Share

Bab 2

Penulis: Leona Valeska
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 15:49:13

“Suara apa itu?” tanya Kael seraya menyipitkan matanya. “Kau menjerit seperti seorang gadis yang baru pertama kali melihat pria telanjang, Elian!”

Jantung Emily terasa berhenti berdetak. Dia pun segera membekap mulutnya sendiri, lalu memaksa sebuah batuk hebat keluar dari tenggorokannya.

Dia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah, sebuah reaksi fisik yang sebenarnya dipicu oleh kepanikan luar biasa.

“Maaf, Tuan Duke,” kata Emily setelah berhasil mengendalikan batuk buatannya.

Dia terus berusaha merendahkan suaranya hingga mencapai nada serak yang paling maskulin yang bisa ia buat.

“Tenggorokan saya ... saya rasa suara saya sedang pecah, Tuan. Pubertas saya sedikit terlambat dibandingkan pemuda lainnya. Saya sendiri sering terkejut dengan nada suara saya yang terkadang melompat tidak beraturan.”

Kael hanya mendengus seraya menatap Emily dari atas ke bawah, tengah mempelajari siluet pelayan barunya yang tampak ringkih.

Ditatap seperti itu, Emily sontak menahan napasnya dan memastikan bebat kain di dadanya tidak bergeser sedikit pun. Dalam hatinya, dia bersyukur uap air di ruangan ini cukup tebal untuk mengaburkan detail tubuhnya.

“Pubertas yang terlambat?” Kael mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar lebih seperti ancaman daripada tawa. “Ambil spons itu. Gosok punggungku.”

Lutut Emily terasa lemas mendengar titah itu. Dia akhirnya melangkah maju dengan ragu. Dia kemudian berlutut di tepi bak mandi, mengambil spons laut yang lembut dan sabun beraroma rempah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mulai menyentuh kulit pundak Kael.

Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bagi Emily. Kulit Kael terasa keras, panas, dan sangat jantan.

Otot-otot pria itu terasa seperti baja di bawah ujung jemarinya. Emily berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, hanya ujung jarinya yang bekerja, namun Kael tampaknya tidak puas.

“Jangan ragu seperti itu, Elian. Kau sedang menggosok punggung seorang prajurit, bukan patung porselen yang mudah pecah,” perintah Kael tanpa menoleh.

Emily kemudian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Dia pun memberikan tekanan lebih pada spons tersebut, bergerak naik turun di sepanjang tulang belikat Kael yang perkasa.

Namun, getaran di tangannya tidak bisa disembunyikan. Getaran itu merambat melalui spons, sampai ke indra peraba sang Duke.

Tiba-tiba, Kael menangkap pergelangan tangan Emily dengan gerakan secepat kilat.

Cengkeramannya begitu kuat, mengunci tangan kecil Emily tepat di atas pundaknya. Kael sedikit memutar kepalanya, lalu melirik Emily dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun.

“Kenapa kau takut padaku?” tanya Kael dengan nada mengancam yang rendah. “Aku tidak akan membunuhmu hanya karena kau gemetar saat melayaniku.”

Emily terpaku mendengar ucapan Kael barusan. “Maaf, Tuan.”

“Aku tidak akan membunuh pria yang melayaniku dengan benar,” lanjut Kael dengan suara yang kini terdengar lebih tajam, seperti mata pisau yang baru diasah.

“Kecuali jika kau sebenarnya adalah seorang perempuan. Jika itu benar, maka aku akan menebas tanganmu saat ini juga karena sudah berani menyentuh tubuhku!”

Tulang Emily terasa dingin usai mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut tuannya itu. Dia tahu Kael tidak sedang menggertak.

Reputasi Duke Ravenshire sebagai pembenci wanita bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Di kastil ini, keberadaan wanita adalah dosa yang hanya bisa ditebus dengan nyawa.

“Sa-saya adalah pria, Tuan Duke,” ucap Emily terbata-bata.

“Saya hanya ... saya hanya merasa terintimidasi oleh kehebatan Anda. Karena sebenarnya saya belum pernah melayani bangsawan setinggi Anda sebelumnya.”

Kael menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum perlahan melepaskan cengkeramannya. “Lanjutkan,” perintahnya singkat.

Emily kembali bergerak, namun matanya secara tidak sengaja beralih ke meja kecil dari kayu ek yang terletak di samping bak mandi. Di sana, di atas tumpukan dokumen resmi kerajaan yang sedikit basah karena uap, terdapat sebuah gulungan kertas yang terbuka.

Napas Emily tercekat bahkan spons di tangannya hampir terjatuh ke dalam air.

Di atas kertas itu, tergambar dengan jelas tato lambang keluarga Dawson, sebuah perisai dengan sayap burung rajawali yang megah.

Di bawahnya, tertulis daftar buronan tingkat tinggi dengan nama ayahnya, Marquis Dawson, berada di urutan paling atas.

Ada catatan kaki dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas: 'Tangkap hidup atau mati. Habisi seluruh keturunannya tanpa sisa.'

Emily mengenali tulisan tangan itu. Itu adalah tulisan tangan Kael.

Pria yang sedang ia gosok punggungnya ini, pria yang saat ini berada hanya beberapa sentimeter, adalah algojo yang dikirim Raja untuk memusnahkan seluruh garis keturunannya.

Kael adalah orang yang paling aktif memburu keluarganya, orang yang paling berambisi melihat kepalanya dipenggal di depan alun-alun kota.

Dunia seolah berputar bagi Emily. Dia dipaksa melayani pria yang setiap malam bermimpi untuk membunuhnya. Setiap kali dia menyentuh kulit Kael, dia sebenarnya sedang menyentuh kematiannya sendiri.

Emily berusaha keras untuk tidak menangis. Dia harus bertahan. Dia harus tetap menjadi Elian, si pelayan remaja yang canggung dan tidak berguna, sampai ia bisa menemukan jalan untuk membersihkan nama ayahnya atau melarikan diri dari kerajaan ini.

Setelah sesi mandi yang terasa seperti selamanya itu berakhir, Kael berdiri dan melangkah keluar dari bak mandi. Emily dengan sigap menyampirkan jubah mandi sutra ke bahu pria itu, matanya tetap menunduk, tidak berani melihat wajah Kael lagi.

“Kau boleh pergi, Elian,” ucap Kael dingin sambil berjalan menuju ruang ganti. “Besok pagi, siapkan pakaian berburuku. Aku akan pergi ke perbatasan untuk menindaklanjuti laporan tentang tikus-tikus Dawson.”

Emily membungkuk dalam-dalam dengan tangan terkepal kuat di samping tubuhnya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan.

Dia menunggu sampai suara langkah kaki Kael menghilang di balik pintu kayu yang berat sebelum dia membiarkan dirinya terduduk lemas di lantai marmer yang basah.

Uap di ruangan itu masih terasa sesak, namun ketakutan di hatinya jauh lebih mencekik.

Emily menatap bayangannya yang buram di genangan air lantai, bayangan seorang gadis yang kini terjebak di sarang serigala paling berbahaya di seluruh negeri.

Dia membayangkan jika Kael melihat daftar buronan itu dan kemudian melihat wajahnya dengan lebih teliti. Satu saja kesalahan dalam penyamarannya, dan

“Bagaimana jika dia tahu aku adalah anak dari Marquis Dawson? Dia pasti akan membunuhku saat itu juga.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 191

    Awalnya Kael hendak mengusir Emily, tangannya yang gemetar terangkat kasar untuk menepis nampan dan mengusir gadis itu dari pandangannya.Namun, gerakan Kael terhenti di udara. Emily dengan cepat menggeser gelang anyaman hitam bersimpul mati itu tepat di bawah jemari Kael, memperlihatkannya dengan jelas di bawah pendar cahaya lampu kamar.Benda usang itu membuat Kael membolakan matanya sempurna.Seluruh otot tubuhnya mendadak kaku, bukan karena racun besi hitam, melainkan karena hantaman memori lama yang mendadak menyeruak paksa dari dasar ingatannya."Kau... dari mana kau mendapatkan benda ini?!" desis Kael, suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh nada otoriter militernya."Aku membawanya dari Kak Johan, Kael," jawab Emily, air matanya menetes mendarat di atas selimut. "Gelang ini... gelang yang kau berikan pada kakakku saat kau menangis di sudut dapur kastil lama."Ingatan itu menghantam Kael layaknya gada besi. Mereka berteman sejak tujuh belas tahun yang lalu, saat Kael yang m

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 190

    Pintu kayu ek yang tebal itu terbuka perlahan dengan derit halus yang memotong ketegangan di dalam ruangan. Tak lama kemudian, tirai sutra penahan angin di balik pintu terbuka dan Emily masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara bising.Kedua tangannya memegang sebuah nampan perak berisi semangkuk sup herba hangat yang mengepulkan uap beraroma menenangkan, aroma yang sangat akrab di indra penciuman sang Duke selama berbulan-bulan ini.Ia berjalan mendekati ranjang, langkahnya sempat tertahan sejenak saat melihat Kael yang masih terbaring lemah namun sudah sepenuhnya sadar. Tatapan mata elang pria itu langsung menusuk tajam ke arahnya, pekat dengan campuran antara amarah, harga diri yang terluka, dan kebingungan yang mendalam.Thomas mundur beberapa langkah secara hormat, memberikan ruang namun tetap mengawasi situasi dengan cemas.Emily meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Jantungnya berdegup

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 189

    Sinar matahari musim dingin menembus tirai sutra kamar utama kastil Ravenshire, melemparkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu ek yang mengilat. Kehangatan uap dari radiator mekanis memenuhi ruangan, mengusir hawa beku yang sempat mencengkeram kastil selama berhari-hari.Kael perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat, seolah kelopak itu terbuat dari timah. Pandangannya kabur selama beberapa saat sebelum langit-langit kamar yang berukir lambang serigala utara mulai terfokus di matanya.Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara hangat memenuhi paru-parunya. Denyut nyeri yang biasanya menghujam beringas di lutut kirinya kini sudah jauh berkurang, berganti menjadi rasa kebas yang tumpul berkat balutan perban baru yang tebal dari tabib utama.Hal pertama yang dilihat oleh Kael saat kesadarannya pulih adalah sosok Thomas. Pelayan kepala itu sedang berdiri setia di samping tempat tidurnya, dengan raut wajah lelah namun penuh kelegaan, bersiap mengganti

