LOGIN"Mbak Aluna!" Teriak Asih memanggil di kerumunan pasar. Namun seperkian detik wanita ini menjerit. "Aduh!"
"Jangan di tengah jalan dong, bu!" Ucap seorang pria tambun yang tengah berjalan.Asih berdecak. Barang belanjaannya terjatuh dan berserakan. Ia pun merunduk untuk mengambil barang-barangnya."Aduh! Jadi kotor semua!" Asih mendengkus kesal.Ia merapikan barang belanjaannya menjadi satu kantong. Setelah itu, ia bangkit berdiri dan melihat ke bilik penju"Aku seneng banget mereka udah akrab sama kamu, mbak." Farah terharu akan kemesraan yang ditunjukkan oleh Fiona dengan dua cucu kembarnya. Aluna yang mendengar itu hanya melirik sekilas dan lalu menyibukkan diri dengan mengaduk-ngaduk makanannya. "Iya. Lihat, mereka lucu sekali, ya!" Seru Fiona tertawa. Di sisi kanan kirinya ada Abi dan Ditha yang duduk berdampingan. Mereka berebut menerima suapan makanan dari omanya. Di sebelah Abi ada Farah yang memperhatikan. Sejak tadi nenek ini ingin mendekatkan diri, tapi sapaan ramah Farah selalu ditepis oleh Abi. "Andai saja anakku masih hidup, mungkin mereka sudah sebesar si kembar." Lirih Adelina dengan mata berkaca-kaca. "Dia pasti lebih besar dari si kembar, Adel." Sahut Aluna tersenyum manis. "Dia akan menjadi kakak cantik dari mereka. Aku yakin sekarang anakmu tengah bermain di surga." "Mbak benar." Adelina menghela nafas panjang. "Anakku pasti se
Dari jauh Fiona menatap kemesraan putranya dengan dua cucunya dari jauh. Wanita itu menangis. Rasa cemas tadi berganti dengan rasa haru luar biasa. Akhirnya, dia bisa melihat Arkan tertawa lagi. Bersama dua anaknya yang bermain di pangkuan, Arkan terlihat menikmati harinya sebagai ayah. Di hadapannya ada Aluna yang ikut memandang ayah dan anak ini dengan penuh senyuman. Farah yang tersadar jika kakaknya datang langsung menegur. "Mbak Fiona!" Semua orang menoleh pada wanita paruh baya yang baru saja tiba. Termasuk Arkan dan Aluna. Fiona berjalan mendekat sembari tersenyum. Si kembar turun dari pangkuan ayahnya. Mereka berlarian menuju Fiona yang baru saja datang. "Oma!" Ditha datang terlebih dahulu dan memeluk omanya. Fiona menangis terharu. Ia pun memeluk kedua cucunya dengan erat. Abi pun tak bersikap canggung lagi padanya. Senyum mengembang dari wajah Arkan. S
Arkan mendelik ke arah wanita yang baru saja masuk. Sementara sorot wajah Aluna langsung berubah."Tante Farah sedang apa disini?""Tadi Adelina hubungin tante katanya kamu diserang perempuan gila. Astaga, apa yang terjadi?""Bukan masalah besar. Tante tidak memberitahu mama, kan?""Sudah tante beritahu. Mamamu akan kesini sebentar lagi." Pandangan Farah beralih pada wanita berhijab yang berdiri di tepi pembaringan Arkan. "Ehem.. Aluna."Aluna menatap Farah dengan tatapan yang sulit diartikan. Selamat tinggal diucapkan pada wanita lemah yang sering ditindas oleh mertuanya. Sekarang, Farah bahkan merasa terintimidasi oleh tatapan Aluna saja."Dimana lukamu? Parah, nggak?" Farah mengalihkan perhatian."Nggak. Cuma dua jahitan.""Itu banyak sekali! Astaga! Kita harus menuntut wanita itu."Aluna berdeham. "Aku keluar dulu, mas. Mau cari mas Aamir."Arkan ikut bangkit dari duduknya."Mari k
