로그인Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan.
Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan. Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin. Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang. Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi. Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan. Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi. Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berkali-kali sampai tubuhku sakit. Kau Duchess Donoughoe. Kau tidak boleh terlihat lemah. Aku masuk kembali ke ballroom dengan langkah perlahan. Pintu besar terbuka. Cahaya hangat menyambut. Musik waltz mengalun lembut—lebih pelan dari sebelumnya. Beberapa pasang masih berdansa. Yang lain berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, ngobrol dengan gelas champagne di tangan. Semua mata langsung tertuju padaku. Aku rasakan tatapan mereka menusuk kulit. Penilaian. Rasa ingin tahu. Gosip yang belum diucapkan tapi sudah terbentuk di pikiran mereka. "Duchess kembali sendirian," bisik seseorang—tidak cukup pelan. Suaranya menembus musik. "Di mana Duke?" "Meninggalkan istrinya di pesta mereka sendiri?" "Kasihan gadis itu." Aku jalan dengan kepala tegak meski kakiku gemetar di balik rok panjang. Setiap langkah terasa berat. Setiap mata yang menatap terasa seperti beban tambahan di bahu. Lady Alice muncul pertama—seolah sudah menunggu. Gaun biru safirnya berkilau di bawah lampu kristal. Senyum manis menghiasi wajah cantiknya. Tapi mata hijau itu tidak tersenyum. Mata itu menyelidik. Mencari kelemahan. "Duchess," sapanya lembut. Terlalu lembut. "Duke Dillard sudah pergi?" Aku berhenti di depannya. Jarak hanya satu langkah. Cukup dekat untuk terlihat sopan. Cukup jauh untuk menjaga jarak. "Ada urusan mendesak," jawabku. Suara stabil. Aku bangga pada diriku sendiri untuk itu. Alice mengangguk pelan. Kepala miring sedikit—gerakan yang terlihat simpatik tapi terasa mengejek. "Tentu saja. Duke selalu sibuk dengan urusan kerajaan. Sangat... mengabdi." Dia berhenti sebentar. Senyum melebar. "Mungkin Duchess belum terbiasa ditinggal sendirian di acara besar seperti ini. Berbeda dengan kehidupan di Brieris, kan?" Ada racun di kata-kata itu. Tersembunyi di balik nada manis. Penghinaan yang dikemas sebagai perhatian. Kehidupan di Brieris. Kehidupan di mana aku dikurung di kamar. Diabaikan. Dilupakan. Kehidupan yang semua orang di sini tahu—karena keluarga bangsawan tidak punya rahasia. Semuanya jadi gosip di pesta teh. "Aku terbiasa banyak hal," jawabku akhirnya. Tidak menjawab pertanyaan langsung. Tidak memberikan kepuasan melihatku lemah. Alice tersenyum lebih lebar. Seperti menang sesuatu. "Tentu, Duchess. Kalau butuh bantuan beradaptasi dengan kehidupan sebagai istri Duke, aku selalu tersedia. Wanita bangsawan harus saling membantu." Sebelum aku bisa menjawab, dia sudah berbalik dan pergi. Lagi? Apa dia hobi datang dan pergi seperti itu? Gaun biru berkibar anggun. Meninggalkan aku berdiri sendirian di tengah ballroom. Beberapa bangsawan tua berkumpul di sudut—pria paruh baya dengan jenggot putih dan perut buncit. Mereka menatapku sambil berbisik. Tidak repot-repot menyembunyikan tatapan lancang mereka. "Duke meninggalkan Duchess di malam pertama mereka sebagai tuan rumah," kata salah satu—suara cukup keras untuk kudengar. "Dia tidak peduli padanya. Jelas sekali." "Pengganti Celestine. Dapat apa yang bukan pilihannya." "Pernikahan politik yang buruk." Aku pura-pura tidak mendengar. Aku ambil gelas champagne dari pelayan yang lewat. Tangan gemetar sedikit saat memegang gelas. Aku minum. Cairan dingin turun ke tenggorokan yang terasa kering. Musik berganti. Waltz baru dimulai. Beberapa pasangan kembali ke lantai dansa. Aku berdiri di pinggir. Sendirian. Mengamati mereka berdansa dengan pasangan masing-masing. Tangan di pinggang. Mata bertemu. Senyum. Tawa. Aku ingat beberapa jam lalu, aku dan Dillard berdansa di lantai yang sama. Tangannya di pinggangku. Matanya menatap intens. Suaranya berbisik agar aku melihatnya, bukan orang lain. Seperti kami satu-satunya di ruangan itu. Dan sekarang aku benar-benar sendirian. "Duchess kelihatan sedih." Aku tersentak. Berbalik. Seorang wanita muda berdiri di sampingku—tidak kukenal. Rambut pirang pucat diikat setengah, gaun lavender sederhana tapi elegan. Wajahnya ramah. Senyum tulus—berbeda dari yang lain. "Aku Stella Gray," katanya. "Istri Baron Fredrick Gray. Maaf mengagetkan." "Tidak apa-apa." Aku mencoba tersenyum. "Aku hanya... lelah." Stella mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut, aku hargai itu. Dia berdiri di sampingku dalam diam nyaman. Kami berdua mengamati para penari. "Pesta pertama sebagai Duchess pasti berat," katanya setelah beberapa saat. Suara lembut. Tidak menghakimi. "Semua mata menatap. Semua orang punya pendapat. Semua orang membandingkan." Aku lirik dia. "Kau tahu?" "Aku menikah dengan Baron sebagai istri kedua. Setelah istri pertamanya meninggal—wanita yang sangat dicintai semua orang." Stella tersenyum tipis. Ada kesedihan di sana. "Dua tahun pertama sangat berat. Semua orang membandingkan. Semua orang bilang aku tidak seperti dia. Tidak cukup baik." Dadaku sesak. Mendengar ceritanya seperti mendengar ceritaku sendiri. "Bagaimana kau bertahan?" tanyaku pelan. "Aku berhenti mencoba jadi dia. Aku mulai jadi diriku sendiri." Stella menatapku. Mata biru mudanya serius. "Duchess, kau tidak akan pernah bisa jadi Celestine. Dan itu hal yang baik. Karena Dillard tidak menikahi Celestine. Dia menikahimu." Kata-kata itu menggantung. Sebelum aku bisa merespons, suara keras terdengar dari seberang ruangan. Tawa riang yang terlalu familiar. Carmen. Dia berdiri di tengah kelompok wanita. Semua mendengarkan dia bicara dengan wajah terpesona. Gaun pink-nya menyala di bawah cahaya. Rambut coklat bergelombang jatuh sempurna di punggung telanjang. Dia cantik. Sangat cantik. Dan dia menatap ke arahku. Mata bertemu. Senyum muncul di bibirnya. Senyum yang membuat perutku bergejolak. Dia permisi dari kelompoknya. Berjalan ke arahku dengan langkah percaya diri. Setiap mata mengikuti gerakannya. Stella menyentuh lenganku pelan. "Aku harus pergi. Tapi ingat apa yang kubilang, Duchess." Dia pergi sebelum Carmen sampai. Carmen berhenti tepat di depanku. Jarak sangat dekat, terlalu dekat untuk sopan. Aku bisa cium parfum mawar yang menyengat. "Duchess Juliet," sapanya. Suara seperti madu, manis tapi lengket menjijikkan. "Sendirian?" Aku tidak menjawab. Hanya menatap dia dengan wajah datar. Carmen tertawa kecil. "Duke Dillard meninggalkanmu begitu cepat. Aku ingat dulu, saat kami masih bersama, dia tidak pernah meninggalkan sisiku di acara penting. Dia sangat... perhatian."Dillard tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tanganku yang meremas jemarinya. Bahunya yang tegap tampak turun satu inci, tanda bahwa ketegangan dalam dirinya sedikit mengendur, meski rahangnya masih mengeras. Pria ini selalu mengukur segala hal dengan hasil nyata—pedang yang menebas, dokumen yang ditandatangani, atau wilayah yang dikuasai. Baginya, kehadiran fisik tanpa solusi medis adalah bentuk kegagalan."Logika yang buruk," gumamnya, meski ia tidak menarik tangannya. "Istana ini telah membuat standar keamananmu menjadi terlalu rendah.""Bukan istana," koreksiku, ibu jariku bergerak perlahan di atas kulit punggung tangannya yang kasar oleh bekas kapalan pedang. "Tapi hidupku sebelum ini."Dillard terdiam. Ia tahu persis apa yang kumaksud. Ia tahu tentang tahun-tahun yang kuhabiskan dengan berjalan di atas telur, tentang bagaimana setiap rasa sakit yang kutunjukkan di masa lalu hanya akan dianggap sebagai kelemahan yang siap dieksploitasi oleh ayahku sendiri. Di dunia itu,
Begitu kami berhasil keluar ke koridor, Dillard langsung bergerak cepat. Ia membimbingku masuk ke dalam sebuah bilik kecil di samping aula. Bilik itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang atau tempat istirahat pengawal. Begitu kami masuk, Dillard langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat. "Mual?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Matanya menatapku dengan penuh kecemasan yang tertahan. "Hanya sebentar," jawabku sambil memegangi perutku yang bergejolak. "Ini akan segera lewat." "Duduk," perintah Dillard dengan tegas. "Aku tidak apa-apa, Dillard. Aku bisa berdiri—" "Duduk, Juliet," potongnya lagi. Kali ini suaranya melembut, namun tetap tidak menerima bantahan. Aku akhirnya menyerah pada perintahnya. Aku melangkah dan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan. Aku menyandarkan kepala belakangku ke dinding tembok yang dingin. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam secara perlahan. Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang berp
Ini benar-benar tidak direncanakan. Kejadian ini sama sekali di luar kendaliku. Rapat dewan pagi itu baru saja berjalan sekitar setengah jam. Suasana di dalam aula utama terasa begitu formal dan kaku. Semua orang tampak tegang. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah gelombang mual yang luar biasa hebat. Rasa mual itu muncul dari dasar perutku. Efeknya jauh lebih buruk daripada yang biasa kurasakan beberapa hari terakhir. Mungkin ini terjadi karena waktu tidurku yang sedikit kurang semalam. Atau, mungkin juga karena aku melewatkan jadwal sarapan pagi ini. Perutku yang kosong tidak bisa berkompromi dengan ketegangan di dalam ruangan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi. Aku memaksa mataku untuk tetap fokus pada catatan di depanku. Jemariku meremas pena bulu dengan erat. Aku berusaha mengabaikan keringat dingin yang mulai terbit di tengkukku. Namun, usaha itu sia-sia. Gelombang mual kedua datang melanda dengan jau
Hari-hari di dalam istana berjalan dengan sangat cepat dan melelahkan. Atmosfer di sekitar kami terasa begitu padat dan menyesakkan. Agenda harian kami selalu dipenuhi oleh rapat dewan yang panjang. Tumpukan laporan intelijen dari perbatasan terus datang silih berganti. Setiap sore, kami harus melakukan analisis mendalam mengenai pergerakan musuh. Belum lagi perencanaan taktik politik yang menguras banyak energi. Kepala rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan kertas di atas meja kerja.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas baru yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin dan konsisten setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi politik saat itu. Ia tidak peduli jika ada kurir yang baru saja datang membawa pesan. Pria itu akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya dengan bunyi kecipak yang khas. Setelah itu, ia berdiri
Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard
Namun, kenyataannya, pemberontakan itu belum sepenuhnya berakhir. Para pemberontak yang tersisa justru menyebar dan menyebabkan kekacauan di wilayah-wilayah sekitar. “Pemberontakan ini sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan rasanya tidak masuk akal bagaimana Pangeran Viktor terus-
Pagi hari setelah pelajaran dansa, aku terbangun dengan tubuh pegal. Setiap otot protes ketika aku mencoba duduk. Bahu kaku, pinggang nyeri seperti habis dipukul. Tapi yang lebih menyiksa adalah ingatan tentang kehangatan tangan Dillard di pinggangku. Cara matanya menatapku—bukan dengan kemarahan a
Pagi datang dengan cahaya berdebu masuk lewat celah tirai. Aku terbangun dengan tubuh kaku. Leher pegal. Bahu sakit. Semalam hampir tidak tidur; setiap kali menutup mata, wajah Dillard muncul. Jari dinginnya di leherku. Suara rendahnya yang mengancam. Ketukan keras di pintu. "Duchess, sarapan sud
Gaun ini berat sekali. Aku menarik napas dalam-dalam, tapi korset terlalu ketat; tulang rusukku terasa ditekan, dadaku sesak. Kerudah tebal menutupi wajah, menghalangi pandangan. Hanya bayangan dan cahaya lilin yang bisa kulihat. Tangan Ibu mencengkeram lenganku. Kuat. Kukunya menggores kulit. "J







