Setelah cahaya dan suara gaib itu menghilang, Banga masih berdiri mematung, memegang erat Pedang Kalkolitik yang kini terasa menyatu dengan aliran tenaganya. Ia memutar bilahnya perlahan, mengamati setiap lekukan dan ukiran yang terukir halus di permukaannya. "Tidak ada tanda usia yang memudar, tidak ada goresan pertempuran yang terlihat—seolah senjata ini baru saja ditempa kemarin, meski usianya telah melampaui rentang hidup ratusan generasi manusia," ucap Banga. Saat pandangannya kembali jatuh ke arah batu hitam yan menjadi tempat berpijak pedang tadi, matanya menangkap sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat jelas. Di bagian dasar batu, di bekas lubang tempat pedang tertancap, kini terbuka sebuah celah sempit yang tersembunyi rapi selama ribuan tahun. Dinding celah itu berkilau lembut, seolah baru saja terbuka begitu pedang itu dicabut, menampakkan ruang kecil yang tersembunyi di dalamnya. Dengan hati-hati, Banga mendekat kembali. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menyibakkan rum
Read more