Short
Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku

Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku

Oleh:  LysaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21Bab
544Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Irene tidak pernah menyangka bahwa hubungan jarak jauh lintas negara yang sebentar lagi berakhir akan berujung dengan cara yang begitu menyedihkan. Bagaimanapun juga, cinta Tristan kepadanya tak tertandingi oleh siapa pun. Tristan adalah direktur sebuah rumah sakit yang sangat sibuk, tetapi jumlah penerbangan menuju luar negeri yang telah dinaikinya mencapai 900 kali. Waktu yang dihabiskan untuk pulang pergi bahkan mendekati puluhan ribu jam. Meski setiap kali mereka hanya bisa bertemu sebentar, dia selalu memeluk Irene erat-erat di tengah salju pertama dan berkata dengan suara rendah bahwa semua itu dilakukannya dengan sepenuh hati. Hadiah yang dikirimkannya untuk Irene bahkan tak terhitung jumlahnya. Mulai dari surat cinta tulisan tangan yang mencapai ribuan kata, hingga kalung bernilai ratusan miliar yang dia menangkan dengan penawaran tertinggi dalam sebuah lelang. Selama dia merasa sesuatu itu bisa membuat Irene tersenyum, sekalipun itu adalah bintang di langit, dia akan mempertaruhkan segalanya untuk memetiknya. Cinta yang terukir hingga ke dalam jiwa itu tidak pernah berubah sedikit pun selama tiga tahun. Suatu hari, Irene menahan rasa lelah setelah penerbangan semalaman untuk pulang ke tanah air. Setibanya, dia mendengar teman-teman masa kecil mengagumi cinta Tristan kepadanya yang tetap tak berubah dari dulu hingga sekarang. Namun, Tristan justru menyangkalnya dengan suara serak. Dia harus mengakui bahwa hatinya terasa seperti diiris oleh ribuan bilah pisau. Rasa sakit yang ditanggungnya tak berbeda dengan siksaan sayatan demi sayatan yang bisa membuatnya mati.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Irene tidak pernah menyangka bahwa hubungan jarak jauh lintas negara yang sebentar lagi berakhir akan berujung dengan cara yang begitu menyedihkan.

Bagaimanapun juga, cinta Tristan kepadanya tak tertandingi oleh siapa pun.

Tristan adalah direktur sebuah rumah sakit yang sangat sibuk, tetapi jumlah penerbangan menuju luar negeri yang telah ditumpanginya mencapai 900 kali. Waktu yang dihabiskan untuk pulang pergi bahkan mendekati puluhan ribu jam.

Meskipun setiap kali mereka hanya bisa bertemu sebentar, dia selalu memeluk Irene erat-erat di tengah turunnya salju pertama dan berkata dengan suara rendah bahwa semua itu dilakukannya dengan sepenuh hati.

Hadiah yang dia kirimkan untuk Irene bahkan tak terhitung jumlahnya.

Mulai dari surat cinta yang ditulis tangan hingga mencapai ribuan kata, hingga kalung bernilai ratusan miliar yang dia menangkan dengan penawaran tertinggi dalam sebuah lelang.

Selama dia merasa sesuatu itu bisa membuat Irene tersenyum, sekalipun itu adalah bintang di langit, dia akan mempertaruhkan segalanya untuk memetiknya.

Cinta yang terukir hingga ke dalam jiwa itu tidak pernah berubah sedikit pun selama tiga tahun.

Suatu hari, Irene menahan rasa lelah setelah penerbangan semalaman untuk pulang ke tanah air. Begitu sampai, dia mendengar teman-teman masa kecilnya mengagumi cinta Tristan kepada dirinya yang tetap tak berubah dari dulu hingga sekarang. Namun, Tristan justru menyangkalnya dengan suara serak.

Dia harus mengakui bahwa hatinya terasa seperti diiris oleh ribuan bilah pisau. Rasa sakit yang ditanggungnya tak berbeda dengan siksaan sayatan demi sayatan yang bisa membuatnya mati.

Suara pria itu tidak keras, tetapi membuat ruang VIP itu langsung terjerumus ke dalam keheningan. Setelah waktu yang lama, barulah seseorang memecah suasana yang membeku itu.

"Tristan, kamu cuma bercanda, 'kan?"

