LOGIN
Aluna kembali memoles bedak di wajahnya. Di poles lagi hingga Aluna menatap getir bayangan yang ada di wajahnya.
Begitu aneh! Aluna kembali menghapus bedak yang tadi mampir ke wajahnya. Sekali lagi, Aluna melihat merk skincare dan juga make up yang kemarin dibelinya. Sebuah merk tersohor dari negeri ini. Namun sayang sekali, mau berapa kalipun Aluna memakai ini, tak akan pernah membuat Arkan menoleh untuk sekedar menatap wajahnya. Aluna mengambil buku yang ada di laci meja rias. Buku kedua tahun ini yang menjadi teman ceritanya. Sekedar menulis isi hatinya karena ia yang tak memiliki teman cerita selama ini. Handle pintu terbuka, Aluna menatap pria yang baru saja masuk dengan sebingkai senyuman dan menaruh buku diarynya di dalam laci. "Baru pulang, sayang?" Arkan berdeham dan membiarkan Aluna membantunya melepaskan jas yang ia pakai. "Aku akan siapkan air mandi. Kamu pasti lelah bekerja." Ucap Aluna lembut kepada pria tanpa ekspresi. Kegiatan Aluna berlanjut ke kamar mandi. Menghidupkan kran dan mengatur suhu air untuk mandi suaminya. Tak lupa juga handuk serta pakaian ganti juga ia siapkan. "Silahkan mandi, sayang.." Arkan mengambil handuk dan melewatinya begitu saja. Sudah biasa bagi Aluna di silent treatment seperti ini. Setelah mandi, Aluna juga menyeka tubuh suaminya. Ia juga menawarkan makan malam dimana Arkan hanya mengangguk kecil. Aluna keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Memanaskan makanan dan menata di meja makan. Suara pintu kembali terbuka, ternyata ada Fiona yang baru saja keluar. "Arkan sudah pulang?" "Sudah, ma." Jawab Aluna tersenyum pada wajah yang bengis itu. Ketiganya lalu makan malam bersama. Disanalah, Aluna bisa mendengar suara suaminya. Arkan menceritakan masalahnya yang ada di perusahaan. Dimana ia tengah kalut karena pekerjaannya yang tak selesai dengan rapi. "Kamu butuh liburan sepertinya, nak." "Mungkin saja.." "Pergi berlibur sana. Jangan sibuk bekerja dan berman di rumah." Fiona lalu menjetikkan jarinya. "Mama ingat jika ada undangan dari tantemu yang di Bali. Sekalian saja kamu ambil cuti dan liburan." Arkan mengangguk setuju. Sepanjang di meja makan, hanya keduanya yang berbicara sementara kehadiran Aluna tak di perhatikan. Dia hanya bertugas sebagai pelayan dimana ia yang sibuk menuangkan makanan dan juga minuman. Satu minggu berselang.. Ketiganya menuju Bali karena ada undangan dari saudara Fiona, Farah yang akan menikahkan putranya. Sebuah rumah tradisional dengan nuansa asri menjadi tempat perlindungan ketiganya ketika sampai. Kedatangan Fiona dan Arkan disambut dengan hangat. Maklum, sudah 2 tahun mereka tidak bertemu. Tak hanya keluarga Fiona, keluarga yang lain juga sudah berdatangan. Berbeda dengan keluarga inti, para menantu dibawa ke dapur dan diminta menyelesaikan pekerjaan disana. Termasuk Aluna yang kehadirannya sedari awal tak terlihat. "Istrimu belum hamil juga, Kan?" Tanya Farah pada Arkan. "Belum tante." "Sudah dua tahun tapi belum hamil juga? Harusnya kalian periksa. Bisa jadi Aluna mandul dan tidak bisa memberikan anak." Aluna yang mendengar itu hanya bisa menahan perasaannya mati-matian. Dia sedang menghidangkan cemilan dan minuman kepada keluarga yang tengah berkumpul. "Mungkin Tuhan juga punya maksud lain kenapa Aluna belum bisa hamil." Ucapan Fiona lalu memancing gelak tawa. Kalimat sederhana yang bisa memporak porandakan hati Aluna. Bukan hanya sekali mertuanya mengatakan seperti itu. Tapi berulang kali. "Lebih baik tidak usah hamil jika nanti anak itu akan mirip dengan Aluna!" Terngiang-ngiang ucapan Fiona di benak Aluna. Seolah diri ini sungguh tak sempurna jika nantinya mengandung anak Farhan. Hari semakin malam, tamu semakin banyak berdatangan. Termasuk ketika keluarga yang lain sudah berdatangan. Begitu cantik dan tampan. Ya, gen keluarga Fiona memang nyaris sempurna. Mereka seperti dikaruniai