Share

Bab 4

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-04-11 07:40:04

Arkan sedang duduk di kursi kerjanya. Termenung menghadapi laporan yang tercipta di layar komputer pintarnya.

"Ada apa denganku?" Arkan mengusap wajahnya dengan kasar.

Sudah beberapa bulan ini performa kinerjanya menurun hingga membuat manajernya sering menegur.

Fiona mengatakan jika Arkan kurang liburan. Pria ini mematuhinya dan pergi berlibur di Bali kemarin selama beberapa hari, tetap saja rasa penat di kepalanya ini tak menghilang.

Terdengar suara pintu diketuk hingga membuat Arkan menghela nafas panjang.

"Masuk!" Perintahnya. Arkan menebak pasti Fiona yang akan mengomelinya. Lagi-lagi pernikahannya dengan Aluna lah yang selalu dipermasalahkannya.

"Maaf, mas. Aku ganggu."

Arkan mendongak ketika mendengar suara penuh kegugupan itu. Ternyata istrinya yang membawa sebuah nampan.

"Aku hanya ingin mengantarkan ini.."

Dengan hati-hati Aluna menaruh satu nampan yang berisi secangkir teh hangat dan sepiring cemilan. Dahi Arkan mengernyit ketika melihat isi piring itu.

"Apa itu?" Tanyanya.

"Kue coklat. Tadi siang aku membuatnya khusus untukmu." Jawab Aluna dengan senyuman mengembang.

Mendengar kue coklat, Arkan langsung menatap istrinya. Yang ditatap pun jadi gugup kembali.

"Tapi, aku nggak tahu apakah rasanya enak atau tidak. Maaf kalau tidak sesuai dengan seleramu." Aluna yang gugup jadi meremas daster yang dia pakai. Arkan yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.

"Terima kasih. Taruhlah disana."

Aluna mengangguk dan menyingkir dari hadapan suaminya. Ia takut jika terlalu lama akan membangkitkan kemarahan Arkan lagi.

Sementara Arkan langsung meraih piring berisi kue tersebut ketika Aluna keluar dari ruangannya.

"Kue coklat.."

Arkan menatap nanar kue tersebut. Kue ini mirip sekali dengan kue yang pernah Nindi buatkan untuknya.

Sendok kecil itu diambil, Arkan memotong kue tersebut dan menyendokkannya ke dalam mulut. Ternyata rasanya luar biasa. Arkan pun bergumam tak karuan.

Oleh karena menyantap kue yang manis ini membuat mood Arkan membaik. Pria ini langsung mengerjakan laporannya dengan penuh semangat.

Besoknya, Aluna bergelut di dapur untuk membuat sarapan untuk semua orang. Setelah selesai, dia masuk ke kamar dan melihat suaminya yang tengah bersiap.

Ingin sekali Aluna bertanya apakah suaminya butuh bantuan, tapi Aluna takut akan penolakan. Tingkah Aluna yang terlihat termenung itu mengundang perhatian Arkan.

"Kenapa melamun?" Tanyanya yang membuat Aluna terkesiap.

"Oh.. aku cuma mau ngajak sarapan." Jawab Aluna terbata.

Arkan berdeham. "Nanti aku menyusul."

Di meja makan, seperti biasa hanya Fiona yang berceloteh. Entah apa saja masakan Aluna yang terasa kurang baginya. Tepatnya, apa yang dilakukan Aluna selalu salah. Sementara, Arkan memilih diam tak menanggapi ucapan ibunya.

Setelah sarapan, Aluna mengantar suaminya sampai ke mobil. Mulut ini rasanya gatal ingin memuji penampilan suaminya. Tapi lagi-lagi Aluna takut. Dia pun hanya diam, menyalimi tangan suaminya dengan takzim dan memperhatikan suaminya yang masuk ke dalam mobil.

Sebelum melajukan mobilnya, Arkan membuka kaca jendela mobilnya.

"Kue coklat semalam enak. Nanti buatkan lagi, ya." Ucap Arkan dengan wajah datarnya.

Senyum mengembang di wajah Aluna. Hatinya yang kelabu tiba-tiba berpelangi. Aluna pun mengangguk cepat.

"Baik, mas." Apa saja permintaan suaminya akan dipatuhinya. Asal Aluna bisa membuatnya bahagia.

Setelah kepergian Arkan, Aluna sibuk di dapur untuk memasak dan membuat kue coklat kesukaan suaminya.

Ternyata pesan mesra yang dia temukan di ponsel suaminya memberikan dampak yang baik. Buktinya, kue itu bisa menjadi jalan agar Aluna dan Arkan menjadi dekat.

Ketika malamnya, Aluna kembali mengantarkan kue tesebut kepada suaminya. Tidak seperti kemarin, Arkan mengatakan kalau dia sungguh menyukai kue buatan Aluna.

"Apa lagi makanan yang mas sukai? Nanti aku buatkan." Tanya Aluna.

Arkan tampak berpikir. "Kue coklat ini kesukaanku. Aku juga suka susu strawberry."

"Akan aku buatkan." Ucap Aluna penuh semangat.

Intinya, apa saja keinginan suaminya akan dipenuhinya. Ia memutuskan tak membeli susu strawberry yang dijual di supermarket. Melainkan membuat sendiri susu tersebut. Dari strawberry hingga susu segar. Ia membuat susu strawberry tersebut dengan penuh cinta.

Melihat kesungguhan istrinya, hati Arkan jadi terenyuh. Ternyata sebegitu besar perjuangan Aluna untuk mengambil hatinya.

Besok malamnya lagi, Aluna mengantarkan susu strawberry pesanan suaminya.

"Maaf, mas aku baru bisa buatkan sekarang. Tadi pagi aku mencari strawberrynya dulu."

Arkan tersenyum yang membuat Aluna takjub. Sekali lagi, dia harus berterima kasih pada Nindi yang membuka jalan baginya.

"Aluna!"

Aluna dan Arkan terkejut ketika mendengar suara tinggi itu dari luar. Siapa lagi kalau bukan Fiona.

Aluna sampai tergopoh-gopoh berlari dari ruang kerja suaminya.

"Ada apa, ma?"

"Kamu ini!" Fiona berdecak kesal. "Dapur seperti kapal pecah. Kapan sih kamu bisa paham kalau mama itu paling benci yang kotor-kotor?"

"Maaf, ma. Tadi aku belum sempat membersihkannya. Ini aku bersihkan dulu!"

"Nunggu ditegur dulu baru kamu sadar! Mimpi apa aku punya menantu sepertimu!" Fiona sampai menggelengkan kepalanya.

Sementara, Aluna melarikan diri ke dapur dan membersihkan bekas memasaknya. Salahnya yang memang tidak membereskan semua ini.

"Lagian ini sudah jam berapa, hah? Bukannya istirahat malah sibuk di dapur. Kamu ini lebih mirip pembantu tau nggak? Lihatlah dastermu itu!" Celoteh Fiona yang belum puas memarahi menantunya.

"Tadi buat susu untuk mas Arkan, ma."

"Susu untuk Arkan? Kamu pikir anakku itu masih bayi! Astaga, Aluna." Fiona tidak habis pikir.

"Mama! Bisa nggak sehari aja nggak usah mengomel?" Arkan sampai keluar karena kepalanya pusing mendengar suara Fiona.

"Gimana nggak ngomel, Arkan! Lihatlah istrimu itu pemalas banget. Ditegur dulu baru dikerjakan! Capek mama ngajarinnya."

"Maaf, ma.." jawab Aluna tersendat. Ia masih sibuk membereskan bekas masaknya.

"Nggak heran sih. Namanya juga nggak punya ibu sedari kecil. Jadi nggak ada yang ngajarin."

"Ma.." tegur Arkan menatap tajam.

Fiona mendengkus dan langsung masuk ke kamarnya. Aluna sendiri menghidupkan kran air dan mencuci piring. Arkan yang sejak tadi memperhatikan tahu jika istrinya menangis. Terlihat dari bahu Aluna yang naik turun.

"Jangan didengar omongan mama. Kamu tahu sendiri mama itu gimana." Ucap Arkan yang tahu-tahu sudah di belakang Aluna.

Aluna menggigit bibirnya menahan isakan yang keluar.

"Iya, mas." Jawab Aluna serak.

Sesungguhnya dia memang anak yatim piatu yang beruntung dinikahi oleh Arkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lia Melly
kok bisa nikah? perlakuan suami gitu...mertua bengis
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 152

    Arkan mendelik ke arah wanita yang baru saja masuk. Sementara sorot wajah Aluna langsung berubah."Tante Farah sedang apa disini?""Tadi Adelina hubungin tante katanya kamu diserang perempuan gila. Astaga, apa yang terjadi?""Bukan masalah besar. Tante tidak memberitahu mama, kan?""Sudah tante beritahu. Mamamu akan kesini sebentar lagi." Pandangan Farah beralih pada wanita berhijab yang berdiri di tepi pembaringan Arkan. "Ehem.. Aluna."Aluna menatap Farah dengan tatapan yang sulit diartikan. Selamat tinggal diucapkan pada wanita lemah yang sering ditindas oleh mertuanya. Sekarang, Farah bahkan merasa terintimidasi oleh tatapan Aluna saja."Dimana lukamu? Parah, nggak?" Farah mengalihkan perhatian."Nggak. Cuma dua jahitan.""Itu banyak sekali! Astaga! Kita harus menuntut wanita itu."Aluna berdeham. "Aku keluar dulu, mas. Mau cari mas Aamir."Arkan ikut bangkit dari duduknya."Mari k

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 151

    Acara syukuran bubar karena kericuhan yang terjadi. Langit segera membuat laporan ke kantor polisi. Mantan istrinya itu akan terjerat kasus penganiayaan.Lengkap sudah! Kali ini dia sudah tak bisa mengelak lagi. Terlebih ada bukti cctv yang mendukung.Adelina menjaga si kembar di warung makan. Sementara, Aluna dan Aamir membawa Arkan ke rumah sakit.Di IGD, Arkan langsung diberikan tindakan. Lengannya yang terluka sudah dibersihkan."Ini harus dijahit. Ada lukanya yang dalam." Ujar dokter jaga pria itu.Aluna menggangguk setuju. "Iya, dokter. Jahit saja.""Sakit nggak kira-kira, dok?" Tanya Arkan."Sakit. Namanya juga ditusuk jarum. Tapi akan saya berikan obat bius."Dokter tersebut meminta perawat untuk menyiapkan alat jahit luka. Yang terkejut sekarang Aamir, perawat yang muncul ternyata wanita yang sangat dikenalnya. Sinar."Sinar!" Tegur Aluna lega. "Ternyata kamu kerja.."Sinar menghela na

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 150

    Adelina tak hanya memukul wanita berambut pirang itu. Tapi juga rambutnya yang penuh cat itu juga ditarik hingga membuat Ria menjerit.Siapa suruh menghina Adelina? Wanita ini anak Farah. Salah satu nyonya cerewet di dunia. Jelas Adelina menjadi tangguh seperti ibunya.Langit dan Aamir sampai kewalahan melepaskan mereka karena Adelina yang tak mau melepaskan tangannya."Mas, bawa anak-anak ke ruang kerja Langit." Perintah Aluna pada mantan suaminya."Dimana?""Itu." Aluna menunjuk sebuah ruangan yang tertutup.Arkan mengangguk dan membawa dua anaknya ke ruangan yang dimaksud. Sedangkan, Aluna pergi ke depan untuk melerai perkelahian dua macan wanita."Lepaskan Adel!" Ujar Aluna. Ia membantu Ria melepaskan cengkraman tangan Adelina dari rambutnya."Ah, sial!" Umpat Ria setelah lepas dari Adelina. "Wanita brengsek! Apa kamu pikir aku takut padaku?""Apa? Masih mau lagi?" Tantang Adelina tanpa takut.

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 149

    "Si-Sinar.. Tunggu!"Aamir mencoba menghadang Sinar dengan tubuhnya. Tapi Sinar tak perduli. Ia tetap melajukan motornya dan berlalu dari hadapan pria itu. Melihat itu, Aluna menjadi curiga. Rasanya pertemuan mereka terakhir terjadi di rumah sewa Aluna. Ketika si kembar saat itu tepat berusia tiga tahun. Sinar sangat senang ketika melihat Aamir kala itu. Dia bahkan rela menunggu Aamir yang berjanji akan berkunjung kembali.Tapi.. kenapa Aluna merasa seperti ada benang tak kasat mata yang terbentang antara hubungan Aamir dan Sinar? Keduanya terlihat canggung. Apalagi Sinar yang menjaga jarak. Wanita itu seperti menghindari Aamir. Apa mungkin pria yang dikagumi Sinar adalah Aamir? Ya, bisa jadi.Pas sekali ketika Sinar keluar ada sebuah mobil yang masuk. Seorang ayah dan dua anak kembar turun dari mobil dengan tersenyum cerah."Sayang!" Seru Aluna tersenyum lebar. "Kok cepet banget mainnya?"Abi dan Ditha berlari memeluk ibunya.

