LOGINSetelah kapaknya terlepas dan kekuatannya terbukti kalah jauh, Komandan Rendra berdiri diam di tempatnya, napasnya memburu dan pandangannya tidak lagi berani menatap lurus ke arah Banga. Ia tahu bahwa perlawanan lebih lanjut hanya akan membawa kematian yang sia-sia, dan kebenaran tidak bisa lagi disembunyikan. Dengan suara yang lebih rendah dan tidak sekeras sebelumnya, ia mulai berbicara, seolah membebani hatinya yang selama ini menyimpan rasa tidak tenang. “Benar… aku ikut serta dalam penyerangan itu. Ketika perintah resmi datang dari pusat, aku diminta mengerahkan pasukanku untuk memblokir semua jalan keluar dari wilayah Klan Adikara, memastikan tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri.” Ia mengangkat wajahnya sebentar, lalu segera menunduk lagi seolah menghindari tatapan yang tajam. “Namun perlu kau dengar, aku hanya menjalankan tugas yang diberikan. Jika aku menolak perintah istana, maka bukan hanya aku yang akan dihukum, tapi juga seluruh keluargaku dan anak buahku. Ka
Saat malam beranjak dini hari, Banga bangkit dan melangkah masuk melewati pagar kayu di bagian belakang markas. Tanpa suara, ia mendarat di atas tanah basah yang berbau garam dan lumpur. Cahaya remang dari obor-obor itu hanya cukup untuk membayangi sosoknya, bukan menampakkannya.Namun gerakan itu tidak luput dari pengawasan terakhir. Dua penjaga yang sedang memeriksa muara sungai segera berteriak keras, “Ada penyusup! Tangkap dia!”Suara itu menggema, dan dalam hitungan detik seluruh markas bergemuruh. Pintu bangunan utama terbuka lebar, dan keluar puluhan prajurit bersenjata tombak, pedang, serta perisai. Di depan mereka berdiri seorang lelaki bertubuh tegap, berambut pendek, mengenakan baju besi lapisan tebal dan memegang kapak perang yang besar. Komandan Rendra, pemimpin pasukan pesisir yang dikenal kejam dan bengis.“Siapa yang berani menyusup ke tempat ini?” bentak Rendra, suaranya menggelegar menutupi suara ombak. “Kau sendirian? Apa kau tidak tahu tempat ini dijaga lebih dari
BAB 41. Menuju Markas di Tepi Laut Setelah menyelesaikan urusan di perkampungan dan memastikan warga menerima bagian yang menjadi hak mereka, Banga tidak berlama-lama di sana. Ia tahu bahwa pasukan istana akan segera menyebar ke seluruh jalan utama, sehingga ia harus memilih jalur yang lebih jauh namun lebih aman. Pilihannya jatuh ke arah pesisir pantai — wilayah yang jarang dilalui orang, menjadi tempat berdirinya markas besar pasukan yang bertugas mengawasi seluruh pergerakan penduduk dan arus barang masuk ke daerah itu. Perjalanan memakan waktu dua hari penuh. Ia menyusuri jalan setapak di tepi hutan, melintasi sungai dangkal, dan bergerak hanya saat malam tiba agar tidak terlihat oleh patroli yang mulai bertebaran. Di siang hari, ia bersembunyi di gua-gua kecil atau di balik rimbunnya semak belukar, menggunakan tenaga dalamnya untuk menenangkan napas dan memulihkan kekuatan tanpa perlu banyak istirahat. Malam itu ia mulai mencium bau garam dan mendengar suara deburan ombak yan
Jauh di seberang pegunungan, di lembah yang lebih sejuk dan tertutup kabut, berdiri Akademi Han Barat — tempat ilmu pengobatan, strategi, dan seni bela diri yang lebih halus diajarkan. Di sanalah Mahira menghabiskan tujuh tahun terakhir, mengasah ketajaman pikiran dan kepekaan hati yang menjadi ciri khas keluarganya.Ia sedang merapikan gulungan catatan tanaman obat saat seekor merpati pos terbang masuk lewat celah jendela, sayapnya sedikit lelah setelah perjalanan jauh. Begitu melihat tanda lilin di kaki burung itu, jantungnya berdegup kencang — itu adalah lambang yang hanya digunakan oleh keluarga besar Klan Adikara dan kerabat dekatnya.Setelah membuka dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Abiyasa, wajah Mahira memucat perlahan. Kata-kata yang tertulis jelas menyebutkan nasib klan, kebangkitan satu-satunya keturunan yang tersisa, dan panggilan bagi siapa saja yang masih memiliki ikatan darah dan janji.Nama Banga terlintas seketika di benaknya.Sejak kecil, mereka tumbuh b
