Home / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti Duke Dillard / 3. Hari ini lebih buruk dari kemarin.

Share

3. Hari ini lebih buruk dari kemarin.

Author: TIZZZ
last update publish date: 2026-02-04 18:01:04

Pagi hari setelah pelajaran dansa, aku terbangun dengan tubuh pegal. Setiap otot protes ketika aku mencoba duduk. Bahu kaku, pinggang nyeri seperti habis dipukul. Tapi yang lebih menyiksa adalah ingatan tentang kehangatan tangan Dillard di pinggangku.

Cara matanya menatapku—bukan dengan kemarahan atau jijik seperti biasa, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatku bingung. Cara dia menyebut namaku. Juliet. Bukan Duchess. Bukan kau. Lalu cara dia pergi begitu saja, meninggalkan aku sendirian di ruang dansa yang dingin.

Ketukan di pintu.

"Duchess, Madame Jourdain menunggu."

Aku merintih, menarik selimut sampai ke dagu. Tapi pelayan tidak pergi.

"Duchess?"

"Iya, sebentar."

Aku turun dari tempat tidur, kaki hampir tidak kuat menopang berat badan. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

Pintu kamar mandi terbuka. Dua pelayan sudah menunggu di dalam, bak mandi besar sudah terisi air hangat yang mengepul. Aroma lavender dan chamomile memenuhi ruangan.

"Duchess, air sudah siap."

Aku biarkan mereka melepas gaun tidurku. Dingin langsung menyerang kulit. Aku masuk ke bak mandi perlahan, air hangat menyentuh kaki, naik ke betis, pinggang, sampai dada. Hangat. Otot-otot yang tegang perlahan mengendur.

Pelayan mulai membasuh rambutku dengan sabun yang wangi. Jari-jari mereka terlatih, memijat kepala dengan lembut. Aku pejamkan mata, coba lupakan rasa pegal di seluruh tubuh.

"Duchess tidur nyenyak tadi malam?"

Aku tidak jawab. Bagaimana mungkin tidur nyenyak kalau setiap kali pejamkan mata, yang terlihat adalah wajah Dillard? Matanya yang abu-abu gelap. Tangannya yang hangat di pinggangku.

"Air mau ditambah, Duchess?"

"Tidak. Ini sudah cukup."

Mereka bilas rambutku sampai bersih, lalu bantu aku berdiri. Air mengalir dari tubuh, ninggalin jejak basah di lantai marmer. Handuk tebal dibungkuskan di tubuhku, hangat dan lembut.

Aku keluar dari kamar mandi. Tiga pelayan lain sudah menunggu dengan pakaian yang sudah disiapkan di atas tempat tidur. Gaun latihan warna krem dengan korset yang tidak terlalu ketat. Rok selutut yang memudahkan gerakan.

"Angkat tangan, Duchess."

Aku turuti. Mereka kenakan gaun dalam tipis dulu, lalu korset. Tali-tali ditarik, diikat, dikencangkan. Tidak sesak seperti kemarin, tapi cukup untuk membuat napas jadi pendek.

"Terlalu kencang?"

"Tidak. Sudah pas."

Rok dipasang, dikaitkan di pinggang. Lalu gaun luarnya, kain lembut yang jatuh sempurna menutupi tubuh. Salah satu pelayan menyisir rambutku, masih basah dan dingin di punggung. Disisir ke belakang, diikat setengah, beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah.

"Duchess mau pakai perhiasan?"

"Tidak perlu."

Mereka mundur, membiarkan aku lihat pantulan di cermin besar. Gaun krem membuat kulitku terlihat lebih pucat. Rambut basah membuat wajah terlihat lebih tirus. Aku tampak seperti hantu.

"Duchess sudah siap?"

Aku tarik napas dalam. "Sudah."

Tapi aku tidak siap menghadapi Madame Jourdain. Tidak siap menghadapi latihan lagi. Tidak siap menghadari semua ini.

Kakiku melangkah keluar kamar, masih terasa pegal, tapi tidak seburuk tadi. Air hangat sedikit membantu. Tapi hati? Hati masih berat. Masih penuh pertanyaan tentang Dillard. Tentang sentuhan tangannya. Tentang cara dia menatapku.

Tentang kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

*

Hari ini lebih buruk dari kemarin.

Madame Jourdain sudah duduk di ruang makan kecil, punggung tegak sempurna, secangkir teh di tangan. Dia menatapku dari atas hingga bawah, lalu menghela napas.

"Postur, Juliet. Kau berjalan seperti pengemis."

Aku meluruskan punggung. Sakit, tapi aku tahan.

"Lebih baik. Sekarang duduk. Perlahan."

Aku duduk, mencoba tidak terlihat kaku. Gagal.

"Kau harus belajar tersenyum dengan benar. Bukan seperti itu, terlalu tegang. Bayangkan sesuatu yang menyenangkan."

Aku mencoba. Pipi terasa kram.

Aku tidak punya ingatan menyenangkan yang cukup kuat untuk membuat senyum terlihat natural.

Masa kecilku penuh koridor gelap di Brieris, makanan dingin yang dikirim lewat pintu, tatapan jijik dari sepupu-sepupu yang tidak pernah menganggapku ada.

Satu-satunya kehangatan datang dari Celestine—dan dia sudah pergi, kabur bersama kekasihnya, meninggalkan skandal yang membuatku harus menggantikan posisinya.

"Sekarang percakapan ringan. Jika seseorang bertanya tentang cuaca, kau jawab apa?"

"Uh... bagus?"

Madame Jourdain meletakkan cangkirnya agak keras di atas meja.

"Lebih detail, Juliet. 'Cuaca hari ini sangat indah, udara segar mengingatkan saya pada musim semi di Brieris.' Seperti itu. Elegan. Penuh makna tanpa berlebihan."

Tapi aku tidak pernah menikmati musim semi di Brieris. Aku kebanyakan dikurung di kamar, membaca buku-buku bekas Celestine sampai mata perih. Kadang dia datang diam-diam, membawa roti dan selimut.

Kadang dia hanya duduk di sampingku, tidak bicara, tapi itu sudah cukup membuatku merasa tidak sendirian. Sampai dia memutuskan cintanya pada lelaki asing itu lebih penting daripada keluarga Brieris.

Daripada aku.

"Juliet?"

Aku berkedip. "Maaf?"

"Kau melamun lagi. Ini serius. Besok ratusan mata akan menatapmu. Mereka akan mencari kesalahan sekecil apapun untuk membuktikan Duke Dillard salah memilihmu."

Dadaku sesak. "Mereka benar."

"Diam." Suaranya tajam. "Kau sudah menikah dengan Duke Donoughoe. Itu fakta. Sekarang tugas kita adalah membuat mereka berpikir kau memang layak di posisi itu."

Berpikir. Bukan membuat aku benar-benar layak.

Kami latihan terus sampai sore. Cara duduk, cara berdiri, cara tertawa tanpa suara, cara mengangguk tanpa terlihat bodoh. Setiap gerakan harus diukur, diperhitungkan, dipoles sampai tidak ada yang tersisa dari diriku yang asli.

*

TIZZZ

Hi, senang akhirnya aku bisa bergabung di Goodnovel. Mari melanjutkan perjalanan yang menyenangkan ini bersama sama, ya! Update sneakpeak: instagram: @teamdannesya

| 13
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 145. Logika Yang Buruk

    Dillard tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tanganku yang meremas jemarinya. Bahunya yang tegap tampak turun satu inci, tanda bahwa ketegangan dalam dirinya sedikit mengendur, meski rahangnya masih mengeras. Pria ini selalu mengukur segala hal dengan hasil nyata—pedang yang menebas, dokumen yang ditandatangani, atau wilayah yang dikuasai. Baginya, kehadiran fisik tanpa solusi medis adalah bentuk kegagalan."Logika yang buruk," gumamnya, meski ia tidak menarik tangannya. "Istana ini telah membuat standar keamananmu menjadi terlalu rendah.""Bukan istana," koreksiku, ibu jariku bergerak perlahan di atas kulit punggung tangannya yang kasar oleh bekas kapalan pedang. "Tapi hidupku sebelum ini."Dillard terdiam. Ia tahu persis apa yang kumaksud. Ia tahu tentang tahun-tahun yang kuhabiskan dengan berjalan di atas telur, tentang bagaimana setiap rasa sakit yang kutunjukkan di masa lalu hanya akan dianggap sebagai kelemahan yang siap dieksploitasi oleh ayahku sendiri. Di dunia itu,

