MasukSayup-sayup Aluna membuka matanya perlahan. Aroma parfum maskulin ini sangat membelai hidungnya..
Kepala wanita ini sedikit menggeliat. Di bawahnya masih ada dada bidang tempat Aluna merebahkan diri. Jemari Aluna yang lentik mengusap dada suaminya dengan kasih sayang. Wanita ini tersenyum tipis. Semalam sungguh luar biasa.. Sesungguhnya dalam dua tahun pernikahan, Arkan jarang sekali menyentuh istrinya. Hingga terkadang tebersit pertanyaan di benak Aluna.. apakah suaminya ini normal? Kenapa ia seakan tak tertarik dengan santapan halal yang dimiliknya. Namun pesan mesra dari Nindi menyadarkan Aluna. Jika Arkan sebenarnya masih terjebak dalam pesona mantan kekasihnya. Sebab itulah, Aluna harus memperbaiki diri agar suaminya berbalik mencintainya. Seperti Aluna yang sudah tunduk terlebih dahulu pada pesona yang di miliki suaminya. Aluna beringsut bangun perlahan. Kepalanya mendongak untuk menatap Arkan yang tertidur pulas. Lagi-lagi senyum itu terbit. Wajah Arkan sangat tampan. Mata tajam seperti elang dengan dipayungi bulu mata lebat. Alis yang tebal. Tulang hidung tinggi serta rahang yang tegas seakan menggambarkan betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang satu ini. Aluna patut bersyukur memiliki suami sepertinya. Aluna kini benar-benar bangun dari tudurnya. Ia memungut pakaian yang terjatuh di bawah tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi. Setelah itu, Aluna membersihkan diri dengan mandi besar sebelum menghambakan diri. Sedang menyeka buliran air di tubuhnya, Aluna menatap cermin besar yang ada disana. "Mas Arkan bilang nggak suka wajah polosku.." Aluna mendekati cermin tersebut dan menatap bayangan yang ada disana. Wajah ini mulus tapi pucat. Tak ada merah merona seperti wajah wanita kebanyakan. Bibir ini juga tampak kering. Aluna tidaklah cantik. Tapi juga tidak jelek. Standar seperti wanita pada umumnya. "Mas Arkan juga bilang nggak suka gaya pakaianku.." gumam Aluna lagi. Sekarang ia tengah berpikir apa maksud perkataan "tidak suka" dari suaminya itu. Apa mungkin Arkan menyuruhnya melepas hijab? Oh.. atau mungkin meminta Aluna untuk memakai pakaian ketat? Ahh.. Aluna jadi pusing. Sambil menghela nafas panjang, wanita ini mengeringkan tubuh dan rambutnya terlebih dahulu. Setelah itu, ia bersujud kepada Sang Pencipta untuk meminta petunjuk. Bak dikabulkan, Aluna kembali bergerak mengambil ponselnya. Setelah selesai berdoa tadi pikiran Aluna melayang pada Nindi. Ya.. kue coklat, pujian serta perhatian kecil dari Nindi selalu tepat sasaran di hati suaminya. Nah.. kalau begitu, Aluna harus mencari tahu siapa Nindi itu sebenarnya. Bagaimana pribadinya? Lalu penampilannya? Bisa jadi Aluna menirunya untuk menyenangkan hati suaminya. Aluna mengetik nama itu di media sosial yang ada disana. Hingga banyak nama Nindi yang tertera, namun ada satu nama Nindi yang diikuti oleh suaminya. Dialah Nindiasari. Aluna mengklik profil tersebut. Foto terakhir yang di posting wanita tersebut sekitar 1 tahun yang lalu. Yaitu saat hari raya dimana ia mengambil foto keluarga dengan suami dan anaknya. Aluna tergelak. "Ternyata aku nggak perlu menganggap Nindi sebagai saingan. Dia sudah memiliki keluarga kecil sendiri." Berarti yang menjadi masalah adalah melawan ego suaminya. Sebab itulah, Aluna harus melakukan berbagai macam cara untuk membuat suaminya tunduk padanya. Aluna menarik profil tersebut ke bawah dan melihat foto selfie yang diambil oleh Nindi. "Cantik.." pantas saja jika Arkan gagal move on. Wajah itu tirus sekali. Dagunya lancip. Matanya lebar. Hidung itu mancung dengan bibir yang berwarna merah muda. Wanita itu berhijab juga sama sepertinya. Tapi dia tampil modis. Tidak ada hijab panjang kusam merumbai. Tak ada rok panjang kuno dengan warna menakutkan. Semuanya tampak sempurna di tubuh wanita itu. "Apa aku harus berpenampilan seperti ini?" Perang batin Aluna mulai kembali. Ia lalu melirik suaminya yang masih tertidur lelap. Jika tidak dicoba maka dia tak