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 188

    Matahari fajar akhirnya menyembul dari balik puncak-puncak gunung es, memantulkan cahaya putih keperakan yang berkilau di atas hamparan salju utara. Namun, keindahan itu sama sekali tidak mengurangi hawa dingin yang mencekam di dalam dinding Kastil Ravenshire.Emily berdiri termenung di sebuah balkon batu kastil yang menghadap langsung ke arah pegunungan utara yang angkuh. Tangannya yang terbungkus sarung kain rajut mencengkeram pagar pembatas batu yang membeku, sementara napasnya keluar sebagai uap-uap kecil yang langsung lenyap disapu angin fajar.Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Lucian, sang asisten kastil sekaligus orang kepercayaan Kael, mendatangi Emily dengan wajah yang tampak sangat kusut dan pucat pasi. Ia menghentikan langkahnya beberapa jengkal di belakang Emily, menatap punggung gadis itu dengan napas yang masih memburu."Emily..." panggil Lucian, suaranya bergetar hebat memecah kesunyian balkon batu.Emily tidak membalikkan badannya, pandangannya tetap lurus

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 187

    Di luar kamar utama yang besar dan sunyi, hawa dingin koridor kastil terasa menusuk hingga ke tulang. Suara denting peralatan medis logam dan desis uap pemanas dari dalam ruangan sesekali terdengar, menandakan tabib utama kastil sedang meracik obat penawar dan membersihkan luka infeksi di kaki Kael dengan tergesa-gesa.Thomas berdiri bersama Emily di dekat pilar batu yang tinggi. Pria tua itu menatap Emily, yang sejak tadi tidak bisa diam dan terus meremas jemarinya yang membeku karena cemas.Thomas tersenyum sedih sambil mengusapi lengan Emily dengan penuh rasa sayang kebapakan, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah badai takdir yang sedang mengurung mereka."Kau baru saja melakukan hal yang melampaui batas kewajiban seorang manusia, Emily," bisik Thomas, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan."Emily, kau adalah gadis yang memiliki hati sangat baik dan tulus. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu gigih menyelamatkan nyawa orang yang berniat menghab

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 186

    Setibanya mereka di halaman dalam kastil Ravenshire yang masih sepi dan diselimuti kabut abu-abu, derap langkah kaki kuda yang tersengal-sengal memecah keheningan fajar.Thomas dan para pelayan senior lainnya yang sedang bersiap menyambut pagi dengan membersihkan lampu gantung uap langsung terkejut setengah mati.Beberapa dari mereka bahkan menjatuhkan sapu dan wadah minyak usai melihat Johan Dawson dan Emily Dawson datang membawa pulang Duke Kael dalam kondisi mengenaskan."Astaga! Apa yang terjadi?!" teriak Thomas, wajah tuanya seketika memucat saat mengenali sosok yang terkulai di atas pelana. "Itu... Yang Mulia Duke!"Emily melompat dari kudanya dengan tergesa-gesa hingga sempat tergelincir di atas lantai batu yang licin.Dengan napas memburu dan air mata yang bercampur lelehan salju, ia berteriak dengan suara serak memerintahkan para pelayan yang masih terpaku, "Cepat bergerak! Segera panggil tabib utama kastil ke kamar atas! Kael saat ini sedang berada dalam kondisi sekarat dan

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 161

    Keesokan paginya, kabut musim dingin menyelimuti dataran utara dengan kejam, membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa meter di depan hidung.Angin sedingin es bertiup kencang, menerbangkan butiran salju yang menusuk kulit wajah seperti jarum. Di bawah langit yang kelabu dan mengancam,

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 147

    Mendengar namanya dipanggil dengan lantang di tengah hutan beku, Johan tidak berniat menyerah begitu saja. Harga dirinya sebagai mantan ksatria utara menolak tunduk pada gertakan pasukan kavaleri."Meletakkan senjata? Jangan harap, anjing-anjing kerajaan!" geram Johan di sela deru napasnya yang mem

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 3

    Satu minggu sudah Emily menjadi pelayan pribadi sang Duke. Di pagi ini, matanya terasa berat, bahkan ada lingkaran hitam tipis yang berusaha dia tutupi dengan abu tipis agar wajahnya terlihat lebih kusam.Menjadi pelayan pribadi Duke Kael berarti dia adalah orang pertama yang bangun sebelum fajar m

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 1

    “Eksekusi semua wanita yang berani masuk ke dalam istanaku tanpa izin! Gantung mayatnya di gerbang barat agar menjadi peringatan bagi siapa pun yang mencoba menguji kesabaranku!”Raungan membahana itu memecah keheningan fajar di Kastil Ravenshire, sebuah benteng batu hitam yang angkuh dan terasing

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status