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 144. Cukup

    Begitu kami berhasil keluar ke koridor, Dillard langsung bergerak cepat. Ia membimbingku masuk ke dalam sebuah bilik kecil di samping aula. Bilik itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang atau tempat istirahat pengawal. Begitu kami masuk, Dillard langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat. "Mual?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Matanya menatapku dengan penuh kecemasan yang tertahan. "Hanya sebentar," jawabku sambil memegangi perutku yang bergejolak. "Ini akan segera lewat." "Duduk," perintah Dillard dengan tegas. "Aku tidak apa-apa, Dillard. Aku bisa berdiri—" "Duduk, Juliet," potongnya lagi. Kali ini suaranya melembut, namun tetap tidak menerima bantahan. Aku akhirnya menyerah pada perintahnya. Aku melangkah dan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan. Aku menyandarkan kepala belakangku ke dinding tembok yang dingin. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam secara perlahan. Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang berp

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 143. Gelombang Mual

    Ini benar-benar tidak direncanakan. Kejadian ini sama sekali di luar kendaliku. Rapat dewan pagi itu baru saja berjalan sekitar setengah jam. Suasana di dalam aula utama terasa begitu formal dan kaku. Semua orang tampak tegang. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah gelombang mual yang luar biasa hebat. Rasa mual itu muncul dari dasar perutku. Efeknya jauh lebih buruk daripada yang biasa kurasakan beberapa hari terakhir. Mungkin ini terjadi karena waktu tidurku yang sedikit kurang semalam. Atau, mungkin juga karena aku melewatkan jadwal sarapan pagi ini. Perutku yang kosong tidak bisa berkompromi dengan ketegangan di dalam ruangan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi. Aku memaksa mataku untuk tetap fokus pada catatan di depanku. Jemariku meremas pena bulu dengan erat. Aku berusaha mengabaikan keringat dingin yang mulai terbit di tengkukku. Namun, usaha itu sia-sia. Gelombang mual kedua datang melanda dengan jau

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 142. Batas Jam Malam

    Hari-hari di dalam istana berjalan dengan sangat cepat dan melelahkan. Atmosfer di sekitar kami terasa begitu padat dan menyesakkan. Agenda harian kami selalu dipenuhi oleh rapat dewan yang panjang. Tumpukan laporan intelijen dari perbatasan terus datang silih berganti. Setiap sore, kami harus melakukan analisis mendalam mengenai pergerakan musuh. Belum lagi perencanaan taktik politik yang menguras banyak energi. Kepala rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan kertas di atas meja kerja.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas baru yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin dan konsisten setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi politik saat itu. Ia tidak peduli jika ada kurir yang baru saja datang membawa pesan. Pria itu akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya dengan bunyi kecipak yang khas. Setelah itu, ia berdiri

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2)141. Rahasia Paling Rapuh Saat Ini

    Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 140. Hanyalah Sebuah Bidak

    Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   81. Bagaimana kalau tidak berhasil?

    Namun, kenyataannya, pemberontakan itu belum sepenuhnya berakhir. Para pemberontak yang tersisa justru menyebar dan menyebabkan kekacauan di wilayah-wilayah sekitar. “Pemberontakan ini sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan rasanya tidak masuk akal bagaimana Pangeran Viktor terus-

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   7. Sendirian

    Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan. Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   6. Masalah di Perbatasan Utara

    Aku angguk. Alice bawa aku ke sudut ruangan, jauh dari keramaian dan musik yang mulai ramai lagi. Dia cantik—mata hijau terang, kulit putih bersih, bibir merah sempurna. Seperti boneka porselen yang mahal. "Saya cuma mau sapa," katanya dengan senyum hangat yang tidak sampai ke mata. "Pasti berat, y

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   5. Marquess Lincoln Cooper

    Semua orang diam. Menatap. Ratusan pasang mata tertuju pada kami seperti panah yang siap ditembakkan. Kakiku ingin mundur. Ingin lari kembali ke kamar dan sembunyi di bawah selimut. Tapi tangan Dillard memegang tanganku erat, jari-jarinya menekan ke kulitku. Menahan aku di tempat. Kami turun tangg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status