로그인"Hentikan, Ria!"
Aluna dan Ria sontak menoleh. Disana ada Langit yang tengah memandang mereka tajam."Mas Langit. Aku ingin bicara!" Seru Ria."Di ruanganku!"Langit berlalu menuju ruangannya. Begitu juga dengan Ria yang menabrak bahu Aluna dan melewatinya."Perempuan itu!" Aluna mendengkus sembari memegang bahunya."Biarin aja, mbak. Anggap aja orang gila!" Ketus kasir wanita yang tadi hampir berkelahi dengan si pirang."Siapa itBesok paginya, Arkan berpamitan pada Fiona. Untung lah ibunya ini sudah memiliki asisten rumah tangga sehingga ia tak perlu khawatir lagi meninggalkannya seorang diri. Setelah puas mendengar tangisan Fiona yang tak menginginkannya pergi, barula Arkan pergi ke rumah sewa. Oh.. perasaan ini jadi berat sekali. Lagi-lagi dia harus menebalkan hatinya karena harus berpisah dengan orang-orang yang dikasihinya. "Hai.." sapa Arkan saat Aluna membuka pintu. Aluna menatap mantan suaminya dari atas ke bawah. Pria itu memakai setelan kemeja putih dengan lapisan jaket diluarnya. "Aku ingin berpamitan dengan anak-anak." Aluna ingat jika hari ini adalah hari keberangkatan mantan suaminya. Ia lalu memanggil si kembar. Arkan memilih berdiri di depan teras. Saat Aluna menyuruh pria itu untuk masuk, ternyata ada taksi yang diluar sudah menunggu Arkan. "Cepat, nak. Ayah mau berangkat!" Seru Aluna pa
Langkah Langit terhenti. Dia kembali memutuskan berhenti dan bersembunyi setelah melihat reaksi Sinar dari dalam bilik ini. Sinar menepis tangan Aamir yang menyentuhnya. Namun pria ini sedikit membungkuk dan menatap Sinar dengan penuh kesungguhan. "Aku tahu sudah membuat kesalahan, Sinar. Tapi apa yang kukatakan adalah kebenaran." Ucap Aamir menatap lekat. "Aku belajar itu dari kesabaranmu. Ketulusanmu padaku itu menyentuh hatiku.. sebab itulah, izinkan aku menunjukan keseriusanku padamu." Sinar ikut membalas tatapan itu. Matanya menatap ragu tapi keseriusan dari sorot mata Aamir tak mampu ditolaknya. Pria itu seakan bersungguh-sungguh mengucapkannya. Tak ada salahnya jika Sinar memberikan kesempatan. "Baik, mas. Tapi aku juga tidak mau memaksakan perasaanku padamu." Sinar sadar diri. Dia hanya wanita dari kalangan biasa. Tak mampu untuk bersanding dengan pria luar biasa seperti Aamir. Namun, A
Setelah dengan gagah berani menghadap kedua calon mertuanya, Langit pulang ke rumah dalam keadaan tergesa-gesa.Astaga! Dia lupa jika Aamir tadi mengatakan jika ingin bertemu dengan seseorang. Arghh! Langit curiga jika itu Sinar.Nomor ponsel Sinar malah sulit sekali dihubungi. Langit sampai tak bisa berpikiran positif.Bagaimana kalau pria itu membawa kabur adiknya? Atau mungkin menghamili Sinar?! Ya, Ampun. Tapi kan Aamir tidak sebajingan itu.Dengan cepat Langit tiba sore ini di rumah miliknya."Benar dugaanku!" Langit memukul setir mobilnya.Ia lalu keluar dari mobil dan menghempaskannya kasar. Di depan situ ada mobil berwarna burgundy terparkir rapi. "Hey!" Tegur Langit.Aamir sampai mengkerut melihat pria yang baru datang ini. Dasar tidak sopan! Padahal Aamir berusia jauh lebih tua tapi Langit sembarangan memanggilnya."Sedang apa kamu disini?" Tanyanya."Menemui adikmu tapi daritadi dia
