LOGINAdrian Hadinata seorang lelaki berusia dua puluh dua tahun dipaksa sang kakek harus segeralah menikah. Ia hanya diberi waktu satu bulan untuk segera mencari pendamping. Ia memutuskan untuk melamar Natasha kekasihnya yang juga seorang model. Namun, karena alasan karir wanita itu menolak lamaran Adrian. Adrian yang sedang frustari mencoba menghibur diri di villa milik keluarga. Disana ia bertemu seorang gadis bernama Alya, yang bekerja menggantikan Bibi Marina. Ia membawa gadis itu ke kota untuk dijadikan asisten di apartemennya. Akhirnya ia meminta gadis itu untuk menjadi pengantin pura-puranya. Benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu. Natasha hadir lagi untuk merebut Adrian, ia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pria itu kembali. Termasuk membongkar status pernikahan mereka. Pada akhirnya kekuatan cinta tak dapat memisahkan mereka.
View MoreChapitre 1 : L’échappatoire
Alec n’avait jamais cru en la chance. Pas après tout ce qu’il avait traversé. Les moqueries, les insultes, les coups c'était devenu une routine, un rythme de souffrance qui avait fini par s'incruster dans chaque recoin de son être. Il avait appris à encaisser, à faire le vide sur son visage pour que personne ne voie ce qui bouillonnait à l'intérieur. Mais dans le silence, tout n'était que chaos. Il n’y avait jamais eu de répit. Pas pour lui. L’adolescence l’avait forgé dans la douleur, et la fin du lycée n’avait rien refermé. L’université non plus. Les souvenirs le traquaient jusque dans les amphithéâtres, se glissaient dans les regards des inconnus. Il restait le souffre-douleur, l’exclu, l’ombre que personne ne remarquait sauf pour lui faire du mal. Et tout ça, à cause d’un seul nom. Erik. Son bourreau. Celui qui avait marqué chacune de ses années au fer rouge. Chaque croisement avec lui rouvrait une cicatrice, chaque regard échangé ravivait l’humiliation. Et pourtant, malgré tout, il y avait entre eux quelque chose d’indicible, quelque chose qui le rongeait de l’intérieur sans qu’il ose le nommer. Ce jour-là, tout allait basculer. Assis sur un banc du parc, Alec avait enfoui son visage sous sa capuche. Le vent faisait danser les feuilles autour de lui. Il se sentait invisible ce qui était exactement ce qu’il recherchait. Disparaître. Effacer chaque parcelle de son existence. Il en avait assez d’être celui qu’on montrait du doigt, celui qu’on piétinait. Il était fatigué, à bout. C’est là qu’il le vit. Le sorcier. Un vieil homme en short à pois violets, tout droit sorti d’un cirque ou d’un rêve fiévreux. Il s’approcha d’Alec avec un sourire bien trop calme. — Tu voudrais tout oublier, n’est-ce pas ? Effacer tes souffrances. Recommencer à zéro. Sa voix semblait venir d’ailleurs, d’un autre temps. Alec le dévisagea, méfiant. Il n’avait jamais cru à la magie. Pourtant, quelque chose dans le regard du vieil homme — une lueur étrangement lucide le fit hésiter. L’idée d’échapper à son passé, de devenir quelqu’un d’autre, exerçait sur lui une fascination presque douloureuse. — Je veux que tout disparaisse, murmura-t-il, la voix brisée par des années de silence. Le sorcier acquiesça, sortant de sa poche un pendentif étrange. — Ce que tu demandes peut être fait. Mais sache-le : effacer le passé a un prix. Une fois l’oubli scellé, il n’y a pas de retour en arrière possible. Alec ne réfléchit pas. Il n’en avait pas besoin. Il voulait juste que ça cesse. Toute cette douleur. Tout ce poids. D’un geste, le sorcier actionna la magie. Le monde bascula. Alec fut saisi d’un vertige immense, comme si l’air s’épaississait autour de lui. L’espace se tordit, se dilua. Il ferma les yeux, le cœur cognant dans sa poitrine. Il sentit alors le passé se détacher de lui, couler hors de son corps comme un poison qu’on aurait drainé. Puis, plus rien. ."Terima kasih atas pemberiannya, Tuan. Tapi kenapa harus sebanyak ini ?" Alya mengutarakan pertanyaan yang dari tadi mengganjal di hatinya. Mereka telah sampai di apartemen saat hari sudah menjelang sore."Aku hanya tidak ingin orang menilaimu kampungan, anggap saja itu bonus. Jadi kau harus bekerja dengan giat dan menuruti semua perintahku." Adrian kemudian berlalu menuju kamarnya.Alya tetap merasa tidak enak hati, pasalnya barang-barang yang dibeli untuknya hari ini setara dengan satu tahun gajinya. Mau menolak pun percuma, karena Adrian termasuk tipe orang yang tidak suka dibantah. Gadis itu kemudian membawa barang-barang itu ke kamar, ia lalu membersihkan diri di kamar mandi sebelum menyiapkan makan malam.Makan malam telah siap, dan mereka berdua seperti biasa makan da
