分享

3

作者: Naomiliana
last update publish date: 2026-04-07 22:58:32

Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini.

"Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh ini tidak terlihat seperti ini. Awas saja kalian semua," pandangan matanya semakin menajam.

Lian Wei keluar dari bak mandi segera ia mengenakan pakaiannya, hanfu putih yang sederhana dengan bordiran di kainnya. Menambah kesan elegan padanya. Tidak bukan bordiran emas, bordiran biasa, fasilitas yang didapat Lian Wei tidak sama dengan putri para selir. Ya tentu saja mereka menyabotase semua itu.

Lian Wei keluar dari dalam sana, Mingmei yang sudah menunggu segera berdiri. Seketika ia ketakutan melihat mata tajam itu. Ia masih belum terbiasa dengan sikap baru Lian Wei setelah bangun, ia merasa Lian Wei seperti orang yang berbeda. Mingmei membantu Lian Wei menyisir rambutnya.

'Ada apa dengan putri? Kenapa setelah mandi tatapan matanya terlihat sangat tajam?' batinnya.

"Mingmei belikan beberapa barang untukku."

"Iya putri," ucapnya sambil terus menyisir rambutnya.

Mingmei tidak menata rambutnya karena hari sudah malam, Lian Wei akan bersiap untuk tidur. Keesokan paginya Mingmei membangunkan Lian Wei yang masih tidur.

Keesokan paginya Mingmei mencoba membangunkan Lian Wei.

"Putri ayo bangun," ucap Mingmei dengan mengguncang tubuh Lian Wei pelan.

"Hamba sudah siapkan air hangat untuk mandi."

"Aku akan bangun sebentar lagi Mingmei."

"Tidak putri, bukankah anda meminta Hamba untuk membelikan barang?"

Seketika Lian Wei membuka matanya, ia langsung terduduk di tempat tidurnya.

"Kau benar, ambilkan aku kertas, tinta dan kuas," ucap Lian Wei memberi perintah, Mingmei pergi mengambil barang yang diminta Lian Wei.

Tak lama Mingmei kembali dengan barang itu, segera Lian Wei menulis barang yang akan dibelikan Mingmei. Setelah selesai Lian Wei memberikan kertas itu pada Mingmei.

"Mingmei pergi ke pasar beli bahan makanan untuk kita, lalu kau beli juga barang yang sudah ku tulis disini."

"Baik putri, hamba akan belikan setelah memastikan putri telah siap dan makan."

"Hmm baiklah aku mandi dulu."

Lian Wei beranjak dari ranjangnya menuju bak mandi. Setelah sepuluh menit ia keluar dari bak dan memakai hanfu berwarna hijau muda. Setelah selesai berpakaian ia keluar dan Mingmei langsung menata rambutnya.

Mingmei mengeluarkan tiga tusuk rambut dengan berbagai model.

"Mingmei apa ini semua akan ku pakai?"

"Iya putri."

"Mingmei hiasannya jangan terlalu banyak, buat yang sederhana saja. Terlalu berat jika memakai semua ini, oh dandannya jangan terlalu menor."

"Men? Me—"

"Ah... jangan terlalu tebal."

"Baik putri."

Jadilah Mingmei menata rambut Lian Wei sederhana, hanya diikat setengah dan setengah yang lain dibiarkan terurai. Mingmei menambahkan jepit rambut peony diikat rambutnya. Ia juga merias Lian Wei dengan make up tipis.

"Wah putri anda benar-benar cantik."

"Iya tentu saja aku cantik, jika tanpa ada bintik merah ini diwajah ku."

Penampilannya sangat elegan dan berbudi luhur, wajahnya dirias dengan natural, menampilkan kesan segar dengan hanfu hijau muda.

"Maafkan hamba putri, hamba tidak bermaksud untuk..."

"Sudahlah aku tahu maksudmu, sekarang ayo kita sarapan lalu kau bisa pergi."

"Iya putri hamba akan potongkan buahnya," ucapnya lalu segera memotong buah yang kemarin diberikan Jianying. Lalu menyerahkan piring berisi buah-buahan yang telah dipotong.

Setelah sarapan Mingmei bergegas keluar dari Paviliun Sakura. Selagi menunggu Mingmei yang pergi ke pasar, ia pergi keluar halaman. Ia melihat halaman yang tidak terlalu luas. Tanaman di halaman ini tidak begitu rapi dan tidak menarik mata, halaman ini tidak pernah diurus. Rumput liar tumbuh tinggi di dekat pagar. Banyak tanaman yang sudah layu, ia juga berbalik menatap paviliun yang tinggalinya.