"Cindy!" Teriak seorang wanita. "Ditha!" Abi sampai berhenti berlari melihat adiknya jatuh tersungkur. Ditha susah payah berdiri sambil menangis. Ia menunjuk anak bertubuh gempal yang baru saja mendorongnya. Arkan menoleh dan mendapati Ditha yang terjatuh. Ia pun segera membayar pesanannya dan berlari menuju anaknya. "Kenapa kamu mendorongnya?" tanya ibu anak ini. "Dia jatuhin es krim Cindy!" Cindy kesal. Kakinya dihentak-hentakkannya ke lantai dengan keras. Abi memeluk Ditha yang menangis. Dia mengusap punggung adiknya. "Ditha, kamu nggak apa-apa, sayang? Ada yang luka nggak?" Arkan menyergap dan memeriksa sekujur tubuh putrinya. "Ayah. Ditha di dorong kakak itu!" Abi menunjuk Cindy yang tengah merengek di depan ibunya. Arkan melihat ke arah dimana Abi meluruskan telunjuknya. Matanya melotot. Begitu juga dengan wanita dewasa disana. O
Ditemani Fani, Aluna memberikan beberapa paper bag bingkisan untuk para tamu yang hadir. Termasuk dari keluarga besar Arkan. Saat menerima bingkisan tersebut, Farah sampai terperangah. Isinya tak hanya makanan, tapi juga souvenir berupa gelas dan piring yang cantik. "Itu gelas dan piring yang dipilihkan oleh Adelina." Seru Langit saat melihat ketertegunan dua kakak beradik itu. Fiona sampai menggumam. "Pilihanmu bagus sekali, Adel. Kamu tahu betul kalau tante dan mamamu suka sekali alat makan dari keramik." Mendengar itu, Adelina tertawa. "Pilihanku bagus, kan?" Fiona mengangguk. Sementara Farah hanya terdiam. "Kamu mau pulang sekarang, Adel? Biar aku antar." Farah baru menoleh. "Biar Aamir saja yang mengantar kami." Aamir mengangkat tangannya memberi isyarat untuk menolak. "Tidak masalah, Nyonya Farah. Sekalian saya ingin memberikan c
"Aku seneng banget mereka udah akrab sama kamu, mbak." Farah terharu akan kemesraan yang ditunjukkan oleh Fiona dengan dua cucu kembarnya. Aluna yang mendengar itu hanya melirik sekilas dan lalu menyibukkan diri dengan mengaduk-ngaduk makanannya. "Iya. Lihat, mereka lucu sekali, ya!" Seru Fiona tertawa. Di sisi kanan kirinya ada Abi dan Ditha yang duduk berdampingan. Mereka berebut menerima suapan makanan dari omanya. Di sebelah Abi ada Farah yang memperhatikan. Sejak tadi nenek ini ingin mendekatkan diri, tapi sapaan ramah Farah selalu ditepis oleh Abi. "Andai saja anakku masih hidup, mungkin mereka sudah sebesar si kembar." Lirih Adelina dengan mata berkaca-kaca. "Dia pasti lebih besar dari si kembar, Adel." Sahut Aluna tersenyum manis. "Dia akan menjadi kakak cantik dari mereka. Aku yakin sekarang anakmu tengah bermain di surga." "Mbak benar." Adelina menghela nafas panjang. "Anakku pasti se
Masih jelas dalam ingatan Aluna, siapa pria itu. Pria yang memberinya keteduhan pada Aluna yang tengah berkuyup sedih.Aluna yang menangis karena baru saja kehilangan orang tuanya di sebuah masjid yang ada di kota ini. Padahal, Aluna baru saja hijrah untuk meniti karir disini. Tapi kabar yang ia te
Arkan sedang duduk di kursi kerjanya. Termenung menghadapi laporan yang tercipta di layar komputer pintarnya. "Ada apa denganku?" Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah beberapa bulan ini performa kinerjanya menurun hingga membuat manajernya sering menegur. Fiona mengatakan jika Arkan ku
Tak terasa sudah satu minggu Aluna berada di kotanya sendiri. Sejak pulang dari Bali, tak sekalipun suaminya mengabarinya. Padahal, Aluna sudah memberikan spam pesan. Namun balasannya hanya singkat saja. Seperti enggan menanyakan balik kabar dirinya.Hari yang ditunggu tiba, Arkan dan ibunya akhirn
"Nindi.."Aluna melihat nama dari pengirim pesan tersebut dan tersenyum kecil. Ternyata, Arkanlah yang mengiriminya pesan terlebih dahulu. Wanita yang menjadi mantan terindah bagi suaminya.[ "Aku baik. Bagaimana kabarmu?" ] balas wanita itu.Aluna kembali menggeser pesan milik Nindi. Ternyata ini