Matahari telah menampakkan sinar keemasannya di ufuk timur, semburat warna jingga dan merah perlahan menghilang. Alya telah bangun sejak pukul lima pagi tadi, setelah membersihkan rumah terlebih dahulu dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci ia mulai berkutat di dapur.Adrian mencium harum aroma nasi goreng saat keluar dari kamarnya, perutnya langsung berbunyi nyaring. Masakan gadis itu membuatnya berselera makan dan ia jadi mudah lapar, padahal sebelumnya hampir tak pernah ia makan secara teratur. Ia berjalan menuju dapur, nasi goreng ampela ati dan kerupuk udang sudah siap di meja makan."Selamat pagi, Tuan." Alya menyapa sambil meletakkan piring berisi telur mata sapi setengah matang."Pagi, kalau begini caranya perutku akan semakin gendut." Adrian menggumam sambil
Adrian dan Alya sudah bersiap untuk berangkat setelah mereka menyelesaikan sarapan, barang-barang yang akan mereka bawa pun sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Alya yang sudah menyelesaikan sarapannya lebih dahulu di dapur khusus pembantu sedang berpamitan dengan teman-temannya. Mereka saling memeluk dan meminta maaf."Bi, maafin Alya ya, dan terima kasih atas bantuan Bibi selama ini." Ucap Alya sambil mencium tangan Bibi Marina lalu memeluknya."Iya sama-sama, Nduk. Bibi juga minta maaf kalau ada salah sama kamu." Ucap Bibi Marina sembari mengelus puncak kepala gadis itu.Alya tak kuasa menahan lelehan air mata yang mulai jatuh di pipinya. Bibi Marina adalah satu-satunya orang yang peduli padanya setelah kepergian ibunya. Ia biasa berkeluh kesah dengan wanita itu tentang Aya
Mobil yang dikendarai Adrian dan Alya melaju menyusuri jalanan berbukit menuju ke rumah Alya, mereka berdua saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Alya dengan pikirannya tentang sang ayah sepeninggalnya nanti, sedangkan Adrian sibuk dengan debaran di dadanya yang melaju lebih cepat dari biasanya. Untuk menyembunyikan kecanggungan diantara keduanya Adrian menyalakan musik dari radio tape di mobilnya yang mengalunkan lagu berjudul 'Sempurna' dari Gita Gutawa.Kau begitu sempurnaDi mataku kau begitu indahKau membuat dirikuAkan selalu memujamuDi setiap langkahkuKu kan s'lalu memikirkan dirimu
Adrian menghempaskan tubuhnya di ranjang, ia merasa lelah hari ini. Bukan lelah secara fisik tapi lebih pada pikirinnya. Ia mengingat lagi kejadian di pasar tadi yang begitu tiba-tiba, hingga tak menyadari bahwa ia bersikap seperti orang bodoh. Namun, ia kemudian t
Adrian berdiri sambil bersandar di tembok pembatas balkon, tangannya sibuk memainkan ponsel sambil sesekali pandangannya melihat ke dalam kamar di mana Alya sedang bekerja. Sejak pertama melihat gadis itu Adrian seolah terkena sihir, atau mungkin ini yang dinamakan
Udara dingin pukul lima pagi tak menyurutkan niat Alya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu berjibaku dengan kegiatan mencuci baju sebanyak dua ember cat besar, belum lagi cucian piring sisa makan semalam yang menumpuk. Pekerjaan seperti ini sudah menjadi sarapan sehari-hari.N
Sudah sepekan berlalu sejak lamaran di restoran waktu itu. Beberapa kali sudah Adrian mencoba meyakinkan Natasha akan permintaannya, bahkan laki-laki itu rela merendah padanya. Tapi Natasha tetap tak bergeming. Bahkan, semua kontak yang terhubung dengan Adrian diblokir oleh gadis itu. Membuat pri
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore