Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!

Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-31
Oleh:  Naomiliana Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10
9 Peringkat. 9 Ulasan-ulasan
258Bab
10.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Setelah mati dalam misi, Xinxin sang komandan militer bereinkarnasi ke tubuh putri lemah Li Lian Wei yang dibenci seluruh istana. Di dunia baru yang penuh intrik dan penghinaan, ia tidak lagi berniat bertahan—melainkan membalas. Satu per satu, mereka yang pernah menyakitinya akan membayar harga yang setimpal.

Lihat lebih banyak

Bab 1

1

Plak!

Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.

Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.

“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”

Suara dingin penuh ejekan terdengar.

Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, Putri Kedua Kekaisaran Shang, yang selama ini tak pernah melewatkan kesempatan untuk merendahkannya.

Di sudut ruangan, seorang pelayan muda langsung berlutut panik.

“Pu-putri kedua, mohon ampun…” suaranya gemetar.

Dia adalah Mingmei, satu-satunya pelayan setia yang selalu berada di sisi Li Lian Wei.

“Diam! Minggir!” bentak Lien Hua sambil mendorong Mingmei hingga terjatuh.

“Berisik…” gumam Xinxin pelan.

Xinxin sang Komandan Militer dari abad 21 yang mati tertembak saat menjalankan sebuah misi. Saat membuka mata ia sudah berada di tubuh seorang putri kerajaan lemah, Li Lian Wei.

Kelopak mata Li Lian Wei bergerak, ia membuka matanya perlahan. Langit-langit kayu tua menyambut pandangannya.

Bukan markas militer. Bukan rumah sakit dan jelas… bukan tempat yang ia kenal. Ia memegangi alisnya yang berkerut , kesadarannya belum sepenuhnya pulih, namun rasa sakit itu terlalu nyata untuk diabaikan.

Ia menunduk dan melihat pakaiannya berbeda. Ini jelas bukan pakaian terakhir yang di pakainya. Jelas saat itu ia memakai dress biru sebagai penyamaran dalam misi terakhirnya.

Sejenak ia memandangi tangannya yang lebih halus juga kurus. Dengan cepat ia menyadari bahwa tubuh ini bukan miliknya.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

'Bukankah aku sudah mati?' batinnya.

"Pu-putri…?" suara Mingmei terdengar ragu, masih berlutut di sampingnya.

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—

"Ahk—!"

Nyeri tajam tiba-tiba menghantam kepalanya. Tangannya refleks memegang pelipis.

Dalam sekejap potongan ingatan asing yang bukan miliknya membanjiri pikirannya.

Air danau yang dingin, tubuh yang semakin lama tenggelam ke dasar danau. Juga suara tawa menghina dari permukaan danau yang terekam dengan jelas.

Rasa kesepian yang menyesakkan dada, refleks ia memegangi dadanya yang sakit. Kehidupan yang dipenuhi penindasan, seorang putri yang dibenci keluarganya sendiri. Dianggap sebagai pembawa sial dan diasingkan dari istana utama.

Napasnya memburu. Perlahan rasa sakit itu mereda. Matanya yang semula kabur berubah menjadi tajam, dingin dan waspada.

Kini ia mengerti tubuh ini milik seorang putri yang lemah, terbuang, dan diperlakukan seperti sampah di dalam istana, sangat berbeda dengannya. Pemilik tubuh ini sudah lama kehilangan jiwanya sampai pada saat jiwa Xinxin dari abad 21 merasuki tubuh ini.

Senyum tipis terukir di bibirnya, 'Menarik…'

"Pu-putri?" Mingmei menatapnya dengan cemas.

Li Lian Wei mengangkat pandangannya. Tatapannya berubah, bukan lagi Lian Wei yang lemah lembut dan menerima perlakuan buruk dari orang sekitarnya.

Ia menatap lurus ke arah Lien Hua tanpa rasa takut dan ragu.

"Mulai sekarang…" suaranya pelan, namun tegas.

"Hidupku tidak akan sama lagi."

Ia mengepalkan tangannya perlahan, seolah sedang menggenggam takdir baru.

Untuk sesaat ruangan itu sunyi. Bahkan Lien Hua pun terdiam, meski hanya sepersekian detik. Tanpa mereka sadari putri yang mereka kenal... telah menghilang, digantikan oleh seseorang yang tidak seharusnya mereka usik.

Tatapan Xinxin masih tertuju pada Li Lien Hua. Tanpa rasa takut sedikitpun. Lien Hua mengernyit, jelas ia tidak menyukai tatapan itu.

"Berani sekali kau menatapku seperti itu," ucapnya sinis. "Sepertinya jatuh ke danau tidak membuatmu sadar diri."

Xinxin tidak menjawab ia hanya menatapnya lebih lama. Seolah sedang menilai dan mengukur, apakah wanita di depannya layak dianggap ancaman.

"Kau yang menamparku tadi?"

Pertanyaan itu sederhana, namun nadanya datar dan berbahaya. Lien Hua tersenyum mengejek.

"Lalu kenapa? Kau mau membalas?" Ia melangkah mendekati Lian Wei, "Jangan lupa, kau hanya—"

Plak!

Suara tamparan menggema lagi, namun kali ini Lien Hua yang terhuyung. Semua orang membeku, Mingmei bahkan menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Xinxin menarik tangannya perlahan. Ekspresinya tetap tenang seolah itu hal biasa. Sementara Mingmei segera keluar dan mencari tabib istana.

"Sekarang impas," ucapnya dingin.

Lien Hua memegangi pipinya yang merah karena ditampar, matanya membelalak penuh amarah tidak percaya.

"Kau—! Berani sekali kau menyentuhku?!"

Xinxin menatapnya tanpa ekspresi.

"Kenapa tidak?" jawabnya singkat.

Langkah kaki tergesa terdengar dari luar. Mingmei berlutut di samping Xinxin.

"Pu-putri, hamba sudah memanggil tabib. Mohon tenangkan diri, tubuh putri masih lemah…" ucapnya.

Xinxin meliriknya sekilas, tatapannya sedikit melunak namun hanya sesaat. Sampai saat pintu terbuka dan seorang tabib tua masuk, diikuti beberapa pelayan.

"Salam untuk putri—"

"Periksa dia," potong Lien Hua dengan suara tajam, menunjuk Xinxin. "Sepertinya otaknya rusak setelah jatuh."

"Kalau begitu," katanya pelan, "pastikan kau memeriksanya dengan teliti." Tatapannya berubah menusuk.

"Karena mulai hari ini… aku tidak akan bertindak seperti sebelumnya," ucapan itu sederhana, namun cukup untuk membuat suasana semakin mencekam. Bahkan tabib itu sempat ragu melangkah.

Suasana ruangan masih tegang setelah tamparan itu. Mata Lien Hua penuh amarah, namun belum sempat ia meledak, langkah kaki berat terdengar dari luar. Seorang Kasim mengumumkan kedatangan kaisar.

“Kaisar datang!”

Pintu terbuka, kaisar masuk kedalam diikuti dua pangeran dan seorang selir. Aura wibawa kaisar langsung memenuhi ruangan.

"Bagaimana keadaan Putri Pertama?" suara berat itu menggema. Tabib, Lien Hua dan Mingmei segera berlutut.

"Salam Kaisar, semoga Anda hidup seratus tahun lagi."

Berbeda dengan mereka Xinxin tetap duduk. Tatapannya tenang dan acuh. Seolah pria di hadapannya bukanlah penguasa tertinggi di tempat ini.

Alis Kaisar, langsung berkerut.

"Dimana rasa hormatmu, Putri Pertama?" tegur Kaisar Li Jiazhen, ayah kandung Lian Wei.

Xinxin tidak menjawab. Ia justru mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Seperti sedang mengamati dan menilai, kebiasaan yang sama ia lakukan saat sedang membaca medan perang.

"Sepertinya jatuh ke danau membuatmu melupakan sopan santunmu," ucap Kaisar dingin.

"Diam!" Satu kata itu keluar begitu saja, semua orang membeku. Bahkan Lien Hua pun terkejut.

Namun detik berikutnya—

"Ahk…!

Lagi, kembali Xinxin memegangi kepalanya. Rasa sakit menyerang lebih kuat dari sebelumnya. Seolah sesuatu dipaksa masuk ke dalam pikirannya.

"Adikku! Kau tak apa?" Li Jianying Pangeran Kedua langsung berlari dan memeluknya.

"Tabib! Apa yang terjadi dengan adikku?!" cemas Jianying.

Tabib gemetar ketakutan, "Me-menurut pemeriksaan hamba… kepala putri terbentur, sehingga menyebabkan beberapa memori hilang…"

"Mohon ampun, Yang Mulia…" ucapnya berlutut pada kaisar.

Namun Xinxin tidak lagi mendengar mereka. Dalam kepalanya ingatan asing yang dimulai pada saat ia berusia lima tahun. Seorang gadis kecil yang diabaikan. Tatapan hina para pelayan dan pengawal. Hingga ingatan terakhir saat tercebur ke danau yang dingin.

Napas Xinxin memburu, tangannya mengepal kuat. Ia menatap lurus ke satu arah, tatapan itu penuh kepastian. Penuh amarah yang terkendali.

"Kau!"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasanLebih banyak

Djulitas
Djulitas
ceritanya menarik nih kak.. lanjut
2026-07-18 07:17:04
2
1
Naomiliana
Naomiliana
kira" siapa ya dalang pembunuhan Lian Wei dan siapa orang di balik Dan Rui ya? ada yang bisa tebak kah? hehe ... jangan lupa bintang 5 nya terimakasih ......
2026-07-17 15:19:33
0
0
R.yan
R.yan
semangat kak naomi
2026-07-16 13:10:21
1
1
Sora Archery
Sora Archery
Wah ceritanya sangat bagus dan menarik Thor. semangat
2026-07-15 07:09:11
1
1
Gilva Afnida
Gilva Afnida
semangat nulisnya kakak
2026-06-19 18:14:33
1
0
258 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status