LOGINDukungan yang diberikan Rani, malah membuat Tedi menjadi lupa diri. Setelah naik jabatan, ia mulai bertingkah dengan mengencani karyawan lain yang juga bekerja di Pabrik tempat ia bekerja. perselingkuhan yang terlanjur terekspos, mebuat Tedi mengucapkan talak terhadap Rani. Akankah kehidupan Rani menjadi sulit, atau sebaliknya? Jangan lewatkan kisah seru pembalasan dendam Rani kepada mantan suami dan selingkuhan nya.
View More"Hari ini, aku talak kamu dengan talak satu."
Tepat di hari ulang tahun Rani yang ke dua puluh delapan, tanggal dua puluh lima Maret. Rani di jatuhi dengan talak 1,bukan karena kesalahan nya. Tapi karena keegoisan suami nya, demi melindungi kekasih haram nya. "Talak satu mas? Kenapa tidak sekalian talak tiga? Kita bisa langsung pisah untuk selama-lama nya." Tantang Rani kepada mantan suami nya, sekarang sudah menjadi mantan karena dia telah menjatuhkan talak nya. "Aku masih sangat mencintai mu Rani, tapi kenapa kamu tidak bisa berbesar hati untuk menerima dia sebagai madu mu?" Dengan tidak tahu malu, dia bilang kalau dia masih mencintai Rani. Saat dia mulai bermain api, apa dia tidak pernah memikirkan perasaan nya? Dasar laki-laki durjana. "Tidak ada cinta yang seperti itu mas, setelah kamu memutuskan untuk mencintai perempuan lain, disaat itu pula kamu telah kehilangan cinta kamu sama aku." "Tapi Indi mau kok jadi istri ke dua mas, dia gak akan nuntut apa-apa dari mas." Dasar laki-laki bodoh, tentu saja saat jadi selingkuhan dia akan berbicara seperti itu. "Tidak perlu mas, aku tidak ingin berbagi sesuatu yang memang tidak bisa dibagi. Aku jijik kalau harus memakai barang bekas pakai pelakor." Perempuan yang bernama Indi itu mendelik kepada Rani. "Aku mohon Rani, kita bisa rujuk lagi. Aku jamin bisa adil kepada kalian berdua, aku melakukan ini hanya demi mempunyai keturunan saja. Kamu tahu kan, mas sangat ingin mendapatkan seorang anak laki-laki. Mas hanya ingin punya penerus." "Penerus apa mas? Penerus kelakuan kamu begitu, si tukang selingkuh?" "Ya gak gitu lah, semua orang kan pasti mau punya penerus Ran." "Maaf ya mas, seingat aku, kamu itu bukan seorang CEO, bukan juga keturunan ningrat darah biru yang punya warisan berlimpah. Kamu itu cuma seorang karyawan di pabrik biasa, yah aku akui kamu sudah naik jabatan menjadi supervisor, walaupun kamu tidak pernah bilang itu kepada ku." "Kamu tahu dari mana kalau aku sudah jadi supervisor?" Mata mantan suami nya itu membelalak kaget, apa dia lupa siapa Rani sebenarnya? "Memang nya kamu gak ingat mas, siapa yang bisa buat kamu masuk dan kerja di pabrik itu? Kamu tahu kan kalau aku kenal dengan pemilik pabrik itu?" Tedi seperti tersadar dan mulai menunduk, dia meng garuk-garuk tengkuknya, yang Rani yakini tidak ada bagian yang gatal sama sekali. Dia masih menunduk dan tidak berani menjawab nya, dan Rani melanjutkan unek-unek apa yang ingin dia keluarkan. "Soal perselingkuhan kamupun, aku tahu dari orang-orang bahkan petinggi dari pabrik tempat kamu bekerja. Dan soal keturunan, kamu gak ingat kalau kita baru nikah dua tahun, sama sekali belum lama. Aku sudah memeriksakan rahim ku kepada dokter kandungan, dan rahim ku dinyatakan subur dan baik-baik saja." "Kalau benar rahim kamu subur, lalu kenapa kamu belum hamil juga?" Tiba-tiba, pelakor itu menyahut dari belakang punggung Tedi. "Hahahhaha, hamil itu bukan manusia yang tentukan. Kamu pikir dengan kamu bilang hamil, terus kamu langsung hamil begitu? Kalau bisa seperti itu, aku juga bisa minta sama Allah biar kamu mati duluan." Bibir Rani terangkat sebelah. "Kamu, beraninya kamu menyumpahi aku mati!" Dia berusaha menyerang Rani. Rani tersenyum dengan ekspresi merendahkan, dia sudah tidak lagi merasa sedih seperti saat pertama kali dia mengetahui perselingkuhan suami nya. Dia terlihat sangat tegar, tidak ada yang tahu apa yang saat ini sedang dia pikirkan. Bahkan Tedi sekalipun merasa bingung dengan sikap Rani, karena biasanya seorang perempuan itu akan menangis dan meraung atau mengamuk saat diceraikan. "Ran, Mas mohon sama kamu. Kita gak usah cerai ya, mas berjanji akan lebih banyak waktu bersama kamu." Tedi tidak ingat dengan perlakuan nya terhadap Rani, akhir-akhir ini. Dia sering beralasan lembur, dan banyak pekerjaan sehingga dia akan pulang saat dini hari. Berjanji dengan sesuatu yang bahkan tidak mungkin dapat dia penuhi, hanya sampah yang keluar dari mulut laki-laki itu. Rani merasa sangat muak dengan Tedi, dia sangat ingin membuat laki-laki itu hilang dari muka bumi. Sebelum Rani menjawab permintaan Tedi, Indi sudah menyerobot terlebih dahulu. "Gak bisa gitu dong Mas, kamu harus lebih sering sama aku, kamu kan mau cepat-cepat punya bayi, ya cuma aku yang bisa ngasih kamu bayi." Rani hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, melihat kelakuan pelakor tak tahu malu itu. Pelakor sering kali tidak sadar diri, kalau dia itu hanya alat dan hanya yang ke dua. "Drama kalian terlalu panjang, lebih baik aku pulang saja, silahkan teruskan lagi setelah aku pergi." Rani segera meninggalkan kontrakan sempit tempat tinggal Indi, dia sampai ke sana saat membuntuti suami nya untuk mendapatkan bukti langsung, dan berhasil mengabadikan momen pengkhianatan suami nya itu. Ada yang berupa video dan juga foto, bahkan masih banyak foto dan video yang orang kirim kepada nya saat Tedi dan Indi bersama di tempat kerja. Melangkah dengan penuh keyakinan, dia masuk kedalam mobil nya dan pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Tedi yang berusaha mengejar Rani, sempat tertegun saat melihat mantan istrinya itu naik ke dalam mobil, bahkan dia sendiri yang membawa mobil itu. Selama ini, dia tidak pernah tahu kalau istrinya itu bisa membawa mobil. Bahkan mereka memang tidak mempunyai mobil sama sekali, karena keadaan ekonomi mereka yang memang masih terbilang menengah ke bawah. "Kenapa dia bisa bawa mobil sendiri? Apa itu mobil milik nya?" "Mas, kamu jangan tertipu sama perempuan mandul itu, kamu kan tahu sendiri kalau dia gak kerja, bisa dapat dari mana dia mobil bagus begitu?" Tedi merasa bingung, tapi menurutnya itu cukup masuk akal. Karena selama ini hanya dia yang bekerja, Rani hanya diam di rumah. "Mas, sudah lah jangan pikirkan soal mobil itu, palingan dia cuma mau bikin kamu menyesal karena mau nikahin aku, jadi dia pura-pura jadi orang kaya biar kamu mau kembali sama dia." "Ya masuk akal, tidak mungkin Rani punya mobil mahal seperti itu. Sudahlah, nanti juga dia akan kembali kepada ku, dia kan tidak punya tempat untuk kembali. Lagi pula dia itu seorang yatim piatu." Rani memang seorang anak yatim piatu, yang begitu pintar, dia lulus kuliah dengan cumlaude, bukan hanya Strata satu (S-1) tapi sampai Strata dua (S-2). Tedi tahu jika Rani lulusan S-2, tapi dia bahkan tidak mengerti istri nya itu mengambil jurusan apa. Entah memang karena tidak mengerti, atau memang sama sekali tidak ingin tahu tentang istrinya itu. Yang jelas, dia benar-benar hanya menganggap itu tidak begitu penting untuk hidup nya. Dengan tidak tahu malu, Tedi dan Indi kembali ke dalam kontrakan Indi itu, padahal para tetangga sudah melihat dan menyaksikan apa yang terjadi sebenarnya. Bisik-bisik dari para tetangga itu kian terdengar jelas, bahkan ada makian untuk mereka berdua. "Dasar laki-laki bre***ek, tidak tahu malu. Ternyata si Indi yang sok cantik itu pelakor mura**n, kita gak boleh biarin dia tinggal di sini." "Iya benar bu, kita harus minta kepada pemilik untuk usir mereka. Kita gak mau kena sial, karena perbuatan hina mereka." Tedi mendengar dengan jelas semua makian dari para tetangga, dia hanya menunduk karena memang merasa salah. Tapi lain dengan Indi, dia sama sekali tidak punya rasa malu, bahkan dia malah menantang ibu-ibu yang membicarakan nya. "Hei tukang gosip, gak usah deh kalian ikut campur urusan orang. Lebih baik kalian urusi hidup kalian masing-masing, hidup masih miskin aja belagu." Seorang ibu muda berbaju biru tua langsung maju, dan menjambak rambut Indi. Dia tidak terima dengan penghinaan yang dikatakan Indi pada mereka. "Dasar pelakor gak tahu diri, kalau kita miskin, terus elu apa hah, pengemis? Udah gak punya malu, gak punya adab, gak punya otak lagi. " "Aaaaargh, lepasin dasar cewek sia**n." Dan aksi jambak menjambak pun tidak terelakkan.Seorang laki-laki berwajah Eropa datang menghampiri Rani. Dia tak mengenal orang itu, wajahnya begitu asing juga. Yang aneh, pria itu pasih berbahasa Indonesia. "Boleh kenalan?" Ulangnya. Rani tak menggubris orang tersebut, dia berjalan meninggalkan pria asing itu memanmtung di tempat. Rani benar-benar tak ingin berurusan dengan pria manapun, dia hanya ingin fokus pada pernikahan sahabatnya saja untuk saat ini. Pria itu tak tinggal diam, dia mengikuti Rani di belakangnya. "Hai gadis cantik, aku mau kenal sama kamu. Nama kamu siapa?"Rani tak berhenti sama sekali, dia segera menghampiri Raline. "Kemana aja sih lu? Gue cariin juga." "Gue tadi abis periksa di bagian sana, takut ada yang kurang." Ucap Rani. "Ngapain sih, gak usah capek-capek. Lu di sini cukup dampingin gue doang, biarin itu jadi tanggung jawab WO." Rani hanya mengangguk, tak lama setelah itu pria yang tadi mengajaknya berkenalan, datang menghampiri mereka. "Hai Raline, congrats ya. Semoga jodoh lu ini sampe mau
Persiapan pernikahan, sudah delapan puluh persen. Dan tentu saja, Rani juga terlibat di dalam nya. Dia tidak ingin melewatkan, momen paling berharga sahabatnya itu. "Ran, menurut lu pernikahan ini bakal langgeng gak ya?" Pertanyaan Raline yang tiba-tiba, membuat Rani sedikit syok. Rani kesulitan mencerna pertanyaan Raline. "Rani, kok lu malah bengong, bukan nya jawab juga." Raline yang tidak mendapat respon dari Rani, segera menggoyangkan tangan di depan wajah Rani. "Kenapa lu nanya hal yang negatif begitu sih? Amit-amit deh, gue yakin kalau kehidupan rumah tangga lu bakalan langgeng sampai maut memisahkan." Ucap Rani sambil mengusap bahu Raline. "Jangan jadikan pernikahan gue sebagai cermin, gue emang gagal dalam rumah tangga. Tapi bukan berarti, itu semua akan terjadi sama lu juga." Tambah Rani. "Gue cuma takut aja Dan, dulu gue sama sekali gak percaya sama namanya hubungan romantis, entah itu pacaran atau bahkan menikah. Menurut gue, itu semua cuma buat ngiket cewek." Jelas R
Suasana nya begitu hangat, Rani begitu bersyukur melihat Raline yang akhirnya bisa jatuh cinta. "Sebenernya kita ke sini juga merupakan ngomong sesuatu sama kamu Ran." Ucap Raja. Raline langsung menegur Raja. "Ngomong apaan sih kamu!" Raja tersenyum manis ke arah Raline, tatapan penuh cinta dan ketulusan. "Udah lah gak usah maen rahasia-rahasiaan segala. Gue udah tahu kok, kalo lu sama Raja udah jadian, dan gue seneng banget akhirnya lu bisa buka hati lu juga." Raline merasa terkejut, tidak menyangka jika Rani sudah tahu semuanya, dia langsung menatap Raja dengan tatapan tajam. Yang ditatap, malah mengedikkan bahu, tanda dia sama sekali merasa tidak bersalah. "Gak usah marahin Raja, dia gak ngomong apa-apa. Gue yang tahu sendiri, ngelihat tingkah lu aja gue bisa tahu semuanya." Raline langsung merasa bersalah terhadap Rani, di saat Rani kehilangan pasangan nya, dia malah berpacaran dengan sahabat masa remaja Rani. "Ran, maafin gue ya. Gue gak bermaksud nutupin ini d
Di perusahaan yang Rani dan Raline pimpin saat ini, sedang terjadi lonjakan pesanan dari beberapa perusahaan Mitra. Mereka cukup sibuk dengan itu, belum lagi Rani yang semakin terkenal dengan design nya. Banyak dari manca negara yang mengajukan permohonan kerja sama dengan dirinya. Rani tidak serta merta menerima semua tawaran yang masuk, dia selalu menyeleksi dengan sangat teliti. Dia tidak ingin mendapatkan Mitra yang tidak bertanggung jawab. Dalam urusan pekerjaan memang Rani lah ahlinya, dia tidak membiarkan sedikitpun celah yang akan membuat pesaing mengunggulinya. Hal ini membuatnya menjadi seseorang yang cukup perfecstionist, dan mengharuskan bawahannya untuk melakukan hal yang sama. Perusahaan design Rani, semakin terkenal. Tapi tidak serta merta membuat Rani menjadi lupa diri. Semakin besar uang yang dia dapat setiap bulan nya, semakin besar pula sedekah yang dia keluarkan. Menyantuni anak yatim piatu, itu adalah agenda rutin Rani. Dia paham betul, bagaimana
Setelah seharian menghabiskan waktu di luar, akhirnya kembali lagi ke rumah mereka. Raline meletakkan semua barang belanjaan nya di atas meja ruang tamu. "Ran, coba lihat ini punya kamu yang sebelah kiri. Punya aku kantong yang sebelah kanan, kamu harus cobain semuanya oke." Rani melongo, karena
Motor milik Rani, sudah selesai di service. Tedi sudah menunggu kedatangan Rani, dia benar-benar tertarik dengan nya. Wanita cantik, berpendidikan tinggi. Dia yakin, jika dia bisa mendapatkan perempuan seperti Rani, kelak anak-anak nya akan cerdas dan cakap seperti ibunya. Rani sampai di bengk
Rabu, dua puluh tujuh September empat tahun lalu. Pertama kali nya Tedi melihat Rani, saat dia sedang bekerja di bengkel motor milik teman nya. Saat itu, Rani mendorong motor matic nya yang mogok. Dan kebetulan, bengkel itulah yang paling dekat dengan tempat nya saat itu. Rani yang mempunyai t
"Apa maksud kamu, aku baru menjatuhkan talak satu sama kamu. Kita masih bisa rujuk kembali, kamu gak usah ngambek lagi ya." Bujuk Tedi dengan tidak tahu malu nya. Wajah Indi sudah berubah menjadi gelap, dia merasa dipermalukan oleh sikap Tedi yang terus memohon kepada Rani. "Sudah Mas, ngapain ka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.