kegagahan dan keanggunan dari dewa dewi Yunani. Membentuk pahatan sempurna yang terukir di wajah itu. Mereka yang asyik mengobrol, sedangkan Aluna lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. "Mana istrimu, Arkan?" Tanya Adelina ketika mereka tengah bercengkrama. "Ada di belakang." Adelina ikut memperhatikan Aluna yang sibuk di dapur sejak awal kedatangannya. Si wanita sederhana yang tidak berkelas. Aluna bertumbuh tinggi tapi tidak menarik dilihat. Dress rumahan yang dipakai juga tak bisa menyelamatkan wajahnya. Sepertinya benar, wajah memang menentukan penampilan seseorang. Walau, Aluna memakai pakaian mahal sekalipun. Itu tidak akan pernah bisa menonjolkan dirinya. Kasihan sekali. Hari pernikahan tiba, semua orang ikut dalam prosesi sakral ini. "Aluna.. nanti kamu bantu saja pelayan di belakang. Awasi kerja mereka." Pinta Farah. Aluna yang sudah memakai kebaya tampak kebingungan. Padahal, dia sudah menghabiskan waktu dua jam untuk menghias dirinya hari ini. "Lakukan saja, Aluna. Harus ada satu orang yang mengawasi kelangsungan acara." Sambung Fiona. Aluna menatap Arkan yang sejak tadi tidak mau menatapnya. "Baik, ma." Sepertinya kehadiran Aluna memang tidak diharapkan. Adanya tembok tinggi yang dibangun oleh keluarga Arkan membuat Aluna mengerti. Dia hanya dianggap pelayan di keluarga ini. Selama pernikahan anak Farah, Aluna sibuk di dapur. Ikut membantu pelayan mengambil makanan dan membawanya ke meja makan. Kebaya cantik yang dipakai Aluna jadi ternoda karena terciprat oleh kuah sup. "Mana istrimu, Arkan? Kita mau foto keluarga." Tanya keluarga lain ketika sadar jika Arkan hanya melenggang sendirian. Arkan lalu mencari Aluna yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Aluna, kita foto bersama." Ajak Arkan dan terkesiap melihat kebaya Aluna yang basah. "Kenapa bajumu?" "Basah. Tadi terkena tumpahan sup." "Lupankanlah. Ayo, kita ke pelaminan." Aluna mengikuti suaminya yang berjalan ke pelaminan. Namun, ia langsung merasa dikuliti ketika melihat tatapan tajam keluarga yang lain. "Kenapa bajumu, Aluna?" Tanya Farah. "Basah kena tumpahan sup, tante." "Aduh.. buat jelek barisan saja. Sana turun kamu. Nggak usah ikut foto bersama." Bentak Fiona kesal tanpa perduli jika dia menghina menantunya di depan semua orang. Dengan wajah tertunduk, Aluna turun dari pelaminan. Arkan sendiri seperti enggan menahan Aluna. Dibiarkan saja istrinya tidak mengikuti prosesi foto bersama. "Nah.. kalau begini kan sempurna.." Fiona tersenyum bangga ketika melihat barisan keluarga besar yang berbahagia atas pernikahan ini. Semenara, Aluna hanya bisa menatap keluarga suaminya dengan sedih. Ibarat bunga yang cantik, Aluna seperti ulat yang mengganggu keindahan bunga tersebut. Sejak awal, Aluna memang harusnya sadar diri. "Selamat atas pernikahan Adelina, Farah.. aku sudah nggak sabar mendapatkan cucu dari anakmu." Ucap Fiona tertawa. "Aku juga tidak sabar menimang cucu." Balas Farah sama bahagianya. "Ya.. Adelina dan suaminya adalah kombinasi sempurna. Mereka pasti akan dikaruniai anak yang cantik dan tampan. Tidak seperti.." Fiona lalu memperhatikan menantunya. "Malang sekali nasib Arkan." Aluna menekuk wajahnya semakin dalam. Sakit hati ini berusaha ditahannya. "Kasihan sekali Arkan kalau begitu." Sambung Farah menanggapi hinaan Fiona kepada menantunya sendiri. Acara pernikahan selesai, kini semua orang kembali ke kediaman masing-masing. Termasuk Aluna dan Arkan yang kembali ke rumah Farah. "Besok kamu pulanglah terlebih dahulu. Aku masih mau disini." Ucap Arkan tanpa menoleh. "Kamu belum mau pulang?" Tanya Aluna. "Belum. Aku ingin jalan-jalan sebentar melepas penat." Deg! Itu sama saja artinya Arkan tak mau diganggu. Dia sudah diusir oleh suaminya sendiri. "Baik, sayang.." Aluna yang tak diharapkan segera mengemasi pakaiannya. Ia juga lelah karena harus dijadikan pelayan di keluarga suaminya sendiri. Toh, Aluna hanya pemain figuran. Tak terlihat, tapi dibutuhkan untuk sekedar meramaikan. "Aku nggak bisa mengantarmu ke bandara. Kamu pergi sendiri saja!" Ucap Arkan. "Iya, nggak masalah." Aluna berusaha meringankan ucapannya walau dada ini terasa sesak. Terlebih hanya dia yang disuruh pulang ke rumah, sementara keluarga lain masih mengikuti rangkaian acara selanjutnya di beberapa hari ke depan. Arkan lalu keluar setelah mengatakan itu. Ia memang dari awal tak berniat menemani istrinya. Tujuannya selain mengikuti pernikahan, yaitu ingin melepas penat karena kelelahan pekerjaan. Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Arkan yang ditaruh di atas nakas samping tempat tidur. "Dia lupa bawa ponsel kayaknya.." gumam Aluna sembari melihat notifikasi dari jendela ponsel suaminya. Oh, mata Aluna sampai membulat sempurna. Sebuah pesan mesra tertera disana. "Nindi?" Dahi Aluna sampai mengernyit. Aluna ingat betul jika Nindi adalah nama dari mantan kekasih suaminya. Dengan pelan, Aluna membuka isi pesan tersebut. Perlahan-lahan, air mata Aluna mulai berjatuhan.Acara syukuran bubar karena kericuhan yang terjadi. Langit segera membuat laporan ke kantor polisi. Mantan istrinya itu akan terjerat kasus penganiayaan.Lengkap sudah! Kali ini dia sudah tak bisa mengelak lagi. Terlebih ada bukti cctv yang mendukung.Adelina menjaga si kembar di warung makan. Sementara, Aluna dan Aamir membawa Arkan ke rumah sakit.Di IGD, Arkan langsung diberikan tindakan. Lengannya yang terluka sudah dibersihkan."Ini harus dijahit. Ada lukanya yang dalam." Ujar dokter jaga pria itu.Aluna menggangguk setuju. "Iya, dokter. Jahit saja.""Sakit nggak kira-kira, dok?" Tanya Arkan."Sakit. Namanya juga ditusuk jarum. Tapi akan saya berikan obat bius."Dokter tersebut meminta perawat untuk menyiapkan alat jahit luka. Yang terkejut sekarang Aamir, perawat yang muncul ternyata wanita yang sangat dikenalnya. Sinar."Sinar!" Tegur Aluna lega. "Ternyata kamu kerja.."Sinar menghela na
Adelina tak hanya memukul wanita berambut pirang itu. Tapi juga rambutnya yang penuh cat itu juga ditarik hingga membuat Ria menjerit.Siapa suruh menghina Adelina? Wanita ini anak Farah. Salah satu nyonya cerewet di dunia. Jelas Adelina menjadi tangguh seperti ibunya.Langit dan Aamir sampai kewalahan melepaskan mereka karena Adelina yang tak mau melepaskan tangannya."Mas, bawa anak-anak ke ruang kerja Langit." Perintah Aluna pada mantan suaminya."Dimana?""Itu." Aluna menunjuk sebuah ruangan yang tertutup.Arkan mengangguk dan membawa dua anaknya ke ruangan yang dimaksud. Sedangkan, Aluna pergi ke depan untuk melerai perkelahian dua macan wanita."Lepaskan Adel!" Ujar Aluna. Ia membantu Ria melepaskan cengkraman tangan Adelina dari rambutnya."Ah, sial!" Umpat Ria setelah lepas dari Adelina. "Wanita brengsek! Apa kamu pikir aku takut padaku?""Apa? Masih mau lagi?" Tantang Adelina tanpa takut.
"Si-Sinar.. Tunggu!"Aamir mencoba menghadang Sinar dengan tubuhnya. Tapi Sinar tak perduli. Ia tetap melajukan motornya dan berlalu dari hadapan pria itu. Melihat itu, Aluna menjadi curiga. Rasanya pertemuan mereka terakhir terjadi di rumah sewa Aluna. Ketika si kembar saat itu tepat berusia tiga tahun. Sinar sangat senang ketika melihat Aamir kala itu. Dia bahkan rela menunggu Aamir yang berjanji akan berkunjung kembali.Tapi.. kenapa Aluna merasa seperti ada benang tak kasat mata yang terbentang antara hubungan Aamir dan Sinar? Keduanya terlihat canggung. Apalagi Sinar yang menjaga jarak. Wanita itu seperti menghindari Aamir. Apa mungkin pria yang dikagumi Sinar adalah Aamir? Ya, bisa jadi.Pas sekali ketika Sinar keluar ada sebuah mobil yang masuk. Seorang ayah dan dua anak kembar turun dari mobil dengan tersenyum cerah."Sayang!" Seru Aluna tersenyum lebar. "Kok cepet banget mainnya?"Abi dan Ditha berlari memeluk ibunya.
Setelah peresmian, sekarang dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Sepasang kekasih ini tak mau berpisah. Mereka bahkan duduk berdampingan dengan Langit yang sangat perhatian. Di hadapan mereka ada Aluna dan Aamir yang memperhatikan. Aamir sampai terperangah melihat perlakuan Langit pada adik kesayangannya. Pantas saja jika Adelina bisa takluk. Ternyata Langit bisa bersikap manis juga. "Hey, mau kemana??!" Tegur Langit setelah melihat adik wanitanya berjalan menjauh. "Mau ke belakang." Jawab Sinar tak mau membalas pandangan. Di tangannya terdapat sebuah piring berisi makanan. "Ke belakang??" Dahi Langit sampai mengkerut. "Ngapain makan di dapur. Orang pada ngumpul semua disini!" Sinar menggeleng. Saat dia ingin membuka suara lagi Aluna ikut bersuara. "Makan disini saja, Sinar. Sama kami." Aluna menepuk kursi sebelahnya. "Ayo, Sinar. Kita juga belum berken
"Gimana, Aluna? Apa kamu izinkan aku membawa mereka?" Tanya Arkan penuh harap. Aluna mengangguk. "Boleh, mas. Aku bantu mereka berganti pakaian dulu." "Biar aku aja yang menggantinya, kamu bersiap saja." Aluna masuk ke kamar si kembar dan membawakan baju ganti. Oleh karena ingin diajak bermain, si kembar pun menjadi antusias. Mereka dibantu oleh sang ayah untuk bersiap. "Oke! Sudah ready! Ayo kita pergi!" Ajak Arkan. "Denger kata ibu, ya. Jangan nakal. Jangan lari-lari." Ucap Aluna mengingatkan. "Oke, bu!" Jawab mereka serempak. Arkan meraih tangan putra putrinya. "Kamu mau barengan sama aku? Sekalian aku anter ke warung makan." Aluna menggeleng. "Aku bisa pergi sendiri, mas." "Mumpung searah, Aluna." Ah, Aluna tak pernah bisa kuat membalas tatapan mata memelas itu. Akhirnya d
"Itu, kan?"Aluna memastikan penglihatannya. Mobil yang ada di depan rumah sewa itu adalah mobil mantan suaminya. Tapi tak mungkin Arkan tiba-tiba muncul, kan? Pria itu sedang di Sulawesi.Apa mungkin Fiona? Oh.. itu tidak mungkin lagi. Wanita itu tak bisa membawa mobil sendiri.Dengan rasa penasaran, Aluna masuk ke dalam rumahnya. Terdengar suara tertawa dari anak-anaknya yang sedang bermain. Serta suara pria itu.. suara maskulin dan berat dari seorang pria yang sangat di hapalnya.Oh.. hati Aluna tiba-tiba bergerumuh.. keringat dingin menjalar ke seluruh jemari tangannya.. rasa gugup ini sangat luar biasa.Aluna melangkahkan kakinya masuk ke dalam pintu yang sejak tadi terbuka. Saat melihat siapa yang ada disana, wanita ini terkesiap.Pria itu benar Arkan!"Ibu pulang!" Teriak Abi kegirangan.Anak ini berlari menuju pelukan ibunya. Aluna merunduk dan membalas pelukan Abi. Tapi mata itu tak lepas mena
Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya. Tapi suara Fiona sudah melengking seantero rumah. Apa saja pekerjaan Aluna selalu salah di matanya.Biasanya Fiona tak akan mengomel hebat seperti ini. Tapi pagi ini kedua tanduk itu sudah keluar dari kepalanya.Ada saja yang dikoreksi oleh Fiona. Baik dari
Sayup-sayup Aluna membuka matanya perlahan. Aroma parfum maskulin ini sangat membelai hidungnya.. Kepala wanita ini sedikit menggeliat. Di bawahnya masih ada dada bidang tempat Aluna merebahkan diri.Jemari Aluna yang lentik mengusap dada suaminya dengan kasih sayang. Wanita ini tersenyum tipis.S
Masih jelas dalam ingatan Aluna, siapa pria itu. Pria yang memberinya keteduhan pada Aluna yang tengah berkuyup sedih.Aluna yang menangis karena baru saja kehilangan orang tuanya di sebuah masjid yang ada di kota ini. Padahal, Aluna baru saja hijrah untuk meniti karir disini. Tapi kabar yang ia te
Arkan sedang duduk di kursi kerjanya. Termenung menghadapi laporan yang tercipta di layar komputer pintarnya. "Ada apa denganku?" Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah beberapa bulan ini performa kinerjanya menurun hingga membuat manajernya sering menegur. Fiona mengatakan jika Arkan ku







