Startseite / Romansa / Panggil Aku Daddy / PELAJARAN TERLARANG (III)

Teilen

PELAJARAN TERLARANG (III)

last update Veröffentlichungsdatum: 13.07.2026 20:54:22

MAYA

Saat aku menginjak usia sembilan belas tahun, segala sesuatu di dalam diriku dan di sekitarku mulai terasa berbeda dengan cara yang tak bisa kujelaskan sepenuhnya. Tubuhku telah banyak berubah selama setahun terakhir, dengan lekuk-lekuk yang lebih lembut dan bentuk baru yang membuatku terlihat lebih seperti wanita daripada gadis. Aku sering mendapati diriku bercermin lebih lama dari biasanya, bertanya-tanya mengapa hatiku selalu gelisah. Amarah lama yang kuhadapi terhadap Daniel masih ada, tapi sekarang bercampur dengan perasaan baru yang aneh, yang membuat pipiku hangat dan perutku bergetar. Aku mulai ingin diperhatikan olehnya dengan cara yang sedikit menakutkan. Rumah kami telah menjadi lebih tenang dan teratur berkat aturannya, tapi sekarang momen-momen hening terasa penuh dengan ketegangan tersembunyi. Aku sering terjaga di malam hari, memikirkan suaranya yang teguh dan kehadirannya yang kuat. Emosi-emosi itu berputar seperti badai lembut yang terus membesar. Aku tahu di lubuk hati bahwa ada yang bergeser di antara kami, dan itu membuatku merasa bersemangat sekaligus gugup. Setiap hari terasa seperti berjalan di atas tali tipis antara diriku yang dulu dan seseorang baru yang belum kukenal.

Aku mulai menguji batas-batas kecil di rumah tanpa benar-benar merencanakannya. Suatu sore yang hangat, aku memakai rok lebih pendek dari biasanya dan berjalan melewati ruang tamu tempat Daniel sedang membaca koran. Kain rok terasa ringan di kaki, dan aku merasakan getar rahasia saat melihatnya melirik ke atas. Aku menahan tatapannya sedikit lebih lama dari biasa, membiarkan momen itu menggantung dengan ketegangan hening. Jantungku berdegup lebih cepat sambil menunggu apakah dia akan mengatakan sesuatu. Udara di ruangan tiba-tiba terasa lebih pekat dan hangat. Aku berpura-pura mencari sesuatu di rak, membungkuk secukupnya untuk menciptakan salah satu "kecelakaan tak sengaja" yang polos, yang membuatku merasa agak minim berpakaian. Sebagian diriku berharap dia memperhatikan, sementara bagian lain merasa bersalah karena menginginkannya. Ketegangan itu membangun di dadaku hingga sulit bernapas normal. Aku bisa merasakan tatapannya di tubuhku bahkan saat aku membalikkan badan. Ini seperti permainan yang tak bisa kuhentikan meski aku tahu itu berisiko. Sisi pemberontakku masih mendorongku maju, tapi sekarang dibawa oleh perasaan hangat yang penuh rasa ingin tahu, yang membuat semuanya semakin membingungkan. Aku bertanya-tanya apakah dia merasakan tarikan yang sama atau hanya imajinasiku saja.

Daniel langsung menyadarinya, seperti biasa dengan segala hal. Dia meletakkan korannya dengan hati-hati dan memandangku dengan mata tenang tapi serius yang membuat lututku terasa lemas. Kesunyian di antara kami terentang lama sekali, membangun lebih banyak ketegangan di hatiku. Aku berdiri di sana berpura-pura merapikan rambut sementara pikiranku berpacu dengan pikiran-pikiran khawatir. Apakah dia akan marah? Apakah dia bisa melihat lewat ujian kecilku? Emosi di dalam diriku begitu kuat hingga aku hampir ingin lari kembali ke kamar, tapi aku tetap membeku di tempat. Kehadirannya memenuhi seluruh ruang tamu, dan aku merasa kecil tapi anehnya tertarik padanya. Campuran antara disiplin dalam suaranya dan sesuatu yang lebih hangat di baliknya membuat kulitku merinding. Aku menunggu sambil menahan napas untuk apa yang akan dia katakan selanjutnya, karena setiap koreksian darinya kini membawa bobot baru.

"Maya, sebaiknya kau berpakaian lebih sopan di rumah," katanya lembut tapi tegas. "Rok itu agak terlalu pendek. Kau tahu aturan tentang pakaian yang pantas."

Kata-katanya menyentakkan gelombang rasa malu melewatiku, tapi juga percikan bahagia rahasia karena dia memperhatikan. Aku berbalik menghadapnya sepenuhnya, merasakan wajahku memanas. Ketegangan menggantung berat di antara kami seperti tali tak kasat mata yang semakin kencang. Aku ingin membantah seperti biasa, tapi kali ini kata-kataku keluar lebih lembut. Jantungku berdegup dengan semua perasaan campur aduk antara pemberontakan dan sesuatu yang lebih manis. Cara dia memandangku membuatku merasa dilihat dalam cahaya baru. Aku menggigit bibir, berusaha mencari respons yang tepat sementara pikiranku dipenuhi pikiran-pikiran penasaran tentang dirinya. Momen itu terasa penting, seolah kami berdua menyadari udara yang berubah di sekitar kami. Aku mengangguk pelan, tapi di dalam hati aku tahu aku akan terus menguji karena perasaan baru ini terlalu kuat untuk diabaikan.

"Aku tidak mengira itu seburuk itu," jawabku pelan, menunduk ke lantai sebentar sebelum bertemu matanya lagi. "Hari ini panas dan aku merasa lebih nyaman begini. Apa kau benar-benar keberatan sekali?"

Dia menghela napas pelan dan berdiri, berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah. Tubuh tingginya membuatku harus mendongak lebih tinggi, dan kedekatan itu membawa gelombang kehangatan ke pipiku. Kami berbicara beberapa menit tentang aturan dan rasa hormat, tapi suaranya membawa kehangatan ekstra yang membuat perutku bergetar. Aku berbagi sedikit tentang betapa sekolah terasa membebani dan bagaimana cowok-cowok di sana terasa sangat kekanak-kanakan dan tak bisa diandalkan. Daniel mendengarkan tanpa menyela, yang terasa menyenangkan dan membuatku lebih terbuka daripada yang kuurencanakan. Percakapan mengalir alami, tapi di balik itu semua aku merasakan tarikan yang semakin kuat kepadanya. Rasa dendam lamaku perlahan mencair, digantikan kekaguman terhadap cara teguhnya menangani segala hal. Malam-malam larut saat ibu sibuk menjadi waktu spesial bagi kami. Dia akan membantuku dengan tugas di ruang kerjanya, dan kami akan berbicara berjam-jam tentang kehidupan dan perasaan. Momen-momen itu membangun lebih banyak ketegangan karena ruangan terasa semakin kecil dan pribadi setiap kali. Aku menghargai cara dia membuatku merasa dihargai dan dimengerti.

Suatu malam saat ibu lembur, aku duduk di seberangnya di meja kayu besarnya dengan bukuku terbuka. Lampu melempar cahaya lembut hangat ke wajahnya, membuatnya terlihat semakin tampan dan kuat. Jantungku berdegup kencang saat aku menceritakan frustrasiku terhadap cowok seusia denganku dan bagaimana tak ada yang terasa tepat untukku. Kata-kata itu meluncur keluar karena aku kini lebih memercayainya. Dia condong ke depan mendengarkan dengan saksama, dan ketegangan menanti responsnya membuatku menahan napas. Emosi berputar di dalam diriku seperti campuran rasa ingin tahu dan kekaguman terlarang yang tak bisa kuberikan nama. Aku merasa lebih dekat dengannya daripada sebelumnya, dan itu menakutkan dengan cara yang paling indah.

