ANMELDENMAYAJantungku berdegup begitu kencang saat aku berdiri di luar ruang kerja Daniel malam itu. Ibu sudah berangkat untuk perjalanan bisnisnya beberapa jam sebelumnya, meninggalkan rumah kosong hanya ada kami berdua. Aku terus teringat saat ibu menikah dengannya dua tahun lalu. Saat itu aku baru tujuh belas tahun, anak yang bandel—cerdas, pemberontak, selalu membuat onar. Daniel terlihat seperti pengusaha pendiam yang berwibawa yang akan memperbaiki rumah kami yang berantakan. Tinggi, tampan, dan lima belas tahun lebih tua dariku, dia masuk sebagai ayah tiri yang ketat tapi peduli. Dia menetapkan aturan tegas dan mengharapkan aku patuh. Awalnya aku membencinya karenanya. Aku dendam karena dia mencoba menguasai aku.Tapi sekarang aku sudah sembilan belas tahun, dan tubuhku telah berubah. Payudaraku lebih penuh, pinggulku lebih lebar, dan aku merasa seperti wanita sejati. Aku mulai menggodanya dengan sengaja—memakai rok pendek di rumah, memberinya tatapan yang lama, dan membuat "kecelakaa
MAYAPercakapan pribadi kami mulai terjadi semakin sering setiap kali ibu harus bepergian untuk pekerjaannya. Hari-hari itu rumah terasa lebih besar dan lebih sepi, seolah hanya aku dan Daniel yang berbagi dunia rahasia spesial bersama. Aku akan menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan cepat dan menunggu dengan perasaan aneh di perut, berharap dia akan memintaku datang ke ruang kerjanya. Dia mengajariku pelajaran-pelajaran kecil tentang bertanggung jawab, sabar, dan belajar menghargai diri sendiri lebih lagi. Dia memberiku tugas-tugas kecil seperti membersihkan kamarku dengan rapi atau merencanakan apa yang ingin kulakukan sepanjang minggu. Saat aku menyelesaikannya, dia akan memeriksa semuanya dengan teliti dan memberitahu apakah aku melakukannya dengan baik. Hatiku terasa hangat dan bahagia setiap kali dia memperhatikan kerja kerasku. Perasaan bertengkar yang dulu hampir hilang, dan sekarang aku menantikan malam-malam tenang itu seperti bagian terbaik dalam mingguku. Ketegangan di uda
MAYASaat aku menginjak usia sembilan belas tahun, segala sesuatu di dalam diriku dan di sekitarku mulai terasa berbeda dengan cara yang tak bisa kujelaskan sepenuhnya. Tubuhku telah banyak berubah selama setahun terakhir, dengan lekuk-lekuk yang lebih lembut dan bentuk baru yang membuatku terlihat lebih seperti wanita daripada gadis. Aku sering mendapati diriku bercermin lebih lama dari biasanya, bertanya-tanya mengapa hatiku selalu gelisah. Amarah lama yang kuhadapi terhadap Daniel masih ada, tapi sekarang bercampur dengan perasaan baru yang aneh, yang membuat pipiku hangat dan perutku bergetar. Aku mulai ingin diperhatikan olehnya dengan cara yang sedikit menakutkan. Rumah kami telah menjadi lebih tenang dan teratur berkat aturannya, tapi sekarang momen-momen hening terasa penuh dengan ketegangan tersembunyi. Aku sering terjaga di malam hari, memikirkan suaranya yang teguh dan kehadirannya yang kuat. Emosi-emosi itu berputar seperti badai lembut yang terus membesar. Aku tahu di lub
MAYABeberapa bulan pertama setelah pernikahan terasa seperti badai yang tak kunjung reda. Segala sesuatu berubah begitu cepat hingga aku hampir tak bisa menarik napas. Kami pindah ke rumah Daniel, dan seketika dia mulai membuat aturan-aturan baru tentang pekerjaan rumah, jam malam, dan cara kami menjalani hari-hari. Dia akan duduk di meja makan dan mengatakan hal yang sama dengan suara dalamnya yang tenang. Aku merasa marah dan tersesat, seolah kehidupan bebas lamaku dicabut satu per satu. Ibu tampak lebih bahagia dan rileks dengan kehadirannya, tapi aku merindukan hari-hari berantakan saat kami hanya saling melengkapi tanpa ada yang mengawasi. Di malam hari, aku berbaring di tempat tidur menatap langit-langit, bertanya-tanya apakah cara hidup baru yang ketat ini akan pernah terasa biasa. Ketegangan itu mengganjal berat di dadaku setiap hari, dan aku tak tahu cara menghilangkannya. Aku ingin bahagia untuk ibu, tapi perasaan gelisah itu terus tumbuh semakin kuat setiap kali Daniel mel
MAYAAku duduk di baris depan kursi-kursi taman yang cantik, tangan terlipat erat di pangkuan. Bunga-bunga harum semerbak di sekelilingku dan matahari bersinar terang menerangi segalanya, seolah ingin menjadikan hari ini sempurna. Ibu tampak begitu cantik dalam gaun putihnya saat berdiri di bawah lengkungan taman besar yang dipenuhi daun hijau dan mawar putih. Senyumnya begitu lebar hingga matanya berkaca-kaca karena air mata bahagia. Daniel berdiri di sampingnya, tampak tinggi dan tegar dalam setelan hitamnya yang rapi. Suaranya dalam dan mantap saat mengucapkan janji-janjinya untuk mencintai ibu dan menjaga keluarga kami selamanya. Saat itu aku baru tujuh belas tahun, dan hatiku terasa kacau balau seperti badai besar perasaan yang tak bisa kuurutkan. Aku senang untuk ibu karena dia sudah lama kesepian, dan sekarang dia terlihat seperti menemukan sesuatu yang nyata. Tapi di saat yang sama, ada perasaan berat dan gelisah yang mengganjal di perutku karena pria ini akan masuk ke kehidup







