MasukCatra sekali lagi melihat wajah kakek gurunya yang berada di kejauhan dengan lekat, sebelum mulai melompat ke atas bebatuan yang menonjol di pinggiran tebing. Untuk keluar dari tempat itu, Catra harus mendaki cukup tinggi. Untungnya dengan Ajian Seribu Langkah membuatnya melangkah tanpa kesulitan.
"Kakek guru, jaga dirimu baik-baik!" gumam Catra dengan wajah penuh kesedihan. Meskipun masih enggan untuk meninggalkan gurunya itu, namun Catra harus tetap melakukannya demi berbakti kepadMentari pagi menyinari Desa Wanasari dengan cahaya keemasan. Embun yang masih menempel di dedaunan berkilau diterpa sinar matahari, sementara suara ayam berkokok bersahut-sahutan dari kejauhan. Di halaman belakang kediaman Janubaya, aroma berbagai tanaman obat memenuhi udara. Catra duduk bersila di samping sebuah meja kayu yang dipenuhi daun, akar, batang, dan berbagai tanaman herbal hasil pencarian mereka kemarin. Di hadapan mereka, Janubaya tengah membersihkan Jamur Tujuh Warna dengan sangat hati-hati menggunakan air dari kendi tanah liat. "Ngger, tahukah kau mengapa paman begitu gembira saat menemukan Jamur Tujuh Warna?" tanya Janubaya tanpa mengalihkan pandangan. “Kenapa memangnya, Paman?” "Karena jamur ini bukan tanaman obat biasa." Janubaya mengangkat jamur itu perlahan. "Konon, Jamur Tujuh Warna menyerap energi alam selama seratus tahun sebelum benar-benar matang. Khasiatn
Langit malam telah sepenuhnya menyelimuti Desa Wanasari ketika Catra akhirnya tiba di halaman kediaman Janubaya. Cahaya lampu minyak yang menggantung di beranda bergoyang pelan diterpa angin, sementara aroma ramuan obat masih tercium samar dari dalam rumah. Begitu melihat sosok Catra muncul dari balik pagar bambu, Janubaya yang sejak tadi mondar-mandir di beranda langsung menghembuskan napas lega. "Syukurlah kau sudah kembali, Ngger." "Maaf membuat paman khawatir." Janubaya mengangguk pelan. "Paman sempat mengira kau tersesat. Hutan itu memang tidak bersahabat saat malam." "Aku hanya sedikit terlambat." Catra tersenyum tipis. Ia memilih menyimpan rapat pertemuannya dengan Cempaka. Bukan karena tidak mempercayai Janubaya, melainkan ia sendiri masih belum memahami siapa sebenarnya siluman ular itu. "Yang p
Catra tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada gadis bergaun putih yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Meskipun wajah gadis itu begitu cantik dan senyumnya tampak ramah, Catra sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya. “Apa kau tidak mendengar pertanyaanku?” tanya gadis itu lagi dengan nada ringan. “Namaku Cempaka. Siapa namamu, Pendekar Tampan?” “Caraka.” jawab Catra singkat. Di hadapan orang yang belum dikenalnya, Catra selalu menggunakan nama samaran. Ia memilih menyembunyikan identitas aslinya demi menghindari masalah yang tidak perlu. “Hanya Caraka?” Cempaka memiringkan kepala. “Nama yang sederhana.” Catra mengangguk pelan. “Hanya Caraka.” Cempaka memicingkan mata beberapa saat, seolah sedang menimbang apakah nama itu benar atau sekadar nama samaran. Namun akhirnya ia hanya mengangkat bahu. “Baiklah, Caraka.
"Kau sudah bangun Sekar?" sapa Catra saat melihat gadis itu keluar dari kediaman Janubaya di pagi-pagi buta. Ia mencoba memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka semalam. Sayangnya Sekar tak menggubrisnya bahkan bersikap seolah-olah tak melihat siapapun di sana. Ia kemudian mendengus dingin sebelum kembali melangkah masuk. Catra yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut, untungnya ada Janubaya yang segera datang menghampiri. Sesuai janji semalam, Catra akan menemani Janubaya mencari bahan untuk membuat obat-obatan di hutan belakang perbukitan sekitar desa ini. "Ngger, apa kau mengetahui tentang bahan-bahan yang bisa diracik menjadi obat?" tanya Janubaya penasaran. Ia masih mengingat cerita Sekar yang mengatakan bahwa Catra memberinya ramuan penawar ketika terkena racun. "Sedikit paman, aku mempelajarinya dari kakek guru." Catra berbohong karena sebenarnya ia telah belajar banyak dari Wisnu Aji. Hanya saja Ca
Catra dan Sekar mendengarkan cerita Janubaya sampai habis tanpa memotongnya sedikitpun. Sebagian informasi yang keluar dari mulut pamannya itu sudah pernah Sekar dengar dari mahagurunya, jadi hanya sedikit yang membuatnya tertarik.Berbeda halnya dengan Catra yang merasa sangat terkejut ketika mengetahui isi dari Kitab Tribala, pusaka yang diincar semua orang dari dunia persilatan.Menurutnya sangat wajar kalau kitab ini menjadi perebutan banyak orang karena di dalamnya mencatat tiga ilmu kanuragan yang begitu maha dahsyat.Sesuai namanya, Kitab Tribala terbagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah mempelajari Ilmu Pertahanan Tubuh, yang mana akan membuat penggunanya memiliki pertahanan yang sangat kuat sehingga sulit ditembus oleh musuh. Ilmu ini mirip dengan Jurus Tubuh Baja yang pernah Catra hadapi, namun muncul sebagai penyempurnaan dari teknik tersebut, yang dinamakan Tubuh Emas.Selain memperkuat pertahanan tubuh, pada bagian ini juga mencatat
Kondisi Sekar memang berangsur pulih dalam waktu singkat setelah meminum ramuan yang Janubaya berikan. Bisul-bisul di sebagian tubuhnya juga menghilang, hanya meninggalkan bercak-bercak merah seperti sebelumnya."Paman tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, andai saja bahan-bahannya cukup, maka kau bisa pulih sepenuhnya." Janubaya masih tidak puas dengan hasil pengobatannya. Bukan hanya Sekar, tapi warga Desa Mandian Bulan pun belum sepenuhnya terbebas dari racun tersebut. Janubaya hanya membantu mencegah agar racun itu tidak menjalar lebih jauh dengan menetralisirnya."Sekarang aku akan mengajak kalian menemui bibimu. Ia sangat ingin bertemu denganmu."Sekar mengikuti Janubaya, begitu juga dengan Catra yang berjalan di belakangnya. Sekarang mereka sudah berada di ruang tamu, yang di sana ada seorang perempuan tampak berusia tiga puluh tahunan dengan seorang anak laki-laki."Nimas, ini adalah keponakanku, Sekar yang pernah aku ceritakan padam