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 148

    Setelah peresmian, sekarang dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Sepasang kekasih ini tak mau berpisah. Mereka bahkan duduk berdampingan dengan Langit yang sangat perhatian. Di hadapan mereka ada Aluna dan Aamir yang memperhatikan. Aamir sampai terperangah melihat perlakuan Langit pada adik kesayangannya. Pantas saja jika Adelina bisa takluk. Ternyata Langit bisa bersikap manis juga. "Hey, mau kemana??!" Tegur Langit setelah melihat adik wanitanya berjalan menjauh. "Mau ke belakang." Jawab Sinar tak mau membalas pandangan. Di tangannya terdapat sebuah piring berisi makanan. "Ke belakang??" Dahi Langit sampai mengkerut. "Ngapain makan di dapur. Orang pada ngumpul semua disini!" Sinar menggeleng. Saat dia ingin membuka suara lagi Aluna ikut bersuara. "Makan disini saja, Sinar. Sama kami." Aluna menepuk kursi sebelahnya. "Ayo, Sinar. Kita juga belum berken

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 147

    "Gimana, Aluna? Apa kamu izinkan aku membawa mereka?" Tanya Arkan penuh harap. Aluna mengangguk. "Boleh, mas. Aku bantu mereka berganti pakaian dulu." "Biar aku aja yang menggantinya, kamu bersiap saja." Aluna masuk ke kamar si kembar dan membawakan baju ganti. Oleh karena ingin diajak bermain, si kembar pun menjadi antusias. Mereka dibantu oleh sang ayah untuk bersiap. "Oke! Sudah ready! Ayo kita pergi!" Ajak Arkan. "Denger kata ibu, ya. Jangan nakal. Jangan lari-lari." Ucap Aluna mengingatkan. "Oke, bu!" Jawab mereka serempak. Arkan meraih tangan putra putrinya. "Kamu mau barengan sama aku? Sekalian aku anter ke warung makan." Aluna menggeleng. "Aku bisa pergi sendiri, mas." "Mumpung searah, Aluna." Ah, Aluna tak pernah bisa kuat membalas tatapan mata memelas itu. Akhirnya d

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 6

    Sayup-sayup Aluna membuka matanya perlahan. Aroma parfum maskulin ini sangat membelai hidungnya.. Kepala wanita ini sedikit menggeliat. Di bawahnya masih ada dada bidang tempat Aluna merebahkan diri.Jemari Aluna yang lentik mengusap dada suaminya dengan kasih sayang. Wanita ini tersenyum tipis.S

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 5

    Masih jelas dalam ingatan Aluna, siapa pria itu. Pria yang memberinya keteduhan pada Aluna yang tengah berkuyup sedih.Aluna yang menangis karena baru saja kehilangan orang tuanya di sebuah masjid yang ada di kota ini. Padahal, Aluna baru saja hijrah untuk meniti karir disini. Tapi kabar yang ia te

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 3

    Tak terasa sudah satu minggu Aluna berada di kotanya sendiri. Sejak pulang dari Bali, tak sekalipun suaminya mengabarinya. Padahal, Aluna sudah memberikan spam pesan. Namun balasannya hanya singkat saja. Seperti enggan menanyakan balik kabar dirinya.Hari yang ditunggu tiba, Arkan dan ibunya akhirn

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 2

    "Nindi.."Aluna melihat nama dari pengirim pesan tersebut dan tersenyum kecil. Ternyata, Arkanlah yang mengiriminya pesan terlebih dahulu. Wanita yang menjadi mantan terindah bagi suaminya.[ "Aku baik. Bagaimana kabarmu?" ] balas wanita itu.Aluna kembali menggeser pesan milik Nindi. Ternyata ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status