"Uh mengerikan, paviliun ini mana bisa dikatakan layak huni."

"Bahkan kandang sapi saja lebih layak."

Paviliun ini terlihat sangat tua, meskipun masih kokoh namun cat nya sudah luntur, perabotannya tua dan tidak tertata rapi.

"Bagaimana mungkin pemilik tubuh sebelumnya betah tinggal disini. Aku yang melihatnya saja sudah muak!"

Tap Tap Tap...

Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah paviliun miliknya. Meskipun suaranya masih jauh, namun indra kepekaan miliknya berfungsi dengan baik. Mungkin sudah terbiasa dengan kehidupan militer di masa lalu.

"Hanya ada satu orang, kira-kira siapa orang ini? Apa itu Lien Hua? Atau mungkin Mayleen? Jika itu benar salah satu dari mereka pasti akan ada pertunjukan bagus," ucapnya pelan dengan smirk di wajahnya.

"Lian'er apa yang kau lakukan disini?" tanya seseorang pada Lian Wei. Lian Wei memutar tubuhnya menghadap ke arah suara yang berbicara dengannya.

"Kakak?"

"Apa yang kau lakukan disini adik?" tanya Jianying yang menghampiri Lian Wei.

"Tidak hanya saja, aku tidak ingat jika memiliki halaman yang berantakan seperti ini. Jadi aku ingin memperbaiki halaman ku."

"Kalau begitu katakan padaku apa yang diperlukan, aku akan mengabulkan keinginanmu."

"Ah tidak kak, aku ingin memperbaiki halaman ku dengan usahaku sendiri."

"Oh ayolah jangan menolak ku, bagaimana jika aku memperbarui paviliun mu?"

"Ada satu hal yang bisa kau bantu kak."

"Apa? Katakan padaku."

"Sebenarnya perabotan disini sudah usang dan tidak layak pakai, jadi—" ucapannya terpotong.

"Ya baiklah aku mengerti, aku akan memberikan perabotan yang baru," ucap Jianying mengerti maksud adiknya.

"Terima kasih kak," ucapnya lalu memeluk Jianying dan dibalas olehnya.

Disisi lain.

Prangg...

"Bagaimana bisa sampah itu bangun?!"

Lien Hua membanting semua barang di kamarnya, pelayan hanya bisa berdiam berdiri sambil menunduk. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekati Lien Hua.

"Apa kau lihat tatapan matanya itu?"

"Oh apakah sampah itu tahu sesuatu?"

"Ini tidak bisa dibiarkan aku harus memberi pelajaran pada sampah itu."

Lien Hua terus bermonolog sendiri.

"Kau bereskan tempat ini! Ayo Jia Li."

"Baik putri," jawab Jia Li pelayan setia Lien Hua.

Sementara ditempat lain.

"Adik aku harus pergi sekarang, terima kasih untuk tehnya. Oh nanti aku akan kirim perabotan baru."

"Terima kasih kembali kak. Kau akan kemana?"

"Melihat pasukan ku."

"Pasukan? Oh apa aku boleh ikut?" ucapnya dengan menampilkan puppy eyes.

Mendengar kata pasukan membuat jiwa komandan dalam diri Lian Wei meronta. Pasukan sudah mendarah daging baginya.

'Baiklah mari kita lihat pasukan di jaman ini.'

"Baiklah ayo."

Lian Wei dan Jianying beranjak menuju tempat latihan para prajurit. Di perjalanan mereka saling bercengkrama. Tepat didepan mereka putra mahkota lewat. Ia memperhatikan interaksi mereka yang terlihat harmonis juga hangat. Saat mereka sampai di hadapan putra mahkota mereka berhenti dan memberi hormat.

"Salam untuk Putra Mahkota," ucap Jianying, sedangkan Lian Wei hanya acuh.

Melihat Lian Wei tidak memberi salam padanya membuat Xiuhuan marah.

"Apa kau tidak punya sopan santun Putri Pertama?"

Tatapan mata yang hangat berganti dengan tatapan mata dingin saat menatap Xiuhuan.

"Kau bukan Tuhan yang patut dihormati. Ayo kak kita pergi."

Lian Wei menarik lengan Jianying untuk segera pergi dari sana. Ia malas untuk berhadapan dengan sang putra mahkota yang sialnya dia adalah kakak kandungnya sendiri. 