Acara syukuran bubar karena kericuhan yang terjadi. Langit segera membuat laporan ke kantor polisi. Mantan istrinya itu akan terjerat kasus penganiayaan.Lengkap sudah! Kali ini dia sudah tak bisa mengelak lagi. Terlebih ada bukti cctv yang mendukung.Adelina menjaga si kembar di warung makan. Sementara, Aluna dan Aamir membawa Arkan ke rumah sakit.Di IGD, Arkan langsung diberikan tindakan. Lengannya yang terluka sudah dibersihkan."Ini harus dijahit. Ada lukanya yang dalam." Ujar dokter jaga pria itu.Aluna menggangguk setuju. "Iya, dokter. Jahit saja.""Sakit nggak kira-kira, dok?" Tanya Arkan."Sakit. Namanya juga ditusuk jarum. Tapi akan saya berikan obat bius."Dokter tersebut meminta perawat untuk menyiapkan alat jahit luka. Yang terkejut sekarang Aamir, perawat yang muncul ternyata wanita yang sangat dikenalnya. Sinar."Sinar!" Tegur Aluna lega. "Ternyata kamu kerja.."Sinar menghela na
Adelina tak hanya memukul wanita berambut pirang itu. Tapi juga rambutnya yang penuh cat itu juga ditarik hingga membuat Ria menjerit.Siapa suruh menghina Adelina? Wanita ini anak Farah. Salah satu nyonya cerewet di dunia. Jelas Adelina menjadi tangguh seperti ibunya.Langit dan Aamir sampai kewalahan melepaskan mereka karena Adelina yang tak mau melepaskan tangannya."Mas, bawa anak-anak ke ruang kerja Langit." Perintah Aluna pada mantan suaminya."Dimana?""Itu." Aluna menunjuk sebuah ruangan yang tertutup.Arkan mengangguk dan membawa dua anaknya ke ruangan yang dimaksud. Sedangkan, Aluna pergi ke depan untuk melerai perkelahian dua macan wanita."Lepaskan Adel!" Ujar Aluna. Ia membantu Ria melepaskan cengkraman tangan Adelina dari rambutnya."Ah, sial!" Umpat Ria setelah lepas dari Adelina. "Wanita brengsek! Apa kamu pikir aku takut padaku?""Apa? Masih mau lagi?" Tantang Adelina tanpa takut.
"Si-Sinar.. Tunggu!"Aamir mencoba menghadang Sinar dengan tubuhnya. Tapi Sinar tak perduli. Ia tetap melajukan motornya dan berlalu dari hadapan pria itu. Melihat itu, Aluna menjadi curiga. Rasanya pertemuan mereka terakhir terjadi di rumah sewa Aluna. Ketika si kembar saat itu tepat berusia tiga tahun. Sinar sangat senang ketika melihat Aamir kala itu. Dia bahkan rela menunggu Aamir yang berjanji akan berkunjung kembali.Tapi.. kenapa Aluna merasa seperti ada benang tak kasat mata yang terbentang antara hubungan Aamir dan Sinar? Keduanya terlihat canggung. Apalagi Sinar yang menjaga jarak. Wanita itu seperti menghindari Aamir. Apa mungkin pria yang dikagumi Sinar adalah Aamir? Ya, bisa jadi.Pas sekali ketika Sinar keluar ada sebuah mobil yang masuk. Seorang ayah dan dua anak kembar turun dari mobil dengan tersenyum cerah."Sayang!" Seru Aluna tersenyum lebar. "Kok cepet banget mainnya?"Abi dan Ditha berlari memeluk ibunya.
"Aduh ini gimana?" Aluna ingin merengek saja. Ia mau mencopot gamis yang ia pakai. Melihat itu, Dewi dan Mawar hanya bisa tertawa. Maklum, perdana Aluna mengambil endorse di luar pekerjaan sampingannya sebagai ambassador salon Muslimah. Ia jadi kikuk ketika membuat promosi mengenai
Tiga bulan kemudian.. "Aluna!" Aluna menoleh. Wanita ini baru saja menghapus make upnya di depan cermin. Saat Aluna mendekat, Mawar memberikan satu set parsel. "Eh apa ini, mbak?" "Lotion, sabun dan lulur. Untukmu dari produk r
Mendengar suara deru mobil membuat nyonya cerewet berkacak pinggang. Hebat sekali anak dan menantunya ini keluar malam hingga pukul 10 tanpa berpamitan.Enak saja! Apa dia pikir Fiona ini hansip sampai harus menunggu mereka pulang malam? Oh, Fiona tak terima! Mulut ini sudah ready untuk
Aluna kembali memoles bedak di wajahnya. Di poles lagi hingga Aluna menatap getir bayangan yang ada di wajahnya.Begitu aneh! Aluna kembali menghapus bedak yang tadi mampir ke wajahnya.Sekali lagi, Aluna melihat merk skincare dan juga make up yang kemarin dibelinya. Sebuah merk tersohor dari neger







