MasukBu Tika tak langsung bergerak, ia ingin menikmati sensasi penyatuan dulu. Sambil menikmati sensasi penyatuan, Ia menundukkan kepalanya, lalu mencium bibir Joko dengan ganas.
Joko langsung menanggapi ~ dengan ciuman yang tak kalah ganas. Setelah di rasa cukup, Bu Tika menarik bibirnya dan mulai menggoyangkan pinggulnya. Baru saja goyangan itu di mulai, Joko sudah bisa merasakan rasa nikmat dari goyangan itu. "Ahhh... ahh, Bu... goyanSampai di samping mobil, Nadya memeluk Joko. "Jo, makasih yah, kalau tadi kamu gak bersikeras mau tidur satu kamar, mereka pasti sudah berhasil," ucapnya dengan suara serak. Joko ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya dia membalas pelukan Nadya. "Ini pelajaran buat kamu. Mulai sekarang kamu harus lebih waspada, apalagi kalau lagi di luar," balas Joko. Sonya memeluk tangan Joko. "Wanita cantik memang sering mengundang masalah," ucapnya. "Nah, benar banget! Coba kalau kalian jelek, mau menawarkan diri pun pasti sulit," ujar Joko. "Aku gak nyangka, wanita tua yang kelihatan baik itu akan melakukan hal seperti itu," ucap Nadya. "Yang kelihatannya baik belum tentu baik, yang kelihatannya jahat belum tentu jahat. Kamu harus belajar lagi cara menilai orang. Jangan sampai kamu menilai orang lain baik, karena penampilannya kelihatannya baik," Joko menasihati. Nadya mengangguk. "Sudah, ayo k
Joko membawa kedua wanita itu pergi ke kamar yang tidak jauh dari sana. Pintu kamar itu tidak memiliki penutup. Di dalamnya, hanya ada satu kasur yang cukup untuk dua orang. Nadya melepaskan tangan Joko, lalu berkata dengan ekspresi kesal. "Jo, jangan bilang kamu mau macam-macam." "Nggak, aku gak bermaksud gitu. Aku cuma waspada saja!" balas Joko dengan suara pelan. "Jo, jangan berpura-pura. Kenapa harus waspada segala! Sudah jelas di sini aman!" ucap Nadya dengan suara dingin. "Sebaiknya, kamu pergi ke kamar lain!" tegas Nadya. "Nad, walau di sini kelihatan aman, tapi waspada itu harus!" ucap Joko dengan serius. "Nona, aku setuju sama jagoanku ini," sahut Sonya sambil bergelayut manja. Nadya menatap Sonya dengan tatapan tajam. "Kamu setuju, gara-gara kamu mau dekat-dekat sama dia kan?" "Nona, bukannya aku mau dekat sama jagoanku ini, tapi jaga-jaga itu lebih baik!" ucap Sonya.
Sonya mendekatkan bibirnya ke telinga Joko. "Nanti, kamu gosok sama remas yah!" bisiknya dengan nada menggoda. Karena bisikan itu, Joko semakin panas. Bahkan, batang miliknya sudah tegak sempurna. "Wanita ini benar-benar sangat menggoda. Dia serius gak yah? Kalau serius... aku benar-benar gak akan nolak!" gumam Joko di dalam hati. "Aku juga akan bantu kamu. Nanti aku gosok punggungmu, pakai... punyaku ini," Sonya berkata kembali sambil membusungkan dadanya. "Kamu gak cuma menggodaku kan?" tanya Joko sambil melingkarkan tangannya di pinggang Sonya. Nafasnya menjadi lebih cepat. Sonya tidak menjawab. Wanita itu hanya menatap Joko sambil memasang senyum nakal, seolah sengaja membiarkan pria itu menebak isi pikirannya.Tangan Joko perlahan mengelus pinggang Sonya dan naik ke atas. Saat tangannya itu akan sampai di area sisi semangka besar itu, tangan Sonya dengan cepat menangkapnya lalu menyingkirkannya."Kalau mau nyentuh, bilang saja! Jangan diam-diam gitu dong," ucap Sonya dengan
Di sebuah ruangan mewah, terlihat pria muda berambut putih dan berparas cukup tampan sedang duduk. Di bawahnya, terlihat seorang wanita seksi sedang berlutut dan tangan wanita itu sibuk memainkan batang pria itu. "Ahhh... masukkan ke dalam mulutmu!" ucap pria itu dengan ekspresi menikmati. Wanita itu memasukkan batang pria itu ke dalam mulutnya dan mengulumnya. "Ahh... bagus! Jalang, kulumanmu memang sangat nikmat!" ucap pria itu dengan ekspresi sangat menikmati. Saat sedang enak-enaknya, ponsel yang tergeletak di meja samping berdering tanda ada penelepon. Pria itu meraih ponselnya, tanpa melihat siapa yang menelepon ~ dia menjawab telepon itu. "Tuan... Tuan Muda, gagal kita gagal!" terdengar suara lesu seorang pria di telepon. Pria itu menghentikan wanita yang sedang mengulumnya. Ekspresinya berubah menjadi serius. "Apa, apa yang gagal?" tanya pria itu dengan suara keras. "Kita gak berhasil menangkap Nona Nadya. Dia punya pengawal yang kuat! Kita semua di kalahkan pengawaln
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Kota. Nadya memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu di sebuah restoran. Joko masih tertidur pulas."Nona, kita mau makan dulu?" tanya Sonya."Bungkus makanan saja. Kita makan nanti saja kalau Joko sudah bangun. Kasihan, dia nyenyak banget," balas Nadya."Jadi kita mau langsung ke lokasi tambang? Di sana gak ada penginapan lho," ucap Sonya."Kalau kita menginap di sini, takutnya ada musuh yang datang. Joko masih kelelahan sekarang. Kita jalan terus saja, nanti tidur di mobil juga gak masalah," balas Nadya.Sonya mengangguk setuju. Kemudian, dia turun dari mobil dan pergi masuk ke restoran itu. Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa beberapa kotak makanan."Aku beli 6 porsi. Sekalian buat makan malam kita. Takutnya di sana gak ada yang jual makan," ucap Sonya sambil menyalakan mobil.Nadya mengangguk. "Nanti mampir dulu ke supermarket. Beli beberapa makanan ringan!" ucapnya.Sonya mengangguk, lalu dia melanjutkan mobil itu.===Matahari pe
Joko mengeratkan semuanya tenaganya yang tersisa untuk menghindari serangan itu. Dia sedikit mundur dan menarik tubuhnya ke samping. Pada akhirnya di berhasil menghindari serangan itu. "Bajingan tua! Kau berani sekali menyerang diam-diam!" teriak Joko dengan ekspresi marah. Dia menerjang pria tua itu dengan ganas. Pria tua itu pun menyerang Joko dengan belati tajam itu. Joko menangkap tangan pria tua itu, lalu menendang perutnya dengan keras. Pria tua itu terpental beberapa meter dan belati itu pun terjatuh. Joko berlari, lalu meraih belati itu. Setelah itu, dia menerjang pria tua itu. Melihat itu, wajah pria tua itu sepucat kertas, dia buru-buru bangkit ~ ingin melarikan diri. Namun Joko tak membiarkan itu terjadi, dia meraih leher belakang pria tua itu."Kau... mau apa kau?" teriak pria tua itu dengan panik.Sorot mata Joko dingin dan setajam belati yang di pegangnya. Dia membalikkan tubuh pria tua jadi menghadapnya. "Bajingan tua, kalau aku telat menghindar, aku pasti tertusuk
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







