Untuk terakhir kalinya Banga melihat puing-puing rumah keluarganya. Ada kepedihan yang sulit dibendung di hatinya. Merobohkan ketegarannya sampai nyaris keluar air matanya. Banga mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan mendekat. Ia segera bersembunyi di balik tumpukan batu yang tersisa, tangannya secara refleks mencengkeram gagang Pedang Kalkolitik. Dari balik kegelapan, muncul sosok seorang lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian lusuh dan berjalan dengan kepala tertunduk, seolah takut dilihat siapa pun. Begitu melihat Banga, lelaki itu terkejut dan hendak lari, namun segera berhenti saat mengenali wajah pemuda itu. “Banga… kau masih hidup?” bisiknya dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia adalah mantan pengurus kebun milik klan Adikara, orang yang setia dan tahu banyak hal yang terjadi di sekitar wilayah itu. Banga segera melangkah keluar dan menenangkannya, “Pak Surya, jangan takut. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Ke mana ayahku, ibuku, dan saudara-s
Read more