"Kau punya api dan kecerdasan, Maya," katanya dengan suara dalam yang penuh perhatian. "Tapi kau butuh bimbingan untuk menyalurkannya dengan benar. Aku di sini untuk membantumu tumbuh menjadi wanita muda yang kuat seperti yang aku tahu kau bisa jadi. Sabarlah dengan dirimu sendiri dan denganku."

Kata-katanya menyentuh sesuatu yang dalam di hatiku, dan aku merasakan air mata menusuk di sudut mata karena kehangatannya. Aku tersenyum malu-malu dan berterima kasih, merasakan tarikan terlarang itu semakin kuat. Aku mengagumi kepercayaan dirinya dan cara dia merawat keluarga kami. Malam-malam larut seperti ini membuatku menantikan saat-saat sendirian dengannya, meski aku tahu itu berisiko. Ketegangan di antara kami terasa hidup dan penuh kemungkinan. Aku meninggalkan ruang kerjanya malam itu dengan pikiran penuh pemikiran dan emosi baru. Segala sesuatu sedang berubah, dan aku tak bisa menghentikannya. Di lubuk hati, aku bertanya-tanya ke mana perasaan ini akan membawa kami seiring berjalannya hari. Hatiku terasa penuh dan gugup sekaligus, karena aku tahu ikatan kami sedang menjadi sesuatu yang istimewa dan rumit. Perubahan di dalam diriku nyata, dan itu membuat setiap momen bersama Daniel terasa penting dan menggairahkan dengan cara yang tak pernah kuduga.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Panggil Aku Daddy   PELAJARAN TERLARANG (V)

    MAYAJantungku berdegup begitu kencang saat aku berdiri di luar ruang kerja Daniel malam itu. Ibu sudah berangkat untuk perjalanan bisnisnya beberapa jam sebelumnya, meninggalkan rumah kosong hanya ada kami berdua. Aku terus teringat saat ibu menikah dengannya dua tahun lalu. Saat itu aku baru tujuh belas tahun, anak yang bandel—cerdas, pemberontak, selalu membuat onar. Daniel terlihat seperti pengusaha pendiam yang berwibawa yang akan memperbaiki rumah kami yang berantakan. Tinggi, tampan, dan lima belas tahun lebih tua dariku, dia masuk sebagai ayah tiri yang ketat tapi peduli. Dia menetapkan aturan tegas dan mengharapkan aku patuh. Awalnya aku membencinya karenanya. Aku dendam karena dia mencoba menguasai aku.Tapi sekarang aku sudah sembilan belas tahun, dan tubuhku telah berubah. Payudaraku lebih penuh, pinggulku lebih lebar, dan aku merasa seperti wanita sejati. Aku mulai menggodanya dengan sengaja—memakai rok pendek di rumah, memberinya tatapan yang lama, dan membuat "kecelakaa

  • Panggil Aku Daddy   PELAJARAN TERLARANG (IV)

    MAYAPercakapan pribadi kami mulai terjadi semakin sering setiap kali ibu harus bepergian untuk pekerjaannya. Hari-hari itu rumah terasa lebih besar dan lebih sepi, seolah hanya aku dan Daniel yang berbagi dunia rahasia spesial bersama. Aku akan menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan cepat dan menunggu dengan perasaan aneh di perut, berharap dia akan memintaku datang ke ruang kerjanya. Dia mengajariku pelajaran-pelajaran kecil tentang bertanggung jawab, sabar, dan belajar menghargai diri sendiri lebih lagi. Dia memberiku tugas-tugas kecil seperti membersihkan kamarku dengan rapi atau merencanakan apa yang ingin kulakukan sepanjang minggu. Saat aku menyelesaikannya, dia akan memeriksa semuanya dengan teliti dan memberitahu apakah aku melakukannya dengan baik. Hatiku terasa hangat dan bahagia setiap kali dia memperhatikan kerja kerasku. Perasaan bertengkar yang dulu hampir hilang, dan sekarang aku menantikan malam-malam tenang itu seperti bagian terbaik dalam mingguku. Ketegangan di uda

