MasukPOV Angela
“Apakah kau melihat siapa itu?” tanya Lyla saat aku kembali ke tempat kami tadi.
“Tidak,” jawabku.
Dia mengembuskan napas kasar. "Ini semua salahmu. Kalau sampai ada berita buruk apa pun tentangku muncul di media, apa pun itu, kau juga akan ikut jatuh bersamaku.”
Aku mendengus pelan, menatapnya balik.
"Salahku?" kataku. "Kau yang datang ke sini, Lyla. Tidak ada yang menyeretmu."
Ekspresinya langsung menge
POV AngelaKelopak mataku terasa begitu berat.Butuh beberapa kali usaha sebelum akhirnya berhasil kubuka perlahan.Langit-langit putih mulai terlihat jelas di atas sana.Selama beberapa detik aku hanya menatapnya, tidak benar-benar mengerti di mana aku berada.Sinar matahari yang hangat menembus celah tirai, menyelimuti ruangan asing itu dengan cahaya lembut.Aku berkedip beberapa kali hingga pandanganku akhirnya benar-benar fokus.Lalu semuanya kembali memenuhi ingatanku.Ian telah menculikku.Kami melarikan diri dengan mobil.Kecelakaan itu.Bayiku.Jantungku langsung mencelos.Refleks, tanganku bergerak menuju perutku.Namun baru sedikit bergerak, rasa nyeri yang tajam menjalar dari bahu hingga tulang rusukku.Aku terkesiap pelan.Baru saat itulah kusadari ada infus yang terpasang di punggung tanganku. Pelipisku terasa tertarik oleh balutan perban, sementara seluruh tu
POV AngelaAir mataku hampir jatuh, tetapi kutahan sekuat mungkin.Saat itulah pintu kamar terbuka begitu saja.Salah satu pria bertubuh tinggi bergegas masuk. Napasnya memburu, wajahnya tegang.Ian langsung menoleh dengan kesal karena gangguan itu."Apa?"Nada suaranya tajam."Kau sudah membeli makanannya?""Belum, Tuan."Pria itu sempat melirik ke arahku sebelum kembali menatap Ian."Kami mendapat informasi kalau polisi sudah bergerak. Mereka berhasil menemukan tempat ini."Dadaku langsung mengencang. Polisi...Harapan yang tadi nyaris padam kembali menyala.Aku berharap mereka akan menemukanku di sini. "Kita harus pergi sekarang," lanjut pria itu.Ian tidak tampak terkejut. Dia hanya mengangguk singkat, lalu mengalihkan tatapannya padaku. "Sepertinya kita harus pindah," katanya tenang. Aku menggeleng tegas."Aku tidak akan ikut denganmu."Rahang Ian langsung mengeras."Apa yang baru saja kau katakan?" suaranya nyaris seperti geraman."Aku bilang aku tidak ikut."Dalam dua langk
POV AngelaAku tidak tahu sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri.Kesadaranku perlahan kembali saat suara seorang pria terdengar samar di telingaku."Tuan... jika Nyonya Bennett tahu tentang ini, dia pasti tidak akan setuju."Lalu suara pria lain terdengar."Aku tidak butuh persetujuannya."Hening beberapa detik."Sekarang pergi. Dan jangan pernah mempertanyakan perintahku lagi.""Baik, tuan."Aku mendengar suara langkah kaki menjauh.Lalu terdengar bunyi pintu yang terbuka dan kembali tertutup.Aku berusaha membuka mata.Pandanganku masih buram.Hal pertama yang kulihat saat penglihatanku akhirnya fokus adalah Ian Bennett.Dia duduk di sebuah kursi beberapa langkah dariku, menatapku dalam diam.Jantungku nyaris berhenti berdetak.Aku mencoba menggerakkan tubuhku tetapi tidak bisa.Kepanikan langsung menyergapku saat menyadari kedua pergelangan tangan