Setelah meninggalkan Akademi Han Timur, Abiyasa tidak hanya bergerak sendirian. Sebelum melintasi pegunungan menuju wilayah barat, ia mengirimkan beberapa ekor merpati pos yang terlatih—yang biasa digunakan klan untuk berkomunikasi secara rahasia selama seratus tahun terakhir. Setiap burung itu membawa gulungan kecil yang disegel dengan lilin berukir lambang Klan Adikara, ditujukan kepada teman-teman dan kerabat dekat yang juga sedang menuntut ilmu atau menetap di berbagai daerah.Pesan yang tertulis di dalamnya singkat, tidak berlebihan namun menyampaikan maksud yang jelas: “Darah kita telah tumpah, nama kita diinjak-injak, dan janji seratus tahun telah gugur. Jika kau masih menganggap bagian dari klan ini, kembalilah. Kita tidak datang untuk memulai perang, tapi untuk menegakkan kembali harga diri yang telah dirampas.”Surat pertama sampai ke tangan Kala, seorang pemuda tangguh yang tinggal di desa pertanian di daerah selatan. Ia sedang memeriksa ladang saat merpati itu mendarat di
Jauh di timur, di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi pegunungan tinggi, berdiri Akademi Han Timur — tempat para pemuda dari berbagai daerah datang untuk mengasah ilmu, kekuatan, dan kebijaksanaan. Di sanalah Abiyasa, sepupu sekaligus saudara seklan Banga, menghabiskan waktu selama tiga tahun terakhir untuk mendalami ajaran leluhur dan seni bela diri tingkat tinggi.Suatu sore, saat ia sedang beristirahat setelah berlatih, seorang pengembara yang baru tiba dari daerah barat menceritakan kabar yang mengejutkan. Di tengah percakapan santai, disebutkan tentang peristiwa di wilayah Kadipaten: kebangkitan sosok yang membawa lambang Klan Adikara, pembalasan terhadap pengkhianat, dan pergerakan kekuasaan istana yang semakin ketat.Nama klan itu langsung membuat telinga Abiyasa terasa lebih tajam. Selama ini, ia hanya mendengar kabar samar bahwa keluarganya hidup dalam damai dan tetap menjaga sumpah yang diwariskan turun-temurun — untuk tidak mencampuri urusan politik dan menahan diri
Banga menginginkan mereka membangun kembali kejayaan klan Adikara, menguasai perekonomian secara arif dan menjadi cendekiawan yang bermanfaat. "Pulanglah kalian ke kampungku," kata Banga. "Jadi perampok bukan pilihan klan Adikara, apalagi merampok uang rakyat, mendingan mati kelaparan. Janganlah
Separuh kampung hangus terbakar, pemandangan yang terlihat hanyalah gundukan abu. Tersisa beberapa gudang rempah dan dikuasai kepala kampung. Licik sekali. Klan Adikara mayoritas tinggal di kampung ini, membuka usaha perkebunan dan pertanian. Beberapa keluarga tinggal di perkotaan, sebagian selamat
Arjuna tiba di perkampungan menjelang makan siang. Pemilik kedai kopi yang biasa dipanggil Pak Tua terkejut melihat kemunculan Banga dengan membawa pedang di punggung. Beberapa warga yang minum kopi di meja panjang memandang khawatir. "Untuk apa anak itu pulang? Cari mati!" "Ia membawa pedan
Sebuah pedang terbuat dari perunggu arsenik tertancap di batu hitam, tampak samar dengan gagang berwarna coklat kekuningan di antara bunga mirabilis berwarna kuning yang bermekaran di senja hari. Pedang itu sudah tertancap ribuan tahun. Dahulu banyak tokoh sakti dari Nusa Kendang berusaha mencabutn