  • Panggil Aku Daddy   PELAJARAN TERLARANG (III)

    MAYASaat aku menginjak usia sembilan belas tahun, segala sesuatu di dalam diriku dan di sekitarku mulai terasa berbeda dengan cara yang tak bisa kujelaskan sepenuhnya. Tubuhku telah banyak berubah selama setahun terakhir, dengan lekuk-lekuk yang lebih lembut dan bentuk baru yang membuatku terlihat lebih seperti wanita daripada gadis. Aku sering mendapati diriku bercermin lebih lama dari biasanya, bertanya-tanya mengapa hatiku selalu gelisah. Amarah lama yang kuhadapi terhadap Daniel masih ada, tapi sekarang bercampur dengan perasaan baru yang aneh, yang membuat pipiku hangat dan perutku bergetar. Aku mulai ingin diperhatikan olehnya dengan cara yang sedikit menakutkan. Rumah kami telah menjadi lebih tenang dan teratur berkat aturannya, tapi sekarang momen-momen hening terasa penuh dengan ketegangan tersembunyi. Aku sering terjaga di malam hari, memikirkan suaranya yang teguh dan kehadirannya yang kuat. Emosi-emosi itu berputar seperti badai lembut yang terus membesar. Aku tahu di lub

  • Panggil Aku Daddy   PELAJARAN TERLARANG (II)

    MAYABeberapa bulan pertama setelah pernikahan terasa seperti badai yang tak kunjung reda. Segala sesuatu berubah begitu cepat hingga aku hampir tak bisa menarik napas. Kami pindah ke rumah Daniel, dan seketika dia mulai membuat aturan-aturan baru tentang pekerjaan rumah, jam malam, dan cara kami menjalani hari-hari. Dia akan duduk di meja makan dan mengatakan hal yang sama dengan suara dalamnya yang tenang. Aku merasa marah dan tersesat, seolah kehidupan bebas lamaku dicabut satu per satu. Ibu tampak lebih bahagia dan rileks dengan kehadirannya, tapi aku merindukan hari-hari berantakan saat kami hanya saling melengkapi tanpa ada yang mengawasi. Di malam hari, aku berbaring di tempat tidur menatap langit-langit, bertanya-tanya apakah cara hidup baru yang ketat ini akan pernah terasa biasa. Ketegangan itu mengganjal berat di dadaku setiap hari, dan aku tak tahu cara menghilangkannya. Aku ingin bahagia untuk ibu, tapi perasaan gelisah itu terus tumbuh semakin kuat setiap kali Daniel mel

  • Panggil Aku Daddy   PELAJARAN TERLARANG (I)

    MAYAAku duduk di baris depan kursi-kursi taman yang cantik, tangan terlipat erat di pangkuan. Bunga-bunga harum semerbak di sekelilingku dan matahari bersinar terang menerangi segalanya, seolah ingin menjadikan hari ini sempurna. Ibu tampak begitu cantik dalam gaun putihnya saat berdiri di bawah lengkungan taman besar yang dipenuhi daun hijau dan mawar putih. Senyumnya begitu lebar hingga matanya berkaca-kaca karena air mata bahagia. Daniel berdiri di sampingnya, tampak tinggi dan tegar dalam setelan hitamnya yang rapi. Suaranya dalam dan mantap saat mengucapkan janji-janjinya untuk mencintai ibu dan menjaga keluarga kami selamanya. Saat itu aku baru tujuh belas tahun, dan hatiku terasa kacau balau seperti badai besar perasaan yang tak bisa kuurutkan. Aku senang untuk ibu karena dia sudah lama kesepian, dan sekarang dia terlihat seperti menemukan sesuatu yang nyata. Tapi di saat yang sama, ada perasaan berat dan gelisah yang mengganjal di perutku karena pria ini akan masuk ke kehidup

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status