tahu. Akhirnya, Aluna memutuskan untuk merubah style pakaiannya. Selama tak menanggalkan hijab panjangnya, Aluna merasa sah-sah saja. Selesai berselancar, Aluna membuka lemari pakaian dan mengambil dompet tabungan yang ada disana. Wanita ini pun mengecek isinya. "Alhamdulillah.. kayaknya cukup dibawa ke salon." Aluna tertawa pelan. Untung saja Aluna berhemat dan selalu menyisihkan uang tabungannya. Jadi, uang ini bisa ia pakai untuk memanjakan diri. Baru saja menaruh dompet ini ke dalam lemari. Aluna terlonjak kaget saat mendengar pintu kamarnya di gedor kuat. Arkan saja sampai terbangun karenanya. "Siapa itu?" Dengkus Arkan kesal karena gedoran pintu tersebut. Ia lalu memijit kepalanya pelan. "Tunggu sebentar, mas. Aku buka dulu." Aluna cepat-cepat menaruh dompet tersebut ke lemari. Ia lalu bergegas menuju pintu yang hampir roboh karena ketukan pintu dari luar. Baru saja membuka pintu, Aluna terkesiap. Ternyata ada wanita yang melotot tajam padanya di depan sana. "Bagus sekali kamu, ya!! Udah jam berapa ini?" Bentaknya emosi. "Mama..." Aluna jadi terbata. "Maaf, ma. Aku baru selesai sholat." "Dasar tidak berguna! Cepat sana ke dapur. Udah tahu kita ada tamu tapi kamu masih malas-malasan di dalam sana!" Hardik Fiona lagi dengan wajah masamnya. Mendengar itu, Aluna hanya mengangguk. Ia pun segera pergi ke dapur dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus pembantu rumah tangga."Aluna!" Arkan terkejut melihat wanitanya terjatuh akibat dorongan para wanita. Ia berlari menolong mantan istrinya. Begitu juga dengan Aamir yang menyergap Sinar. "Mas. Lihat aku dapat bunga!" Seru Sinar berbinar saat mendapatkan lemparan bunga pengantin. "Kamu bisa mendapatkannya dariku!" Sahut Aamir. Sinar tersenyum dan terlonjak kaget saat menoleh. Ada Aluna yang terjatuh sedang dibantu oleh Arkan. "Astaga, mbak Aluna!" Aluna menerima uluran tangan Arkan. Ia berusaha berdiri dengan susah payah. Gara-gara terdorong tadi. Sepertinya tak hanya pinggulnya yang sakit karena membentur lantai. Tapi kakinya juga ikut terkilir karena memakai hak tinggi ini. "Sakit, mas." Keluh Aluna saat berdiri. "Yang mana?" "Kakiku." Arkan berlutut untuk melihat kaki wanitanya. Aluna menunjuk bagian yang terkilir. "Duduk dulu." Ajak Arkan memapah mantan istrinya. Si kembar yang penasaran ikut berlarian mengejar orang tuanya. Dengan cepat, Fiona menahan Abi dan Ditha agar tidak meng
Ketika Arkan berdebar menunggu jawaban, Aluna malah dipanggil. "Mbak Aluna! Lihat Ditha!" Seru Sinar cepat. Tanpa pikir panjang, Arkan dan Aluna bangkit dari duduknya dan berlari menuju ke depan. Mereka pikir terjadi sesuatu pada Ditha. Rupanya.. Astaga! Aluna sampai tertawa. Ditha tengah diajari cara menabur bunga di altar pernikahan. Besok dia akan menjadi peri yang akan membuka jalan untuk pengantin dengan cara menabur bunga. Tapi Ditha yang ceriwis malah menabur bunga dengan sembarangan. Sontak saja kakek, nenek dan semuanya tertawa karena ulah Ditha. "Sudah ku katakan, Adel. Kamu harus memakluminya." Ucap Aluna mengulum senyum. Adelina tertawa. "Nggak masalah. Itu saja sudah bagus." Langit memanggil Abi. Setidaknya kembaran Ditha ini lebih bisa dipercaya. Dalam satu kali arahan, Abi mengerti. Ia pun menyebar bunya dengan baik. Tapi ekspresi wajahnya itu.. ya, ampun! Langit s
Satu menghalangi jalan ibunya, satu lagi terus menarik gaun. Aluna sampai tertatih-tatih melangkah karena ulah kedua anaknya. Perut anak kembar ini memang tak bisa diajak kompromi jika sedang lapar. Arkan yang melihat itu pun tak tinggal diam. Pria ini bergegas ke arah Aluna dan mengambil alih kedua anaknya. Setelah itu mereka memilih meja yang kosong untuk makan bersama. "Ayah, mau ayam goreng!" Ucap Abi. "Ibu, mau sopnya!" Seru Ditha. Aluna dan Arkan duduk. Keduanya menaruh si kembar di tengah. Yang terjadi, Abi dan Ditha berebut makanan hingga bertengkar. "Aduh, kalian ini!" Arkan sampai geleng-geleng kepala. Akhirnya posisi itu ditukar. Arkan berada di tengah dengan si kembar di sisi kanan kirinya. Sementara Aluna berada di ujung. "Lapar, ayah!" Seru Abi mencebik. "Sabar, nak.." ujar Aluna kewalahan. Inilah alasannya kenapa jarang membawa si kembar di tempat umum. Mengurus sa
Aluna terkejut. Tubuhnya bergetar hebat. Dia ingin berteriak. Dalam otaknya dia sudah meronta minta dilepaskan. Tak sudi jika tangan itu digenggam lagi oleh tangan besar yang penuh kehangatan itu. Namun yang terjadi dia hanya diam saja.. dibiarkannya Arkan menggenggam hangat tangannya. Membawanya menuju altar pernikahan dimana dua kembar menjadi ekor ayah dan ibunya. Langit melirik Arkan yang baru keluar dari rumah sambil menggandeng Aluna. Ia lalu menyenggol istri barunya. "Apa?" Tanya Adelina mengikuti arah pandangan suaminya. Ia lalu tersenyum. "Sempurna. Sekarang kita bisa foto bersama." Fiona dan Farah yang melihat itu juga sontak tersenyum. Arkan dan Aluna jadi dekat kembali. Sekarang.. mereka tinggal menunggu kabar baik dari mantan suami istri itu. Aluna dibawa ke atas altar. Arkan memepetkan tubuhnya pada Aluna. Sekarang genggaman tangan itu terlepas berganti pada rangkulan di bahu hingga membuat dua
Genggaman tangan Arkan melemah. Perlahan dua tangan mungil yang sedang di dekapnya itu terlepas. Pria ini memalingkan wajah, seperkian detik ia mengembalikan wajah itu ke semula. Dimana ada Aluna yang berjalan mendekat. Berhadapan sejajar dengannya. Aluna meraih jas pria itu. Merapikan dasi yang terlihat miring. Mengancingkan jas coklat muda yang ia pakai dan mengusap bahu jas tersebut untuk memberikan kesan terakhir. Wanita ini mengangkat wajahnya. Mata itu nampak terkejut. Apa yang barusan ia lakukan? Lupakah Aluna jika keduanya adalah sepasang mantan? Arkan menatap wanita itu dengan hangat. Seolah cinta yang dulu sempat patah kini kembali tumbuh dengan sehat. Sejenak keduanya membeku dalam kebisuan. Seakan menikmati rasa baru yang tumbuh dalam hati keduanya. Abi dan Ditha tertawa melihat orang tuanya bersama. Mereka bermain. B
Hari berjalan dengan baik, enam bulan ini banyak sekali perubahan yang terjadi di warung ayam yang sudah berganti nama ini. Begitu juga dengan pemilik warungnya. Hari ini Langit akan mempersunting Adelina. Astaga. Ini adalah pernikahan kali kedua tapi benar-benar membuatnya gugup. Nekat tidak namanya kalau menikahi wanita yang ia suka sejak pertama kali melihatnya? Ya, dia suka si perempuan cerewet itu sejak pertama kali melihatnya. Untuk pertama kalinya, Langit bertemu dengan wanita secantik Adelina. Walau awalnya Langit menghempaskan perasaannya karena Adelina adalah bagian keluarga Arkan namun ia tak bisa menutupi perasaan itu. Terlebih saat mengetahui jika Adelina memiliki kisah hidup yang kelam sama seperti dirinya. Dua jiwa rapuh yang bertemu dan melebur jadi satu. Langit pun tak ragu lagi untuk menikahinya. "Udah siap belum, mas? Lama banget!" Gerutu Sinar sejak tadi melihat Langit bercermin di kaca b
Tiga bulan kemudian.. "Aluna!" Aluna menoleh. Wanita ini baru saja menghapus make upnya di depan cermin. Saat Aluna mendekat, Mawar memberikan satu set parsel. "Eh apa ini, mbak?" "Lotion, sabun dan lulur. Untukmu dari produk r
"Kita pindah malam ini.""Pindah? Mau pindah kemana??" Tanya Aluna bingung."Kemana saja! Yang penting kita bisa terbebas dari cengkraman mama!" Jawab Arkan tegas.Aluma tertegun sesaat. Dia masih berdiri di tempatnya karena tak mengerti apa yang terjadi. Tiba-tiba saja
Arkan menaruh sendok makan itu sedikit keras ke atas meja hingga membuat dentingan. Ketiga wanita ini terkesiap termasuk Indri yang baru saja mendapatkan kesan pertama."Tante bilang apa barusan?? Istri kedua??" Arkan meminta tantenya ini mengulangi ucapannya."Iya. Istri kedua.
Aluna kembali memoles bedak di wajahnya. Di poles lagi hingga Aluna menatap getir bayangan yang ada di wajahnya.Begitu aneh! Aluna kembali menghapus bedak yang tadi mampir ke wajahnya.Sekali lagi, Aluna melihat merk skincare dan juga make up yang kemarin dibelinya. Sebuah merk tersohor dari neger







