LOGIN"Apa maksud kamu, aku baru menjatuhkan talak satu sama kamu. Kita masih bisa rujuk kembali, kamu gak usah ngambek lagi ya." Bujuk Tedi dengan tidak tahu malu nya.
Wajah Indi sudah berubah menjadi gelap, dia merasa dipermalukan oleh sikap Tedi yang terus memohon kepada Rani. "Sudah Mas, ngapain kamu masih ngejar dia sih. Kita kan sudah mau menikah, jangan kaya gitu lagi." Ucap Indi sambil menarik lengan baju Tedi. "Tuh dengar kata selingkuhan kamu itu, dia udah gak sabar jadi istri sah. Uuuups, maaf kelepasan, jadi pada tahu kan kalau kamu itu pelakor." Tawa Rani dan Raline pun pecah saat itu juga. Pengunjung cafe itupun langsung melirik ke arah Indi dengan tatapan menghina dan jijik Indi yang merasa malu pun langsung pergi meninggalkan Tedi, yang masih bersikukuh meminta Rani untuk kembali pada nya. "Itu selingkuhan mu ngambek, kejar sana. Kasihan, nanti dia kabur lagi." Ejek Rani. "Kamu kenapa jadi begini sih, kamu itu biasanya selalu jadi istri yang penyayang dan penyabar. Sekarang kenapa kamu gak mau nurut sama aku?" "Nurut apa maksud kamu? Dipoligami sama laki-laki miskin kaya kamu begitu?" Raline yang merasa tidak tahan pun, menimpali omongan Tedi. "Sudah, biarin aja laki-laki gak punya malu ini." Ucap Rani menenangkan sahabat nya. "Dengar ya bapak Tedi yang terhormat, ini akta cerai kita, kita sudah resmi bercerai dan sudah selesai. Jadi tolong kamu untuk tidak mengganggu hidup aku lagi, kamu bisa menikah dengan siapapun yang kamu mau." Senyuman Rani membuat Tedi merasa tegang, dia merasa senyum itu benar-benar bukan lagi senyuman cinta untuk nya. "Gak mungkin, bagaimana bisa kita resmi bercerai?" "Hei laki-laki bodoh, Rani sudah mengajukan perceraian itu, setelah kamu menjatuhkan talak satu, kamu sendiri kan yang mengatakan nya? Dan ya, dia punya rekaman suara kamu sebagai bukti, untuk mempermudah proses perceraian kalian." Rani tersenyum mendengar penuturan Raline. "Oh, dan satu lagi. Semua bukti perselingkuhan kamu juga dia jadikan sebagai bukti di pengadilan agama." Tedi semakin pucat pasi, dia tidak mampu berkata-kata. Untuk beberapa saat, dia seperti hilang kesadaran. Saat dia mulai bisa mencerna dan menerima kenyataan, dia ingin sekali memaksa Rani untuk ikut kembali bersamanya. "Rani, kamu kok tega sama Mas, kita itu sudah dua tahun menikah. Apa kamu gak merasa kalau perjuangan kita jadi sia-sia, kalau kita bercerai begitu saja?" Rani tidak habis pikir dengan perkataan Tedi, dia merasa kalau mantan suaminya itu sudah amnesia, bahkan mungkin sudah tidak waras lagi. "Hei kamu laki-laki bre***ek, ngaca dulu sebelum ngomong begitu." Raline menimpali dengan cepat. "Diam kamu, kamu itu gak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga aku sama Rani." Tedi tidak tahu kalau dia sedang berbicara kurang ajar, kepada Bos pabrik yang sebenarnya. "Eh, dasar cowok gila. Kamu yang salah malah kamu yang nyolot." Raline semakin terpancing emosinya. "Sudah Ra, kamu gak perlu ribut sama cowok gila kaya dia." Rani cepat-cepat memeluk sahabat nya itu. "Apa kamu bercerai sama aku, gara-gara hasutan perempuan ini Ran? " Tuduh Tedi. Rani langsung naik pitam, saat Tedi menuduh sahabat nya itu. Plaak... Suara tamparan yang sangat keras, mendarat di wajah Tedi. Rani benar-benar merasa tidak mengenali Tedi lagi, dia merasa muak dengan sikap Tedi yang tidak sadar akan kesalahan nya. "Kamu itu benar-benar tidak sadar diri ya, kamu yang selingkuh dan menduakan aku. Kenapa kamu malah menuduh sahabat ku yang menghasut?" Dengan mata yang merah, Rani menunjuk wajah Tedi. Dia benar-benar marah saat ini, saat dia berselingkuh dan menjatuhkan talak, Rani memang marah dan kecewa. Tapi setelah dia meninggalkan nya, bukan nya sadar, Tedi malah menuduh Raline mempengaruhinya untuk bercerai. Rani tidak terima sama sekali jika sahabat nya harus ikut terseret pada masalah ini. "Dengar ya kamu mas, seharusnya kamu ngaca. Apa yang sudah kamu perbuat, sampai aku bisa mengajukan perceraian ini. Kalau kamu tidak pernah berkhianat, aku gak mungkin begini. Seandainya kamu masih punya sedikit saja, rasa bersalah, mungkin aku tidak akan membenci kamu. Tapi aku salah, kamu memang laki-laki yang tidak layak ada di hidupku." Semua ungkapan kekecewaan nya telah dia keluarkan, dia merasa lebih lega sekarang. Raline yang melihat Rani begitu marah, ikut mengepakkan tangan nya. Dia berjanji, jika Tedi berani mengganggu Rani lagi, akan dia buat laki-laki itu sengsara seumur hidupnya. "Bukan begitu maksud aku, kamu harus mengerti. Mas cuma mau cepat-cepat punya anak saja, kamu kan bisa berbesar hati untuk di poligami." Baru kali ini mereka melihat, laki-laki yang benar-benar sudah tidak masuk akal. Tidak pernah merasa bersalah, malah memaksa orang lain untuk mengerti dia. Tiba-tiba, ada seorang perempuan setengah baya yang menyiram wajah Tedi dengan air soda. Byuuurr... Sontak saja, Tedi yang sedang menatap Rani langsung terkejut. Kemeja berwarna biru muda itu telah berubah warna. "Hei, laki gila. Sadar diri, minta punya anak kaya minta permen. Muak aku sama kau, kau pikir poligami itu buat mainan hah? Seenak jidat saja kau, minta istri kau dipoligami." Rani dan Raline juga terkejut, mereka pikir karena dendam pribadi, makanya perempuan itu menyiram Tedi. Tapi rupanya dia tidak tahan dengan ucapan Tedi tentang dirinya. "Hei kamu, perempuan cantik. Jangan mau kau balik sama laki macam ini, buang saja jauh-jauh sampah macam dia ni." Perempuan itu langsung pergi begitu saja, sambil melempar gelas plastik bekas minuman soda itu ke arah Tedi. Rani hanya mampu mengangguk, tanpa bisa berkata apa-apa. Tedi yang merasa sudah dipermalukan, berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Dia masih ingin berbicara kepada Rani, tapi Raline langsung mengajak Rani untuk meninggalkan cafe itu. Raline menarik tangan Rani, dan membawanya keluar. Tedi tidak tinggal diam, dia cepat-cepat mengejar mereka berdua. Saat Rani dan Raline akan masuk ke dalam lift, Tedi berhasil mengejar mereka. Dia juga ikut masuk kedalam lift tersebut. "Rani, tunggu sebentar. Mas masih mau ngomong sama kamu." Rani sama sekali tidak menoleh ke arah Tedi, dia hanya menatap pantulan dirinya di dinding lift itu. "Ran, setidaknya kamu kasih aku kesempatan satu kali lagi, untuk kita bisa bersama. Kita akan bahagia, tanpa kamu harus merasakan sakit melahirkan, kita tetap akan punya keturunan." "Sudah lah Mas, kamu pergi saja sama selingkuhan kamu itu. Capek aku denger kamu ngoceh terus." Rani menyahut dengan nada santai. Sementara Raline, sudah ingin sekali menendang Tedi sejak di dalam cafe tadi. "Diam kamu, jangan terus ngajak ngomong Rani. Dasar laki s***n." Raline mengumpat Tedi. "Kamu yang diam, jangan ikut campur terus." Tedi kembali menyahut. "Sudah ya, kamu jangan marah lagi. Mari kita pulang ke rumah, aku gak marah kok soal kamu yang jual semua barang-barang kita. Kalau itu, bisa kita beli lagi nanti oke." "Oh, kamu gak marah ya semuanya udah aku jual?" Tedi manggut-manggut sambil tersenyum. "Tapi aku gak perduli tuh, mau kamu marah atau enggak. Itu bukan urusan aku, aku cuma mengambil hak ku saja. Lagian, kita memang tidak punya harta gono gini, karena kamu kere." Tedi terdiam, dan Raline tertawa puas. "Rani, mas mohon, kamu jangan bersikap seperti ini kepada mas. Apa kamu gak ingat bagaimana dulu aku berjuang, mendapatkan hati kamu, agar kamu mau nikah sama aku?" Tedi mengungkit masalah itu, untuk membuat Rani luluh. Tapi bukan nya luluh, itu justru membuat Rani mengingat hal yang paling membuatnya menyesal. "Harusnya aku yang bilang kaya gitu sama kamu mas, waktu kamu memutuskan untuk selingkuh, apa kamu gak inget gimana dulu kamu berjuang buat dapetin aku? Kenapa sekarang dengan mudahnya kamu memilih wanita lain, yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan ku?" Tedi tahu, jika dia sudah salah bicara. Dia malah membuat dirinya sendiri, menjadi tidak tahu malu karena telah menyia-nyiakan perjuangan nya sendiri. Dia memang masih ingat bagaimana dulu dia berjuang, demi mendapatkan gadis cerdas dan cantik di hadapan nya itu.Seorang laki-laki berwajah Eropa datang menghampiri Rani. Dia tak mengenal orang itu, wajahnya begitu asing juga. Yang aneh, pria itu pasih berbahasa Indonesia. "Boleh kenalan?" Ulangnya. Rani tak menggubris orang tersebut, dia berjalan meninggalkan pria asing itu memanmtung di tempat. Rani benar-benar tak ingin berurusan dengan pria manapun, dia hanya ingin fokus pada pernikahan sahabatnya saja untuk saat ini. Pria itu tak tinggal diam, dia mengikuti Rani di belakangnya. "Hai gadis cantik, aku mau kenal sama kamu. Nama kamu siapa?"Rani tak berhenti sama sekali, dia segera menghampiri Raline. "Kemana aja sih lu? Gue cariin juga." "Gue tadi abis periksa di bagian sana, takut ada yang kurang." Ucap Rani. "Ngapain sih, gak usah capek-capek. Lu di sini cukup dampingin gue doang, biarin itu jadi tanggung jawab WO." Rani hanya mengangguk, tak lama setelah itu pria yang tadi mengajaknya berkenalan, datang menghampiri mereka. "Hai Raline, congrats ya. Semoga jodoh lu ini sampe mau
Persiapan pernikahan, sudah delapan puluh persen. Dan tentu saja, Rani juga terlibat di dalam nya. Dia tidak ingin melewatkan, momen paling berharga sahabatnya itu. "Ran, menurut lu pernikahan ini bakal langgeng gak ya?" Pertanyaan Raline yang tiba-tiba, membuat Rani sedikit syok. Rani kesulitan mencerna pertanyaan Raline. "Rani, kok lu malah bengong, bukan nya jawab juga." Raline yang tidak mendapat respon dari Rani, segera menggoyangkan tangan di depan wajah Rani. "Kenapa lu nanya hal yang negatif begitu sih? Amit-amit deh, gue yakin kalau kehidupan rumah tangga lu bakalan langgeng sampai maut memisahkan." Ucap Rani sambil mengusap bahu Raline. "Jangan jadikan pernikahan gue sebagai cermin, gue emang gagal dalam rumah tangga. Tapi bukan berarti, itu semua akan terjadi sama lu juga." Tambah Rani. "Gue cuma takut aja Dan, dulu gue sama sekali gak percaya sama namanya hubungan romantis, entah itu pacaran atau bahkan menikah. Menurut gue, itu semua cuma buat ngiket cewek." Jelas R
Suasana nya begitu hangat, Rani begitu bersyukur melihat Raline yang akhirnya bisa jatuh cinta. "Sebenernya kita ke sini juga merupakan ngomong sesuatu sama kamu Ran." Ucap Raja. Raline langsung menegur Raja. "Ngomong apaan sih kamu!" Raja tersenyum manis ke arah Raline, tatapan penuh cinta dan ketulusan. "Udah lah gak usah maen rahasia-rahasiaan segala. Gue udah tahu kok, kalo lu sama Raja udah jadian, dan gue seneng banget akhirnya lu bisa buka hati lu juga." Raline merasa terkejut, tidak menyangka jika Rani sudah tahu semuanya, dia langsung menatap Raja dengan tatapan tajam. Yang ditatap, malah mengedikkan bahu, tanda dia sama sekali merasa tidak bersalah. "Gak usah marahin Raja, dia gak ngomong apa-apa. Gue yang tahu sendiri, ngelihat tingkah lu aja gue bisa tahu semuanya." Raline langsung merasa bersalah terhadap Rani, di saat Rani kehilangan pasangan nya, dia malah berpacaran dengan sahabat masa remaja Rani. "Ran, maafin gue ya. Gue gak bermaksud nutupin ini d