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   249

    “Dimana para pangeran?”Selir Cui dan Kasim Chen saling tatap.“Pangeran—” ucapan Kasim Chen terpotong.“Mereka sedang pergi ke Kekaisaran Wu, ada keadaan mendesak yang harus dibicarakan dengan Putra Mahkota Wu.”“Keadaan mendesak apa?” panik Kaisar Li, berusaha untuk bangun dari posisinya.“Yang Mulia sangat mencemaskan anak-anak. Yakinlah mereka akan baik-baik saja.”“Terimakasih Selir Cui.”Setelahnya Selir Cui pergi dari sana. Ia tidak kembali ke paviliunnya, melainkan pergi ke Istana Timur. Terlihat ia jalan dengan mengendap-endap, lalu meletakkan surat yang dibawanya di dalam sebuah pot bunga.Setelah selesai dengan aksinya ia kembali ke kediamannya. Tanpa ia sadari ada dua orang yang mengawasi mereka. Salah satunya adalah pelayan kaisar dan satunya lagi prajurit yang sedang bertugas. Pelayan kaisar itu adalah Lu Lixin dan tentu saja prajurit itu Tao Mo. Tao Mo segera memberitahu pengawal bayangan untuk menyampaikan berita tersebut. Di sisi lain Lian Wei masih makan bersama de

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   248

    Mereka meninggalkan area pemakaman tanpa menoleh lagi. Langkah keduanya terasa mantap, seolah kesedihan yang baru saja mereka rasakan telah berubah menjadi tekad. Begitu tiba di kediaman Wang Xuemin, semua orang sudah menunggu di ruang pertemuan.“Panggil semua orang kepercayaanku,” perintah Wang Xuemin. “Tidak boleh ada satupun yang terlambat.”“Baik pangeran,” ucap Tianzhi.Tak lama kemudian, beberapa pria berpakaian sederhana memasuki ruangan. Wajah mereka biasa saja, tetapi sorot mata mereka menunjukkan bahwa mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah jaringan pengintai yang selama ini bergerak di balik bayang-bayang.Wang Xuemin membentangkan sebuah peta besar di atas meja.“Kekaisaran Song sedang mempersiapkan perang. Mulai malam ini, kalian akan bergerak untuk mengawasi pergerakan mereka.”Wang Xuemin menunjuk beberapa titik di sepanjang perbatasan.“Tim pertama menyusup ke jalur perdagangan. Aku ingin mengetahui setiap kereta yang keluar dan masuk wilayah Song. Catat jumla

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   247

    “Itu... aku hanya memang tidak suka makan, Kak.”“Ayo pergi.”Sementara itu, di Kekaisaran Wu, Wang Xuemin sedang membaca dokumen. Li Xiuhuan, Li Jianying dan Liu Changhai datang menemui Wang Xuemin karena sebuah surat mendesak yang dikirimkan oleh Wang Xuemin.Belum sempat mereka mengobati luka di hati, sebuah kabar mendesak datang dari garis perbatasan. Kekaisaran Song dikabarkan tengah mengerahkan pasukan dan bersiap melancarkan serangan terhadap tiga kekaisaran besar.Duka belum usai, tetapi perang sudah mengetuk pintu.Ketiganya berdiri lama di depan makam Lian Wei yang berada di pemakaman keluarga kerajaan Kekaisaran Wu. Angin dingin berhembus pelan, seolah ikut meratapi kepergian sang putri.Tianzhi menyuruh mereka untuk segera pergi menemui Wang Xuemin di ruang kerjanya, tetapi mereka masih tidak bergerak.Di sisi lain, Xu Kai memutuskan kembali ke Kekaisaran Xu karena menerima surat dari ayahnya. Dalam perjalanan, ia teringat bahwa hari penerimaan murid baru Akademi Adipati X

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   246

    “Kalian apa yang terjadi pada kalian?”“Ini kami tadi masuk ke dalam jebakan lalu berhasil keluar dari sana,” ucap Lien Hua beralasan.Senior tidak curiga akan hal itu, karena banyaknya jebakan di hutan racun tadi membuat mereka mempercayai ucapan kedua rubah ini. “Cih!” decih Xue Yan kesal dengan mereka. “Sudah cepat masuk barisan,” perintah senior. Mereka berdua berjalan ke samping Lian Wei, karena kebetulan barisan di sebelah Lian Wei masih kosong. Lien Hua memperhatikan wajah Lian Wei. Ia sempat terkejut melihatnya. Namun ia menjadi lebih lega setelah melihat tahi lalat di pelipis kiri Lian Wei. ‘Kupikir jalang itu masih hidup,’ batin Lien Hua.‘Ini, dia bukan jalang itu. Dia kan sudah mati terkuras darahnya. Tidak mungkin bisa selamat dari hal itu, semua orang di istana sudah mengetahui kabar meninggalnya putri pertama,’ batin Lien Hua meyakinkan diri.‘Lien Hua, Mayleen tunggu pembalasanku,’ batin Lian Wei dengan tangan yang terkepal kuat menahan untuk tidak menyerang kedua