POV AngelaSudah lebih dari sebulan sejak aku meninggalkan Los Angeles. Bersamaan dengan kepergianku dari kota itu, aku juga meninggalkan kehidupan yang selama ini kubangun sebagai seorang aktris.Kebencian itu tidak pernah benar-benar berhenti.Sesekali, aku masih membuka media sosialku, hanya untuk menemukan gelombang komentar kejam yang kembali memenuhi layar.Entah sejak kapan, semua itu berhenti menyakitiku.Lalu, pada suatu pagi, sebuah berita utama yang kubaca membuatku membeku.Evelyn Tewas. Ian Bennett Ditetapkan sebagai Tersangka Utama.Menurut laporan, Ian menghilang sebelum polisi sempat menangkapnya dan kini menjadi buronan."Angela."Suara Beth membuyarkan lamunanku.Aku segera mengunci layar ponsel dan meletakkannya di atas meja tamu.Selama sebulan terakhir, Beth tetap menemaniku.Entah sudah berapa kali aku mengatakan bahwa dia tidak perlu tinggal bersamaku, tetapi dia selalu menolak meninggalkanku sendirian.Sekarang kami tinggal di sebuah kota kecil di dekat Eureka,
POV AaronJarum jam di sudut ruang kerja menunjukkan pukul 12.47 malam.Aku mengusap pelipis sambil membaca halaman terakhir laporan ketika ponselku yang tergeletak di meja bergetar pelan.Satu pesan masuk. Bisakah kita bertemu?Aku menatap nama pengirimnya beberapa detik.Akhirnya.Aku membalas singkat.Besok pagi. Tempat yang sama.***Keesokan paginya mobil hitamku berhenti di sebuah jalan yang masih sepi.Matahari baru saja terbit. Kabut tipis masih menggantung di antara deretan bangunan industri yang belum mulai beroperasi.Aku melirik jam tangan.Tepat waktu.Beberapa detik kemudian, seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi menutupi wajahnya berjalan mendekat.Dia membuka pintu penumpang dan langsung masuk.Pintu kembali tertutup.Pria itu mengeluarkan sebuah USB flash drive dari sakunya dan meletakkannya di atas konsol tengah."Aku harap kau menepati janjimu."Aku mengambil benda kecil itu."Apa ini?""Bukti yang bisa menghancurkan Ian Bennett."Aku membolak-balik USB i
POV IanBeberapa hari berlalu.Setiap pagi, berita tentang Evelyn masih menghiasi halaman utama media. Para analis terus berspekulasi. Polisi berkali-kali memberikan pernyataan kepada media, tetapi belum ada jawaban yang benar-benar pasti.Aku membaca semuanya.Mereka hanya menebak-nebak.Tidak ada satu pun yang mendekati kebenaran.Menurut perkembangan terbaru, penyidik belum menemukan bukti yang mengarah pada tindak pidana. Untuk saat ini, mereka masih memperlakukan kematian Evelyn sebagai dugaan kecelakaan sambil melanjutkan penyelidikan.Bagus.Aku menyandarkan tubuh ke kursi.Selama mereka terus melihat ke arah yang salah, aku tidak punya alasan untuk khawatir.Aku juga sudah menyuruh Ashton membersihkan semua bukti yang bisa mengaitkan kasus ini padaku.Sudut bibirku terangkat tipis.Malam ini, keluarga Bennett akan mengumumkan pemimpin baru perusahaan.Begitu semuanya jatuh ke tan
POV AngelaAku berdiri di sana, membeku.Melihatnya berjalan pergi dengan Lyla di dalam pelukannya, dadaku terasa sesak. Perasaan sialan ini lagi.Aku tidak bergerak, hanya menatap sampai mereka menghilang dari pandangan.Baru saat itu juga aku kembal
POV IanAku mengangkat pandanganku padanya.Ibuku berdiri di depanku dengan postur tenang, sepenuhnya terkendali.“Jangan sampai kau mengacaukan semuanya lagi.”Aku menghela napas pelan. “Tidak akan.”"Bagus."Dia menatapku beberap
POV AngelaBeth menatap mobil itu lagi.“Oke,” lanjutnya. “Jadi kau menang lotre… atau diam-diam jadi miliarder dan lupa memberi tahu aku?”Aku terkekeh pelan. “Ya. Persis begitu."“Aku serius.” Dia menyilangkan ta
POV Angela“Kontrak akan dikirim setelah tim legal menyelesaikan detailnya. Akan ada pelatihan intensif—dialek, fisik. Jadwalnya ketat.”“Aku mengerti. Itu bukan masalah.”Mercer mengangguk, lalu berdiri. Aku ikut berdiri.Dia mengulurkan







