Masuk"Lima puluh juta?!" Teriakan seorang gadis berwajah ayu yang berada di balik meja kasir minimarket menarik perhatian sejumlah pelanggan. Nadia langsung memasang ekspresi tidak enak sembari membungkuk kepada orang-orang sekitar, berusaha memohon maaf. Kemudian, dengan suara yang direndahkan, dia bertanya, "Apa bisa saya ambil cicilan?" Nadia memasang wajah khawatir sembari mendengarkan lawan bicaranya dari ujung telepon yang lain. "S-saya mengerti. Saya akan berikan kabar segera." Begitu panggilan itu dimatikan, gadis tersebut menghela napas berat. Wajahnya tampak muram, pusing memikirkan biaya operasi yang perlu dilaksanakan oleh ibunya. Bahkan dengan upahnya bekerja paruh waktu di tiga tempat sekaligus, dia masih belum bisa membayar tagihan tersebut. 'Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?' batin Nadia resah.
Lihat lebih banyak***
Suasana menegang. Seluruh rakyat, dengan debaran di dadanya, kini tengah menjadi saksi eksekusi mati salah satu bangsawan yang bernama Aquila Sapphire de Charles.
Aquila dihukum atas dasar percobaan pembunuhan kekasih putra mahkota, Zeline Jane Aideos.
Ketegangan semakin meningkat. Semua mata tertuju pada Aquila yang terpaksa tertunduk dihadapan Zero, sang putra mahkota. Tangan dan kaki Aquila terikat, mulutnya tersumpal, namun ia masih bisa memberikan tatapan bengisnya kepada Zero. Aquila bersumpah, ia akan menuntut balas atas penghinaan ini.
Suara langkah prajurit. Seorang prajurit menyerahkan sebilah pedang kepada sang putra mahkota— orang yang akan mengeksekusi Aquila.
Rakyat menyaksikan kejadian itu dengan perasaan campur aduk. Sebagian merasa takut, sebagiannya lagi merasa lega karena menganggap pemberontak telah ditaklukan.
Zero menatap pedang itu lalu menatap manik mata Aquila secara bergantian. Tatapan Zero berubah sendu. Karena bagaimanapun, Aquila adalah teman pertamanya, terlalu banyak kenangan yang telah ia habiskan dengan perempuan yang tengah tertunduk dihadapannya ini.
Tidak. Zero harus melakukan ini. Karena cewek di depannya ini nyaris merenggut nyawa kekasihnya.
Zero mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Bersiap menebas leher sahabat pertamanya ini.
Seluruh saksi tanpa sadar menahan napas.
"AQUILAAAAAAA!!!!"
***
Alena terperanjat saat seseorang menepuk bahunya.
"Kamu baca apa, sih?"
Alena menatap orang yang tengah mengganggunya. Itu Calyn, sahabat perempuannya.
Calyn duduk disamping Alena, membuat cewek itu spontan menggeser posisinya.
"Aku ngomong kok dicuekin?" Calyn cemberut. "Eh, ini kan novel yang kemarin baru kamu beli." Calyn mengambil buku novel itu, ia membolak-balikkan halamannya.
Novel itu berjudul cinta sejati, berkisah tentang gadis bangsawan berstatus rendah yang merantau ke Kapital, disana ia bertemu dengan sang Pangeran Putra Mahkota, lalu mereka saling jatuh cinta. Tapi tak semudah itu, karena cinta mereka terhalang oleh sang penjahat yang bernama Aquila yang juga mencintai putra mahkota.
Alurnya memang sangat klise, tapi entah mengapa memiliki banyak peminat.
Alena salah satunya.
Alena bahkan sampai bergabung ke komunitas pembenci Aquila yang beranggotakan nyaris lima ribu orang.
"Balikin!" Alena mengambil kembali novel itu. "Ini lagi seru-serunya, tau! Akhirnya, Aquila si Nenek Sihir dapet hukuman yang setimpal!" Alena menjelaskan dengan mata berbinar, ia bahkan memiliki julukan tersendiri untuk tokoh Aquila.
Calyn mengangguk-angguk tanpa minat. Berbeda dengan Alena yang maniak novel, ia sama sekali tak suka membaca. Menurutnya, kegiatan itu membuatnya mengantuk.
"Aku seneng banget, akhirnya Pangeran Zero sama Putri Zeline bisa hidup bahagia selamanya! Dan si pengacau akhirnya mati!" Alena berucap menggebu-gebu, ia sangat menyukai scene tadi. Rasanya, kadar kebencian Alena terhadap Aquila dari satu sampai sepuluh adalah sebelas.
Calyn mengangguk lagi, meskipun ia tak begitu paham. Ia teringat sesuatu. "Eh, ayo kita ke kantin, udah ditunggu sama temen-temen yang lain." Cewek itu bangkit, lalu menarik lengan Alena untuk mempercepat langkahnya.
***
"Sini, Alena." Lea tersenyum menepuk-nepuk kursi kosong disampingnya, memberi isyarat kepada Alena untuk duduk disitu.
Alena mengangguk, ia menghampiri lalu tersenyum tipis.
Jujur saja, Alena lebih suka menyendiri, teman-temannya disini kadang membuatnya merasa risih. Tapi Alena bukanlah orang yang pandai bergaul, maka dari itu ia memilih bertahan dengan teman-temannya ini.
"Tadi udah aku pesenin minum." Anne menggeser gelas yang berisikan air jeruk. "Ngomong-ngomong makasih, ya, udah bantuin ngerjain tugas aku yang udah numpuk dari semester kemarin." Anne tersenyum manis.
Alena mengangguk canggung. "Sama-sama." Cicitnya.
Lea merangkul pundak Alena, "oh iya, kemarin kan aku udah minta tolong kamu buat ngerjajn tugas aku. Sekarang udah selesai belum?" Matanya menatap Alena penuh harap.
Alena menunduk, menghindari tatapan mata itu. "Be- belum..." ujarnya tak enak.
"Kok gitu?" Lea melepaskan rangkulan, ia menatap sedih, "bukannya kamu udah janji?"
"Aku..." Alena menggantungkan ucapannya, "bakal aku kerjain."
"Nah, gitu dong." Lea tersenyum manis.
Dibelakangnya, ada Calyn yang tengah tersenyum sambil menatap ponselnya. "Alena, aku ada urusan sebentar. Aku tinggal dulu, ya?"
Alena menatap tak rela, diantara segerombolan teman-temannya disini, ia paling nyaman saat bersama Calyn. Tapi apa daya, mau tak mau Alena mengiyakan.
Sepeninggal Calyn, Alena hanya diam saja disini, tak ikut menimbrung percakapan mereka.
Alena merupakan siswi terpintar di angkatannya, tapi Alena payah sekali dalam bergaul, Alena tak pernah berani menolak keinginan teman-temannya, meski keinginan itu merugikannya. Alena juga selalu berusaha menjaga perasaan mereka.
Tak jarang orang mendekati Alena karena tujuan tertentu. Tapi, sial, Alena tak pernah berani menghempas benalu-benalu itu.
Satu-satunya hal yang membuatnya bahagia adalah membaca buku. Selain itu ... Ah, berbincang dengan Kent, kekasihnya jugalah hal yang sangat membahagiakan!
Ngomong-ngomong, Alena jadi merindukan cowok itu.
"Teman-teman, aku pergi sebentar, ya," Alena bangkit, tanpa menunggu respon dari kawan-kawannya, ia beranjak begitu saja.
***
"Kent pasti suka." Alena tersenyum, ia menenteng sebuah plastik yang berisi pie. Tadi Alena sempat mampir untuk memberikan ini kepada kekasihnya.
Langkahnya terlihat riang, senyumnya mengembang cerah. Bagi Alena, Kent adalah pacar terbaik yang pernah ada!
"Kent enggak ada di sini."
Senyum Alena memudar saat mendengar jawaban dari salah satu teman Kent. Kekasihnya tidak ada di kelas? Lalu dimana lagi?
"Oh, kalau begitu, makasih, ya." Alena mengangguk sopan lalu berbalik.
Langkah kakinya bergerak tanpa memiliki tujuan yang jelas. Alena bahkan tidak sadar kalau ia sudah berada di halaman kampus.
"Mau sampai kapan kita ngumpet-ngumpet terus?"
Alena spontan menoleh saat mendengar suara itu, tidak ada siapa-siapa disana. Alena menggaruk tengkuknya, merasa bingung.
"Kamu sabar sebentar lagi, ya?" Kali ini terdengar suara lainnya, seperti suara laki-laki.
Alena mengernyit, ia hafal dengan jelas itu suara siapa. Itu suara Kent, kekasihnya.
"Iya, tapi aku udah enggak tahan lagi."
Suara ini berasal dari balik sebuah pohon besar. Dengan rasa penasaran yang meluap-luap, Alena melangkah mendekat.
Alena memiliki penglihatan yang lemah, mungkin karena terlalu banyak bersinggungan dengan buku, entahlah.
"Honey, kamu percaya, 'kan sama aku? Sabar sedikit lagi, ya? Kamu tau 'kan aku cuma sayang sama kamu?"
Tubuh Alena membeku. Ia benar-benar tak mempercayai apa yang disaksikannya saat ini.
Kekasihnya, Kent, tengah mencium bibir seorang wanita. Kedua orang itu terlihat begitu mesra, bahkan mereka tak menyadari kehadiran Alena yang hanya berjarak satu meter dari mereka.
Kejutan bertubi-tubi. Air matanya menetes saat tau orang yang dicium Kent adalah sahabat terdekatnya.
"Calyn..." Alena berucap lirih dengan sedikit terisak. Air matanya semakin bercucuran.
Calyn langsung melepas ciumannya saat mendengar suara Alena. Calyn terperanjat, ia sama terkejutnya, begitupun dengan Kent.
"A... Lena..." Calyn terbata-bata, berusaha memberi pembelaan namun lidahnya terasa kelu.
Alena marah luar biasa, ia tak pernah tau kalau dikhianati akan terasa sesakit ini. Ingin rasanya menampar wajah kedua orang di depannya ini. Tapi apa daya, tubuhnya serasa membeku.
"Alena, Baby, i can explain it to you." Kent panik setengah mati, ia bahkan tanpa sadar berbicara dengan bahasa aslinya.
Kent perlahan meraih pergelangan tangan Alena, maniknya menatap mata Alena yang berkaca-kaca, "kamu tadi salah liat..."
Alena menepis dengan kasar genggaman tersebut. Ia menatap bengis. Alena tidak sebodoh itu untuk mempercayai perkataan orang di hadapannya.
Tapi apa daya, emosi kini lebih menguasai pikirannya. Air matanya menetes lagi. Alena segera berbalik, berlari secepat yang ia bisa. Hari ini benar-benar hari yang buruk.
"ALENA!" Kent memanggil, berusaha menyusul langkah gadis itu.
Alena semakin terisak, pandangannya terasa kabur karena air mata yang membendung. Ia tak tahu sedang melangkah ke arah mana, yang jelas, ia ingin berada sejauh mungkin dari cowok itu.
"Alena, jangan kesitu!" Kent berseru lagi. Tapi, seperti yang sudah-sudah, Alena tak mengindahkan.
Alena berhenti sesaat, "JANGAN IKUTI AKU!" ia balas berteriak, menumpahkan emosinya yang telah menumpuk.
"ALENA, AWAS!" Kent berteriak lagi.
Awas? Apa maksudnya?
Alena telat menyadari, laju sebuah mobil dari arah berlawanan. Saat ia menoleh, kendaraan itu benar-benar berada persis di hadapannya. Tak ada waktu untuk menghindar.
BRUKK!
Tubuh Alena terpental jauh, Alena masih berusaha mencerna semua ini. Tubuhnya tak bisa digerakkan, darah segar mengalir dari kepalanya.
"ALENA!" Kent berlari menghampiri, menatap tubuh Alena yang begitu mengenaskan.
Alena tersenyum sinis. Jadi inilah akhir hayatnya? Dikhianati lalu mati persis dihadapan orang yang mengkhianatinya?
Ia mati konyol.
***
Alena mengerjap beberapa kali. Kepalanya terasa pening akibat cahaya yang menerobos jendela.
Ia melenguh, tangannya bergerak menyentuh kepalanya.
"AQUILA!"
Alena terdiam, ia masih tak paham apa yang sedang terjadi?
Seorang lelaki dengan bola mata merah menyala menghampirinya, tubuh tegapnya memberikan pelukan hangat terhadap Alena. "Aquila, kau sudah sadar rupanya!" Ujar lelaki itu.
***
"Bagaimana perasaan kamu? Apa sudah lega?" Daniel bertanya pada Nadia yang saat ini memakai gaun berwarna marron, yang membuat dia nampak elegan.Nadia menghela nafas panjang dan kemudian menarik kedua sudut bibirnya. "Tentu saja, rasanya plong banget!" ucapnya dengan mata berbinar.Daniel tersenyum lega juga, karena bahagia Nadia tentu bahagianya juga. "Aku nggak mau lagi keras kepala deh! Yang kamu bilang, memang bener banget!" Nadia kecuali berucap, dia menyesalkan kejadian di kampus. Jika saja dulu dia mengikuti perkataan Daniel, tentu kejadian memalukan dan menyesakkan di kampus itu tak akan pernah terjadi. Keras kepala Nadia ternyata berakhir dengan derita saat ini. Daniel mengacak sedikit rambut Nadia karena merasa sangat gemas saat itu. Tak ayal hal itu langsung membantu Nadia protes. "Duh jail banget sih!? Kalau sampai riasan ini rusak, kamu harus tanggung jawab!" seru Nadia kesal. Daniel malah terkekeh dan malah memencet hidung Nadia. "Salah sendiri menggemaskan! Nanti m
