnal pribadinya. Halaman demi halaman penuh dengan fantasi tentang aku. Fantasi yang sangat kotor. Dia menulis tentang mengikatku, menjilat seluruh tubuhku, dan mendorong kontolnya dalam-dalam ke dalam tubuhku. Wajahku terbakar panas dan aku merasa basah di antara kakiku hanya dengan membacanya.Aku mengambil buku catatan itu dan langsung pergi ke loteng. Ethan sudah di sana, sedang menyetel gitarnya. Saat aku masuk, dia tersenyum pada awalnya, tapi kemudian melihat apa

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (III)

    JennaMalam itu langit berubah hitam dan marah. Badai petir yang ganas datang, mengguncang jendela-jendela begitu keras sampai kukira mereka bisa pecah. Hujan menghantam atap seperti ingin masuk ke dalam. Listrik mati secara tiba-tiba, meninggalkan seluruh rumah gelap gulita kecuali kilatan petir terang yang sesaat menerangi segalanya sebelum menenggelamkan kami kembali ke kegelapan. Ayah menelepon dari mobil dan bilang dia serta ibu tiriku tak bisa pulang karena jalanan banjir. Mereka menginap di hotel sampai pagi. Berita itu membuat perutku berbalik-balik karena campuran ketakutan dan kegembiraan rahasia. Ethan dan aku benar-benar sendirian.Kami sedang di loteng saat badai semakin parah. Sekarang kami duduk bersama di sofa tua di bawah satu selimut tebal. Itu satu-satunya benda hangat yang bisa kami temukan. Selimut itu melilit kami seperti kepompong yang nyaman, tapi jantungku berdegup kencang karena alasan lain. Ethan duduk tepat di belakangku, dadanya menempel di punggungku. Tub

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (II)

    JennaSiang harinya berikutnya, aku hampir tak bisa diam. Sepanjang hari kami harus bersikap biasa di depan Ayah dan ibu tiriku yang baru. Kami tersenyum saat makan siang dan mengobrol ringan tentang sekolah serta kuliah, tapi setiap kali Ethan menatapku dari seberang meja, wajahku langsung terasa panas. Aku terus teringat kejadian kemarin di loteng — bagaimana rasanya bibirnya, bagaimana tubuhnya menempel pada tubuhku. Aku mencuri pandang padanya saat tak ada yang melihat, dan dia melakukan hal yang sama. Jantungku tak mau melambat. Rasanya seperti kami menyimpan rahasia besar yang bisa meledak kapan saja jika kami tidak hati-hati.Begitu orang tua kami akhirnya pergi untuk urusan di luar, Ethan menangkap pandanganku. “Loteng?” bisiknya. Aku mengangguk cepat, perutku berbalik-balik karena excited. Kami menunggu beberapa menit agar tak terlihat mencurigakan, lalu naik tangga satu per satu. Loteng sekarang terasa seperti dunia rahasia milik kami berdua. Udara hangat dan berdebu, penuh

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (I)

    JennaAku melangkah masuk ke rumah lama kami setelah berbulan-bulan berada di sekolah asrama, menyeret koper-koper berat di belakangku. Tempat ini terasa berbeda sekarang. Ayah sudah menikah saat aku pergi, dan ada seorang wanita baru di dapur yang tersenyum padaku seolah kami sudah menjadi keluarga. Tapi kejutan terbesar adalah dia — Ethan, kakak tiriku yang baru. Dia mahasiswa tahun kedua, dua tahun lebih tua dariku, dan tampak seperti tipe pendiam yang suka menyendiri. Aku berusaha bersikap biasa selama makan malam, tapi pikiranku terus melayang, membayangkan seperti apa rasanya tinggal bersama orang asing di rumahku sendiri.Setelah sedikit membongkar barang, aku mendengar sesuatu dari lantai atas. Musik gitar yang lembut mengalun turun dari loteng, seperti lagu lama yang memanggil namaku. Jantungku berdegup kencang. Aku sangat menyukai musik klasik lebih dari apa pun — suara piringan hitam yang berderit, nyanyian yang penuh jiwa, cara lagu-lagu itu membuatku merasa tidak sendiria

  • Panggil Aku Daddy   SANG TAMU PERNIKAHAN (VI)

    LilaMalam terakhir di resor terasa berat di hatiku. Besok kami harus pulang. Kembali ke kehidupan nyata di mana Marcus hanyalah paman tiriku dan aku keponakan mudanya. Tak ada lagi sentuhan rahasia. Tak ada lagi menyelinap. Aku pergi ke vilanya setelah gelap dengan air mata sudah menggenang di mataku. Angin tropis masuk melalui pintu terbuka dan membuat tirai bergerak lembut. Marcus menungguku. Wajahnya tampak sedih tapi penuh kerinduan.“Lila,” katanya dengan suara serak sambil menarikku masuk. “Ini malam terakhir kita. Aku tidak tahu bagaimana aku akan melepaskanmu besok.”Aku memeluknya erat, menempelkan tubuhku ke dada bidangnya. “Aku tidak mau pulang. Aku ingin tinggal di sini bersamamu selamanya. Please, Marcus. Bercintalah denganku satu kali lagi. Buat ini berkesan.”Dia menciumku dalam dan lambat pada awalnya. Tangan kasarnya bergerak ke seluruh tubuhku seolah ingin mengingat setiap bagian dariku. Aku juga menyentuh otot-ototnya, menelusuri garis di dada dan lengannya. “Kau t

  • Panggil Aku Daddy   SANG TAMU PERNIKAHAN (V)

    LilaHari-hari berlalu di resor, dan segalanya mulai terasa berbeda. Marcus mulai bersikap agak aneh. Aku bisa melihat rasa bersalah di matanya setiap kali kami bertemu di depan keluarga. Malam harinya, dia memintaku menemuinya di teras sepi jauh dari semua orang. Matahari sedang terbenam dan langit tampak indah dengan warna oranye dan merah muda. Hatiku terasa berat karena aku tahu ada yang salah.“Lila, kita harus menghentikan ini,” katanya dengan suara rendah dan sedih. Wajahnya yang tegas terlihat sangat serius. “Aku empat puluh lima tahun dan kau baru dua puluh tiga. Aku paman tirimu. Saudara ayahmu. Ini sangat salah. Kita tidak bisa terus menyelinap seperti ini. Bagaimana kalau ada yang tahu? Itu akan menghancurkan keluarga.”Dadaku terasa sakit. Air mata menggenang di mataku tapi aku menahannya. “Tapi aku tidak mau berhenti, Marcus. Aku membutuhkanmu. Hari-hari bersamamu adalah yang terbaik dalam hidupku. Masalah usia tidak penting bagiku. Dan soal keluarga… aku tahu ini rumit,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status