LOGIN“Kau tidak seharusnya berbuat ulah di hadapan paman-mu. Jangan lupa kalau kita sangat membutuhkannya. Mau kau memberi makan apa calon istrimu nanti, jika sampai Abi tidak mau lagi peduli terhadap apa pun yang kau lakukan?”
Masih cukup pagi, tetapi Moreau yakin sedang tak salah mengenali suara seseorang yang nyaris menyerupai peringatan; bisikan; dan hal – hal relevan. Dia hanya berniat pergi ke dapur, sempat menemukan ayah sambungnya masih tidur di ruang tamu, tetapi berpikir bahwaMemang sedikit aneh menyadari bagaimana Abihirt memutuskan untuk kembali tidur—cukup lama, hingga setelah bangun, pria itu membuat anak – anak tak ragu mengajukan pelbagai pertanyaan.“Ada apa dengan tanganmu, Daddy? Dan ini kenapa? Daddy tak suka warna kutik merah yang kupilih?”Lore sedari tadi tidak berhenti, meski mereka tahu bahwa Abihirt sudah cukup kewalahan; ntah masih terlalu mengantuk atau benar – benar kelelahan.“Warna merah yang kau pilih sangat bagus, Tuan Putri. Ada insiden kecil. Kuku di jari kelingkingku hilang. Jadi, memang harus membungkusnya seperti ini.” “Kau tak bilang kuku-mu copot!” Moreau buru – buru menambahkan. Sangat kesal karena Abihirt jelas tidak menceritakan semua secara gamblang. Di sini, mungkin pria itu keceplosan karena Lore jelas akan terus mengulik jawaban sampai gadis kecil mereka merasa yakin.“Aku baik – baik saja, Mommy.”“Aku baik – baik saja. Selalu seperti itu,” Moreau menirukan cara bicara Abihirt dengan ekspresi
Seseorang berusaha mengangkat tubuhnya; itu hal pertama yang Moreau rasakan setelah dia yakin sudah tertidur cukup lama. Hanya sesaat membuka mata untuk memperhatikan situasi di sekitar. Suasana yang bahkan masih cukup temaram jika dia berharap matahari pagi menyapa dengan caranya sendiri.“Kau baru pulang?” Selesai dengan pemikiran samar dan berulang. Perhatian Moreau teralihkan pada wajah yang terlihat berbeda. Dia memang masih mengantuk, tetapi tahu betul aroma tubuh ini. Abihirt sudah kembali dengan kegiatan yang pria itu sebut urusan pribadi?Dia bertanya – tanya sudah pukul berapa sekarang. Kenapa tubuh Abihirt terasa seperti gemetar, meski pria itu tampak berusaha keras menahan diri sambil membawa langkah mereka menuju kamar tidur.“Di mana pakaianmu? Kenapa kau pulang dengan bertelanjang dada seperti ini?” tanya Moreau setelah yakin bagaimana kulit tangannya bertemu langsung dengan permukaan dada liat Abihirt yang terasa hangat, tetapi juga seperti menyimpan
“Tidak buruk untuk menginjakkan di sini, bukan? Kenapa kau menolak dengan penuh drama?”Malam ini merupakan hal paling menjanjikan bagi Mansilo Hubber, yang menjadi awal bahwa apa pun keinginannya selalu menemukan akhir terbaik. Mungkin memang harus menunggu sampai berpuluh tahun untuk memiliki Rowan kecil, yang sekarang dalam balutan tubuh pria dewasa—tampan—menggairahkan. Dia benar – benar sudah tidak sabar saat mereka ada di sini. Secara harfiah, mempunyai pendekatan yang sama seperti ruang merah, tetapi Mansilo Hubber lebih senang menyebutnya tempat penghukuman.Semua akan berjalan pelan – pelan. Dia tidak akan langsung menargetkan Abihirt sebagai hidangan utama. Perjalanan mereka masih sangat menyenangkan jika membiarkan waktu menjadi pemburu.Surat perjanjian disahkan bersama. Mansilo Hubber tahu Abihirt tidak akan pergi ke mana pun selama Moreau dan keluarga kecil mereka menjadi ancaman terbaik. Haruskah dia memberi begitu banyak pujian kepada diri sendiri karena