"Kak, aku ingin bicara sama kamu. Penting."Pagi itu, Nadia menemui Alvin ketika kelas belum dimulai.Alvin menarik sudut bibirnya, senyum manis terpancar disana. "Tumben. Ok! Mau kapan?"Dari raut wajahnya nampak jika saat ini Alvin merasa sangat senang.Pemuda itu pun sebenarnya bingung tetapi juga bercampur dengan rasa bahagia. Selama ini Nadia selalu saja menghindar darinya, tetapi kini malah sang gadis pujaan hati itu mengajaknya bicara. Ini bukan mimpi kan?"Sekarang! Ayo!" Nadia yang masih nampak kecewa dengan wajah seriusnya pun langsung berjalan tanpa memperdulikan banyak mata yang sampai saat ini masih nampak menatap sinis padanya. Tanpa banyak tanya lagi Alvin pun mengekori dari belakang."Lo mau ngajak gue kemana sih?" tanya Alvin ketika Nadia malah menuju ke area parkiran. "Kenapa ngobrolnya nggak di tempat yang privat aja?"Nadia mendengus kasar dan sesaat menoleh sebentar ke belakang. " Jangan banyak tanya! Bentar lagi sampai!" Kemudian dia pun meneruskan langkahnya.S
"Daniel! Mengapa kamu merahasiakan semua ini dari mama dan papa?" Ketika Daniel baru saja sampai di rumah, Martha dan Hendrawan pun langsung menghampiri putranya itu. Mengejar dengan banyak pertanyaan yang intinya mereka merasa tak suka jika Daniel terus menyembunyikan apa pun tentang Nadia."Rahasia ap---" Daniel mencoba mengelak karena memang sebenarnya dia belum mengerti, beberapa hal yang terjadi di kantor membuatnya harus sedikit melupakan tentang yang terjadi di rumah.Martha langsung memotong ucapan anaknya itu. " Nadia di teror dan difitnah seperti itu, tapi kenapa sepertinya kamu malah tenang tenang saja?" Wanita tua itu tak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang khawatir. Nadia menghampiri ketiga orang yang masih berdiri di ambang pintu itu, ada rasa tak enak karena sang suami menjadi bahan kemarahan orang tuanya karena dia."Maaf, tadi aku memang sudah menceritakan semuanya pada Mama," tukas Nadia yang seperti biasa malah merasa bersalah.Daniel menarik kedua sudut bibir
"Apa aku sekarang juga harus mengatakan semuanya ya?" Nadia makin bimbang saat ini. Dua pilihan yang nyatanya membuat dia merasa sangat dilema. Pilihan A akan membuat semua orang di kampus mengetahui jati dirinya dan itu berarti akan membuat semua orang mengetahui jika dia bukan dari kalangan biasa. Tetapi dengan begitu justru akan membuat dia lebih tenang menjalani perkuliahan. Sedangkan pilihan B, dengan diam dan membiarkan semua orang menganggapnya misterius, justru mungkin akan membuat berita keliru itu semakin menjadi-jadi saja. Sempat terbersit dalam pikiran Nadia untuk tak lagi melanjutkan kuliah dan fokus pada keluarganya. Tetapi itu sama saja artinya dengan dia menghapus mimpi dan cita-cita yang dulu pernah dia pupuk semenjak kecil."Kenapa kamu terlihat sedih, Sayang?"Ketika Nadia sendang melamun seperti itu, terdengar suara lembut Martha. Sang mertua yang baik hati itu ternyata kini sudah berada tepat di sampingnya."Ah Mama." Dengan sigap Nadia pun langsung menyalami
"Monica, ayo makan dulu." Dewi menepuk pelan pundak sosok wanita yang sedari tadi terus melamun.Monica mengangkat kepalanya, dia menggeleng pelan. "Belum lapar, Tante."Tak mudah baginya untuk kembali hidup seperti biasanya setelah tahu kalau ayahnya itu enggan memaafkannya. Monica juga dari awal sud
"Nadia! Tunggu, Nad!" Putri yang sejak tadi mengikuti dari belakang itu tampak ngos-ngosan karena Nadia memang terus melangkahkan kakinya dengan perasaan kesal.Akhirnya Nadia menghentikan langkahnya dan menghela nafas berat sambil berbalik menatap teman barunya itu. "Maaf, Put. Kayaknya aku nggak bi
Clarissa tersenyum licik dan perlahan mulai mendekatkan tubuhnya sambil berbisik untuk mengatakan semua rencananya itu.Mata Luna seketika langsung terbelalak dengan sempurna dan dia menarik tubuhnya kembali sambil memasang tatapan penuh keterkejutan. "Lo gila ya, Sa?! Kalau ketahuan gimana coba?""Ah
"Cih! Nyebelin banget," desis sosok wanita yang baru saja duduk sambil meletakkan barang-barang belanjaannya.Luna, sang sahabat tampak mengerutkan keningnya dan segera bertanya, "Lo kenapa kelihatan bete banget kayak gitu sih?"Clarissa memutar bola matanya dengan malas karena dia masih ingat dengan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak