LOGINArya dan Sekar Arum ditempatkan dalam ruangan yang sama, namun berbaring di tempat tidur berbeda. Melati tidak khawatir meninggalkan mereka berdua saja karena sebenarnya Arya dan Sekar Arum masih memiliki hubungan, begitu juga dengan Melati yang mengenal gadis itu.
Di kamar tempat mereka beristirahat, Sekar Arum sudah bisa berdiri meskipun tubuhnya masih lemah. Arya juga sudah sadarkan diri, ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih karena tenaga dalamnya di bawah milik SekarKondisi Sekar memang berangsur pulih dalam waktu singkat setelah meminum ramuan yang Janubaya berikan. Bisul-bisul di sebagian tubuhnya juga menghilang, hanya meninggalkan bercak-bercak merah seperti sebelumnya."Paman tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, andai saja bahan-bahannya cukup, maka kau bisa pulih sepenuhnya." Janubaya masih tidak puas dengan hasil pengobatannya. Bukan hanya Sekar, tapi warga Desa Mandian Bulan pun belum sepenuhnya terbebas dari racun tersebut. Janubaya hanya membantu mencegah agar racun itu tidak menjalar lebih jauh dengan menetralisirnya."Sekarang aku akan mengajak kalian menemui bibimu. Ia sangat ingin bertemu denganmu."Sekar mengikuti Janubaya, begitu juga dengan Catra yang berjalan di belakangnya. Sekarang mereka sudah berada di ruang tamu, yang di sana ada seorang perempuan tampak berusia tiga puluh tahunan dengan seorang anak laki-laki."Nimas, ini adalah keponakanku, Sekar yang pernah aku ceritakan padam
Catra dan Sekar baru mendapat giliran saat hari sudah mulai gelap, ketika semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Kedatangan mereka disambut dengan senyuman hangat oleh seorang anak laki-laki."Jati, apakah masih ada pasien yang mengantri?" tanya seseorang dari dalam."Iya, ayah. Mereka pasien yang terakhir." balas bocah yang bernama Jati itu."Suruh mereka masuk,""Baik, ayah." Bocah itu memandang Catra dan Sekar sebentar sebelum mempersilahkan mereka memasuki rumahnya.Catra tersenyum lebar sementara Sekar tampak memperhatikan wajah bocah itu. "Kalau bocah ini memanggil paman dengan sebutan ayah, berarti…" ia larut dalam pikirannya sendiri. Sekar baru tersadar saat Catra menurunkannya dari gendongannya."Silahkan, pasien untuk berbaring di sini." ujar pria yang sedang berdiri membelakangi Catra dan Sekar, terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk mengobati pasiennya.Melihat Sekar yang belum j
Catra dan Sekar sedang istirahat di tepi sungai untuk membersihkan tubuh mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak keduanya berurusan dengan para bandit, dan untungnya kondisi Sekar sudah berangsur pulih.Mereka memang sengaja tidak beristirahat di pedesaan atau kota, untuk menghindari ada orang yang mengenali Sekar, mengingat lukisan wajahnya sudah tersebar di mana-mana. Saat ini mereka enggan berurusan dengan Pembunuh Bayang Darah kalau tidak dalam keadaan terpaksa.Saat Sekar ingin menciduk air untuk diminum karena merasa haus, ia dikejutkan oleh penemuan sesosok tubuh yang mengapung di tengah-tengah sungai."Raka lihat itu, ada mayat!" Sekar menunjuk ke satu arah yang diikuti oleh Catra.Tanpa menunggu perintah dari Sekar, ia sudah menggunakan Ajian Seribu Langkah untuk membawa mayat itu ke tepian sungai. Catra berjalan di atas air tanpa hambatan seolah itu adalah padang yang luas.."Kau benar, pria ini memang sudah meninggal." Catra
"Menebas Langit Membelah Samudra!"Teknik kedua dari Pedang Tengkorak ini berisikan dua gerakan, saat pedangnya diangkat tinggi-tinggi ke atas, maka melepaskan cahaya hitam pekat yang bergerak cepat ke arah targetnya.Ekawira menyadari serangan yang dilancarkan Catra sangat berbahaya, sehingga meski tubuhnya sekeras baja, tapi ia tak berniat untuk menahannya secara langsung. Ekawira memilih untuk melemparkan tubuhnya ke samping.Keputusan yang diambil Ekawira sangat tepat, karena pada tempatnya berdiri sebelumnya secara tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang begitu keras, bahkan menciptakan lubang yang sangat besar pada dinding gua di belakangnya.Ekawira mengerutkan kening, tidak menyangka Catra memiliki teknik pedang setinggi ini. Kalau saja serangan itu berhasil mendarat di tubuhnya, sudah pasti ia akan kehilangan nyawa.Meskipun berhasil menghindari serangan tersebut, tidak semerta-merta membuat Ekawira menjadi aman karena Catra sudah
"Ketua," jerit para bandit, mereka ingin bergerak membantu Ekawira namun secara tepat waktu Sekar melompat ke hadapan mereka untuk menghalau. Ia menghunuskan pedang, seolah berkata siapapun yang berani maju selangkah lagi maka Sekar akan memenggal kepala mereka. Hal itu membuat mereka tak berani bergerak lebih jauh.Para bandit sudah melihat sendiri kemampuan Catra, jadi mereka menebak kemampuan gadis ini juga tidak kalah mengerikannya.Di alam bawah sadar, Ekawira sedang berbicara dengan sesosok gumpalan hitam yang melayang di udara."Kenapa kau memanggilku kemari? Bukankah sebelumnya aku sudah memberimu kekuatan yang besar!""Maaf Yang Agung, tapi sekarang nyawaku dalam bahaya. Aku telah dikalahkan oleh seseorang.""Jadi, apa yang kau inginkan?""Aku… tolong berikan aku kekuatan yang lebih besar lagi."Suasana menjadi hening setelah Ekawira berkata demikian, sebelum gumpalan hitam itu kembali bersuara."Member
"Apa yang terjadi?" bisik pelan Catra saat dirinya sudah berada di samping Sekar, setelah membantunya mengalahkan beberapa musuh yang mengepung gadis itu."Maaf, tapi mereka menyadari penyamaranku." Sekar bereaksi datar, sebab fokusnya saat ini mengarah pada komplotan bandit yang mulai mengerumuni keduanya dengan masing-masing golok yang diarahkan kepada mereka."Tidak apa-apa," Catra tak menyalahkan Sekar, walaupun keadaan ini tidak seperti yang mereka rencanakan, namun Catra yakin bisa mengatasinya. Lagipula keadaan seperti ini akan terjadi cepat atau lambat.Bersamaan dengan itu, komplotan bandit membukakan jalan untuk seseorang yang baru saja datang. "Ketua!""Bagus!" Ekawira bertepuk tangan dengan kondisi setengah sadar karena masih dalam kondisi mabuk. "Selama ini tidak ada seorangpun yang berani mengganggu ketenanganku disini, tapi karena kalian sudah datang, maka tidak usah berpikir lagi untuk kembali. Aku akan menjadikan tubuh kalian per