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   245

    “Tapi kenapa akademi memiliki hutan ini?” tanya Xue Yan. Mereka semua terdiam, tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Hingga akhirnya Lian Wei yang menjawabnya.“Konon hutan ini adalah jalan satu-satunya menuju Kolam Teratai Emas. Kolam Teratai Emas itu memiliki banyak khasiat, namun jika di konsumsi orang itu akan kehilangan kesadaran dan menjadi tidak terkendali. Sifatnya hanya pemakaian luar saja,” jelas Lian Wei.“Apakah seberbahaya itu, Li Xinhua?” tanya Xue Yan.“Tidak jika seorang ahli bela tinggi yang memiliki tingkat ketinggian yang setara atau hampir menyamai dengan dewa.”“Itu sangat mustahil,” ucap Mingmei.“Aku baru tahu ada hal seperti ini. Tadi kau bilang hutan ini adalah jalan satu-satunya. Berarti untuk masa kini harusnya ada jalan lain untuk sampai pada kolam?” tanya Xie Nian ragu.“Kau benar Xie Nian. Tapi aku tidak tahu jalan lainnya. Hanya Kaisar Li dan Adipati Xinxi yang mengetahui jalan ini.”“Berarti kedua orang yang curang tadi…”“Kau benar Xue Yan, mereka p

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   244

    “Menarik sekali anak-anak itu,” ucap seorang pria dari menara terbengkalai, lalu ia segera pergi dari jendela tersebut. Lian Wei dan Xue Yan jauh tertinggal dengan yang lain namun keberuntungan selalu berpihak pada mereka. Lian Wei melihat dua kelinci putih sedang bersembunyi. Ia menyuruh agar Xue Yan jalan perlahan lalu Lian Wei menebarkan bubuk putih di depan mereka. Tak lama kelinci itu terjatuh. “Ah Li Xinhua bukankah kita tidak boleh membunuh dengan racun?”“Kau tenang saja mereka hanya tertidur. Ini satu untukmu, kita harus segera mencari cara jalan keluar dari sini.”“Li Xinhua kau dapat apa?” tanya Mingmei.Lian Wei menunjukan buruannya.“Wah kelinci, aku hanya dapat burung,” ucap Mingmei.“Yang penting dapat.”“Li Xinhua… ini beneran untukku?”“Iya untukmu, ayo pergi sebelum gelap.”“Wah terimakasih, ayo pergi.”Mereka semakin memasuki hutan mencari jalan untuk mencapai Kolam Teratai Emas. “Berhenti!” seru Lian Wei tiba-tiba.Tanpa menunggu penjelasan, ia memungut sebuah b

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   140

    “Habislah aku,” ucap Shen Yu takut.“Jika Nona Xinxin adalah calon Putri Mahkota… gawat,” ucap Shen Yu tidak berani membayangkan.Ia jatuh terduduk, teman yang lain mencoba menolongnya.“Semoga kau tidak membuat calon putri tersinggung Shen Yu,” ucap tabib muda yang lain.“Kurasa sudah,” Shen Yu ha

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   117

    “Li Mayleen, adik kecil yang juga ganas. Kau salah membangunkan singa tidur,” ucap Lian Wei pelan.“Tabib Luo, katakan pada Kaisar bahwa aku mengonsumsi ini dan tunjukkan bukti ini pada Kaisar. Ingat hanya kalian berdua saja yang ada dalam obrolan itu.”“Kau harus menyampaikan ini langsung, katakan

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   104

    “Pangeran kau…? Tadi kau pergi untuk membeli lentera ini?”“Iya, ayo kesana,” ajaknya.Setelah sampai di tempat berkumpulnya orang melepas lampion, Wang Xuemin memberikan kuas pada Lian Wei.“Buat permintaanmu, aku akan membuat disisi yang lain. Lalu kita akan menerbangkannya bersama.”Lian Wei men

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   74

    “Bukankah lebih baik Yang Mulia berhati-hati saat mengancamnya?”Deg…Xiuhuan langsung menegang, beberapa pejabat bahkan pucat.Xiuhuan menoleh pada Lian Wei dan memberi tanda untuk tidak melanjutkan perkataannya.“Orang yang bisa membangun jaringan sebesar itu tanpa bantuan istana, jelas bukan ora

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status