“Aku akan keluar sebentar. Kau tidak apa – apa menggantikan tugasku untuk menemani anak – anak tidur? Mereka tadi meminta dibacakan dongeng, tapi ada urusan penting yang perlu kuselesaikan.”Mereka—hanya berdua, masih di dapur; mencuci sisa perangkat makan bersama setelah makan malam, dan tiba – tiba sebuah pernyataan membuat atmosfer terasa berbeda.Moreau tidak yakin tentang ini. Sedari tadi, Abihirt sudah menunjukkan sikap aneh, seakan – akan ada kekhawatiran yang tak bisa pria itu kendalikan begitu saja. Dia benar – benar ingin tahu, tetapi masih belum menemukan cara terbaik supaya Abihirt bersedia berbagi cerita.“Kau mau ke mana memangnya?”Itu yang akhirnya dia tanyakan. Ada jeda sesaat. Abihirt seperti berpikir. Ntahlah, Moreau melihat prospek terhadap hubungan mereka supaya menjadi lebih sehat sangatlah tipis. Benaknya nyaris putus asa berpikir jika dia bisa menjadi tempat di mana Abihirt mau mencurahkan semua kegersangan di balik bahu pria tersebut.“Ak
“Hi, Mommy. Daddy membuatkan kami sarapan yang lezat.”Sebuah pemandangan tidak biasa di pagi hari. Moreau tahu bagaimana permintaan Abihirt semalam membuatnya terbangun lebih siang. Namun, tidak pernah menduga bahwa pria itu akan terlihat sangat sibuk di dapur—masih cukup sibuk dengan penampilan seksi—yang nyaris tidak bisa membuatnya berkomentar apa pun; hanya dengan celana kain dan apron yang meliputi tubuh seksi di sana. Benar – benar menggiurkan.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Moreau setelah memberi senyum dan ciuman singkat di pipi tebal anak – anak. Sempat menanggapi pernyataan mereka, tetapi tidak dimungkiri ... dia memang langsung mendatangi Abihirt—memberi pria itu tatapan dibuat – buat, supaya mengatakan sesuatu.“Aku sedang menyibukkan diri untuk menyiapkan sarapan untuk kalian.”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar tenang, saat pemiliknya sedang membungkuk sekadar memberi toping madu di atas roti panggang itu. Well, Abihirt jarang sekali b
Tuntutan untuk tetap tidur masih terus mendesak. Moreau bahkan nyaris tak menemukan cara terbaik sekadar membuka mata saat merasakan sesuatu yang halus dan menusuk di waktu bersamaan, berusaha memberikan sensasi tambahan, tetapi begitu dekat di ceruk lehernya.Dia bergumam samar; sesekali mencoba menyingkirkan sesuatu yang sangat berat, sesuatu yang terasa keras dan mengingatkannya dengan dada seseorang saat tidak sengaja menempatkan sentuhan terlalu lama di sana.“Abi, apa yang kau lakukan?”Satu pertanyaan itu tidak diucapkan dengan kesadaran penuh. Namun, Moreau mencoba keras untuk merangkak ke permukaan. Sedikit yakin bahwa kali ini Abihirt memilih cara yang sebenarnya sudah sering kali pria tersebut lakukan, meski dia masih enggan membuka mata.Sapuan hangat dan basah di waktu bersamaan benar – benar tidak dapat dihindari. Pada akhirnya, Moreau memutuskan untuk membuka mata; perlahan – lahan dan menyadari suasana di dalam kamar bahkan masih begitu temaram.S
Sebentuk tubuh jangkung suaminya sedang duduk menikmati sekaleng soda di meja bar. Barbara sudah menduga hal itu, segera menghampiri Abihirt yang langsung menoleh diliputi ekspresi wajah begitu tenang. Nyaris tidak ada yang bisa terungkap ketika dia memosisikan diri duduk begitu dekat sambil memp
“Apa yang kau lakukan, Abi?” Dia bertanya dengan suara nyaris tercekat selagi ayah sambungnya sedang mengerjakan sesuatu. Moreau yakin pria itu telah membagi rambut panjangnya menjadi tiga bagian. Dia tak pernah memiliki poni, tetapi sisa – sisa anak rambut akan terurai sendirinya.
Itu semacam tuduhan serius yang sama sekali tidak penah Moreau pikirkan bahwa dia akan melakukan hal demikian. Semua adalah ide Barbara. Moreau harus menahan napas, karena bahkan Abihirt tidak diberitahu, setidaknya sedikit, tentang keputusan yang wanita itu ambil.
Siraman cahaya sulur - sulur menembus dari jendela kaca, yang semalam—lupa Moreau tutupi, perlahan membuatnya mengernyit. Dia langsung tersentak bangun, lantas menoleh ke belakang sekadar memastikan sesuatu .... Ayah sambungnya dengan posisi telentang dan