Di perusahaan yang Rani dan Raline pimpin saat ini, sedang terjadi lonjakan pesanan dari beberapa perusahaan Mitra. Mereka cukup sibuk dengan itu, belum lagi Rani yang semakin terkenal dengan design nya. Banyak dari manca negara yang mengajukan permohonan kerja sama dengan dirinya. Rani tidak serta merta menerima semua tawaran yang masuk, dia selalu menyeleksi dengan sangat teliti. Dia tidak ingin mendapatkan Mitra yang tidak bertanggung jawab. Dalam urusan pekerjaan memang Rani lah ahlinya, dia tidak membiarkan sedikitpun celah yang akan membuat pesaing mengunggulinya. Hal ini membuatnya menjadi seseorang yang cukup perfecstionist, dan mengharuskan bawahannya untuk melakukan hal yang sama. Perusahaan design Rani, semakin terkenal. Tapi tidak serta merta membuat Rani menjadi lupa diri. Semakin besar uang yang dia dapat setiap bulan nya, semakin besar pula sedekah yang dia keluarkan. Menyantuni anak yatim piatu, itu adalah agenda rutin Rani. Dia paham betul, bagaimana
"Tapi dok, saya sudah lama sekali tidak melakukan hubungan intim, hampir enam bulan saya tidak pernah melakukan nya." Ucap Tedi yang masih tidak Terima dengan diagnosis dokter. "Pak, penyakit ini biasanya memerlukan waktu inkubasi yang bervariasi, ada yang hanya hitungan hari, minggu bahkan bulanan."Tedi langsung merasa lemas dan tidak berdaya, kenapa dia bisa terkena penyakit yang bisa membuatnya mati kapan saja, bahkan itu juga bisa jadi aib bagi dirinya. "Saya akan memberikan surat rujukan, agar bapak bisa berobat ke dokter spesialis, nanti akan lebih mudah untuk pengobatan nya." Perbuatan nya yang tidak mengenal dosa itu, telah membawanya ke jurang yang dalam. Penyakit yang dia derita, itu akibat dari ulahnya sendiri. Terlalu sering dia menyalahkan orang lain atas kesalahan nya, kini Tedi merasakan akibat dari perbuatan nya. Pulang dari puskesmas, Tedi tidak langsung menuju ke rumah, melainkan pergi ke tepi sungai dan berniat untuk memenangkan diri. Mencari tempat yang sepi
Suara Indi membuat semua orang mengalihkan pandangan nya. Tedi tidak tahu sejak kapan Indi bangun, dia pikir kalau Indi masih tertidur. Indi terjatuh dan tidak sadasarkam diri. Orang tuanya panik, berlari ke arah Indi dan segera mengangkat tubuh Indi. Mereka baru sadar jika ternyata berat badan Indi semakin menyusut, karena terasa begitu ringan. Sang ayah langsung membawa Indi ke atas tempat tidur, dan sang ibu memijat kepala Indi juga memberikan minyak angin pada tubuh Indi agar terasa hangat. Sedangkan Tedi, hanya duduk dan tidak bergeming sama sekali. Ayah Indi kembali menemui Tedi dan berniat meninjunya, karena sikap acuh tak acuh Tedi kepada anaknya. "Apa yang kamu lakukan, sampai keadaan Indi seperti ini?" Tanya mertuanya. "Saya tidak melakukan apapun, ini semua ulah bapak yang selalu menekan Indi. Dia menjadi depresi dan bahkan sering kambuh, dan mengamuk pak." Suara Tedi tak kalah tinggi. "Kenapa kamu malah menyalahkan saya?" Tanya sang mertua. "Bapak selal
Selama dua hari, mantan suaminya tidak pernah pulang ke rumah itu. Dan itu membuat Rani merasa leluasa untuk menjual semua barang-barang yang memang masih bisa menghasilkan uang. Dia menjual kulkas, mesin cuci, lemari pakaian, ranjang, bahkan kompor dan tabung gas pun dia jual semua. Dia tidak ing
Rani telah sampai di rumah kontrakan yang biasa dia tinggali bersama sang suami. Mereka mengontak satu rumah dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur dan juga kamar mandi. Selama dua tahun ini, Tedi bahkan belum mampu untuk membeli tempat tinggal sendiri, mereka masih harus mengontrak rumah
Motor milik Rani, sudah selesai di service. Tedi sudah menunggu kedatangan Rani, dia benar-benar tertarik dengan nya. Wanita cantik, berpendidikan tinggi. Dia yakin, jika dia bisa mendapatkan perempuan seperti Rani, kelak anak-anak nya akan cerdas dan cakap seperti ibunya. Rani sampai di bengk
Rabu, dua puluh tujuh September empat tahun lalu. Pertama kali nya Tedi melihat Rani, saat dia sedang bekerja di bengkel motor milik teman nya. Saat itu, Rani mendorong motor matic nya yang mogok. Dan kebetulan, bengkel itulah yang paling dekat dengan tempat nya saat itu. Rani yang mempunyai t