"Kalian berdua terkenal sebagai pasangan sempurna, si primadona kampus dan pangeran kampus yang serasi. Waktu Irene berangkat ke luar negeri, setelah mengantarnya pergi, kamu bahkan nangis diam-diam kayak anak kecil. Selama tiga tahun ini juga, mau itu hujan atau badai, kamu tetap terbang ke luar negeri untuk menemuinya ...."

Temannya tertawa canggung dua kali, lalu bertanya dengan nada berlebihan, "Mana mungkin kamu nggak cinta sama Irene lagi?"

"Aku juga nggak tahu." Nada bicara Tristan sangat datar. Pria yang biasanya selalu tenang saat menghadapi segala situasi itu kini tampak sedikit kebingungan. "Hanya saja, rasanya tiga tahun ini sangat melelahkan."

"Setiap kali meluangkan waktu untuk menemuinya, memang aku merasa senang. Tapi yang lebih banyak kurasakan justru kesepian dan kelelahan selama perjalanan pulang pergi yang memakan lebih dari belasan jam."

"Waktu kasih hadiah, aku juga harus terus mikirin berbagai ide baru. Mikir dia bakal suka atau nggak, dia bakal senang atau nggak setelah menerimanya."

Tangan Tristan yang telah bertahun-tahun menggenggam pisau bedah itu, kini memegang sebuah gelas kaca. Jari-jarinya tampak tegas. Dia menatap pantulan cahaya warna-warni di dalam gelas itu saat berkata pelan, "Aku masih cinta dia ... tapi cinta ini ... rasanya hampir terkuras habis."

Teman-teman masa kecil mereka pun berpandangan, lalu mengalihkan topik pembicaraan dengan canggung. Sementara itu, pikiran Irene sudah kosong dan telinganya terus berdenging.

Jelas-jelas ini seharusnya menjadi malam kejutan yang membahagiakan, tetapi Irene bahkan tidak ingat bagaimana dirinya diam-diam pergi dengan langkah terhuyung-huyung.

Dia bahkan berpikir, andai saja dirinya tidak pulang lebih awal, bukankah dengan begitu dia bisa menipu diri sendiri dan berpura-pura bahwa hubungan mereka masih sesempurna dulu?

Namun, di dunia ini tidak ada gunanya berandai-andai. Saat pikirannya masih kacau, ponsel yang disetel dalam mode senyap tiba-tiba bergetar.

Irene mengangkat kepala dan melihat Tristan yang entah sejak kapan sudah berlari ke area terbuka. Dengan alis berkerut, pria itu menoleh ke sana kemari untuk mencari sesuatu.

Hatinya langsung menegang. Irene buru-buru bergeser lebih jauh ke bawah bayangan pohon yang gelap. Setelah menatap layar cukup lama, dia baru mengangkat panggilan itu dengan tenggorokan yang terasa sesak.

Napas Tristan terdengar sedikit terburu-buru. "Sayang, aku baru lihat pesanmu sekarang. Kamu pulang lebih awal? Sekarang kamu di mana? Apa kamu datang ke bar buat cari aku?"

Suara pria yang begitu dikenalnya bercampur dengan dengung ponsel, menghantam gendang telinganya. Seketika, hidung Irene terasa perih dan berair.

Dia ingin menanyakan banyak sekali hal. Namun pada akhirnya, yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata yang dipaksakan melewati isak yang tertahan. "Aku mendadak berubah pikiran, jadi langsung pulang ke rumah .... Kapan kamu pulang?"

Mendengar itu, kecemasan di wajah Tristan akhirnya menghilang. Dengan suara pelan dan lembut, dia berkata, "Aku akan pulang seka ...."

Sebelum kalimatnya selesai, seorang gadis yang mengenakan syal merah berlari ke pelukan Tristan.

Dengan mata kepalanya sendiri, Irene melihat Tristan langsung menutupi mikrofon ponselnya. Senyuman muncul di mata Tristan. Dia mengacak-acak rambut gadis itu dengan akrab, lalu dia mengubah jawabannya begitu saja. "Sekarang aku lagi sibuk. Tunggu aku ya."

Semburat merah di pipi putih gadis itu tak luput dari pandangan Irene. Dalam sekejap, dunia seakan berputar-putar. Tubuhnya seolah-olah jatuh ke dalam gua es yang membekukan.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
21 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status