LOGINZero selalu jadi bahan olok-olok teman-teman karena dia begitu yakin, bahwa suatu hari dia akan menjadi seorang Pendekar Pedang Terhebat. Mereka tidak percaya, karena kemampuan pedang bocah 10 tahun itu sangat buruk. Tak hanya itu, bahkan identitas Zero yang dicap tak jelas asal usulnya pun turut menjadi bahan perundungan. Dia yang hanyalah yatim piatu, tetapi diasuh oleh seorang Master Pedang membuat teman-temannya iri diam-diam. Suatu hari, Zero dikagetkan dengan identitas ayahnya yang ternyata merupakan salah satu Pendekar Pedang Terhebat. Motivasi dan semangat Zero untuk bisa menyabet gelar tersebut semakin kuat. Namun, untuk menjadi seorang Pendekar Pedang Terhebat tersebut, Zero harus mampu menghadari berbagai rintangan. Lantas, apakah bocah yang dicap memiliki kemampuan buruk itu sanggup melewati setiap rintangan? Lalu, apakah dia benar-benar akan berakhir menjadi Pendekar Pedang Terhebat?
View MoreWatch this,” I said, my voice steady as I stepped onto the stage in that blood-red gown. The spotlight hit me hard. Two hundred of the most influential people in the room turned my way.
I tapped the tablet once.
The giant screens behind me exploded. Bank records. Contracts. Photos of dead bodies. Every dirty secret stamped with the Volkov name.
Gasps ripped through the ballroom. Someone dropped a champagne glass. It shattered loud against the marble floor.
“Ladies and gentlemen,” I spoke into the mic, letting the words cut sharp, “tonight we stop pretending. Luciano Volkov isn’t some respected businessman. He’s a killer, and his family has spilled enough innocent blood.”
My eyes found him immediately.
Luciano Volkov stood dead center in the crowd, tall and still in his black tuxedo. Those cold eyes locked on mine. No panic. No shouting. Just that slow, dangerous tilt of his head like he was already planning how to make me pay.
“You’ve got some nerve, Seraphina,” a voice boomed from the side. One of his captains. “This peace gala was supposed to end the fighting.”
“Peace?” I laughed, short and bitter. “Your boss’s family murdered my mother. There is no peace until every Volkov pays for what they...”
Murmurs grew louder. People shifted in their seats. I could feel the tension climbing, thick enough to choke on.
Then the lights flickered.
Once. Twice.
A single gunshot cracked through the air.
Screams erupted everywhere. I dropped low behind the podium as more shots rang out. Masked men in black gear burst through every door, weapons raised. Bullets tore into the crowd. A senator seated three feet from the stage jerked backward, blood spraying across his white shirt.
“Get down!” someone yelled.
I tried to run for the side exit. My heel caught on the stage edge and I stumbled. Another explosion rocked the building. The blast threw me forward. Heat blasted my back. Glass from the chandeliers rained down like knives.
Strong hands grabbed me from behind, yanking me hard against a solid chest. A man’s voice growled right next to my ear.
“Move, damn it!”
I twisted, ready to fight, but more gunfire cut off any chance. The stranger dragged me toward the service door as the second blast hit. Smoke filled my lungs. My ears rang so loud I could barely hear the chaos.
We burst into a narrow hallway. I finally got a good look at him.
Luciano Volkov.
Of course it was him.
“Let go of me!” I snapped, trying to pull my arm free. My heart hammered against my ribs.
He didn’t loosen his grip. “You started this, Seraphina. Now shut up and run if you want to live.”
We pushed through a side exit into the pouring rain. His black car waited with the engine running. Two of his men stood guard, guns drawn.
Luciano shoved me into the backseat and climbed in right after. The doors slammed shut. The car peeled out fast, tires screaming on wet asphalt.
I lunged for the opposite door handle.
His hand shot out and slammed it closed. In the next breath he had me pinned against the leather seat, his forearm pressed across my chest. Rain streaked down the windows. London lights blurred past us.
“You really thought you could humiliate me in front of everyone and walk away clean?” he said, voice low and rough. His face was inches from mine. I could see the rain dripping from his dark hair.
“I thought I’d finally make you pay for what your family,” I shot back, breathing hard. “Don’t act like your hands are clean, Volkov.”
He laughed once, cold. “My hands? Your precious DeLorenzo empire has just as much blood. But right now someone else is trying to kill us both. You feel that?”
Another explosion echoed in the distance behind us. Sirens wailed closer.
I glared at him, chest tight. “If this is some trick…”
“It’s not.” His eyes bored into mine. “You just placed a target on both our backs. Congratulations.”
The car swerved hard around a corner. I grabbed his arm without thinking. For a second neither of us moved. Hate burned between us, hot and alive. His body pressed against mine felt too solid, too real.
I hated it.
I hated how part of me didn’t want him to pull away.
“Get off me,” I whispered.
He held on a moment longer, then slowly sat back. But his stare never left my face.
My ruined red gown clung to my skin. Rain and smoke and someone else’s blood stained everything. The city lights flashed across Luciano’s sharp features as we sped through the night.
I had come to destroy him.
Now we were trapped in the same car, running from the same bullets.
And I had no idea who had just turned my perfect plan into a bloodbath.
The phone in his pocket buzzed. He glanced at the screen, jaw tight.
“What is it?” I demanded.
He turned the screen toward me. A message glowed there.
Both families will burn tonight. The Swan sends its regards.
Luciano looked at me, eyes dark.
“Looks like your little show just invited a bigger monster to the party, Seraphina.”
Before I could answer, the car jolted violently. Gunfire erupted again from behind us. Bullets pinged off the armored doors.
“Drive faster!” Luciano barked.
I gripped the seat, heart racing as more shots rang out in the rain.
We weren’t safe.
Not even close.
Dengan memusatkan kekuatannya pada telapak tangan, Orion mengumpulkan energinya kemudian ia langsung melancarkan serangan terkuatnya ke arah Thanos. Saat tubuh Thanos yang terkena serangan Orion, tubuhnya langsung hilang menjadi serpihan debu."Sepertinya aku hanya bisa melakukan sebatas ini saja, Zero. Kalau begitu aku akan kembali beristirahat." Orion kemudian kembali masuk ke dalam pedang.Akan tetapi, baru saja Zero merasa senang bahwa satu musuhnya telah berhasil dikalahkan oleh Orion, Raja Kegelapan akhirnya muncul!Suasana jadi terasa lebih mencekam saat sosok Raja Kegelapan hadir di tempat itu. Bahkan, kedua kaki Zero terasa seperti ada tekanan yang beratnya seperti gunung saat merasakan tekanan yang sangat kuat yang sengaja dipancarkan oleh Raja Kegelapan."A-apa ini?" tanya Zero pada dirinya sendiri, dengan posisi wajahnya saat ini menatap ke lantai.Beberapa detik kemudian terdengarlah suara tawa Raja Kegelapan yang menggema. Mendengar suara tawa dari Raja Kegelapan, membuat
Saat situasi semakin sulit dan Nino serta Ratu Vivi terluka parah, Zero merasa perlu untuk mengambil tindakan yang tepat untuk menyelamatkan mereka. Setelah mempertimbangkan beberapa opsi, dia memutuskan untuk membawa Nino dan Ratu Vivi ke dalam dimensi lain yang ada pada pedangnya.Dalam dimensi tersebut, Zero dapat memberikan perawatan medis yang lebih baik dan memastikan bahwa Nino dan Ratu Vivi pulih sepenuhnya dari luka-luka mereka. Meskipun memasukkan teman-temannya ke dalam dimensi tersebut memerlukan kekuatan dan energi yang besar, Zero yakin bahwa itu adalah keputusan yang tepat untuk menyelamatkan nyawa mereka. Ketika tinggal Zero dan Panglima perang kegelapan dalam pertempuran, Zero menatap musuhnya dengan tajam dan penuh kemarahan. Dia merasa sangat marah besar karena teman-temannya telah terluka dan musuhnya telah mengancam nyawa Vivi.Zero mengeluarkan suara yang tegas dan penuh keberanian, dia mengatakan, "Kau telah melakukan kesalahan besar dengan mengancam nyawa Istri
Pertarungan antara Zero, Ratu Vivi, Nino, dan para Orge yang dihidupkan kembali sangat sengit. Para Orge terus menerus menyerang dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa, membuat pertempuran semakin sulit.Zero menggunakan pedangnya untuk melawan Orge yang menyerang dari jarak dekat, sedangkan Ratu Vivi menggunakan sihirnya untuk memanipulasi elemen dan menyerang dari jarak jauh. Nino juga menggunakan kekuatan Kutukan Klan Kupu-kupu Surga untuk memberikan perlindungan dan kekuatan tambahan kepada teman-temannya.Namun, mereka tidak hanya berjuang melawan para Orge. Mereka juga harus menghadapi Necromancer yang berbahaya. Necromancer itu menggunakan sihir hitam untuk menyerang dan mencoba mengendalikan pikiran mereka.Setelah bertarung dengan gigih, akhirnya mereka berhasil mendekati Necromancer. Akan tetapi, tiba-tiba mereka diserang dari arah lain oleh pasukan kegelapan yang dipimpin oleh seorang panglima perang yang nampak sangat kuat. Terlihat jelas bahwa Panglima perang itu m
Setelah pertempuran yang sengit, Zero, Ratu Vivi, dan Nino berhasil mengalahkan semua musuh yang dikirim oleh Thanos. Namun, ketika mereka sedang bernapas lega dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan mereka, tiba-tiba tanda kutukan Klan Kupu-kupu Surga di tubuh Nino memancarkan cahaya yang sangat terang.Cahaya ini memenuhi seluruh area sekitar dan membuat semua musuh yang tersisa langsung lenyap tanpa bekas. Zero, Ratu Vivi, dan Nino terkejut dengan apa yang terjadi dan terus memandang ke arah cahaya itu.Setelah cahaya redup, Nino berkata, "Apa yang terjadi? Apa itu yang baru saja terjadi?"Zero dan Ratu Vivi melihat ke arah Nino, dan mereka terkejut melihat bahwa tanda kutukan Klan Kupu-kupu Surga telah mengeluarkan kekuatan yang sangat besar dan mematikan.Ratu Vivi berkata, "Itu adalah kekuatan yang luar biasa. Tanda kutukanmu telah memberikan kita perlindungan dan kekuatan yang luar biasa selama perjalanan kita, Nino. Terima kasih."Zero menambahkan, "Tapi kita tetap
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore