Di antara tumpukan lempengan batu dan gulungan daun lontar yang tersusun rapi di ruang rahasia, Banga menemukan satu lembaran tulisan yang terpisah, diletakkan di sudut paling dalam dan tertutup lapisan pelindung yang lebih tebal. Tulisan itu ditulis dengan tinta berwarna merah tua, seolah ingin menonjolkan pesannya agar tidak terlewatkan atau dianggap remeh. Begitu membacanya, hatinya terasa berdebar, dan suasana ruangan seolah menjadi lebih dingin seketika. “Kekuatan ini bukanlah anugerah yang sempurna tanpa syarat,” baca Banga dengan suara pelan. “Ia memiliki dua wajah yang sama kuatnya. Jika hati dipenuhi keadilan, belas kasih, dan ketenangan, pedang ini akan menjadi perisai yang melindungi dan kekuatan yang menyeimbangkan. Namun jika hatimu dikuasai dendam, keinginan membalas, atau rasa benci yang mendalam, maka ia akan berubah menjadi racun yang merasuk ke dalam seluruh jiwa dan ragamu.” Ia terus membaca baris demi baris, dan setiap kalimatnya terasa seperti peringatan yang ber
Read More