Masukyang mau kasih gift buat Badru silakan
Srek...Badru menarik tangannya dari bra merah itu. Ia mempercepat gerakan tangannya melepas ritsleting celana, lalu buang air kecil di balik bilik sumur. Suara gemericik air beradu dengan debar dadanya yang makin kencang.'Pantas saja celana dalam merah itu baunya wangi dan ukurannya pas. Ternyata kepunyaan gadis selugu Jenar,' batin Badru sambil menyeringai tipis.Badru mendadak teringat masa-masa lalunya. Dulu, waktu Lilis membuangnya dan hampir semua gadis di kampung menjauhinya karena dia cuma kuli angon miskin, Jenar adalah salah satu dari sedikit orang—selain Merpati—yang tidak pernah memandangnya sebelah mata. Setiap kali Badru lewat atau sekadar mampir di dekat warung, Jenar selalu tersenyum manis dan menyapanya ramah tanpa pilih kasih.'Jangan-jangan... dari dulu Jenar memang sudah suka padaku?' batin Badru.Ego lelakinya melesat tinggi. Gadis berwajah manis yang biasanya tampil sopan dan polos di depan orang kampung itu ternyata menyimpan rasa padanya, bahkan punya sisi lia
Badru duduk santai di sudut bangku kayu sambil menghirup kopi hitam buatan Jenar. Di meja sebelah, Pak RT Sukra dan Kang Dudung sedang asyik menepuk nyamuk sambil main catur.Plak!Pak RT Sukra menepuk paha hitamnya, lalu menggeser bidak benteng kayu yang sudah kusam. Matanya melirik ke arah Badru yang tampak beda malam ini."Coba kamu lihat si Badru, Dung," celetuk Pak RT Sukra, memajukan dagunya. "Perasaan belakangan ini badannya makin tegap saja. Mukanya juga kagak kusam kayak biasanya. Ada angin apa kamu, Dru?"Kang Dudung tertawa terkekeh sampai gigi gigisnya kelihatan. "Iya juga ya, Pak RT! Dada bidangnya makin kelihatan berisi begitu. Bau bajunya juga wangi, kagak kayak kuli angon yang habis ngarit!"Deg!Badru yang mendengar godaan itu hanya tersenyum tipis, meneruskan seruputan kopinya.'Ternyata perubahan fisikku kelihatan juga sama orang-orang,' batin Badru, ego lelakinya melesat tinggi."Halah, palingan juga efek mau siap-siap kawin itu, Pak RT!" celetuk Kang Dudung asal t
Deg!Jantung Badru berdegup kencang. Langkah kakinya terhenti seketika."Badru?!"Badru menoleh ke arah pohon nangka. Merpati berdiri di sana sambil memegang gayung plastik berisi sisa sabun cuci.'Sial. Kenapa harus Merpati yang lihat?' batin Badru."Merpati? Kamu baru balik dari rumah Abah?" tanya Badru. Suaranya dibuat setenang mungkin.Merpati melangkah mendekat. Matanya meneliti Badru dari atas sampai bawah, lalu melirik pintu samping rumah Laras. Dahinya berkerut dalam."Harusnya aku yang nanya, Dru!" Merpati bersedekah tangan di dada. "Ngapain kamu keluar dari pekarangan samping rumah Teh Laras sore-sore begini? Pintu samping pula! Kamu habis ngapain di dalam?"Whuushh!Angin sore berembus pelan. Badru memasukkan kedua tangannya ke saku celana kargo.'Tenang, Dru. Kalau panik, dia makin curiga,' batin Badru."Perasaanmu saja itu, Mer," sahut Badru santai. "Siapa juga yang dari dalam rumah Teh Laras? Aku habis nyari ayam jago Pak RT yang lepas ke semak-semak.""Bohong!" potong M
Laras menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Sisa cairan hangat milik Badru pelan-pelan meleleh turun di sela paha dalamnya, bikin fokusnya makin berantakan."B-bukan gitu, Bah..." cicit Laras cepat. Tangannya makin erat memegang kain lengan baju koko ayahnya. "Bayinya tadi baru saja bisa tidur nyenyak habis Laras susui. Kalau Abah masuk sekarang, nanti dia kaget terus terbangun lagi. Abah kan tahu sendiri kalau dia sudah nangis susah banget ditenanginnya."Abah Haji Sodiq menghentikan jarinya yang baru saja mau mendorong pintu kamar utama. Pria tua itu menatap wajah anak perempuannya dengan pandangan menyelidik. Napas Laras yang agak memburu dan rona merah di lehernya tak luput dari perhatian sang ayah."Harta berlimpah dari Yanto ternyata tidak bikin muka kamu kelihatan bahagia ya, Neng," celetuk Abah Haji Sodiq tiba-tiba dengan nada dingin. "Muka pucat, badan tetep kelelahan, rumah pengap begini. Yanto itu benar-benar cuma obral janji, urus istri sa
"Sembunyi, Dru... Tolong sembunyi!" bisik Laras panik luar biasa. Tangannya mendorong dada bidang Badru, mencoba membebaskan diri.Liang hangat Laras yang mendadak menjepit sangat ketat karena panik justru membuat Badru menggeram pelan.'Gila, jepitannya makin kencang. Kalau langsung cabut sekarang, cairan saya pasti tercecer ke mana-mana,' batin Badru, menahan gejolak di dadanya.Plak!Badru menepuk pelan paha mulus Laras agar wanita itu menenangkan diri, lalu perlahan menarik mundur pinggulnya.Sluuurp...Kejantanannya yang basah kuyup terlepas dari liang Laras, menyisakan cairan hangat yang langsung meleleh membasahi sprei. Badru dengan cepat meraih celana kargonya di lantai dan memakainya tanpa sempat mengancingkan ritsleting dengan sempurna."Tenang, Teh. Jangan panik. Pakai pakaian Teteh dulu, temui Abah di depan," bisik Badru tegas namun tenang. Matanya dengan sigap melirik sekeliling kamar, mencari tempat persembunyian yang aman.Tok! Tok! Tok!"Laras! Kamu tidur atau gimana,
"Mana mungkin Teteh lari, Dru... Teteh malah minta dikunci di dalam kamar sama kamu," bisik Laras manja. Tangannya meremas otot leher Badru dengan gemas.Badru menyeringai lebar. Tanpa membuang waktu, kaki kekarnya melangkah mantap menggendong tubuh montok Laras menuju kamar utama.Brak!Kaki Badru menendang pintu kamar utama hingga terbuka. Tumitnya memutar, menendang pintu itu kembali sampai terkunci rapat. Suasana kamar remang-remang, hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut nakas.Whuushh!Hawa panas dari dada telanjang Badru berembus menyapu ruangan, membawa aroma keringat jantan yang makin pekat.Bruk!Badru menjatuhkan tubuh Laras ke atas kasur spring bed yang empuk. Tubuh matang Laras memantul pelan. Daster satin merah marunnya tersingkap tinggi sampai ke pinggang, memperlihatkan paha mulus dan bagian intinya yang polos tanpa celana dalam.Badru berdiri di sisi ranjang. Tangannya bergerak cepat melonggarkan ritsleting celana kargonya.Sret!Celana itu melorot jatuh ke lantai
Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan
Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m
"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging ke
"Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras mered







