Share

228. Part 19

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-20 01:01:08

"Kalian cuma kurcaci tidak berguna. Aku ingin bertemu adipati Seta Kurana, bukan cecunguk seperti kalian," Sahut laki-laki itu.

Karuan saja ucapan Mata Bara membuat para pengawal dan wakil senopati menjadi sangat marah.

"Kau memang manusia terkutuk keparat. Kau tak mengenal tata karma. Kau berani menyebut gusti adipati secara sembrono, kau juga telah berlaku lancang menghina kami para pengawal adipati. Aku yakin adipati tak mau menemuimu," Kata Soma Prawira sambil mencabut pedan

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   228. Part 19

    "Kalian cuma kurcaci tidak berguna. Aku ingin bertemu adipati Seta Kurana, bukan cecunguk seperti kalian," Sahut laki-laki itu.Karuan saja ucapan Mata Bara membuat para pengawal dan wakil senopati menjadi sangat marah."Kau memang manusia terkutuk keparat. Kau tak mengenal tata karma. Kau berani menyebut gusti adipati secara sembrono, kau juga telah berlaku lancang menghina kami para pengawal adipati. Aku yakin adipati tak mau menemuimu," Kata Soma Prawira sambil mencabut pedang besar yang tergantung di punggungnya.Dikatakan sebagai Manusia Terkutuk mendidih darah si Mata Bara. Sekali tangannya bergerak. Tahu-tahu Soma Prawira kena dicekalnya. Wakil senopati meringis kesakitan ketika tangan kanannya yang memegang pedang besar dipuntir ke belakang sedang pedangnya dirampas Mata Bara. Sambil memiting tangan Soma Prawira, pedang besar ditimang lalu dibolang baling ke udara. Sebentar dengan sikap mengancam dia berkata."Cukup sudah kalian menghina dan meren

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   227. Part 18

    "Ah, kurang ajar," Maki senopati.Secepat kilat dia coba jatuhkan diri. Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek."Akh.."Senopati keluarkan suara seperti tercekik. Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental. Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya. Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami.Senopati itu hanya bisa belalakkan mata."Kk... kau..." Katanya terputus-putus.Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah. Tubuhnya lalu bergetar. Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.Harimau Setan tersenyum dingin. Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati."Sekarang aku yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   226. Part 17

    Gagak Panangkaran mendengus nafasnya memburu, wajah merah padam sedangkan sepasang mata tampak merah dilamun amarah. Dengan tangan terkepal gigi bergemeletukan dia membentak. "Perempuan terkutuk. Kaulah yang menjadi pangkal sebab dari semua kegilaanku. Kau habisi anak buahku dengan cara sekeji itu. Apakah kau pikir aku akan memberi ampun?!" Geram senopati meledak-ledak.Harimau Setan tersenyum dingin. Dengan sinis dia menjawab. "Siapa yang hendak minta ampun pada manusia keparat kaki tangan pencuri. Kau dan adipatimu itu sama saja. Tidak ada nilainya dimataku. Dan aku tidak punya waktu melayanimu lebih lama senopati. Lihat serangan!!" Teriak si nenek.Begitu si nenek berteriak, Gagak Panangkaran langsung dongakkan kepala menatap ke depan. Senopati ini tercengang saat melihat sosok si nenek mendadak raib, sementara dari arah depan senopati melihat sedikitnya tiga larik cahaya berbentuk kipas berwarna merah, biru dan hitam menderu menebar ke arahnya."Jahanam! ilm

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   225. Part 16

    Tak ayal lagi bahu, perut dan punggung Harimau Setan terkena satu bacokan dan dua tusukan. Darah terlihat menyembur dari tiga luka ditubuhnya. Sementara mata si nenek membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dialaminya."Kk..kalian...kalian ternyata sangat hebat..." Ucap nenek itu dengan tubuh terhuyung.Menyangka lawan dapat dilukai oleh perajuritnya. Senopati Gagak Panangkaran tertawa sinis "Hanya seperti itukah ilmu kesaktian yang kau miliki? Jika menghadapi anak buahku saja kau sudah tidak berdaya bagaimana kau bisa melawanku. Konon pula kau mau mengambil kembali senjatamu dari tangan adipati. Kau bisa menjadi potongan daging tak berbentuk.Ha ha ha!""Hi hi hi! Senopati lihat kemari pentang matamu lebar-lebar," Kata si nenek.Senopati katobkan mulut, dia menatap ke arah lawan. Dilihatnya Harimau Setan mengusap lukanya di tiga bagian. Luka itu lenyap seketika tak meninggalkan bekas terkecuali bagian pakaian yang robek di tiga bagian."Gil

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   224. Part 15

    "Lihat nenek aneh ini. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu seperti bulu Harimau. Pantas kuda kita jadi gelisah." Ujar salah seorang perajurit."Kuda kita menyangka dia harimau sungguhan, tidak tahunya cuma Harimau Setan!" Timpal perajurit lainnya. Terdengar suara tawa berderai.Sementara itu senopati tetap memperhatikan nenek di atas batu dengan tatapan curiga. "Melihat ciri-cirinya, aku yakin dialah orang yang biasa disebut Harimau Setan." Batin laki-laki itu.Dia pun lalu melompat turun dari atas kuda. Sambil menyeringai senopati itu berujar."Yang dicari susah ditemukan yang tidak diharap justru muncul sendiri. Ha... ha... ha."Melihat senopati tertawa terbahak-bahak, Harimau Setan keluarkan suara berdengus sekaligus ajukan pertanyaan."Apakah ada yang lucu senopati? Apa maksud ucapanmu?""Nenek renta tubuh berbulu seperti harimau. Bukankah kau orangnya yang bernama Marasati berjuluk Harimau Setan?""Kalau benar memangnya a

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   223. Part 14

    Berkat kegigihannya kehilangan tangan kiri bagi si nenek tidak menjadi halangan. Puluhan tahun dia melatih lengan baju kirinya menjadi senjata yang lebih ganas dan lebih berbahaya dari sebilah pedang. Kini si nenek menatap jauh ke arah kejauhan. Sayup-sayup dia mendengar suara kuda dipacu cepat menuju ke arahnya.Dia merasa heran, dan juga curiga."Ada serombongan orang berkuda datang kemari. Matahari baru saja terbit. Siapa mereka?" Pikir Harimau Setan.Sekilas orang tua ini menoleh. Dia menatap ke arah sebatang pohon menjulang tinggi. Penasaran ingin mengetahui siapa gerangan adanya para penunggang kuda tersebut. Tanpa membuang waktu Harimau Setan segera berkelebat ke arah pohon, lalu jejakkan kaki dan bersembunyi di balik kerimbunan cabang dan dedaunan.Dari atas ketinggian pohon orang tua Itu memusatkan perhatian ke arah suara iring-iringan rombongan berkuda.Kening si nenek berkerut tajam ketika melihat belasan laki-laki bersenjata berbagai je

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   202. Part 16

    Diserang dari dua arah sekaligus. Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri. Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset.Kini giliran si kakek merangsak maju. Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Pur

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   185. Part 21

    Sementara itu Pendekar Sinting hentikan tawanya. Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak. Walau demikian dia tetap berkata."Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan bat

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   183. Part 19

    Ratusan rambut panjang berputusan. Namun Maha Sesat mampu menyarangkan pukulan ganasnya ke bagian dada Maut Biru. Tanpa ampun cekalan Maut Biru pada rambut awan terlepas, tubuhnya terpental sejauh lima tombak dan dia jatuh terkapar dengan mulut semburkan darah sementara di bagian dada terdapat se

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   180. Part 16

    BERLARI jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah. Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama Ni

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status