Mag-log inDi tengah keheningan dekapan itu, ponsel di saku Sasa tiba-tiba bergetar hebat. Sasa tersentak, buru-buru menyeka air matanya dan merogoh benda tersebut. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama kontak Ibu yang memanggil. Sasa mengerutkan dahi, sedikit heran karena ibunya jarang sekali menelepon selarut ini. Dia melirik Javendra sekilas untuk meminta izin, lalu menggeser tombol hijau ke telinga. "Halo, Ibu?" sapa Sasa pelan. "Sasa? Ini aku, Irwan." Bukan suara ibunya yang terdengar, melainkan suara berat seorang pria yang terdengar sangat panik dan terengah-engah di seberang sana. Jantung Sasa mencelos. "Mas Irwan? Kenapa HP Ibu ada di Mas? Ibu mana?" "Sa, kamu tenang ya. Ibu kamu sekarang ada di IGD Rumah Sakit Medika. Kondisinya tiba-tiba drop parah malam ini, gulanya naik dan fungsi ginjalnya menurun drastis. Dokter bilang harus segera diambil tindakan darurat," jelas Irwan cepat dengan latar belakang suara bising khas ruang rumah sakit. Mendengar kondisi ibunya, seluru
Javendra bangkit dari sofanya begitu Sasa berjalan mendekat. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong, lalu memberi isyarat dengan gerakan kepala agar Sasa mengikutinya. Sasa mengira mereka akan langsung berjalan menuju kamar utama di lantai atas, namun langkah kaki Javendra justru berbelok menuju pintu kaca besar yang menghubungkan bagian dalam mansion dengan area taman belakang. Angin malam yang sejuk langsung menerpa wajah Sasa begitu mereka melangkah keluar. Penerangan di taman ini cukup temaram, hanya dibantu oleh deretan lampu hias kecil yang tertanam di sepanjang jalan setapak berbatu. Sebelum Sasa sempat bertanya, Javendra mengulurkan tangan kanan yang besar, lalu meraih jemari Sasa dan menggenggamnya erat. Dia membawa Sasa berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di antara rimbunnya tanaman hias. Sasa tersentak. Dia langsung celingukan, menatap ke arah jendela-jendela mansion yang menjulang tinggi di samping mereka. "Tuan... Tuan Jav
Malam itu suasana di ruang penyimpanan inventaris lantai bawah tampak sibuk. Sasa sedang berdiri di depan rak besar, mencatat sisa stok keperluan dapur bersama Rani. Pikiran Sasa sempat terganggu karna perkataan Javendra, aturan main yang berubah, aturan apa, batinnya. Setelah Juwita dikeluarkan dari mansion, Javendra memang memberikan tugas khusus kepada Rani untuk naik jabatan, memimpin dan mengajari beberapa pelayan baru yang malam ini juga sedang sibuk merapikan sudut lain. "Ekhem." Suara deham berat tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk. Rani seketika menoleh dan langsung menegakkan tubuhnya dengan gugup saat melihat siluet tegap Javendra berdiri di sana. Kemeja kerjanya sudah tidak sewarna pagi tadi, menandakan pria itu sudah sempat berganti pakaian santai namun tetap terlihat berwibawa. Rani menyenggol lengan Sasa pelan, lalu berbisik dengan suara yang sangat lirih. "Sa, cepat temui Tuan Javen. Pasti Tuan mencari kamu." Sasa menghentikan catatannya. Dia menatap
Malam hari telah larut saat mobil Javendra masuk ke halaman mansion. Pria itu melangkah melewati koridor lantai bawah yang sunyi. Kepergian pelayan lama membuat rumah jauh lebih tenang, namun langkah kaki Javendra kali ini terasa agak terburu-buru. Dia langsung menuju kamar utama di lantai atas. Pintu kamar terbuka perlahan. Sasa yang sedang bersandar di kepala ranjang langsung menoleh. Sebuah cangkir teh hangat yang sudah kosong terletak di meja nakas. Wajah Sasa masih tampak agak pucat, membuat sorot matanya terlihat lelah. Sasa bergerak gelisah, mencoba turun dari ranjang. "Tuan Javen... Anda sudah pulang. Biar saya siapkan air hangat untuk—" "Tetap di situ, Sasa," potong Javendra dengan suara beratnya. Javendra berjalan mendekat, melepas kancing pergelangan kemejanya satu demi satu lalu menggulungnya hingga sebatas siku. Dia duduk di tepi ranjang, tepat di samping Sasa yang meluruskan kakinya di balik selimut tipis. Sepasang mata pekat Javendra meneliti wajah Sasa. "Bagai
Aroma antiseptik yang khas menusuk indra penciuman Sasa saat dia duduk di atas kursi tunggu sebuah klinik swasta eksklusif. Di sampingnya, Bram berdiri tegap dengan ekspresi wajah yang selalu formal dan sulit dibaca. Suasana klinik ini sangat sepi, karena seluruh area lantai ini tampaknya sudah dipesan khusus oleh Javendra agar tidak ada pasien lain yang mengganggu. Napas Sasa terasa agak berat. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan, saling meremas dengan jari-jemari yang terasa dingin karena cemas. "Sasa, silakan masuk. Dokter kandungan sudah menunggu di dalam," ucap seorang perawat wanita dengan ramah setelah membuka pintu ruangan periksa. Sasa menoleh ke arah Bram sejenak, seolah meminta kekuatan. Bram hanya mengangguk pelan. "Masuklah, Sa. Saya akan menunggu di depan pintu ini." Sasa mengangguk luluh, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna putih bersih tersebut. Seorang dokter wanita paruh baya menyambutnya dengan senyuman hangat, mempersilakan Sasa un
Di dalam apartemen mewahnya, Amara berdiri mematung di depan meja konter dapur dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Wajahnya yang semula penuh riasan tebal kini tampak pucat pasi. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat, sementara napasnya memburu tidak teratur. "Apa maksud Anda dibekukan?!" bentak Amara ke arah ponselnya. "Saya ini Amara Maheswara! Cek lagi dengan benar! Tidak mungkin semua kartu kredit dan rekening saya tidak bisa digunakan!" Suara petugas bank di seberang sana menjawab dengan nada yang teramat sopan namun terasa bagai petir di siang bolong bagi Amara. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya Amara. Perintah pembekuan ini datang langsung dari pemegang kuasa penuh Maheswara Group, Tuan Javendra Maheswara. Seluruh fasilitas keuangan atas nama Anda telah dicabut per pagi ini." Sambungan telepon diputus sepihak oleh Amara. Dia melempar ponselnya ke atas meja hingga benda itu bergeser dan menabrak vas bunga. Amara mencengkeram rambutnya sendiri, berteri
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu







