LOGINSemua orang diam. Menatap. Ratusan pasang mata tertuju pada kami seperti panah yang siap ditembakkan.
Kakiku ingin mundur. Ingin lari kembali ke kamar dan sembunyi di bawah selimut. Tapi tangan Dillard memegang tanganku erat, jari-jarinya menekan ke kulitku. Menahan aku di tempat. Kami turun tangga besar menuju lantai ballroom. Pelan. Terukur. Aku coba ingat semua pelajaran Madame Jourdain. Punggung tegak. Dagu diangkat. Senyum tipis, tidak terlalu lebar, tidak terlalu kaku. Tatap ke depan, bukan ke bawah. Bisikan mulai terdengar. Seperti dengung lebah di telinga. "Itu bukan Celestine." "Putri kedua Brieris, kan? Yang jelek?” “Masa? Dia tampak… tidak jelek-jelek amat?" "Pengganti. Kasihan Duke Dillard." "Katanya dia tidak bisa apa-apa. Tidak seperti kakaknya." Dillard mengencangkan genggaman. Peringatan diam. Atau mungkin dukungan. Aku tidak tahu. Aku tarik napas dalam, coba mengabaikan semua suara itu. Kami sampai di lantai dansa. Musik berganti waltz pelan dengan tempo lembut. "Tarian pertama untuk tuan rumah," kata Dillard, akhirnya memandangku. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak bisa kubaca. Dia menarikku ke tengah lantai dansa. Tangan di pinggangku—lebih lembut dari kemarin, tidak mencengkeram seperti saat latihan. Tangan yang lain memegang tanganku erat tapi tidak sampai sakit. Kami mulai bergerak ikut irama musik. Kali ini aku tidak menginjak kakinya. Latihan kemarin ada hasilnya meskipun tubuhku masih pegal. Langkah kami pas, berputar pelan di tengah lantai yang luas. Lampu kristal besar di atas kepala memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Semua mata masih menatap, tapi tidak ada yang berani ikut ke lantai dansa. Tarian pertama selalu milik Duke dan Duchess. "Lihat aku," bisik Dillard. Suaranya pelan tapi tegas. "Jangan lihat mereka. Mereka tidak penting." Aku angkat pandangan. Mata abu-abunya menatap intens, lebih gelap di bawah cahaya lilin. Seolah tidak ada orang lain di ruangan ini. Seolah dunia menyempit jadi kami berdua saja. "Bagus. Terus begitu." Kami terus menari. Lagu berganti ke waltz yang lebih cepat, tapi Dillard tidak melepaskanku. Tangannya di pinggangku bergerak sedikit, menyesuaikan posisi saat kami berputar. Jari-jarinya hangat di kulit telanjang punggungku. Sentuhan itu membuat kulitku merinding, tapi bukan karena dingin. Sampai akhirnya musik berhenti dengan nada terakhir yang panjang. Tepuk tangan menggema. Merdu tapi terasa palsu. Dillard melepaskanku pelan, tapi matanya masih menatap wajahku. Ada sesuatu di sana. Ragu? Sesal? Aku tidak sempat memastikan karena seseorang mendekat. "Duchess, boleh saya minta tarian berikutnya?" Seorang pria muda berdiri di samping kami. Rambut pirang keemasan disisir rapi, mata biru cerah yang ramah. Senyum hangat tanpa ada kepalsuan. Dia tampak... menyenangkan. Tidak seperti wajah-wajah dingin yang kulihat sejak tadi. "Marquess Lincoln Cooper," katanya sambil membungkuk sopan, tangan di dada. Dillard menatapnya tajam. Rahang mengeras lagi. Tapi akhirnya dia lepaskan pinggangku dengan gerakan agak kasar. "Satu tarian." Bukan minta izin. Perintah. Lincoln mengulurkan tangan. Aku terima dengan ragu, melirik Dillard sekilas. Dia sudah berbalik, jalan ke arah sekelompok bangsawan tua di sudut ruangan. Kami mulai menari. Lincoln lebih pendek dari Dillard, tapi gerakannya halus dan terlatih. Tidak ada ketegangan seperti saat menari dengan Dillard. Tangannya di pinggangku sopan, tidak terlalu erat, tidak terlalu dekat. "Duchess kelihatan tegang," kata Lincoln. Suaranya santai, bercanda. "Ini pesta, bukan eksekusi." Aku tidak bisa tahan senyum kecil. "Rasanya sama." Dia ketawa—ketawa yang asli, tidak dibuat-buat. "Duke Dillard memang menakutkan. Tapi dia tidak seburuk yang orang-orang kira." "Kau kenal dia?" "Kami teman lama. Sejak akademi militer dulu. Aku lihat sisi lain dari Duke yang keras kepala itu." Lincoln memutar aku pelan, gerakan yang terlatih. "Dia orang baik. Cuma... caranya menunjukkan perasaan memang parah. Sangat parah, sebenarnya." Aku lirik ke arah Dillard. Dia berdiri di samping ruangan, ngobrol dengan beberapa bangsawan tua berjanggut putih. Wajahnya datar, tidak ada ekspresi. Tapi matanya sesekali melirik ke arahku. Tajam. Waspada. "Kenapa dia nikahi aku?" Pertanyaan itu keluar begitu saja sebelum aku sempat tahan. Lincoln diam sebentar. Langkahnya melambat. "Itu... rumit. Tapi bukan karena dia benci kamu, Duchess. Dia bukan orang yang seperti itu." "Terus kenapa?" "Itu bukan urusanku untuk cerita." Musik berhenti dengan nada terakhir yang lembut. Lincoln membungkuk, cium punggung tanganku dengan sopan. "Terima kasih untuk tariannya, Duchess. Kamu penari yang lebih bagus dari yang kukira." "Itu pujian?" "Tentu saja, Duchess." Sebelum aku bisa tanya lebih lanjut, wanita lain mendekat. Gaun biru safir yang berkilau di bawah lampu, rambut hitam panjang terurai sempurna di punggung. "Duchess, saya Lady Alice Morgan. Boleh ngobrol sebentar?"Dillard tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tanganku yang meremas jemarinya. Bahunya yang tegap tampak turun satu inci, tanda bahwa ketegangan dalam dirinya sedikit mengendur, meski rahangnya masih mengeras. Pria ini selalu mengukur segala hal dengan hasil nyata—pedang yang menebas, dokumen yang ditandatangani, atau wilayah yang dikuasai. Baginya, kehadiran fisik tanpa solusi medis adalah bentuk kegagalan."Logika yang buruk," gumamnya, meski ia tidak menarik tangannya. "Istana ini telah membuat standar keamananmu menjadi terlalu rendah.""Bukan istana," koreksiku, ibu jariku bergerak perlahan di atas kulit punggung tangannya yang kasar oleh bekas kapalan pedang. "Tapi hidupku sebelum ini."Dillard terdiam. Ia tahu persis apa yang kumaksud. Ia tahu tentang tahun-tahun yang kuhabiskan dengan berjalan di atas telur, tentang bagaimana setiap rasa sakit yang kutunjukkan di masa lalu hanya akan dianggap sebagai kelemahan yang siap dieksploitasi oleh ayahku sendiri. Di dunia itu,
Begitu kami berhasil keluar ke koridor, Dillard langsung bergerak cepat. Ia membimbingku masuk ke dalam sebuah bilik kecil di samping aula. Bilik itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang atau tempat istirahat pengawal. Begitu kami masuk, Dillard langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat. "Mual?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Matanya menatapku dengan penuh kecemasan yang tertahan. "Hanya sebentar," jawabku sambil memegangi perutku yang bergejolak. "Ini akan segera lewat." "Duduk," perintah Dillard dengan tegas. "Aku tidak apa-apa, Dillard. Aku bisa berdiri—" "Duduk, Juliet," potongnya lagi. Kali ini suaranya melembut, namun tetap tidak menerima bantahan. Aku akhirnya menyerah pada perintahnya. Aku melangkah dan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan. Aku menyandarkan kepala belakangku ke dinding tembok yang dingin. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam secara perlahan. Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang berp
Ini benar-benar tidak direncanakan. Kejadian ini sama sekali di luar kendaliku. Rapat dewan pagi itu baru saja berjalan sekitar setengah jam. Suasana di dalam aula utama terasa begitu formal dan kaku. Semua orang tampak tegang. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah gelombang mual yang luar biasa hebat. Rasa mual itu muncul dari dasar perutku. Efeknya jauh lebih buruk daripada yang biasa kurasakan beberapa hari terakhir. Mungkin ini terjadi karena waktu tidurku yang sedikit kurang semalam. Atau, mungkin juga karena aku melewatkan jadwal sarapan pagi ini. Perutku yang kosong tidak bisa berkompromi dengan ketegangan di dalam ruangan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi. Aku memaksa mataku untuk tetap fokus pada catatan di depanku. Jemariku meremas pena bulu dengan erat. Aku berusaha mengabaikan keringat dingin yang mulai terbit di tengkukku. Namun, usaha itu sia-sia. Gelombang mual kedua datang melanda dengan jau
Hari-hari di dalam istana berjalan dengan sangat cepat dan melelahkan. Atmosfer di sekitar kami terasa begitu padat dan menyesakkan. Agenda harian kami selalu dipenuhi oleh rapat dewan yang panjang. Tumpukan laporan intelijen dari perbatasan terus datang silih berganti. Setiap sore, kami harus melakukan analisis mendalam mengenai pergerakan musuh. Belum lagi perencanaan taktik politik yang menguras banyak energi. Kepala rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan kertas di atas meja kerja.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas baru yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin dan konsisten setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi politik saat itu. Ia tidak peduli jika ada kurir yang baru saja datang membawa pesan. Pria itu akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya dengan bunyi kecipak yang khas. Setelah itu, ia berdiri
Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard
Namun, kenyataannya, pemberontakan itu belum sepenuhnya berakhir. Para pemberontak yang tersisa justru menyebar dan menyebabkan kekacauan di wilayah-wilayah sekitar. “Pemberontakan ini sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan rasanya tidak masuk akal bagaimana Pangeran Viktor terus-
Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan. Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud
Aku angguk. Alice bawa aku ke sudut ruangan, jauh dari keramaian dan musik yang mulai ramai lagi. Dia cantik—mata hijau terang, kulit putih bersih, bibir merah sempurna. Seperti boneka porselen yang mahal. "Saya cuma mau sapa," katanya dengan senyum hangat yang tidak sampai ke mata. "Pasti berat, y
Sore harinya, empat pelayan datang membawa kotak-kotak besar berbalut kain beludru. "Gaun untuk pesta, Duchess." Mereka membuka kotak. Satu per satu gaun dikeluarkan dengan hati-hati, ditata di atas sofa panjang. Biru laut dengan sulaman mutiara di bagian dada. Hijau zamrud dengan renda halus di







